http://www.tribun-timur.com/view.php?id=25717&jenis=Opini

      Senin, 22-05-2006 
     
     
      Iran-Indonesia Vs AS-Libia  
      Oleh 
      SM Noor 
      Dosen Hukum Internasional Unhas 


      DUA pekan terakhir, masyarakat internasional, khususnya di Asia Tenggara 
terutama Indonesa dan Timur Tengah dibuat terkesima oleh peristiwa-peristiwa 
internasional kontemporer. 

      Dua peristiwa penting yang menjadi pusat perhatian adalah kunjungan 
kenegaraan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, ke Indonesia dan pulihnya 
hubungan diplomatik antara Libia dan Amerika Serikat (AS).
        
      Situasi ini sesungguhnya membawa harapan baru bagi perdamaian dunia dan 
tentu saja akan mengurangi ketegangan dan konflik-konflik internasional. 

      Pertanyaannya, mengapa kunjungan Presiden Iran, Ahmadinejad, ke Indonesia 
begitu penting dan menarik perhatian pengamat? Bukankah kunjungan itu biasa 
saja sebagai kunjungan presiden negara sahabat yang baru terpilih untuk datang 
memperkenalkan diri? 

      Kunjungan yang memakan waktu cukup lama, sepekan, dilanjutkan dengan 
konferensi negara-negara berkembang yang tergabung dalam Developing Eights 
(D-8, delapan negara berkembang) di Bali, awal pekan kemarin, bukan peristiwa 
biasa.  Kepala negara dari perwakilan D-8 lainnya tidak terlalu mendapat 
sorotan, tetapi presiden Iran sungguh-sungguh menarik perhatian. Lebih dari itu 
dia membawa lebih 150 orang rombongan sesungguhnya tidak bisa dipandang sekadar 
kunjungan biasa. 

      Dalam rombongan termasuk duta besar RI untuk Iran, Prof DR Basri 
Hasanuddin, mantan Rektor Unhas, ikut di dalamnya. Beberapa menteri dan pejabat 
lainnya.

      Mengapa besar-besaran? Apakah Iran akan minta Indonesia memberi dukungan 
menghadapi tekanan Barat, terutama AS dalam pengayaan uranium untuk pembangkit 
energi listrik mereka? Minta Indonesia membantu melepaskan diri dari tuduhan 
pengayaan uranium untuk kepentingan pembuatan senjata nuklir? 
      Karena memang kedatangan Ahmadinejad ke Indonesia di tengah tekanan 
internasional melalui Dewan Keamanan PBB agar Iran menghentikan pengayaan 
uraniumnya untuk menghindari sanksi PBB, terutama sanksi militer yang akan 
dilakukan AS dan beberapa negara Eropa. 

      Pertanyaannya kembali kepada Indonesia, apakah akan memainkan peranan 
melindungi Iran terkait pengenaan sanksi PBB terutama sanksi militer yang akan 
dilakukan AS? Lantas koneksitas apa yang akan dimainkan Indonesia untuk 
memainkan peranan itu? 

      Menarik bahwa rombongan yang menyertai Presiden Iran begitu banyak dan 
bersebar termasuk Mullah berpengaruh, Misbach Yazdi, sempat ke Makassar bersama 
Prof Basri Hasanuddin menjelaskan posisi Iran dalam kredibilitas internasional. 

      Menjadi pertanyaan, apakah Ahmadinejad tidak membawa agen-agen dari dinas 
intelijen di antara begitu banyak anggota rombongan? Tentu saja kedatangan 
agen-agen ini sangat rahasia dan tertutup untuk melindungi keselamatan 
presiden. Banyak orang begitu skeptis atas kunjungan itu. 

      Tawaran Bush 
      Sepekan sebelum kunjungan Ahmadinejad ke Indonesia, Presiden AS, George W 
Bush, mengeluarkan statemen mencengangkan tentang kesiapannya berunding 
langsung dengan Iran untuk menyelesaikan masalah nuklir serta isu internasional 
lainnya yang disambut hangat Ahmadinejad. 
      Analisis ini sesungguhnya bukan bermaksud membuat risalah Indonesia 
mempersiapkan diri menjadi fasilitator utama sebagai relay langsung antara AS 
dan Iran. 
      Karena memang selama kunjungan Presiden Iran ke Indonesia tidak terbetik 
tanda-tanda ada relay khusus ke Kedubes AS di Jakarta, sekalipun muncul stigma 
menarik bahwa kunjungan Ahmadinejad yang lama ke Indonesia tidak dikomentari 
Gedung Putih dan Kedubes AS di Jakarta bungkam. 
      Lagi pula pernyataan-pernyataan Ahmadinejad sangat toleran, terutama bagi 
agama-agama minoritas di Iran termasuk kepercayaan dia terhadap Yesus Kristus 
(Nabi Isa) sebagai nabi yang dipercaya oleh agama Islam. 
      Agak mengherankan memang, semua pernyataan Ahmadinejad selama di 
Indonesia sangat berbeda ketika dia menyerang AS dan Israel serta Barat. Dia 
tampak lebih santun. 
      Namun demikian bagi pengamat Iran-AS sekalipun pasti percaya bahwa tidak 
mungkin kunjungan Ahmadinejad ke Indonesia itu lepas dari pengamatan seksama 
Gedung Putih dan Kedubes AS di Jakarta. 
      Yang perlu diamati sekarang adalah pascakunjungan ke Indonesia tersebut 
apakah Iran-AS masih saling menyerang. Kita tunggu. Karena Indonesia menyadari 
bukan mustahil hubungan AS-Iran akan terjalin kembali melalui kontak-kontak 
informal.

      Kita tentu belum lupa peristiwa Iran-Contra tahun 1980 ketika satu 
pasukan AS yang dipimpin Kolonel Oliver North mengirimkan senjata kepada 
militer Iran secara sembunyi-sembunyi ketika melawan Irak dalam Perang 
Iran-Irak. 

      Aliran senjata dari AS dijual ke Iran untuk membiayai pemberontak Contra 
yang didukung AS di Nikaragua melawan rezim komunis pimpinan Daniel Ortega. 
Hubungan informal itu luput dari pers internasional sampai kasus itu diadili 
oleh peradilan militer AS setelah terbongkar dan mendudukkan Kolonel Oliver 
North sebagai tersangka utama. Apakah Jakarta juga akan memainkan peranan 
informal seperti itu? 

      AS-Libia 
      Sepekan setelah kunjungan Ahmadinejad ke Indonesia, tersiar kabar 
mengejutkan bahwa hubungan diplomatik Libia-AS pulih. Ini tentu saja menarik 
perhatian dunia. Selama tiga dekade putusnya hubungan diplomatik antara 
Liba-AS, kedua negara itu berhadapan saling bermusuhan, dendam, bagaikan kucing 
dan tikus. 
      Bukan itu saja akibat permusuhan kedua negara banyak korban berjatuhan 
bahkan hampir menyulut perang antara keduanya di masa pemerintahan Presiden 
Ronald Reagan tahun 1980-an. 
      Kadang-kadang persoalan sepele mengakibatkan timbul perang antara 
keduanya. Sebagai contoh, insiden Teluk Sidra tahun 1982, di mana kapal induk 
AS, USS Nimitz, masuk ke perairan Teluk Sidra yang diklaim Libia sebagai 
wilayahnya. 
      Pesawat tempur Sukhoi terbang menghalau pesawat-pesawat tempur F-16 
Falcon AS, namun dua pesawat tempur Sukhoi Libia dijatuhkan. Bahkan AS 
melancarkan serangan dengan meluncurkan roket-roket kendali ke Tripoli dan 
menghancurkan istana Presiden Moammar Khadafy serta menewaskan salah seorang 
puteranya. 
      Libia membalas dengan membajak pesawat angkut AS Pan-Am Airline dan 
meledakkannya di wilayah udara Irlandia, tepat di atas kota Lockerbiedan 
menewaskan 300 penumpangnya. 
      Sejak itu hubungan Libia dan AS seperti kucing dengan tikus setiap 
pernyataan presiden AS, siapapun orangnya, selalu mendapat pernyataan balasan 
yang sama kerasnya dari Presiden Moammar Khadafy. 

      Jika sekarang terjalin hubungan diplomatik antara Libia-AS, sesungguhnya 
bukan sesuatu yang tiba-tiba terjadi. Hubungan tersebut melalui proses yang 
begitu panjang, baik melalui pembicaraan setingkat pejabat resmi maupun 
hubungan informal. 

      Sebut saja dua negara di Eropa, Inggris dan Italia, yang sesungguhnya 
punya peranan penting dalam hubungan ini. 
      Peranan Italia sesungguhnya cukup unik, ketika Selvio Berlusconi yang 
gila bola itu menjadi Perdana Menteri Italia, putra Khadafy, Syaiful Islam, 
yang pernah belajar manajemen sepak bola pada Bellusconi, dimanfaatkan 
mendekati Khadafy. 

      Konon, dalam pertemuan resmi dengan Perdana Menteri Inggris Tony Blair di 
London, Berlusconi mencoba membicarakannya. Blair langsung kontak Dubes Inggris 
di Tripoli untuk kunjungan ke Khadafy. 
      Blair mencoba melakukan relay dengan Khadafy dan menengahi persilangan 
Khadafy dengan Bush. Terutama menyangkut masalah Palestina yang didukung 
Khadafy. Sekalipun penuh curiga, Khadafy mencoba memahami. 
      Pemahaman Khadafy terkiprah ke masyarakat internasional ketika mengajukan 
solusi penyelesaian Palestina dengan meminta Palestina dan Israel menghentikan 
perang dan membentuk pemerintahan bersama; dengan Israel sebagai presiden dan 
Palestina sebagai perdana menteri atau sebaliknya. 
      Khadafy tentu saja dikecaman dunia Arab dan Islam, tetapi mendapat pujian 
Barat. AS yang terus menerus mengikuti pernyataan-pernyataan Khadafy mulai 
kontak dengan Inggris dan Italia dan melalui pertemuan tingkat pejabat resmi di 
Milan, awal Oktober 2005 antara Inggris, Italia, Libia dan AS, kedua negara 
bermusuhan selama 27 tahun bersalaman dan persahabatan mencair. 
      Apakah Indonesia akan mencontoh peran Italia dan Inggris untuk aplikasi 
Iran-AS? Kita tunggu pernyataan-pernyataan Ahmadinejad-Bush sesudah the Jakarta 
connection, koneksi Jakarta. (*)
        


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get to your groups with one click. Know instantly when new email arrives
http://us.click.yahoo.com/.7bhrC/MGxNAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke