REPUBLIKA

Senin, 12 Juni 2006

Against All Odds 

Oleh : Ir. H. Adiwarman A. Karim, SE., MBA., MAEP. 


Aliran dana dari Timur Tengah tidak dapat dibendung lagi. Malaysia telah 
membuka industri perbankan syariahnya yang selama ini tertutup bagi pemodal 
asing. HSBC Amanah, Al Rajhi, Kuwait Finance House, dan konsorsium Qatar 
Islamic Bank resmi beroperasi di Malaysia. CIMB Malaysia baru menawarkan 
reksadana syariah dari saham-saham yang terdapat di 14 bursa saham Asia.

Global Investment House Kuwait baru saja menyelesaikan transaksi pembelian 
Jahangir Siddiqui (JS) Securities Pakistan senilai USD37,4 juta, dan pekan lalu 
bank sentral Pakistan mengeluarkan ijin JS Bank yang merupakan merger antara 
unit lokal American Express Pakistan dengan JS Investment Bank.

Singapura tidak ketinggalan. Pada semester pertama tahun ini Singapura 
mengeluarkan indeks saham syariah FTSE SGX Asia Shariah 100, hasil kerja sama 
antara otoritas bursa Singapura dengan perusahaan indeks dunia FTSE. Singapura 
juga menawarkan reksadana indeks syariah yang diberi nama NTUC Amanah Equity 
Fund. Reksadana ini mengacu pada Dow Jones Islamic Market Developed Market, 
dengan kelolaan asset USD15,56 juta.

Australia baru saja menawarkan portfolio saham yang sesuai syariah. Hal ini 
merupakan wujud kerjasama Intrinsic Investment Management dengan Muslim 
Community Cooperative of Australia. Bagaimana dengan Indonesia? Pertama, 
rencana penerbitan sukuk tampaknya masih harus bersabar mengunggu amandemen UU. 
Penerbitan sukuk dengan landasan hukum Perpu atau regulasi lainnya di bawah UU, 
dipandang riskan dan dapat membawa persoalan yang tidak perlu di masa 
mendatang. Dari sisi ini, masuknya dana-dana Timur Tengah melalui instrumen 
sukuk masih belum mendapatkan titik terang. Alternatif yang tersisa adalah 
penerbitan sukuk oleh BUMN di luar negeri, ini pun harus dilakukan dengan 
hati-hati agar tidak mengganggu manajemen utang luar negeri secara keseluruhan.

Kedua, masuknya investor Timur Tengah dalam bentuk saham di industri perbankan 
Indonesia memang masih terus terbuka peluangnya. Ketentuan modal minimum Rp 1 
triliun untuk ijin bank syariah baru memang mirip dengan ketentuan di Malaysia 
yang mensyaratkan USD100 juta. Bedanya adalah di Malaysia pemerintah dengan 
aktif mengundang mereka masuk dan regulasinya dipandang lebih kondusif. Ambil 
contoh masalah perpajakan di Indonesia yang melihat transaksi murabahah sebagai 
objek pajak pertambahan nilai.

Ketiga, berita tentang perluasan kewenangan peradilan agama yang mencakup 
bidang ekonomi syariah telah menyebar luas ke dunia internasional. Tentu saja 
hal ini patut disyukuri dan merupakan langkah pionir yang akan diikuti oleh 
negara-negara lain. Cepatnya kabar ini meluas karena bank-bank asing mulai 
mengantisipasi apakah mereka perlu in-house lawyer dan mitra law firm yang 
memahami syariah dengan adanya UU baru ini. Minimnya regulasi perbankan syariah 
dan belum pahamnya mereka akan kinerja peradilan agama dalam menangani 
kasus-kasus ekonomi syariah ikut menambah kegamangan.

Keempat, survey terhadap investor Timur Tengah tentang selera risiko mereka, 
preferensi investasi mereka, alasan mereka belum memilih Indonesia, dan 
lainnya, belum pernah diketahui secara pasti. Jadi kita berusaha menarik 
investor Timur Tengah tanpa kita sendiri mau berusaha memahami mereka.

Kelima, upaya yang komprehensif untuk membangun citra Indonesia di mata 
investor asing khususnya Timur Tengah juga belum dilakukan dengan terstruktur. 
Bagi mereka yang akrab dengan dunia investment bank, seringkali kiita miris 
ketika melihat asset dan proyek Indonesia dijual ke investor Barat, yang 
ternyata dananya bersumber dari Timur Tengah juga.

Investor asing tahu persis berbagai masalah yang menimpa bangsa ini, merekapun 
tahu berbagai kendala ketika melakukan investasi disini. Yang mengejutkan 
adalah, dengan masalah dan kendala seperti itupun, mereka masih melihat 
Indonesia sebagai tempat yang strategis untuk melakukan investasi. Jumlah 
populasi yang demikian besar telah menarik tidak kurang 34 perusahaan asuransi 
untuk membuka layanan syariahnya di Indonesia. Besarnya pasar perbankan ritel, 
juga telah mendorong lebih dari 20 bank menawarkan layanan syariah. Begitu pula 
dengan industri pasar modal syariah.

Investor asing tahu persis potensi besar bangsa ini, baik sumber daya manusia 
maupun sumber daya alamnya, yang tidak bisa tertutupi oleh masalah dan kendala 
yang ada saat ini. Terutama investor syariah yang memang memerlukan proyek riil 
untuk dibiayai, bukan sekedar jual beli asset-asset finansial. Banyaknya 
proyek-proyek infrastruktur menjadikan Indonesia mempunyai daya tarik luar 
biasa bagi investor syariah.

Industri energi (pertambangan, migas), industri berbasis sumberdaya alam 
(perkebunan), dan industri infrastruktur berpendapatan valas (airport, seaport) 
merupakan yang paling diminati. Perilaku investor syariah juga agak berbeda 
dalam hal jangka waktu investasi. Beberapa saat yang lalu kalangan pasar modal 
sempat optimistis dan menetapkan IHSG akan mencapai level 1700. Kenyataannya 
IHSG kembali pada level 1287 setelah mencapai level 1500. Ini tidak terlepas 
dari perilaku investor yang jangka waktu investasinya sangat pendek, didorong 
motif profit taking dari pergerakan harga saham harian. Bagi mereka return yang 
tinggi dalam masa yang singkat menjadi tujuan.

Investor syariah mempunyai horison investasi jangka panjang, biasanya 5-15 
tahun. Perhatian utama mereka adalah pada keutuhan modal, bukan pada return 
jangka pendek. Tentu saja mereka ingin return yang tinggi, namun dengan horison 
investasi yang panjang.

Tampaknya kini saatnya kita berusaha memahami investor Timur Tengah luar-dalam 
(inside-out) dengan survey. Sekedar berasumsi ini dan itu tidak akan banyak 
membantu. Kini saatnya pula kita secara sistematis membangun citra Indonesia 
sebagai investment destination yang memberikan kenyamanan. Dilihat dari segi 
manapun, kita adalah bangsa besar. Sekali layar terkembang, surut kita 
berpantang.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Home is just a click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/DHchtC/3FxNAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke