KETIDAKBERDAYAAN MANUSIA DIANTARA BENCANA DAN KEMATIAN ( II )
   
  Realita telah menjelaskan secara tuntas dan telah memaparkan rangkaian 
kejadiannya secara terperinci, bahwa fenomena ketragisan tentang kehidupan akan 
selalu “berjalan” mengiringi manusia—dalam bermacam manifestasinya—tragis 
ataupun ironik. Manusia berjuang untuk mencapai kebahagiaan sesuai dengan 
kebebasan idenya, tetapi realita seakan “menentangnya atau melakukan 
perlawanannya”  secara sporadis. Dan sejarah manusia seperti suatu pergumulan 
panjang yang tidak ada habisnya, tanpa kejemuan, dan tanpa kemuakan nyata 
terhadap realitas penderitaan yang dialaminya. Setelah itu, manusia hanya 
digumuli oleh sistem buatannya, sesuai dengan “liarnya” ide yang lahir dari 
proses alam berpikirnya. Dan sistem itu telah membangun realitas penderitaan 
secara lebih berlanjut, kronis, dan semakin disempurnakan praksisnya. Sistem 
eksploitasi beserta dengan kekejamannya, berdiri mapan diatas ketidakberdayaan 
sebagian besar manusia lainnya. 
   
  Lalu manusia kembali dicampakkan ke dalam jurang “kebodohannya”, untuk 
memeras kebahagiaan dan kesedihan seakan menjadi suatu keharusan pada “garis 
takdir” tentang kehidupan; menghilangkan esensinya kepada suatu kepasrahan 
absurd, dan akhirnya melupakan realitas ketidakberdayaannya. Ketidakberdayaan 
dikaburkan nilainya hanya kepada suatu bentuk kepasrahan ambigu. Terlebih dari 
itu, hanyalah suatu “pemberontakan” budaya sesuai dengan realita perkembangan 
sejarah masyarakat. Esensi bencana dan kematian selalu didistorsi pada 
bentuk-bentuk metafisis sebagai suatu abstraksi yang selalu hadir menjadi 
“bayang-bayang” kehidupan. Seakan itu adalah momok yang harus dialami oleh tiap 
manusia beserta dengan penyerahan dirinya kepada kepasrahan ambigu, walaupun 
terkadang didramatisir pada beberapa praksis budaya mitologi sebagai “alat” 
untuk menghindarinya. 
   
  Suatu bentuk penderitaan absolut terjadi, manakala apa yang dianggap sebagai 
keharusan untuk pemenuhan kebahagiaan hidup, harus berdiri diatas ambisi yang 
menjadikan kesengsaraan manusia lainnya semakin “sempurna”. Bahkan ketika 
bencana dan kematian telah dieksploitasi esensinya untuk membangun suatu 
solidaritas semu, dengan ekses yang menuju kepada suatu “kebahagiaan” 
individualistik. Bahkan hal ini selalu tejadi, pada tingkat kebijakan otoritas 
kekuasaan sebagai ajang untuk mengonsolidasikan kepentingannya kepada beberapa 
“capaian” tertentu. Lalu kita hanya berteriak tentang apa yang tengah terjadi, 
tetapi mereka seperti tidak mempedulikannya, atau apakah hanya sekadar suatu 
“pelecehan kelas” pada realita keberadaan manusia di bumi ini? Ataukah 
merupakan suatu keterselubungan ide komersialisme belaka pada bangunan ruang 
solidaritas kemanusiaan—yang dipraksiskan oleh beberapa agen 
non-manusiawi—ketika masyarakat mengalami suatu bencana dan mega-kematian, lalu 
pada
 akhirnya realita tersebut hanya dijadikan konsumsi di depan layar televisi dan 
pemberitaan media.
  Kearifan setiap manusia dibangun oleh realita kesadarannya terhadap apa yang 
pernah dialaminya dan tengah dialaminya, sesuai dengan realita 
ketidakberdayaannya. Walaupun kearifan tersebut juga dibangun oleh ide pada 
kebebasan alam berpikirnya, merupakan dasar terjadinya beberapa praksis 
pembebasan dan pertolongan kepada para korban dari penderitaannya. Walaupun 
bencana dan kematian selalu melahirkan beberapa cara pandang tertentu tentang 
realitas manusia, tetapi ada cara pandang yang harus dikritisi keberadaannya; 
yaitu—ketika bencana dan kematian—seakan merupakan suatu paradigma penghapusan 
“sekat-sekat privasi manusia”, pada bentuk kebersamaan nyata dibalik 
ke-semu-annya yang “selalu ditutupi”. Walau itu bukanlah hal permanen, tetapi 
cara pandang tersebut telah mengaburkan substansi karakter individualistik 
manusiawi, dan terlalu “idealisme” jika hal itu dipaparkan kepada ranah publik.
   
  Karena kehakikatan manusia telah “dihancurkan” oleh realita masyarakat kelas. 
Walaupun pesimisme merupakan realita yang menyejarah pada bentangan ketragisan 
pada kehidupan manusia, tetapi itu selalu ditoleransi pada batasan naluriah 
manusiawi, terlebih dari itu hanya merupakan ajang mistifikasi pada lingkar 
budaya peradaban manusia. “Rahasia alam tak bisa terjawab, pada mistik lalu 
kita berharap?” kata Heri Latief dalam puisi ideologisnya. Atau suatu 
pertanyaan-gugatan terhadap proses kesadaran manusia yang disempurnakan dalam 
kekritisan idenya, “mempertanyakan mimpi terbelah, lari ke doa dan 
jampi-jampi?”. 
   
  Alam dan realitasnya, walaupun keterbatasan ide manusia untuk mengungkap 
segala rahasianya, tetapi pada akhirnya sebagian manusia selalu menariknya pada 
batasan garis “misteri-abstraktif”. Memberi “jebakan” sempurna kepada generasi 
manusia selanjutnya, untuk meminimalisir daya rasionalitasnya berdasarkan 
obyektifitas material alam semesta. Socrates dengan kematiannya, hanya 
didasarkan pada penolakan ide rasionalitas yang dipaparkan olehnya, walaupun 
sejarah pada akhirnya membenarkan kebenaran rasionalitasnya. Dan yang kembali 
dipertegas adalah ketika kematian tersebut harus didramatisir dalam 
ketragisannya yang signifikan. (bersambung)
   
  Juni 2006, Leonowens SP

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Protect your PC from spy ware with award winning anti spy technology. It's free.
http://us.click.yahoo.com/97bhrC/LGxNAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke