http://www.sinarharapan.co.id/berita/0607/08/opi03.html

Agama Menuntun, Bencana Bertutur 
   Oleh
Fathor Lt



Sungguh naif jika agama dipahami sebagai sesuatu yang hanya mampu menyuguhkan 
surga dan neraka ataupun pahala dan siksa, sehingga agama yang seharusnya 
memiliki ruang gerak luas akan menyempit. 
Maka saat inilah, agama harus menunjukkan eksistensinya sebagai agama yang 
berketuhanan dan berkemanusiaan. Eksistensi ini harus benar-benar ditanamkan 
pada setiap individu. 


Bencana-bencana yang bermunculan akan menumbuhkan teror ketakutan yang 
berdampak pada hilangnya kesabaran menjalani hidup dan lenyapnya pikiran 
jernih. Keadaan ini sejatinya sangat membutuhkan dialog. 
Namun, agama jangan serta-merta dijadikan sebagai kesadaran naif yang selalu 
melabelkan takdir pada setiap korban bencana hingga tidak ada usaha sebelum 
berpasrah diri. Dan juga tidak benar jika kita terlalu dini menafsirkan 
kehendak Tuhan, seperti sikap serampangan Voltaire yang marah besar dan 
menuding Tuhan sebagai biang keladi gempa yang menewaskan sepertiga penduduk 
Lisabon.


Alam sangat jujur, ia tidak bisa dibohongi oleh manusia. Kapan tanah ini akan 
gempa, dan gunung akan meletus, tidak bisa dibatalkan. Sejauh mana kekuatannya, 
sejauh itu pula ia akan menggerus tanah atau menabur awan panas. 


Manusia hanya bisa berusaha menghindar sejauh kekuatan yang dimiliki, namun 
tidak bisa memastikan keselamatan dirinya. Kapan dan siapa lagi yang akan 
menjadi korban bencana, semuanya adalah rahasia ilahi. 
Kadang, jika seseorang tidak mau berlapang dada, efek kekhawatiran yang 
berlarut-larut akan menjadi teror ketakutan, sehingga segala aktivitas tak bisa 
diharapkan berjalan seperti semula sebab orang-orang tak mampu lagi berpikir 
jernih dan bersabar untuk terus hidup.

Membuang Teror
Membuang teror ketakutan tidak membutuhkan berkompi-kompi militer, atau rumah 
antigempa. Tapi yang dibutuhkan adalah mental yang kuat. Mental yang kuat tidak 
bisa didapatkan dari pelajaran serbaotot, melainkan dari pelajaran menenangkan 
jiwa. 


Dan ketenangan jiwa hanya bisa didapatkan ketika ia telah merasa benar-benar 
dekat dengan Sang Maha Pencipta. Jadi kedekatan seseorang dengan Tuhan-Nya akan 
menyebabkan ketenangan, hingga segala tindakan selalu akan bermuara pada 
kejernihan berpikir. Ambil satu contoh ketika isu tsunami telah membuat kalang 
kabut sebagian masyarakat Yogyakarta, itu adalah sebuah cermin tidak adanya 
kejernihan berpikir.


Andai saja ketenangan jiwa itu telah dimiliki mungkin sejenak kita akan 
menganalisis, tidak lantas berhamburan mencari tempat aman. Apa yang akan 
terjadi selanjutnya dengan pembacaan alam dan pembacaan berbagai informasi, 
hingga kita tidak mudah dimanfaatkan oleh orang-orang yang mengeruk keuntungan 
di air keruh.


Dari sinilah fungsi agama, bagaimana agama mendinginkan hati yang gelisah, 
menenteramkan pikiran yang resah, dan meluruskan tindakan yang gegabah. Dengan 
demikian, masyarakat senantiasa merasa terjaga dan aman oleh dirinya sendiri. 
Sejauh mana ia membaca dirinya, sejauh itu pula ia dapat menyingkirkan 
teror-teror ketakutan. Ia akan melangkah dengan penuh kesabaran tanpa terburu 
untuk segera pulih. Begitulah jika beragama dengan menanamkan nilai-nilai 
ketuhanan dalam diri. Orang yang beragama saja banyak, namun menemukan orang 
beragama yang berketuhanan sangat sulit. Maka wajar saja jika kita semua merasa 
heboh dengan "tarian-tarian bumi". 

Nilai Ilahi
Eksistensi beragama tidak bisa diukur sejauh mana ia berhubungan dengan Sang 
Khalik, tetapi sejauh mana ia telah mentransformasikan nilai-nilai keilahian 
pada kehidupan sosial. Artinya, kita tidak hanya diam dan menenangkan diri 
sendiri melihat situasi seperti ini, sebab kebersamaan di sini memang 
benar-benar dituntut, dengan keikhlasan dan ketulusan sebagai pijakan, bukan 
malah karena ada kepentingan. Oleh karena itu perlu dipertanyakan jika ada 
bantuan dengan menyertakan bendera-bendera kelompok dan berbagai macam atribut 
lainnya. Benarkah ia ingin membantu atau sekadar bersosialisasi?


Di sini ada semacam pelecehan sifat pengasih dan penyayang yang telah 
diterapkan oleh hamba-Nya, padahal tak ada salahnya jika bantuan itu tidak 
mengatasnamakan siapa-siapa, atau bantuan dari orang yang tidak bisa disebutkan 
namanya. Mungkin ini lebih sebagai bentuk pertolongan yang tanpa pamrih. 


Telepas dari itu semua, bencana seolah memberi pelajaran bagi kita semua 
sebagai manusia yang terkadang kurang menghargai mahluk-mahluk Tuhan lainnya. 
Diakui ataupun tidak, kita selalu egois dengan keberadaan kita sebagai manusia 
yang dianugerahi berbagai kehormatan, dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain. 


Bayangkan, tanah dan rumput yang kita selalu injak, dan segala mahluk lain, 
seolah-olah manusialah yang telah menguasainya. Memang selama ini kita tidak 
pernah pikirkan suara-suara alam, hingga "makhluk" yang lebih besar dari kita 
telah membangunkan kita, menggugah kita untuk segera kembali pada kitah 
kemanusiaannya.


Dari itulah, rasanya tidak etis jika bencana alam diartikan sebagai bentuk 
"musibah". Bencana adalah sebuah bentuk gerakan alam yang ingin membangunkan 
kita dari kealpaan panjang bahwa kita telah terlalu lama meninggalkan Tuhan, 
membuang cinta-kasih antarsesama (manusia), dan terlalu kejam telah 
memperlakukan alam. 

Penulis adalah peneliti Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY).


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke