ini pendeta kok bicaranya sangat berbisa seperti ular
beludak.  omongan dengan perbuatan bertolak belakang. 
hipokrit abiss...

ngomong tentang otonomi khusus, tapi bicaranya papua
bukan bagian integral dari indonesia.

ngomong minta berdialog dengan pemerintah pusat tapi
minta ada pihak ketiga yang ikutan.

kenape berdialog musti ngajak pihak lain?  
kagak pede berdialog ama orang jawa??  

mendingan, sebagai rohaniawan, lebih giat menyebarkan
ajaran kasih jesus, ditampar pipi kiri kasih pipi
kanan.  ajarin tuh umatnya, kalo ditempeleng tentara
kasih juga pipi satunya untuk ditempeleng lagi.  

nggak usah ikut campur urusan politik dah...  




================



* GEREJA DI PAPUA LEBIH MENGHENDAKI DIALOG

Kamis kemarin, dua perahu cepat berpenumpang 21
pengungsi warga Papua terbalik di perairan Tanjung
Baru. Dipastikan satu orang tewas dan dua orang
dirawat di rumah sakit. Polisi masih mencari 18
penumpang lainnya. Sementara itu gereja-gereja di
Papua dalam beberapa hari mendatang berusaha
mengadakan rapat untuk mengkomentari semua yang
terjadi ini. 

Bagaimana sikap gereja dalam kasus pengungsi ini?
Apakah mendukung langkah mereka meninggalkan Papua
dengan perahu? Lebih jauh berikut Pendeta 
Herman Awom, moderator Dewan Presidium Papua:

Herman Awom [HA]: Kami gereja memberikan pendampingan
untuk mereka, para pengungsi itu. Kami sedang berusaha
memberikan pengarahan-pengarahan. Karena kebanyakan
mereka yang mau melarikan diri itu adalah yang takut
peristiwa tanggal 16 Maret itu. Jadi kami dari gereja
sedang berusaha untuk memberikan percakapan-percakapan
pastoral supaya tidak takut kalau yang tidak terlibat
dalam peristiwa itu jangan takut, dan kembali. 

Persoalannya adalah bahwa, seketika mereka kembali,
tidak aman. Itu kami dari kalangan gereja sedang
mengadakan percakapan dengan pihak pemerintah, polisi
dan militer di Papua untuk hal itu dilihat. Yang
bersalah itulah yang ditindak, sedangkan yang tidak
bersalah, jangan sampai ditindak. 

Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Juga dikabarkan
bahwa sekelompok gereja di Papua mendukung gerakan
separatis di sana. Bagaimana Anda menanggapi berita
ini? 

HA: Kami bukan gereja di Papua sebenarnya. Yang kami
gereja memberikan laporan itu, adalah tekanan-tekanan
terhadap masyarakat situ. Karena masyarakat Papua
menghendaki suatu dialog damai dengan pemerintah. 
Pemerintah tidak memberikan kesempatan untuk dialog,
tapi dilawan dengan kekerasan represif. 

Jadi kami dari gereja berusaha untuk alangkah baiknya
permasalahan politik Papua itu, sebagaimana Presiden
SBY punya prinsip bahwa penyelesaian masalah politik
di Papua itu harus diselesaikan secara damai,
demokratis, bermartabat dan kompresensif. Sebab banyak
hal yang mesti kami koreksi terhadap pemerintah, pusat
maupun daerah. Misalnya otonomi khusus. 
Otonomi khusus tidak dilaksanakan secara murni dan
konsekuen. 

RNW: Menlu Hassan Wirajuda juga sependapat bahwa kasus
Papua bisa dituntaskan lewat dialog. Tapi menurutnya
tidak perlu melibatkan pihak luar. Anda sependapat?

HA: Selama ini pemerintah Jakarta itu, kalau orang
Papua minta untuk berdialog, selalu mereka pikir di
dalam benak mereka, itu seolah-olah orang Papua di
dalam dialog meminta merdeka sebenarnya. Oleh sebab
itu 
permasalahan-permasalahan di Papua, baik Presiden,
menteri luar negeri, selalu sebelum dialog, mereka
sudah takut. 

Misalnya sekarang, Ibu katakan bahwa mereka
menyampaikan bahwa tidak melibatkan orang luar negeri.
Masalah Papua itu harus melibatkan orang luar negeri
yang netral. Karena pemerintah Indonesia, kami tidak
percaya bahwa mereka akan secara jujur. 

RNW: Menlu Hassan Wirajuda juga mengatakan bahwa para
pengungsi itu bukan karena cita-cita separatis, bisa
juga mereka mengungsi karena tujuan komersial dan
bukan politik. Bagaimana ini menurut Anda? 

HA: Ya, memang mereka selalu menjawab seperti itu. Di
Papua ini sekarang orang Papua, tiga banding 20 orang
pendatang. Sekarang di Papua ini aparat keamanan sudah
melampaui kami di Papua. Apalagi dengan peristiwa 
yang terjadi terakhir ini dengan tanggal 16 Maret itu.
Kemudian peristiwa Wembi tanggal 10 April itu.

Di kampung-kampung, di kabupaten-kabupaten terpencil
itu semakin banyak pasukan ada di sana, sehingga hak
hidup orang Papua semakin terancam. Mengapa mereka
cari keluar? Bukan komersial, ekonomi.
 
RNW: Sekjen Uni Eropa, Javier Solana, yang berkunjung
ke Indonesia, tetap mendukung Papua dalam teritori
Indonesia, jadi tetap masuk NKRI. 
Bagaimana ini menurut Anda?

HA: Ya, ketika otonomi khusus mau dilaksanakan, 13
duta besar Uni Eropa datang ke Papua untuk mendorong
supaya orang Papua menerima otonomi khusus. Nah
sekarang pertanyaan saya yang terbalik untuk Ibu itu
adalah, 
ketika otonomi khusus itu tidak dilaksanakan secara
murni dan konsekuen oleh pemerintah pusat, mana orang
Uni Eropa yang datang ke mari, mau katakan kepada
pemerintah Indonesia supaya melaksanakan itu? 

Sekarang ketika orang Papua mau mencari kehidupan, mau
mencari keamanan karena hak-hak hidupnya semakin
terancam, semua orang katakan bahwa Papua adalah
bagian yang integral dari Indonesia. 

Orang Papua sekarang sudah tahu bahwa masuknya Papua
ke Indonesia itu, atas konspirasi politik antara
Belanda, Amerika dan Indonesia. Orang Papua yang kami
sekarang sudah mengerti, jangan katakan bahwa Papua
bagian integral dari Indonesia. Kenapa mesti bertanya
apakah masuknya Papua ke Indonesia untuk menjadi
bagian integral itu secara sehat atau permainan,
manipulasi secara konspirasi politik untuk memaksa
Papua untuk 
masuk ke Indonesia, juga karena kepentingan ekonomi
waktu itu. Dengan Amerika mau masuk untuk memiliki
Freeport. 

Demikian Pendeta Herman Awom kepada Radio Nederland
Wereldomroep.



=============


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke