http://www.melanesianews.org/kabar/publish/article_678.shtml
PERUSAKAN HUTAN BAKAU TELUK YOTEFA PAPUA SEMAKIN PARAH
Posted by Kantor Berita Antara on Jun 10, 2006, 21:33
Jayapura, (ANTARA News) - Pengelola Yayasan Dian Harapan Yotefa Papua kewalahan
menangani pengrusakan ratusan hektar hutan bakau (mangrove-Red) di Teluk
Yotefa, Kota Jayapura, yang semakin parah disertai pembuangan limbah yang
dikhawatirkan membawa bencana alam bagi penduduk di kawasan itu.
Ketua Umum Yayasan Dian Harapan Yotefa Papua, Ny.Salomina Mereauje/Bonay
mengatakan kepada ANTARA di Jayapura, Kamis (8/6) kantor lembaga yang
dipimpinnya berada di tepian hutan bakau di Entrop, Distrik Jayapura Selatan,
Kota Jayapura, nampak hamparan hutan bakau mulai semakin habis dibabat
pemerintah, swasta dan perorangan untuk mendirikan bangunan.
Dulu kawasan Yotefa memiliki hutan bakau sebagai tempat berkembang-biaknya
biota laut dan sungai seperti beraneka ikan, udang, kepiting dan biota laut dan
sungai lainnya menjadi sumber pencarian nafkah penduduk Kampung Tobati dan
Kampung Enggros di Teluk Yotefa, namun belakangan ini tidak lagi ditemukan
kekayaan alam itu, aku Ny.Salomina.
Hutan bakau di Teluk Yotefa mulai ditebas sejak 1986 lokasi pasar Entrop
dibuka. Setelah pembangunan pasar dan terminal Entrop, kawasan itu kini
berjejal gedung-gedung mewah, pusat perbelanjaan, gudang, bar dan diskotik
serta hotel, rumah makan dan restoran.
Pemerintah Kota dan Pemprov Papua membuka jalan membedah hutan bakau menuju
Tanjung Hamadi yang direncanakan dibangun jembatan bertaraf intenasional
menghubungkan Jayapura ke Koya, Distrik Muara Tami yang berbatasan dengan Papua
Nugini (PNG).
Bahkan belakangan ini setiap hari ratusan truk menimbun batu dan tanah masuk ke
lokasi sisa hutan bakau yang mengapit Kampung Tobati dan Kampung Enggros.
Pengrusakan hutan bakau di kawasan wisata Teluk Yotefa ini semakin parah dan
yayasan tidak bisa berbuat banyak. Ia mengimbau pemerintah dan masyarakat agar
menjaga sisa hutan bakau ini karena bila tidak cepat ditangani, akan membawa
dampak di kemudia hari.
Juga peluang terjadi luapan air laut Samudera Pasifik dari pantai Wisata Hamadi
yang berdekatan dengan Teluk Yotefa. Jelas, peluang korban jiwa manusia dan
harta benda pun sangat terbuka lebar, ujar Salomina.
Salomina mengatakan tidak hanya hutan bakau yang habis ditebas, melainkan fauna
dan flora di dalam kawasan Taman Wisata Teluk Yotefa pun sudah punah.
Punah, katanya, disebabkan selain penjarahan fauna dan flora juga diakibatkan
pembangunan pemukiman penduduk dan perambahan hutan untuk pertanian oleh
kelompok masyarakat asal Pegunungan Tengah Papua seperti Jayawijaya dan Paniai
serta masyarakat suku Buton, Sulawesi Tenggara.
Padahal Taman Wisata Teluk Yotefa ditetapkan Menteri Pertanian RI tahun 1982,
termasuk hutan bakau di kawasan Entrrop yang sudah habis ditebas demi
pembangunan.
"Sekarang tidak ditemukakan lagi burung Cenderawasih, Kus-Kus berkantong,
tanaman angresk bernilai ekonomis tinggi. Bialola, ikan dan udang serta biota
laut dan sungai lainnya pun sirna," ujar Salomina.
Ny.Salomina juga menyatakan prihatin dengan kondisi masyarakat di Kampung
Tobati dan Kampung Enggros karena terancam terserang berbagai penyakit akibat
pembuangan limbah dari Pasar Entrop dan Pasar Yotefa yang membedah di dalam
kawasan Taman Wisata Teluk Yotefa.
Para nelayan mengail ikan, tetapi yang terkena kail adalah plastik, padahal
Teluk Yotefa ini menjadi sumber nafkah hidup masyarakat Tobati dan Enggros yang
merupakan penduduk asli Kota Jayapura, tambah Salomina.
Ny.Salomina mengatakan telah mengusulkan dana penanganan masalah lingkungan,
kesehatan, pendidikan dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan kepada Pemerintah
Kota Jayapura, namun sampai saat ini, proposal pengusulan itu belum ditanggapi
Walikota Drs.MR.Kambu,MSi dan Wakilnya Hi.Sujarwo,BE.
Hutan bakau Teluk Yotefa adalah hutan kedua setelah Kabupaten Waropen di bagian
Pantai Utara (Pantura) Papua. Hutan bakau terluas dan diproyeksikan menjadi
paruh dunia berada di kawasan Selatan Papua mulai terbentang dari Manokwari,
Sorong, Sorong Selatan, Bintuni, Fakfak, Kaimana, Asmat, Mappi dan Kabupaten
Merauke hingga Port Moresby, ibukota negara PNG.
Hutan bakau di bagian selatan itu juga kini terancam punah akibat penebangan
hutan oleh perusahaan pemegang HPH dan sebagian hutan bakau sudah mulai kering
akibat pembuangan bahan kimia beracun penangkapan ikan serta pemanfaatan kayu
bakar para penduduk lokal.(*)
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/