http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=234115

Sabtu, 01 Juli 2006,



Mendukung Ormas Sektarian


Oleh Maya Susiani 

Ormas-ormas sektarian tidak serta-merta muncul pascareformasi. Namun, telah ada 
sejak zaman Orba. Hanya, saat Orba, ormas-ormas sektarian yang muncul adalah 
"rekomendasi" dari penguasa. Gunanya adalah mengontrol gerakan-gerakan rakyat 
saat itu. Tentu saja, pada waktu itu, gerakan ormas sektarian lebih mudah 
dipatahkan daripada ormas yang bergerak atas dasar kesepahaman nasional.

Basis 

Dalam satu kesepahaman mengenai ormas sektarian, kita sepakat bahwa ormas 
sektarian diartikan sebagai ormas yang dibentuk berdasar identitas tertentu, 
seperti agama, ideologi, atau kesamaan identitas lainnya.

Empat artikel yang dimuat dalam rubrik Prokon Aktivis koran ini mulai edisi 
26-29/06/06, saya tangkap lebih menekankan pada ormas sektarian yang 
menggunakan tindakan anarkis. Keempat artikel tersebut tidak mengungkapkan 
relevansi ormas sektarian dalam perjuangan bangsa. Seolah-olah, ormas sektarian 
adalah pihak yang mempunyai andil besar atas terjadinya beragam tindakan 
anarkis di negeri ini. 

Padahal, banyak ormas nonsektarian yang menggunakan cara yang bisa dibilang 
"lebih anarkis atau lebih jahat" daripada beberapa ormas sektarian. Rasanya tak 
adil jika kita melihat sebelah mata dalam memandang ormas sektarian. 

Sebenarnya, dasar acuan untuk menyikapi ormas sektarian itu bukanlah apa yang 
menjadi kesatuan identitasnya. Tetapi, apakah ormas sektarian juga berperan 
dalam perjuangan bangsa. Jika hanya dilihat pada identitas ormas tersebut atau 
tindakan anarkisnya, hal itu tidak akan menjawab akar masalah.

Anasir serupa juga saya tangkap dari tulisan Saudara Mardiyanto (Jawa Pos, 
29/06/06) berjudul Jauhkan Ormas dari Label Preman. Saya terus terang tidak 
sepakat jika pasal 26 UU No 8/1985 tentang Ormas, yang intinya menyatakan bahwa 
pemerintah boleh membubarkan ormas-ormas yang berpaham marxisme, leninisme, 
atau paham lain yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, dijadikan 
rujukan untuk melihat posisi ormas sektarian. 

Entah itu memakai paham, pandangan, atau ideologi apa pun, jika tidak merugikan 
perjuangan bangsa, saya rasa sah-sah saja ormas tersebut berdiri dan meneruskan 
perjuangannya. Seperti yang saya katakan tadi, pengelompokan-pengelompokan atas 
dasar tertentu memang berpotensi memudahkan patahnya perjuangan. Namun, jika 
pengelompokan tersebut tidak melibatkan fanatisme sempit dan berani membuka 
diri terhadap yang lain, itu tidak menjadi masalah.

Ormas Sektarian "Sejati" 

Bila Anda membaca tulisan saya ini, pasti Anda akan mengira bahwa saya adalah 
pembela hadirnya ormas-ormas sektarian. Memang benar, saya termasuk pembela 
ormas-ormas sektarian. Namun, tentu saja pembelaan saya terhadap ormas 
sektarian juga berdasar pertimbangan-pertimbangan dan kualifikasi tertentu.

Sejatinya, suatu organisasi, meliputi ormas atau organisasi apa pun, dibentuk 
berdasar pemaknaan oleh beberapa orang dalam satu komunitas praktik 
(communities of practice). Menurut ahli teori organisasi Etienne Wenger (1996), 
komunitas praktik adalah cara bersama untuk melakukan berbagai hal serta saling 
berhubungan satu sama lain yang memperkenankan mereka mencapai tujuan bersama. 
Seiring waktu, praktik yang dihasilkan menjadi suatu ikatan yang dapat dikenal 
di antara mereka yang terlibat.

Komunitas praktik itu, masih menurut Wenger, akan mengalami kemajuan dan 
keberhasilan jika mau "dirusak" dan "dicampuri" sesuatu yang berasal dari luar. 
Komunitas praktik itu juga akan lemah atau mungkin hancur jika hanya 
terkungkung dalam dunia mereka sendiri dan apatis terhadap dunia luar.

Itulah yang ingin saya tekankan pada ormas sektarian. Tak dapat dimungkiri, 
orang sering merasa kesulitan saat beradaptasi dengan sesuatu yang beda dengan 
yang dia punya. Dengan begitu, adaptasi itu lebih mudah saat dilakukan atas 
dasar persamaan identitas. Hal itu juga membuat orang-orang yang ada di 
dalamnya lebih enjoy dalam melakukan sesuatu dan lebih berani menyampaikan 
keinginannya.

Mungkin, yang menjadi masalah sampai sekarang adalah tidak adanya dialektika 
yang terjadi antara ormas sektarian dan pihak lain. Fanatisme sempit masih 
dijadikan alibi untuk berbuat seuatu yang diyakini benar.

Kuncinya, dialektika bukan hanya terjadi antarsesama ormas sekatarian, tetapi 
juga dengan ormas nonsektarian, orsospol, ormawa, lembaga pemerintah, dan 
seluruh elemen masyarakat. Dengan begitu, kemajemukan yang ada akibat ormas 
sektarian tidak menjadi sesuatu yang merugikan bangsa. 

Mungkin kelihatannya memang utopis, namun hal itu akan menjadi nyata apabila 
baik ormas sektarian maupun yang berada di luarnya memahami bahwa keutamaan 
atas segala yang dia lakukan bukan untuk kepentingan golongannya sendiri, tapi 
untuk kepentingan bangsa Indonesia.


Maya Susiani, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Jember (Unej), pemimpin 
redaksi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ecpose FE Unej



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Great things are happening at Yahoo! Groups.  See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/TISQkA/hOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke