http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=231585

Sabtu, 17 Juni 2006,



Membedakan Sekolah dengan Sanggar Seni


Oleh Iwan Djanali 



Di dalam buku Paradigma Baru Pendidikan Tinggi Seni di Indonesia yang 
diterbitkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi 2005, seni dikatakan sebagai 
paduan antara ekspresi individual dan eskpresi kultural. "Sebagai subjek 
kolektif, seniman terikat oleh latar sosial budayanya yang khas sehingga nilai 
identitas lokalnya akan selalu terbawa." Buku itu kemudian menyebutkan, 
munculnya kreativitas pada para seniman dipicu tegangan antara kebebasan 
berekspresi dan keterikatan budaya.

Meski tidak dapat dimungkiri bahwa penciptaan dan apresiasi seni sangat 
dipengaruhi budaya, seni tidak seharusnya dibatasi budaya. Yang sangat 
disayangkan, pendidikan seni di Indonesia sangat dibatasi subkultur yang berada 
di masyarakat. 

Akibatnya, masyarakat luas menganggap pendidikan seni terlalu sempit dan hanya 
dikhususkan bagi mereka yang ingin menjadi seniman/wati. Pendidikan seni juga 
sering dianggap terlalu kuno dan kurang menjanjikan masa depan yang cerah. 
Lebih parah lagi, pandangan pelajar-pelajar di sekolah dasar dan menengah 
dipengaruhi stereotip di masyarakat. Banyak pelajar juga tidak menganggap 
serius mata pelajaran kesenian di sekolah.

Untuk menghapus stereotip yang ada, pendidikan seni, baik di sekolah-sekolah 
umum maupun di institusi-institusi seni, seharusnya mengajarkan lebih daripada 
sekadar cara menari atau cara memahat. 

Layaknya mata pelajaran atau jurusan kuliah lain, pendidikan seni di institusi 
pendidikan sudah seharusnya mengajarkan para pelajar tentang cara berpikir dan 
mengeksplorasi keadaan lingkungan sekitar guna menuangkannya ke dalam karya 
seni. Itulah yang membedakan antara sekolah seni dan sanggar seni. 

Di sanggar seni, para murid mengamati, meniru, dan berlatih. Namun, di sekolah 
seni, pelajar dan mahasiswa tidak hanya mengamati, meniru, dan berlatih, tetapi 
juga selayaknya berpikir.

Karena itu, batasan subkultur terhadap pengajaran pendidikan seni di Indonesia 
sudah sepantasnya direvisi. Seperti yang dikatakan di dalam buku Paradigma Baru 
Pendidikan Tinggi Seni di Indonesia, "Orientasi pendidikan tinggi sini yang 
semula hanya bertolak pada subkultur tertentu sudah saatnya berubah dan secara 
proaktif membangun dialog dengan subkultur lain atau kultur asing." 

Untuk memungkinkan hal itu, ada beberapa langkah yang dapat ditempuh untuk 
meningkatkan kualitas pendidikan seni, baik di sekolah umum maupun sekolah seni.

Pertama, kurikulum pendidikan seni di Indonesia perlu dibenahi. Hingga saat 
ini, mata pelajaran kesenian di sekolah umum hanya melingkupi penciptaan karya 
sehingga guru kesenian hanya mengajarkan teknik-teknik, seperti komposisi dan 
perspektif. Para pelajar, sekali lagi, hanya mengamati, meniru, dan berlatih. 

Sudah sepatutnya sejarah seni juga dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan 
seni sehingga para pelajar dapat mengetahui alasan-alasan mengapa lukisan 
aliran batuan dari Bali tampak sangat berbeda daripada lukisan aliran cubism 
karya Picasso dan mengapa penari perempuan Jawa sering menyibakkan selendang 
mereka. 

Diharapkan, dengan adanya elemen sejarah seni di dalam kurikulum pendidikan 
seni, dialog dengan subkultur lain atau kultur asing dapat terwujud dan 
kesenian menjadi mata pelajaran yang lebih dinamis.

Kedua, pengajaran seni di sekolah harus dibuat lebih menyenangkan dan pada saat 
yang sama dapat mengembangkan kreativitas pelajar secara lebih maksimal. 
Sebagai contoh, instruksi tugas seni yang standar, "Gambar wajah teman 
sebangkumu" dapat diubah menjadi "Ekspresikan ke dalam media apa pun 
kepribadian teman sebangkumu." Pelajar-pelajar akan lebih tergerak untuk 
mengeksplorasi imajinasi mereka, tanpa harus melupakan teknik-teknik yang telah 
mereka pelajari di kelas. 

Selain itu, faktor penilaian yang terkesan sangat mengekang pada saat ini dapat 
diubah. Dengan begitu, pelajar-pelajar yang kurang mahir dalam penciptaan karya 
seni tetap tergerak untuk bekerja keras dalam kelas seni mereka. 

Pada kebanyakan universitas di Amerika Serikat, misalnya, nilai untuk mata 
pelajaran seni tidak hanya didasarkan pada kemampuan seorang mahasiswa untuk 
mendemonstrasikan kemahiran mereka, tetapi juga didasarkan pada perkembangan 
mahasiswa itu dalam menghasilkan karya seni sepanjang semester yang 
bersangkutan.

Ketiga, pendidikan seni seharusnya memberikan kesempatan kepada para pelajar 
atau mahasiswa untuk berpikir. Kesempatan berpikir dapat dituangkan ke dalam 
penciptaan karya dan apresiasi karya. 

Dalam penciptaan karya, sekolah seni perlu mendorong pelajarnya untuk 
mengeksplorasi penciptaan karya fusion, yang mengombinasikan unsur subkultur di 
masyarakat dan unsur subkultur lain atau kultur asing. 

Penciptaan karya-karya fusion juga dapat mendorong pengenalan budaya Indonesia 
ke negara asing. Karya fusion Bharatanatyam, sebuah tarian tradisional dari 
India Selatan dengan sentuhan tata suara dan tata cahaya modern, misalnya, 
mampu mendongkrak minat pengamat seni di Amerika Serikat dan Kanada untuk 
mempelajari tarian itu. 

Dalam apresiasi karya, hasil karya para pelajar dalam mata pelajaran kesenian 
di sekolah-sekolah umum seharusnya tidak hanya dikumpulkan, tetapi juga 
didiskusikan di kelas. Para pelajar akan terdorong untuk memberikan pujian atau 
kritik atas hasil karya teman mereka. Dalam proses evaluasi hasil karya teman 
itulah, mereka dituntut untuk berpikir. 

Di sekolah-sekolah seni, pendidikan seni dapat menekankan cross-reference 
dengan nilai-nilai budaya lingkungan sekitar. Karena itu, pendidikan seni perlu 
menekankan pentingnya pengetahuan tentang situasi sosial, ekonomi, politik, dan 
budaya lingkungan sekitar dalam apresiasi seni. Sekolah seni juga harus 
memberikan peluang lebih besar kepada pelajar untuk meneliti seni, khususnya 
dalam interaksi antara seni dan kehidupan sosial.


Iwan Djanali, mahasiswa Matematika-Ekonomi dan Seni Tari Wesleyan University, 
Connecticut, Amerika Serikat


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/gi.u7A/fOaOAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke