cahyo_prihartono ngimpi disiang hari...
Dia bilang saya kebanting...
Dia yang tidak bisa bantah bahwa al-Mushaf itu adalah sinonim
al-Quran...
Lalu bawa-bawa masaalah "alQuran yang tidak ditulis tapi dihapal
disebut juga alMushaf " yang berada diluar topik
On 16 Jul 06, at 15:02, [EMAIL PROTECTED] wrote:
> jadi kebanting lagi ya da?
> kasihan ya da?
>
> lam sayang da.....
>
>
>
>
>
> "Jusfiq Hadjar" <[EMAIL PROTECTED]>@yahoogroups.com on 07/04/2006
> 04:54:13 PM
>
> Bukan urusan saya...
>
> On 16 Jul 06, at 14:38, [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> > ikutan juga....
> > -------------
> > Saya garis bawahi kaliamat ini:
> > "Mushaf adalah istilah lain dari Alquran, yakni
> > himpunan atau kumpulan ayat-ayat Allah yang ditulis dan dibukukan."
> > -----------------
> >
> > nah alQuran yang tidak ditulis tapi dihapal disebut juga alMushaf ya
> > uda?
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > "hadjar_wish" <[EMAIL PROTECTED]>@yahoogroups.com on 07/04/2006
> > 02:33:48 PM
> >
> > Reposting...
> >
> > --- In [email protected], "hadjar_wish" <[EMAIL PROTECTED]>
> > wrote:
> >
> > Saya garis bawahi kaliamat ini:
> >
> > "Mushaf adalah istilah lain dari Alquran, yakni
> > himpunan atau kumpulan ayat-ayat Allah yang ditulis dan dibukukan."
> >
> > Allahu Akbar...
> >
> > Jadi, saya ulang:
> >
> > "Mushaf adalah istilah lain dari Alquran, yakni
> > himpunan atau kumpulan ayat-ayat Allah yang ditulis dan dibukukan."
> >
> > --- In [email protected], "Ibrahim Yohannes Syihab"
> > <dakwah_umat@> wrote:
> >
> > Merenungkan Sejarah Alquran
> > Tanggal dimuat: 17/11/2003
> >
> > Oleh Luthfi Assyaukanie
> >
> > Bulan Ramadhan adalah bulan Alquran dan sekaligus merupakan bulan
> > puji-pujian terhadap kitab suci ini. Tanggal 17 Ramadhan dianggap
> > sebagai puncak dari ritual pengagung-agungan terhadap Alquran,
> > karena pada tanggal inilah Alquran diyakini diturunkan oleh Allah
> > kepada Nabi Muhammad. Di bulan yang suci ini, saya ingin merenungkan
> > sejarah Alquran yang panjang, yang berproses, yang berjuang dengan
> > berbagai tantangan zaman, hingga menjadi wujud dalam bentuknya yang
> > kita kenal sekarang.
> >
> > Pengkajian sejarah Alquran bukan hanya dimaksudkan untuk mengungkap
> > dimensi-dimensi tersembunyi yang selama ini tak terpikirkan oleh
> > umat Islam, tapi juga merupakan modal intelektual untuk memahami
> > kitab suci yang hingga hari ini terus menjadi sumber inspirasi hukum
> > dan moral kaum Muslim. Saya ingin berangkat dari sebuah pijakan
> > bahwa kajian ilmiah tidaklah merusak akidah. Kajian ilmiah juga
> > tidak bertentangan dengan semangat dasar Islam yang mendukung
> > kebenaran dan menjunjung tinggi kebebasan.
> >
> > * * *
> >
> > Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa Alquran dari halaman
> > pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan
> > kepada Nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya (lafdhan)
> > maupun maknanya (ma'nan). Kaum Muslim juga meyakini bahwa Alquran
> > yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis seperti yang ada
> > pada masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun silam.
> >
> > Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan
> > angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama
> > sebagai bagian dari formalisasi doktrin-doktrin Islam. Hakikat dan
> > sejarah penulisan Alquran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai
> > nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi dari perdebatan,
> > pertentangan, intrik, dan rekayasa.
> >
> > Alquran dalam bentuknya yang kita kenal sekarang sebetulnya adalah
> > sebuah inovasi yang usianya tak lebih dari 79 tahun. Usia ini
> > didasarkan pada upaya pertama kali kitab suci ini dicetak dengan
> > percetakan modern dan menggunakan standar Edisi Mesir pada tahun
> > 1924. Sebelum itu, Alquran ditulis dalam beragam bentuk tulisan
> > tangan (rasm) dengan teknik penandaan bacaan (diacritical marks) dan
> > otografi yang bervariasi.
> >
> > Hadirnya mesin cetak dan teknik penandaan bukan saja membuat Alquran
> > menjadi lebih mudah dibaca dan dipelajari, tapi juga telah
> > membakukan beragam versi Alquran yang sebelumnya beredar menjadi
> > satu standar bacaan resmi seperti yang kita kenal sekarang.
> >
> > Pencetakan Edisi Mesir itu bukanlah yang pertamakali dalam upaya
> > standarisasi versi-versi Alquran. Sebelumnya, para khalifah dan
> > penguasa Muslim juga turun-tangan melakukan hal yang sama, kerap
> > didorong oleh keinginan untuk menyelesaikan konflik-konflik bacaan
> > yang muncul akibat beragamanya versi Alquran yang beredar.
> >
> > Tapi pencetakan tahun 1924 itu adalah ikhtiyar yang luar biasa,
> > karena upaya ini merupakan yang paling berhasil dalam sejarah
> > kodifikasi dan pembakuan Alquran sepanjang masa. Terbukti kemudian,
> > Alquran Edisi Mesir itu merupakan versi Alquran yang paling banyak
> > beredar dan digunakan oleh kaum Muslim.
> >
> > Keberhasilan penyebarluasan Alquran Edisi Mesir tak terlepas dari
> > unsur kekuasaan. Seperti juga pada masa-masa sebelumnya, kodifikasi
> > dan standarisasi Alquran adalah karya institusi yang didukung oleh
> > -- dan menjadi bagian dari proyek-- penguasa politik. Alasannya
> > sederhana, sebagai proyek amal (non-profit), publikasi dan
> > penyebaran Alquran tak akan efektif jika tidak didukung oleh lembaga
> > yang memiliki dana yang besar.
> >
> > Apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Saudi Arabia mencetak
> > ratusan ribu kopi Alquran sejak tahun 1970-an merupakan bagian dari
> > proyek amal yang sekaligus juga merupakan upaya penyuksesan
> > standarisasi kitab suci. Kendati tidak seperti Uthman bin Affan yang
> > secara terang-terangan memerintahkan membakar seluruh versi (mushaf)
> > Alquran yang bukan miliknya (kendati tidak benar-benar berhasil),
> > tindakan penguasa Saudi membanjiri pasar Alquran hanya dengan satu
> > edisi, menutupi dan perlahan-lahan menyisihkan edisi lain yang diam-
> > diam masih beredar (khususnya di wilayah Maroko dan sekitarnya).
> >
> > Agaknya, tak lama lagi, di dunia ini hanya ada satu versi Alquran,
> > yakni versi yang kita kenal sekarang ini. Dan jika ini benar-benar
> > terwujud (entah kapan), maka itulah pertama kali kaum Muslim (baru)
> > boleh mendeklarasikan bahwa mereka memiliki satu Alquran yang utuh
> > dan seragam.
> >
> > Edisi Mesir adalah salah satu dari ratusan versi bacaan Alquran
> > (qiraat) yang beredar sepanjang sejarah perkembangan kitab suci ini.
> > Edisi itu sendiri merupakan satu versi dari tiga versi bacaan yang
> > bertahan hingga zaman modern. Yakni masing-masing, versi Warsh dari
> > Nafi yang banyak beredar di Madinah, versi Hafs dari Asim yang
> > banyak beredar di Kufah, dan versi al-Duri dari Abu Amr yang banyak
> > beredar di Basrah. Edisi Mesir adalah edisi yang menggunakan versi
> > Hafs dari Asim.
> >
> > Versi bacaan (qiraat) adalah satu jenis pembacaan Alquran. Versi ini
> > muncul pada awal-awal sejarah Islam (abad pertama hingga ketiga)
> > akibat dari beragamnya cara membaca dan memahami mushaf yang beredar
> > pada masa itu. Mushaf adalah istilah lain dari Alquran, yakni
> > himpunan atau kumpulan ayat-ayat Allah yang ditulis dan dibukukan.
> >
> > Sebelum Uthman bin Affan (w. 35 H), khalifah ketiga, memerintahkan
> > satu standarisasi Alquran yang kemudian dikenal dengan "Mushaf
> > Uthmani," pada masa itu telah beredar puluhan --kalau bukan
> > ratusan-- mushaf yang dinisbatkan kepada para sahabat Nabi. Beberapa
> > sahabat Nabi memiliki mushafnya sendiri-sendiri yang berbeda satu
> > sama lain, baik dalam hal bacaan, susunan ayat dan surah, maupun
> > jumlah ayat dan surah.
> >
> > Ibn Mas'ud, seorang sahabat dekat Nabi, misalnya, memiliki mushaf
> > Alquran yang tidak menyertakan surah al-Fatihah (surah pertama).
> > Bahkan menurut Ibn Nadiem (w. 380 H), pengarang kitab al-Fihrist,
> > mushaf Ibn Mas'ud tidak menyertakan surah 113 dan 114. Susunan
> > surahnyapun berbeda dari Alquran yang ada sekarang. Misalnya, surah
> > keenam bukanlah surah al-An'am, tapi surah Yunus.
> >
> > Ibn Mas'ud bukanlah seorang diri yang tidak menyertakan al-Fatihah
> > sebagai bagian dari Alqur'an. Sahabat lain yang menganggap surah
> > "penting" itu bukan bagian dari Alquran adalah Ali bin Abi Thalib
> > yang juga tidak memasukkan surah 13, 34, 66, dan 96. Hal ini
> > memancing perdebatan di kalangan para ulama apakah al-Fatihah
> > merupakan bagian dari Alquran atau ia hanya merupakan "kata
> > pengantar" saja yang esensinya bukanlah bagian dari kitab suci.
> >
> > Salah seorang ulama besar yang menganggap al-Fatihah bukan sebagai
> > bagian dari Alquran adalah Abu Bakr al-Asamm (w. 313 H). Dia dan
> > ulama lainnya yang mendukung pandangan ini berargumen bahwa
> > al-Fatihah hanyalah "ungkapan liturgis" untuk memulai bacaan
> > Alqur'an. Ini merupakan tradisi populer masyarakat Mediterania pada
> > masa awal-awal Islam. Sebuah hadis Nabi mendukung fakta ini: "siapa
> > saja yang tidak memulai sesuatu dengan bacaan alhamdulillah [dalam
> > hadis lain bismillah] maka pekerjaannya menjadi sia-sia."
> >
> > Perbedaan antara mushaf Uthman dengan mushaf-mushaf lainnya bisa
> > dilihat dari komplain Aisyah, isteri Nabi, yang dikutip oleh
> > Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitabnya, al-Itqan, dalam kata-kata
> > berikut: "pada masa Nabi, surah al-Ahzab berjumlah 200 ayat. Setelah
> > Uthman melakukan kodifikasi, jumlahnya menjadi seperti sekarang
> > [yakni 73 ayat]." Pandangan Aisyah juga didukung oleh Ubay bin Ka'b,
> > sahabat Nabi yang lain, yang di dalam mushafnya ada dua surah yang
> > tak dijumpai dalam mushaf Uthman, yakni surah al-Khal' dan al-Hafd.
> >
> > Setelah Uthman melakukan kodifikasi dan standarisasi, ia
> > memerintahkan agar seluruh mushaf kecuali mushafnya (Mushaf Uthmani)
> > dibakar dan dimusnahkan. Sebagian besar mushaf yang ada memang
> > berhasil dimusnahkan, tapi sebagian lainnya selamat. Salah satunya,
> > seperti kerap dirujuk buku-buku `ulum al-Qur'an, adalah mushaf
> > Hafsah, salah seorang isteri Nabi, yang baru dimusnahkan pada masa
> > pemerintahan Marwan ibn Hakam (w. 65 H) beberapa puluh tahun
> > kemudian.
> >
> > Sebetulnya, kendati mushaf-mushaf para sahabat itu secara fisik
> > dibakar dan dimusnahkan, keberadaannya tidak bisa dimusnahkan dari
> > memori mereka atau para pengikut mereka, karena Alquran pada saat
> > itu lebih banyak dihafal ketimbang dibaca. Inilah yang menjelaskan
> > maraknya versi bacaan yang beredar pasca-kodifikasi Uthman.
> > Buku-buku tentang varian-varian bacaan (kitab al-masahif) yang
> > muncul pada awal-awal abad kedua dan ketiga hijriah, adalah bukti
> > tak terbantahkan dari masih beredarnya mushaf-mushaf klasik itu.
> > Dari karya mereka inilah, mushaf-mushaf sahabat yang sudah
> > dimusnahkan hidup kembali dalam bentuk fisik (teks tertulis).
> >
> > Sejarah penulisan Alqur'an mencatat nama-nama Ibn Amir (w. 118 H),
> > al- Kisai (w. 189 H), al-Baghdadi (w. 207 H); Ibn Hisyam (w. 229 H),
> > Abi Hatim (w. 248 H), al-Asfahani (w. 253 H) dan Ibn Abi Daud (w.
> > 316 H) sebagai pengarang-pengarang yang menghidupkan mushaf-mushaf
> > klasik dalam karya masahif mereka (umumnya diberijudul kitab
> > al-masahif atau ikhtilaf al-masahif). Ibn Abi Daud berhasil
> > mengumpulkan 10 mushaf sahabat Nabi dan 11 mushaf para pengikut
> > (tabi'in) sahabat Nabi.
> >
> > Munculnya kembali mushaf-mushaf itu juga didorong oleh kenyataan
> > bahwa mushaf Uthman yang disebarluaskan ke berbagai kota Islam tidak
> > sepenuhnya lengkap dengan tanda baca, sehingga bagi orang yang tidak
> > pernah mendengar bunyi sebuah kata dalam Alquran, dia harus merujuk
> > kepada otoritas yang bisa melafalkannya. Dan tidak sedikit dari
> > pemegang otoritas itu adalah para pewaris varian bacaan non-Uthmani.
> >
> > Otoritas bacaan bukanlah satu-satunya sumber yang menyebabkan
> > banyaknya varian bacaan. Jika otoritas tidak dijumpai, kaum Muslim
> > pada saat itu umumnya melakukan pilihan sendiri berdasarkan kaedah
> > bahasa dan kecenderungan pemahamannya terhadap makna sebuah teks.
> > Dari sinilah kemudian muncul beragam bacaan yang berbeda akibat
> > absennya titik dan harakat (scripta defectiva). Misalnya bentuk
> > present (mudhari') dari kata a-l-m bisa dibaca yu'allimu, tu'allimu,
> > atau nu'allimu atau juga menjadi na'lamu, ta'lamu atau bi'ilmi.
> >
> > Yang lebih musykil adalah perbedaan kosakata akibat pemahaman makna,
> > dan bukan hanya persoalan absennya titik dan harakat. Misalnya,
> > mushaf Ibn Mas'ud berulangkali menggunakan kata "arsyidna" ketimbang
> > "ihdina" (keduanya berarti "tunjuki kami") yang biasa didapati dalam
> > mushaf Uthmani. Begitu juga, "man" sebagai ganti "alladhi" (keduanya
> > berarti "siapa"). Daftar ini bisa diperpanjang dengan kata dan arti
> > yang berbeda, seperti "al-talaq" menjadi "al-sarah" (Ibn Abbas),
> > "fas'au" menjadi "famdhu" (Ibn Mas'ud), "linuhyiya" menjadi
> > "linunsyira" (Talhah), dan sebagainya.
> >
> > Untuk mengatasi varian-varian bacaan yang semakin liar, pada tahun
> > 322 H, Khalifah Abbasiyah lewat dua orang menterinya Ibn Isa dan Ibn
> > Muqlah, memerintahkan Ibn Mujahid (w. 324 H) melakukan penertiban.
> > Setelah membanding-bandingkan semua mushaf yang ada di tangannya,
> > Ibn Mujahid memilih tujuh varian bacaan dari para qurra ternama,
> > yakni Nafi (Madinah), Ibn Kathir (Mekah), Ibn Amir (Syam), Abu Amr
> > (Bashrah), Asim, Hamzah, dan Kisai (ketiganya dari Kufah).
> > Tindakannya ini berdasarkan hadis Nabi yang mengatakan bahwa
> > "Alquran diturunkan dalam tujuh huruf."
> >
> > Tapi, sebagian ulama menolak pilihan Ibn Mujahid dan menganggapnya
> > telah semena-mena mengesampingkan varian-varian lain yang dianggap
> > lebih sahih. Nuansa politik dan persaingan antara ulama pada saat
> > itu memang sangat kental. Ini tercermin seperti dalam kasus Ibn
> > Miqsam dan Ibn Shanabudh yang pandangan-pandangannya dikesampingkan
> > Ibn Mujahid karena adanya rivalitas di antara mereka, khususnya
> > antara Ibn Mujahid dan Ibn Shanabudh.
> >
> > Bagaimanapun, reaksi ulama tidak banyak punya pengaruh. Sejarah
> > membuktikan pandangan Ibn Mujahid yang didukung penguasa itulah yang
> > kini diterima orang banyak (atau dengan sedikit modifikasi menjadi
> > 10 atau 14 varian). Alquran yang ada di tangan kita sekarang adalah
> > salah satu varian dari apa yang dipilihkan oleh Mujahid lewat tangan
> > kekuasaan. Yakni varian bacaan Asim lewat Hafs. Sementara itu,
> > varian- varian lain, tak tentu nasibnya. Jika beruntung, ia dapat
> > dijumpai dalam buku-buku studi Alquran yang sirkulasi dan
> > pengaruhnya sangat terbatas.
> >
> > ***
> > Apa yang bisa dipetik dari perkembangan sejarah Alquran yang saya
> > paparkan secara singkat di atas? Para ulama, khususnya yang
> > konservatif, merasa khawatir jika fakta sejarah semacam itu
> > dibiarkan diketahui secara bebas. Mereka bahkan berusaha
> > menutup-nutupi dan mengaburkan sejarah, atau dengan memberikan
> > apologi-apologi yang sebetulnya tidak menyelesaikan masalah, tapi
> > justru membuat permasalahan baru.
> >
> > Misalnya, dengan menafsirkan hadis Nabi "Alquran diturunkan dalam
> > tujuh huruf" dengan cara menafsirkan "huruf" sebagai bahasa, dialek,
> > bacaan, prononsiasi, dan seterusnya yang ujung-ujungnya tidak
> > menjelaskan apa-apa. Saya sependapat dengan beberapa sarjana Muslim
> > modern yang mengatakan bahwa kemungkinan besar hadis itu adalah
> > rekayasa para ulama belakangan untuk menjelaskan rumitnya varian-
> > varian dalam Alquran yang beredar. Tapi, alih-alih menjelaskan, ia
> > malah justru mengaburkan.
> >
> > Mengaburkan karena jumlah huruf (bahasa, dialek, bacaan,
> > prononsiasi), lebih dari tujuh. Kalau dikatakan bahwa angka tujuh
> > hanyalah simbol saja untuk menunjukkan "banyak," ini lebih parah
> > lagi, karena menyangkut kredibilitas Tuhan dalam menyampaikan ayat-
> > ayatnya.
> >
> > Apakah kita mau mengatakan bahwa setiap varian bacaan, baik yang
> > berbeda kosakata dan pengucapan (akibat dari jenis penulisan dan
> > tatabahasa) merupakan kata-kata Tuhan secara verbatim (apa adanya)?
> > Jika tidak terkesan rewel dan simplistis, pandangan ini jelas tak
> > bertanggungjawab, karena ia mengabaikan fakta kaum Muslim pada awal-
> > awal sejarah Islam yang sangat dinamis.
> >
> > Lalu, bagaimana dengan keyakinan bahwa Alquran dari surah al-Fatihah
> > hingga al-Nas adalah kalamullah (kata-kata Allah) yang diturunkan
> > kepada Nabi baik kata dan maknanya (lafdhan wa ma'nan)? Seperti saya
> > katakan di atas, keyakinan semacam ini hanyalah formula teologis
> > yang diciptakan oleh para ulama belakangan. Ia merupakan bagian dari
> > proses panjang pembentukan ortodoksi Islam.
> >
> > Saya cenderung meyakini bahwa Alquran pada dasarnya adalah
> > kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi tapi kemudian mengalami
> > berbagai proses "copy-editing" oleh para sahabat, tabi'in, ahli
> > bacaan, qurra, otografi, mesin cetak, dan kekuasaan. Proses-proses
> > ini pada dasarnya adalah manusiawi belaka dan merupakan bagian dari
> > ikhtiyar kaum Muslim untuk menyikapi khazanah spiritual yang mereka
> > miliki.
> >
> > Saya kira, varian-varian dan perbedaan bacaan yang sangat marak pada
> > masa-masa awal Islam lebih tepat dimaknai sebagai upaya kaum Muslim
> > untuk membebaskan makna dari kungkungan kata, ketimbang
> > mengatribusikannya secara simplistis kepada Tuhan. Seperti dikatakan
> > seorang filsuf kontemporer Perancis, teks --dan apalagi teks-teks
> > suci-- selalu bersifat "repressive, violent, and authoritarian."
> > Satu- satunya cara menyelamatkannya adalah dengan membebaskannya.
> >
> > Generasi awal-awal Islam telah melakukan pembebasan itu, dengan
> > menciptakan varian-varian bacaan yang sangat kreatif. Jika ada
> > pelajaran yang bisa diambil dari sejarah pembentukan Alquran, saya
> > kira, semangat pembebasan terhadap teks itulah yang patut ditiru,
> > tentu saja dengan melakukan kreatifitas-kreatifitas baru dalam
> > bentuk yang lain.
> >
> > Luthfi Assyaukanie. Dosen Sejarah Pemikiran Islam di Universitas
> > Paramadina, Jakarta, dan Editor Jaringan Islam Liberal. Kembali ke
> > atas ^
> >
> > Memandang sejarah dengan bujaksana, yusuf sufriatna - 14/01/05 08:01
> >
> > Sepakat, Klarifikasi Historis Alquran, M Kholidul Adib Ach -
> > 13/01/04 27:01 Apakah tidak butuh riset lebih banyak lagi...?, Aba
> > Aga - 09/12/03 19:12 Sejarah Penulisan Al-Qur'an, Qosim Nursheha -
> > 07/12/03 28:12 Butuh bukti al-Quran Versi Lain, Faiz Manshur -
> > 02/12/03 19:12 Komentar lainnya baca di sini (14 komentar) Luthfi
> > Assyaukanie Pengajar Sejarah Pemikiran Islam di Universitas
> > ParamadinaMulya, Jakarta.
> >
> > Bahasa Indonesia | English Edition
> > Hak Cipta © 2001-2005, Jaringan Islam Liberal
> >
> > --- End forwarded message ---
> >
> > --- End forwarded message ---
> >
> >
> >
> >
> >
>
> ======================================
>
> Jusfiq Hadjar gelar Sutan Maradjo Lelo
> .......................................
>
> Orang Islam tipikal kudu sadar bahwa al-Mushaf itu TIDAK berbukti
> berisi wahyu Allah dan hadits itu mustahil ada yang sahih
>
>
>
>
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/