Setelah 300 Staf Dievakuasi
Gudang Pangan PBB Dijarah Massa
Dili - Massa yang marah mendobrak sebuah gudang pangan yang dikelola Program
Pangan Dunia (WFP) di ibu kota Timor Leste, Dili, Senin (29/5) dan menjarah
pasokan-pasokan beras, kata para saksi mata.
Sekitar 800 orang termasuk banyak wanita dan anak-anak menunggu di luar selama
beberapa jam ketika sekitar 100 pemuda mendobrak pintu-pintu dan masuk ke dalam
dan kemudian menjarah beras.
Tidak lama setelah itu tentara Australia tiba di lokasi tersebut dengan
kendaraan lapis baja pengangkut pasukan dan mengusir para penjarah keluar
dengan todongan senjata.
Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) telah mengevakuasi ratusan pekerjanya selama
sepekan terakhir, sementara perwakilan khususnya di Dili menyatakan perlunya
penambahan jumlah pasukan perdamaian.
Utusan khusus PBB untuk Timor Leste, Sukehiro Hasegawa, mengevakuasi sekitar
300 pegawainya ke Australia. Hasegawa mengimbau agar pasukan perdamaian
ditambah dan meminta para pemimpin tidak mengobarkan api kebencian.
"Mereka memiliki perbedaan pandangan soal bagaimana mengatur negara dan situasi
sangat rapuh di negara mereka," kata Hasegawa kepada wartawan, Minggu.
Perdana Menteri Timor Leste Mari Alkatiri dan Presiden Xanana Gusmao dikabarkan
berbeda pendapat soal penanganan kerusuhan.
Sementara itu Kabinet Timor Leste melakukan sidang guna membahas krisis
kekerasan, Senin (29/5), sementara ribuan penduduk mengungsi dari ibu kota dan
anggota-anggota geng berkeliaran di jalan-jalan sambil membawa golok serta
pedang.
Pertemuan kabinet itu dilakukan di tengah-tengah spekulasi bahwa pemerintah
hampir jatuh atau parlemen akan dibubarkan. PM Alkatiri telah menyebut
kekerasan yang terjadi merupakan rencana terorganisasi untuk menggulingkannya.
Kekerasan berdarah yang telah berlangsung selama seminggu dan menewaskan
sedikitnya 27 orang, kemungkinan lebih, menimbulkan kekhawatiran negara termuda
di dunia itu akan jatuh dalam perang sipil.
Para anggota geng membakar rumah-rumah dan saling bertarung menggunakan golok
pada hari ketiga kekerasan, Minggu (28/5). Asap dari kebakaran di seluruh kota
memenuhi udara sepanjang malam hingga Senin pagi. Jalan-jalan dipenuhi dengan
puing-puing yang masih berasap sementara helikopter Black Hawk meraung di
angkasa.
Kerusuhan di Timor Leste memaksa lebih dari 50.000 orang meninggalkan rumah
mereka, kata Palang Merah Australia (ARC) di Sydney, Minggu. Para pengungsi itu
kini tinggal di padang rumput dan memerlukan makanan, tenda serta barang
kebutuhan lain, kata ARC. Sementara itu, menurut perwakilan regional UNHCR
Robert Ashe, terdapat sekitar 27.000 pengungsi yang membutuhkan perlindungan,
namun tenda-tenda penampungan hampir tidak memiliki sanitasi. Banyak pengungsi
kekurangan bahan makanan dan air bersih.
Hari ini, Senin, Australia mengirim satu tim yang terdiri atas 45 polisi
federal untuk menyelidiki insiden pekan lalu ketika tentara Timor Leste
menembaki satu kelompok polisi tidak bersenjata yang menewaskan 12 perwira dan
mencederai 30 lainnya termasuk dua perwira PBB yang mendampingi mereka.
Polis-polisi itu adalah di antara ratusan polisi dan tentara dari daerah barat
negara itu yang memberontak sebagai protes atas perlakuan diskriminatif oleh
pihak etnik daerah timur yang lebih berkuasa. Mereka setuju menyerahkan senjata
mereka setelah ditengahi para penjaga perdamaian PBB tapi ditembak mati oleh
pasukan pemerintah.
Evakuasi Warga Asing
Sebanyak 134 warga Indonesia yang tinggal di Dili, tiba di Kupang, Nusa
Tenggara Timur, Minggu pagi, menambah jumlah WNI yang mengungsi dari Timor
Leste menjadi 492 orang. Seluruh warga Indonesia dibawa ke tempat penampungan
sementara di Fatululi, subdistrik Kelapa Lima, setelah mendaftarkan diri di
pangkalan angkatan udara El Tari. Dua pesawat Hercules siap siaga untuk
mengevakuasi WNI dari Timor Leste. Sampai Minggu, sebanyak 700 WNI berlindung
di KBRI Dili.
Sementara itu, Jepang juga menarik staf non-darurat di kedutaan mereka di Dili,
menyusul Australia, Amerika Serikat (AS) dan negara-negara lain. Sedangkan 200
warga China berlindung di kedutaannya. Dari 500 warga China di Timor Leste
tidak ada laporan luka-luka atau meninggal dunia. Hari ini pemerintah China
mengirimkan pesawat untuk meng-evakuasi mereka.
Pada hari Minggu, pesawat angkatan udara Filipina mengungsikan lebih dari 60
warganya dari Timor Leste. Presiden Gloria Macapagal Arroyo secara pribadi
menyambut ke-67 warga Filipina saat tiba di Manila dengan pesawat C-130. Arroyo
juga menyerahkan makanan ringan kepada mereka yang sebagian besar merupakan
pekerja bangunan di Timor Leste.
Menurut Departemen Luar Negeri Filipina, sekitar 200 warganya bekerja di Timor
Leste. Sisa warga Filipina yang ada memutuskan untuk tetap tinggal di Timor
Leste kendati terjadi kekerasan. Polisi Filipina yang menjadi anggota pasukan
perdamaian PBB termasuk di antara korban cedera dalam aksi tembak-menembak.
Sekitar 150 guru asal Portugal yang saat ini ditempatkan di Timor Leste juga
akan dipulangkan mulai Selasa (30/5), kata Kantor Berita Lusa, Minggu. Sebagian
besar dari sekitar 450 sampai 600 warga Portugal yang saat ini berada di Timor
Leste adalah guru atau petugas bantuan. Duta besar Portugal untuk Timor Leste
pekan lalu mengatakan mayoritas warga Portugal memutuskan untuk tetap berada di
negara itu meski terjadi kerusuhan.
Sebanyak 2.250 tentara dari Australia, Selandia Baru dan Malaysia ditempatkan
atas permintaan pemerintah Timor Leste untuk meredakan kekerasan berdarah
tersebut.
(ap/ant/afp/dpa/xinhua/nat)
---------------------------------
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Protect your PC from spy ware with award winning anti spy technology. It's free.
http://us.click.yahoo.com/97bhrC/LGxNAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/