REPUBLIKA
Senin, 15 Mei 2006

Euphoria Dana Petro Dolar 

Oleh : Ir H Adiwarman A Karim, MBA, MAEP 


Rangkaian kunjungan ramai dilakukan ke Negara-negara Teluk untuk membuka mata 
mereka bahwa Indonesia adalah tempat yang ideal untuk melakukan investasi. 
Persiapan demi persiapan dilakukan untuk menanti masuknya dana petro dolar ke 
Indonesia. Berbagai pihak menyambut antusias upaya diversifikasi sumber dana 
luar negeri ini sekaligus diversifikasi instrumennya.

Proyek-proyek yang sempat lesu setelah berakhirnya Infrastructure Summit, 
seakan mendapat tambahan darah baru. Paling tidak semangat untuk bangkit mulai 
menggelora. Perkiraan daya serap pasar atas sukuk atau obligasi syariah -- baik 
yang domestik mapun yang global -- mulai dilontarkan. Pengalaman kami, kita 
tidak boleh cepat puas dengan antusiasme Negara-negara Teluk tersebut. Perlu 
ketekunan untuk mendapatkan kepercayaan bisnis mereka, memahami peta bisnis 
keluarga yang saling bertalian. Ketika kepercayaan bisnis ini telah muncul 
barulah rencana-rencana investasi mereka dapat terealisasi. Singapura, 
misalnya, hampir setiap bulan ada saja delegasi tingkat tinggi yang berkunjung 
ke Negara-negara Teluk untuk meyakinkan mereka melakukan investasi di 
Singapura. 

Cukup ironis, memang. Di satu pihak kita menolak utang luar negeri yang akan 
memberatkan APBN, di lain pihak kita sangat antusias menantikan sukuk. Padahal 
sukuk juga menimbulkan tambahan kewajiban kepada luar negeri. Meski sukuk 
adalah surat investasi syariah dan bukan surat utang, bagaimana pun nilai 
investasi sukuk tersebut harus dikembalikan kepada investor.

Apakah benar utang luar negeri harus ditolak karena akan membawa kesengsaraan 
bagi bangsa? Sedangkan sukuk tidak menimbulkan kesulitan apa pun karena 
sistemnya syariah? 

Tidak ada keraguan sedikit pun bahwa sukuk dengan sistem syariahnya akan jauh 
lebih baik daripada surat utang yang berbasis bunga. Pertama, penggunaan dana 
sukuk sejak awal jelas untuk membangun proyek apa. Kedua, risiko sukuk 
terdefinisi sejak awal oleh proyek yang dibiayainya. Ketiga, kedisplinan 
penggunaan dana sukuk menjadi suatu keharusan karena sifatnya yang membiayai 
proyek tertentu.

Persoalannya muncul ketika kita terlena menerbitkan sukuk tanpa memperhitungkan 
kapasitas bayar negara atau yang dikenal sebagai debt to service ratio (DSR). 
Betapa pun keunggulan sukuk, ia tetap tunduk pada kaidah 'jangan besar pasak 
dari tiang' atau dalam kaidah fiqih disebutkan min ghalabatid dayn. Kewajiban 
keuangan yang melilit atau kewajiban keuangan yang berkepanjangan tanpa 
kemampuan menyelesaikannya. Analoginya sederhana, seorang yang butuh uang dapat 
meminjam uang secara syariah. Namun jika utangnya tersebut melebihi 
kemampuannya membayar kembali, maka meski ia berutang secara syariah namun ia 
telah terjerat oleh utang yang melilit kehidupannya.

Oleh karena itu, penerbitan sukuk hendaknya selalu diletakkan dalam kerangka 
manajemen keuangan negara yang tetap memperhitungkan DSR, dengan rencana/target 
penurunan DSR secara bertahap. Penerbitan sukuk hendaknya dilihat sebagai 
pengganti instrumen utang yang berbasis bunga, bukan sebagai instrumen baru 
penambah utang. Dalam kerangka pikir ini, kita mengharapkan agar utang-utang 
baru tidak lagi dilakukan dengan sistem bunga, dan sebagai gantinya digunakan 
sukuk. Dengan demikian, DSR tetap terjaga dan utang-utang mulai bertransformasi 
menjadi sukuk.

Mengkonversi surat utang negara sekaligus menjadi sukuk, bukan saja akan 
menimbulkan kompleksitas tersendiri, juga akan menimbulkan dugaan dan 
kekhawatiran yang tidak perlu. Biarlah syariah menjadi part of solution bagi 
bangsa ini, dan jangan menjadi part of problem by creating unnecessary fantasy 
of worries.

Ingatlah kita kisah Siti Hajar yang berlari-lari tanpa henti dari Safa-Marwa 
mencari air? Bukankah Siti Hajar tahu setelah berulang kali ke Safa dan 
berulang kali ke Marwa, bahwa tidak ada air di sana. Namun Siti Hajar tidak 
pernah putus asa untuk terus berharap akan datangnya pertolongan Allah. Upaya 
tak kenal lelah inilah, yang akhirnya mengundang barakah Allah. Air zam-zam 
keluar dari hentakan kaki Ismail, anaknya. 

Mampukah kita bersikap seperti Siti Hajar? Upaya maksimal dengan penuh harap 
ternyata menggerakkan Allah untuk memberikan air bukan kepadanya, tapi kepada 
orang lain yaitu anaknya.

Seringkali kita terlalu egois dalam berjuang. Kita ingin agar segala upaya yang 
telah kita lakukan selama ini, maka kita pulalah yang harus mendapatkan 
hasilnya. Inikah keikhlasan kita dalam berjuang? Bukankah tugas kita sekedar 
membawa tongkat estafet perjuangan, dan menyerahkan kepada orang berikutnya 
untuk meneruskan perjuangan? 

Perjuangan mengenalkan ekonomi syariah mungkin baru akan dinikmati oleh 
generasi berikutnya. Namun apalah artinya semua kesulitan dalam mengenalkan 
ekonomi syariah bila dibandingkan dengan balasan yang dijanjikan-Nya di dunia 
dan di akhirat? Apalah artinya kepenatan membesarkan anak dibandingkan 
kenikmatan melihat keberhasilan sang anak?

Negara Kesatuan Republik Indonesia ini merupakan contoh nyata, betapa para 
pejuang kemerdekaan dulu mewariskan kepada generasi sekarang suatu negara yang 
thayyibatun wa rabbun ghafur. Para pejuang itu akan kita kenang keikhlasannya, 
karena sebagian besar mereka bahkan tidak pernah merasakan hasil perjuangan 
mereka. Begitu pula dengan para pejuang ekonomi syariah, kita pun akan dikenang 
keikhlasan kita oleh generasi mendatang. Bukan saja karena kita telah 
mengenalkan mereka ekonomi syariah, terlebih lagi karena kita telah meletakkan 
dasar yang kuat untuk bangsa menjadi pemimpin ekonomi syariah di dunia.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Everything you need is one click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/AHchtC/4FxNAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke