Ketika ada karikatur di Denemark beberapa bulan yang lalu, orang
    Islam banyak yang membakar dan membunuh...

    Orang Nasrani yang tidak senang dengan buku dan film Da Vinci
    Codes - hingga saat ini, bagusnya,  tidak main bakar dan tidak
    main bunuh... 



On 23 May 06, at 9:36, goleo_weltmeister wrote:

> Selasa, 23 Mei 2006
> 
> Da Vinci Code dan Penonton yang Luka
> 
> 
> 
> ''Anda salah besar. Tak ada yang dilukai oleh film ini.''
> Tom Hanks, bintang utama film The Da Vinci Code
> 
> Entah di belahan bumi lain. Tapi di Indonesia, apa yang dilontarkan
> Hanks saat pemutaran perdana film tersebut di Festival Film Cannes,
> Prancis, pekan lalu itu, meleset. The Da Vinci Code terbukti telah
> melukai banyak orang. Bukan hanya kalangan yang sejak awal memang
> telah membentengi diri dengan apriori. Justru mereka yang rela merogoh
> kocek dan berdesakan antre karcis: para penonton bioskop.
> 
> ''Kacau, saya kehilangan bagian tanpa teks itu. Saya coba mengerti,
> tapi dialognya terlalu cepat,'' kata Ahmad Fariza, katakan saja
> begitu. Fariza mengaku terbantu karena sempat membaca novel tersebut.
> ''Tapi, itu sudah dua tahun lalu,'' kata dia.
> 
> Wajar saja banyak penonton sejenis Fariza yang kecewa. Betapa tidak,
> bila setidaknya 15 dari 149 menit masa putar film tersebut, penonton
> hanya disuguhi layar tanpa subtitle. Minus teks. Parahnya, bagian yang
> tidak mengacuhkan para penonton berkemampuan bahasa Inggris rata-rata
> itu justru berisikan dialog penting yang membangun cerita. Setidaknya
> kalau kita bersepakat, tidak semua orang rela antre karcis hanya untuk
> menonton orang saling berhantam, kebut-kebutan, dan menembak mati
> manusia lain tanpa mengerti alasannya.
> 
> Masih untung, diskusi antara Robert Langdon (Tom Hanks), Sophie Neveu
> (Audrey Tautou), dan Sir Leigh Teabing (Ian McKellen) itu tidak dibuat
> bisu. Dengan demikian, mereka yang sempat membaca novelnya bisa
> mengira-ngira apa yang tengah dipercakapkan.
> 
> Boleh jadi, cara itu merupakan trik distributor film tersebut
> menghindari persoalan yang mungkin timbul. Soalnya, sebagaimana
> novelnya, film itu pun disambut dengan gempita, bahkan jauh hari
> sebelum masuk ke Indonesia. Ada yang keberatan, mengingat film itu
> memuat hal sensitif dalam sudut pandang agama tertentu. Tetapi, tidak
> kurang pula yang justru antusias untuk menonton. Kebanyakan dari
> mereka memang merupakan pembaca novel yang diterjemahkan ke dalam
> bahasa Indonesia sekitar tiga tahun lalu itu.
> 
> Mungkinkah hal itu justru dilakukan Lembaga Sensor Film (LSF), terkait
> tugas berat yang disandangnya? Ketua LSF, Titie Said, menolak
> kemungkinan itu. Menurut Titie, dia menerima film itu sebagaimana yang
> dipirsa penonton. ''Dari distributornya, kami menerimanya sudah
> begitu,'' kata Titie, saat dihubungi Republika.
> 
> Yang menarik, kasus seperti itu merupakan hal yang pertama kali
> terjadi dalam dunia perfilman nasional. Setidaknya bila pernyataan
> Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional, Djonny Sjafruddin, benar
> adanya. Biasanya, kata Djonny, kalau memang sensitif, dipotong
> sekalian. Dengan begitu, otomatis tidak hanya dialog yang putung,
> tetapi adegannya pun lenyap sudah. Dalam kasus Code, menurut Djonny,
> langkah itu mungkin dilakukan distributornya agar bisa beredar di
> Indonesia.
> 
> ''Dipotong sekalian juga susah, karena dialog itu cukup membangun
> cerita,'' kata Djonny. Sebetulnya, 'sensor' sekitar lima belas menit
> itu sendiri hanya terjadi pada satu adegan, yakni diskusi ketiga tokoh
> tadi: Langdon, Neveu, dan Teabing. Itu pun tidak sepenuh adegan,
> karena ada dialog yang tetap diterjemahkan. Namun justru karena
> itulah, maka penonton segera mengerti bahwa itu sebuah kesengajaan.
> 
> Teks memang hanya hilang pada bagian yang mungkin peka untuk kalangan
> tertentu. Dari subtitle yang hilang itu, paling tidak ada tiga pokok
> soal dalam dialog yang diluputkan. Pertama, ketika Teabing menunjukkan
> 'bukti' bahwa sebenarnya Yesus menikah dan memiliki anak dari Maria
> Magdalena. Teabing bahkan menyatakan bahwa cawan suci (holy grail)
> yang dipercaya umat Kristen selama ini, tak lebih dari rahim Maria
> sendiri. Di sini, sekitar lima menit dari teks dialog hilang.
> 
> Tentu saja hal itu membuat Neveu terkejut. ''Mary si pelacur,'' tanya
> Neveu. ''Bukan, Mary istri Yesus,'' kata Teabing, mencari-cari sesuatu
> dari koleksi perpustakaannya. ''Anda tahu Injil Phillipus,'' tanya
> Teabing, yang kemudian menyatakan bahwa dalam Injil itu para murid
> Yesus yang lain (Apostel) menanyakan mengapa Yesus terkesan lebih
> mencintai Maria Magdalena dibanding mereka. Yesus berkata, ''Tanyakan
> pada dirimu sendiri,'' kata Teabing.
> 
> Dua pokok dialog lainnya meliputi pernyataan Teabing soal Konsili
> Nicaea, serta 'sinkretisme' yang dilakukan Konstantin yang Agung.
> Dialog tentang dua hal ini memang sensitif. Soal Konsili Nicaea,
> Teabing menyatakannya sebagai kalahnya kalangan Kristen yang
> memercayai bahwa Yesus hanyalah manusia biasa. Konsili itu sendiri
> memang memutuskan bahwa Yesus adalah Tuhan, bukan manusia.
> 
> ''Sayangku, hingga saat itu, Yesus dipercaya pengikutnya sebagai nabi
> yang juga meninggal,'' kata Teabing. Sedangkan tentang Konstantin,
> Teabing menyatakan, pada masa kekuasaannya, Kaisar Romawi itu telah
> menggabungkan kepercayaan akan Dewa Matahari, Sol Invictus, dengan
> kekristenan. Itulah, kata Teabing, yang hingga kini diwariskan gereja
> turun-temurun.
> 
> Melihat dialog tersebut, selintas kekhawatiran pihak distributor itu
> terlihat wajar. Persoalannya, berhakkah distributor melakukan tugas
> yang seharusnya menjadi kewenangan LSF tersebut? Apalagi kita tahu,
> film itu sendiri ditujukan untuk konsumsi orang dewasa. Satu hal lain,
> di awal film distributor telah memberikan disclaimer bahwa film itu
> semata fiksi. Kurang apa lagi? Sayang, pihak distributor sendiri
> enggan menjawab. Saat Republika mencoba menghubungi salah satu
> perwakilan Columbia Pictures untuk Indonesia -- distributor film
> tersebut -- yang bersangkutan menolak menjawab. Ia bahkan menolak
> namanya disebutkan. ( dsy/akb )
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
You can search right from your browser? It's easy and it's free.  See how.
http://us.click.yahoo.com/_7bhrC/NGxNAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke