***
Hari itu juga, kami ke rumah teman Papa, Mr.Ahmad Brown, dia sudah masuk Islam
selama lima tahun. Dia Angkatan Udara Amerika Serikat yang sedang cuti. Papa
bilang, di AU, perkembangan Islam sangat pesat. Terutama dari golongan orang
kulit hitam.
Papa memiliki banyak kenalan dari AU, karena-seperti yang kalian
tahu-kecintaannya pada pesawat F-16. Rupanya Papa mencuri-curi tahu ke mana
saja pesawat itu berdinas, bagaimana onderdilnya, dan banyak lagi.
Kami bertiga diajak oleh teman Papa ke sebuah masjid sederhana di Portland.
Tempat ini merupakan salah satu tempat syiar Islam yang masih jarang ditemukan
di Portland. Kami bertiga masuk ke dalam dan melihat beberapa orang sedang
sujud, membaca kitab, atau bergumam-gumam. Wajah mereka tenang sekali. Beberapa
adalah orang Amerika asli, atau juga berkulit hitam seperti Papa. Tapi yang
paling banyak adalah orang Asia. Teman Papa lalu mengajak kami bertemu pemimpin
agama, pastur kalau di Kristen. Lalu secara sederhana, saat Papa minta
diislamkan, dengan mata yang berkaca-kaca, dia menyuruh kami mengikuti
perkataannya, "Asyhadu anla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammad
Rasulullah, I witness that there is no God except Allah, and I witness that
Muhammad is Allah messenger." Singkat, tanpa perlu ritual berlebihan. Beliau
lalu memberikan kami masing-masing sebuah kitab.
"This is Koran. Bacalah, pelajari. Tidak usah terlalu di buru. Ini jugasebuah
kitab fiqih untuk mempelajari Islam, banyak buku yang bisa kalian pinjam dan
pelajari, dan kami semua siap membantu. Apa saja.
Bersabarlah, remember, Actually God is with whom is patient."
***
Kami sekeluarga perlahan-lahan mulai mempelajari Islam. Setiap habis Maghrib,
selama satu jam sampai waktu Isya' kami belajar membaca Al-Qur'an. Kalau Papa
pergi tugas, istri Mr. Ahmad yang membantu. Islam perlahan-lahan mulai menjadi
tiang penyangga hidup kami.
***
Namun, tidak semuanya berjalan mulus. Terutama bagi Mama. Beliau mulai memakai
kerudung. Dan pakaiannya, benar-benar mencerminkan muslimah.
Tapi, teman-teman di kampusnya mulai menjauhinya. Hanya beberapa yang, yang
benar-benar demokratis mau berteman dengannya. Untunglah, teman-teman muslimah
bertambah banyak. Sehingga Mama tidak merasa sendiri. Tapi ada
satu hal yang terberat. Saat Mama menceritakan keislamannya kepada orangtuanya,
Grandma terutama, marah besar. Saat mama berbicara ditelepon, air matanya
tumpah. Lalu tiba-tiba ia diam, kemudian memanggil-manggil, "Mama, oh Mama,
mama." Teleponnya diputuskan. Mama hanya bisa bersandar didada Papa sambil
menangis. Papa terus berkata, "Actually God is with whom is patient, Ma Cherie.
He is. He is.
Di sekolah, teman-temanku tetap bersikap baik. Bahkan mereka suka bertanya
yang aneh-aneh. Seperti, "Dalam Islam, ada Santa Klausnya, nggak?" atau
"Wah, asik dong. Kamu ngak usah ke gereja lagi tiap minggu." Dan banyak
komentar lagi komentar lain. Sekolahku memang multi etnik, dan sangat
liberal. Selama tidak mengganggu mereka, semua akan seperti biasa saja.
Walaupun ada juga orangtua atau guru yang sinis, hal itu tidak kupedulikan.
Mereka saja yang berpikir terlalu sempit.
***
Setahun berlalu, tiba-tiba di negara bagian ini muncul desas-desus mengerikan.
Kabarnya orang-orang kulit hitam banyak yang tiba-tiba menghilang. Banyak yang
mengatakan bahwa mereka menjadi korban penculikan sekte-sekte fanatik ras kulit
putih. Polisi, FBI, sudah diturunkan ke berbagai kota, tapi hasilnya secara
konkret belum juga muncul. Papa sangat khawatir. "Isabell, aku akan cuti.
Atasanku memaklumi. Lagipula aku belum mengambil cutiku yang sebulan. Dan kini,
tugasku untuk menjaga kalian.
Setidak-tidaknya sampai keadaan mereda. Oke? J'etaime I don't want to lose
you." Situasi benar-benar gawat. Sudah beberapa mayat yang hilang yang
ditemukan, dengan kondisi memilukan. Para maniak itu bahkan selalu meninggalkan
pesan mengerikan, bahwa tidak jarang jorok, 'Die you Negros!, atau 'Pig's skin
ever better than your!" dan banyak lagi. Perlindungan bagi kaum kulit hitam
dari Harlem. Kemarin, mayat seorang pastur kulit hitam ditemukan. Aku khawatir
dengan Papa.
" Don't worry ma pouppete. Allah with us. Kita harus berani, dan selalu
waspada. Okay?" Sampai hari itu. Hari dimana semua kebahagiaanku direnggut.
Papa sedang berkendara dari kota. Kami sedang dalam pejalanan pulang. Karena
ada pemblokiran jalan, kami terpaksa lewat jalan kecil. Malam itu sepi
sekali.Tiba-tiba di tengah jalan, tedengar bunyi tembakan. Papa cepat-cepat
mengerem. Ternyata ban kami pecah. Lalu, muncul orang-orang bertudung putih,
berjalan mendekat sambil membawa obor dan senjata. Pakaian mereka putih, dengan
lambang salib terbalik. Aku ketakutan, Mama juga, tapi Papa memegang tangan
kami sambil terus berkata, "Ingat, apapun yang terjadi, Allah selalu bersama
kita, Macherie."
Mereka menyuruh kami turun dari mobil. Kalau tidak, mereka mengancam kepala
kami akan ditembak. Papa menurut. Lalu kami digiring ke dalam hutan,
perjalanannya cukup jauh, aku ingin menangis, tapi aku percaya, aku harus kuat.
Kami tiba di sebuah lapangan luas. Di sana ada lebih banyak lagi orang-orang
bertudung putih. Mereka beteriak kasar, bersorak-sorai, sambil membakar
kayu-kayu. Pandanganku lalu tertuju ke sebuah penjara kayu. Panjang, dan
didalamnya,banyak orang kulit hitam! Kami didorong ke sana. Tiba-tiba Mamaku
ditarik lengannya."Lepaskan istriku!" Papa coba berontak. Mama berusaha untuk
lepas, tapi sia-sia. Orang tiba-tiba berkata. "Wanita ini seorang kulit putih.
Tapi lihat! Keluarganya Negro, cih, menjijikan! Tubuhnya sudah ternoda oleh si
hitam itu! Negro hina! Dan, apa ini?" Ujarnya sambil menarik kerudung Mama,
"Ini benda yang dipakai wanita-wanita Islam itu. Cih! Ini lebih hina lagi.
Tidak ada pantas-pantasnya, bahkan untuk di muka bumi ini! Mau apakan dia?"
Ujarnya sambil berteriak keras. "Bakar! Bakar! Bakar!" orang-orang itu mulai
menjadi liar. Lalu orang tadi berkata lagi, "Semua ingin kau bakar. Tapi demi
ras kulit putih kita, kuberi kau kesempatan. Tinggalkan keluargamu, juga
Islammu. Kau akan kami bebaskan, setuju?" Papa tiba-tiba berteriak "Isabell!
Lakukan! Lebih baik seorang dari kita selamat! Lakukan! Lakukan!" Tepat setelah
itu. Kulihat mata biru mama dengan penuh keyakinan menatap tajam kepada orang
itu, lalu berkata.
"Aku tidak akan melepaskan agamaku walaupun kulitku lepas dari dagingnya. Dan
aku tidak akan meninggalkan keluargaku, walau nyawa taruhannya!" Orang itu
gemetar, lalu memerintahkan orang-orangnya untuk mengurung mamaku juga.
Kami dilempar ke dalam, bersama orang-orang kulit hitam lainnya. Tubuh mereka
kurus sekali, badannya penuh luka. Banyak juga wanita dan anak-anak seusiaku.
Beberapa tampak berasal dari keluarga miskin, tapi ada juga yang berada
sepertiku. Seorang laki-laki tiba-tiba berbicara kepadaku.
"Hari ini mereka akan membunuh lima orang dari kita." Lalu anak lain menyahut.
"Lalu, mayatnya dibawa entah kemana...seperti ayahku," gadis kecil itu
menerangkan, lalu menangis. Mamaku lalu memeluknya dan bertanya.
"Tidak adakah yang bisa kita lakukan?" Tiba-tiba seorang berbisik kepada Papa.
Papa mengangguk, sebentar wajahnya tenang, lalu pucat sekejap dan tenang
kembali. Ada apa, Papa? Papa mendekat kepadaku dan Mama, lalu berkata pelan.
"Mereka telah mematahkan sala satu dari kayunya. Akan cukup bagi anak-anak dan
wanita untuk keluar. Anna, kamu seorang pandu di sekolah, bawa mereka ke tempat
pemblokiran polisi tadi, Isabell, kau jaga para wanita dan anak-anak ini.
Okay?" belum sempat aku membantah, Mama cepat-cepat memotong sambil memegang
kedua tangan Papa. "Charles, bagaimana denganmu?
Bagaimana kau keluar? Aku tidak mau pergi sendiri!" Air mata mama mulai tumpah,
Papa memandangku dengan sangat dalam.Lalu Mama jatuh ke pelukan Papa, menangis
sambil mengucap nama Allah. Aku menyelinap masuk di antara mereka, dan ikut
menangis.
***
"Ayo saatnya sudah tiba. Anna, bawa anak-anak keluar, juga para wanita.
Depechez vous! Cepatlah! Mumpung mereka sedang tertidur, Papa dan lainnya akan
menahan mereka dari sini! Cepat lari!" Setelah semuanya keluar, aku kembali ke
Papa. Tidak, tidak mungkin aku meninggalkan Papa. Tepat saat semuanya berjalan
sempurna, tepat saat kami menemukan kehidupan di jalan yang lurus. Aku tidak
rela, Papaku yang kucinta. Sang Pilot yang kukagumi. Ma Papa. "Ayolah Anna.
Yang lain membutuhkanmu." "Tapi Papa, kenapa harus begini? Tidak Papa! Tidak!"
"Chest-la-vie. Kamu harus tabah, ma pouppet. Kalau Papa memang harus pergi
bukankah Papa akan pegi ke tempat yang lebih baik? Ke sisi Allah. Prier to
Dieau. Kita akan bertemu lagi, Okay?" Papa lalu mencium keningku, lama, sampai
kurasakan air matanya mengalir di keningku.
"Come on, Anna dear," Mama memanggilku. Dia Lalu mematap lekat kepadaku Papa."
A toute a I'huere. I'll be missing you," Lama sekali keduanya bertatapan, lalu
dengan lembut Papa mencium kening Mama. Dan berkata berkali-kali. "J'etaime
macherie. J'etaime. J'etaime Isabell, J'etaime Anna. J'etaime..." Lalu perlahan
dilepaskannya pegangannya," Allez vous-en! Lari sejauh mungkin. Ingat pesan
Papa, jaga Mamamu!"
"Soyez tranguille I will Papa, I will." Perlahan aku keluar, Mama memegangiku.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka melihat kami. Kami bergegas. "Noubliez pas,
Anna, 'Asyhaduanla ilaha....."
"Illallah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah..." Aku dan Mama
membalas, lalu kami pergi. Para penjahat itu mulai berkumpul. "Ingat cita-cita
Papa, pouppete, F-16 burung besi kecintaan Papa. Wujudkan cita-cita Papa,
Noubliez pas! J'etaime, J'etaime Isabell, J'etaime Anna!"
"J'etaime Papa! J'etaime"
"J'etaime Charles! J'etaime Mama dan aku lalu pergi berlari. Aku memimpin
mengikuti arah bintang, semak-semak belukar yang melukai kakiku, tidak kuingat
lagi. Pardoner Papa! Aku tidak ingat lagi ketika tiba di tempat pemblokiran
polisi bagaimana kami menjelaskan kejadiannya, lalu masuk ke hutan dengan
polisi. Aku tidak ingat bagaimana para biadab itu terkepung. Aku bermimpi, di
suatu tempat, putih, dan halus. Papa!
"Wonderful ma pouppete. Kau berhasil. Sekarang jaga mamamu. Papa akan ke tempat
yang akan berkumpul bersama lagi. N'oubliez pas! God is with whom is patient!
Wujudkan cita-cita Papa. Goodbye ma pouppete! Lalu sosok Papa menghilang,
pandanganku berputar, lalu aku terbangun. Wajah yang saat itu
aku lihat, Mama!
"Oh, Anna. Anna, be patient. Papa is gone. He's with Lord Now." Mama lalu
memelukku erat. "Kami berterima kasih," tiba-tiba seorang berkulit hitam
berbicara.
Wajahnya sedih sekali," Papamu telah menyelamatkan hidupku. Dia melindungiku
dari tembakan biadab-biadab itu. Papamu tidak menderita, dia pergi dengan
senyum di wajahnya. Dia teus mengucap 'Allah...Allah', dan dia sempat
meninggalkan pesan untukmu," Anna, ma pouppete, jaga mamamu. Ingat cita-cita
Papa.
Preir to Dioer, J'etaime..." aku menangis, Mama juga. Papa kini telah pergi,
tapi ke tempat yang lebih baik. Sampai aku juga kesana. Wait for me, Papa.
I'll make your dreams come true. J'etamine..
***
Papa mendapat gelar kehormatan dari pemerintah AS. Hidup Mama dan aku mendapat
tunjangan, dan aku mendapat beasiswa. Aku melanjutkan ke sekolah
militer. Mama, dengan tabah, membangun kembali dirinya. Beliau mengajar sastra
Perancis di universitas-universitas Portland dan Seattle. Mama juga aktif
mendakwahkan Islam di berbagai tempat. Perlahan kami membangun kembali keluarga
kami, grandma bahkan memaafkan mama dan memutuskan untuk pindah ke
Amerika untuk membantu Mama. Namun dengan hakus Mama menolak.
Katanya, "I can raise my own child, trust me momm."
***
Mesin pesawat berbunyi halus. Sayap F-16 yang kokoh ini membawaku terbang ke
angkasa. Hari ini, Anna Marie Fatimah Jacquet, penerbang muslimat pertama,
mewujudkan cita-cita Papa. Terus membumbung tinggi ke langit yang dicintai
Papa. A'toute a I'houre Papa. Sampai kita bertemu kembali....( Nur)
Keterangan:
N'oubliez pas: jangan lupa
Soyez tranguille: jangan khawatir
Allez vouz-en: larilah
A'toute I'heure: selamat tinggal
J'etaime aku mencintaimu
Chest la vie: inilah hidup
Aller puor tranguille: pergilah ke kamar
Harlem: tempat perkampungan orang-orang negro
Wassalam
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail Beta.
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/