EKSPLOITASI PEREMPUAN DAN TUBUHNYA ( I )
   
  “Ide eksploitasi itulah yang tengah berpraksis dalam rentang historisnya yang 
panjang dan lama bagi kaum perempuan dan tubuhnya”.
   
  Kali ini kita kembali dibenturkan oleh suatu “pengetatan” nilai-nilai moral 
yang harus dibandingkan “secara paksa” dengan bentuk-bentuk yang dianggap 
sebagai bagian dari masalah kesusilaan. Substansi persoalan adalah mengenai 
tubuh perempuan itu sendiri. Ketika tubuh perempuan mengalami fenomena 
eksploitasi secara ekstrem, bukan hanya dalam praksis yang paling nyata, tetapi 
dalam bentuk ide dan terutama ide yang tersistematisasi dalam gerak masyarakat. 
Ini bukan lagi dalam suatu kerangka berpikir yang mengedepankan tentang 
prinsip-prinsip takdir antara perempuan dan tubuhnya, tetapi merupakan suatu 
realita dari cara berpikir yang memandang kaum perempuan dan tubuhnya dalam 
bentuk-bentuk yang eksploitatif. Dan perdebatan tidak hanya sekadar penekanan 
nilai-nilai tradisi ataupun nilai-nilai “moralitas kaku” tentang hubungan 
antara tubuh perempuan dengan masyarakat yang terkadang hyper-sensitive, tetapi 
suatu realita yang berada ditengah masyarakat yang semakin kompleks
 dengan bermacam latar kontradiktifnya.
   
  Apa yang harus dibandingkan antara seorang pelacur jalanan dengan seorang 
istri pejabat yang lengkap dengan pernak-pernik formalitas dan pengaruhnya, 
ataupun seorang perempuan penari striptis di kelab-kelab malam dengan seorang 
istri dari tokoh agamawan yang mengklaim sebagai benteng moral antara “langit 
dan bumi”? Bukankah masyarakat kita selama ini adalah masyarakat yang 
mengutamakan penilaian berdasarkan pada apa yang divisualisasinya tanpa 
memahami latar belakang yang membentuk perbandingan realita tersebut? 
Masyarakat yang tersistematisasi, masyarakat formal, dan masyarakat uang bukan 
suatu fenomena dari praksis pembentukannya yang alamiah; tetapi dibentuk dari 
konsensus antar kekuatan yang berdiri diatas masyarakat itu, yaitu negara dan 
pemerintahannya. Bahkan masyarakat sendiri semakin ditempatkan dalam ruang yang 
“abu-abu” pada ragam perbandingan yang terkadang memanipulasi daya 
rasionalitasnya, ataupun membunuh karakter masyarakat itu sendiri. Impian 
membangun
 suatu bangunan yang dibentengi oleh nilai-nilai moralitas, kini tengah 
direstrukturisasi oleh kaum teknodemokratik dan teknospiritual; kedua kaum yang 
selalu melakukan persenggamaan struktural dengan membuang wajahnya ke arah yang 
terlalu berlebihan atau mungkin over-acting di tengah-tengah publik. 
Memarginalkan perempuan dan tubuhnya dalam sekat-sekat yang dianggap sebagai 
upaya untuk menegakkan nilai-nilai moral dan kesusilaan, dan kembali 
mendestruksi nilai-nilai esensinya dengan menciptakan jarak transparan pada 
perbandingan gender. 
   
  Perempuan dan tubuhnya adalah esensi suatu keindahan dari nilai-nilai 
kehidupan, ini bukanlah takdir dari realitas keindahan itu sendiri, tetapi 
suatu hal yang hadir dalam segala manifestasi ataupun ekspresi dari esensi 
tersebut. Demikian juga dengan laki-laki dan tubuhnya yang memiliki esensi 
keindahan tersendiri. Namun realita historis perkembangan masyarakat telah 
menempatkan perempuan dan tubuhnya sebagai antitesis dari ke-esensiannya, 
ataupun sebagai bagian dari praksis eksploitasi yang terkadang dicitrakan 
secara ekstrem untuk memarginalisasi perempuan dan tubuhnya kepada beragam 
bentuk yang dikonotasikan secara liar. Seperti seorang perempuan yang hadir 
dengan pakaian “minim” yang menunjukkan keindahan pada bagian perut, dada, atau 
pinggulnya, mungkin secara vulgar; tetapi eksploitasi itu sendiri akan terjadi 
dengan merasionalisasikan proses tindakan kepada perempuan dan tubuhnya 
tersebut dengan bermacam manifestasi praksis eksploitatif. Ataupun eksploitasi 
dalam
 bentuk modal, yang mengondisikan perempuan dan tubuhnya sebagai bagian dari 
“alat” untuk kepentingan modal, dan mengeksploitasinya kepada ragam ekspresi 
menurut kepentingan modal, bukan berdasarkan kebebasan dan kesadaran untuk 
berekspresi. Atau salah seorang staf pengajar perempuan pada salah satu 
perkuliahan memiliki keindahan pada tubuhnya, walaupun ia berpakaian formil dan 
sopan, tetapi eksploitasi dapat saja terjadi ketika proses irasionalisasi pada 
kebebasan berpikir telah memberikan stigma kepada staf pengajar tersebut, 
terutama dalam segala bentuk praksis langsung yang bermuatan nilai eksploitasi 
kepadanya. Yang menjadi titik persoalan adalah proses berpikir yang irasional, 
kacau, dan munafik ketika dihadapkan dengan realita ekspresi perempuan dan 
tubuhnya, dan inilah salah satu problematika serius bagi mayoritas masyarakat 
dengan “kekacauan” proses berpikirnya yang semakin “direstui” oleh otoritas 
legal. (bersambung) 
   
  April 2006, Leonowens SP 

                
---------------------------------
Get amazing travel prices for air and hotel in one click on Yahoo! FareChase 

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke