SENIMAN TUHAN



"I don't need to believe in GOD because I am"



Karya seni manifestasikan sosok seniman penciptanya. Melalui kebebasan
untuk memilih, seniman mengekspresikan dirinya melalui karya-karya yang
bercerita. Keberagaman ciptaan merupakan bagian dari proses menuju
kesempurnaan. Masing-masing karya menceritakan esensi kesempurnaan
penciptanya pada setiap masa. Totalitas adalah syarat mutlak bagi
kesempurnaan sebuah karya, dimana sang seniman berhasil menyatu dengan
karya yang sekaligus menjadi dirinya, karya (paling) sempurna…



Manusia adalah ciptaan Tuhan paling sempurna – Manifestasi,
totalitas kesempurnaan Sang Sempurna - Berawal dari Sang Sempurna
menuju/kembali kepada Sang Sempurna - Manusia Tuhan dan Tuhan
Manusia…



KAUSA SEMPURNA



"Manusia butuh Tuhan untuk (menjadi) sempurna"



Mungkinkah manusia menemukan kesempurnaan tanpa Tuhan?



P: Mengapa harus mempercayai Tuhan ketika kesempurnaan-NYA tidak bisa
dijelaskan?



J: Bagaimana mungkin pertanyaan tentang kesempurnaan bisa diajukan
ketika (Sang) sempurna itu sendiri ditiadakan?



Konsep awal kesempurnaan (manusia) adalah atas petunjuk-nubuat Sang
Sempurna. Manusia hanya bisa sempurna ketika ia mempercayai kesempurnaan
Tuhan yang menciptakannya sedemikian rupa (paling sempurna). Jika Sang
Sempurna mengingkari nubuatnya sendiri atas kesempurnaan manusia,
bukankah hal tersebut menjadikannya tidak sempurna? Bahwa kesempurnaan
tidak ada? Nihilisme?



Manusia memerlukan Kausa Sempurna untuk memahami, mempertanyakan,
mempercayai, mencapai dan/atau menjadi sempurna. Mengingkari
kesempurnaan Tuhan berarti mengingkari kesempurnaan manusia itu sendiri.
Kebebasan untuk memilih adalah faktor yang menentukan sempurna dan/atau
tidak sempurnanya esensi manusia. Kebebasan memilih merupakan realitas
esensi kesempurnaan pencipta dan/atau ciptaan-NYA.





PARADOKS SEMPURNA



"Paradoks adalah bagian (manifestasi) kesempurnaan"



Bisakah Tuhan menciptakan sebuah batu besar yang tidak mampu ia angkat?



Paradoks atas esensi kesempurnaan Sang Maha Pencipta (mampu menciptakan
apapun) yang sekaligus Sang Maha Perkasa (mampu mengangkat benda sebesar
apapun). Pilihan jawaban untuk pertanyaan diatas jelas bergantung pada
perspektif individu penjawabnya. Memilih Sang Maha Pencipta adalah
meniadakan Sang Maha Perkasa begitu pula sebaliknya. Perpektif adalah
hakekat yang dimiliki manusia oleh keberadaan ego. Ego merupakan faktor
yang paling menentukan kesempurnaan pemahaman manusia (dalam memakna
esensi kesempurnaan-NYA).



Ego (individu) yang rendah akan mendekonstruksi eksistensinya dengan
menempatkan posisinya sebagai pihak yang selamanya memiliki keterbatasan
untuk memahami esensi kesempurnaan Sang Sempurna. Sementara ego
(individu) yang  tinggi akan menolak esensi kesempurnaan dan/atau
meniadakan eksistensi Sang Sempurna. Kedua contoh diatas menggambarkan
karakteristik ego (manusia) yang berbentuk dualitas ketika mencoba
memahami esensi kesempurnaan Yang Satu, sehingga menghasilkan dua buah
jawaban yang sama-sama absurd.



Bagaimana ego (individu) bisa memahami kesempurnaan (Sang Sempurna)
ketika ia merasa tidak (akan pernah) sempurna? Bukankah justru
kelompok-kelompok yang memiliki ego sedemikian rupa (merendah) adalah
kelompok yang senantiasa `merasa' sangat mengenal Tuhan
sekaligus kerap bercerita tentang kesempurnaan-NYA? Bagaimana mungkin
yang tidak sempurna bisa bercerita tentang esensi kesempurnaan Sang
Sempurna? Bukankah sama halnya dengan seorang buta warna yang berusaha
meyakinkan bahwa dunia ini berwarna-warni?



Bagaimana pula ego (individu) bisa (merasa lebih) sempurna ketika ia
justru mendekonstruksi Kausa (bagi premis) Sempurna itu sendiri?
Bukankah `sempurna' menjadi tidak ada ketika ego melampauinya?
Bukankah selamanya ego menjadi tidak akan pernah mengerti, memahami,
dan/atau menjadi sempurna? Nihilisme?



Bentuk paradoks diatas sesungguhnya akan sangat mudah untuk dipecahkan
jika ego mampu bercermin pada esensi dasar pemahaman ego itu sendiri.
Kebenaran jawaban dari ego penjawab yang berbentuk dualitas sepatutnya
direfleksikan pada bentuk dualitas ego pemilik pertanyaan:



    1. Tuhan bisa melakukannya – jika jawaban tersebut membuat ego
(yang menginginkan kesempurnaan) merasa lebih sempurna. Atau,



    1. Tuhan tidak bisa melakukannya – jika jawaban tersebut membuat
ego (yang menginginkan kesempurnaan) merasa lebih sempurna.



Ada hal menarik yang bisa disimpulkan dari kedua jawaban diatas; bahwa
ego senantiasa menginginkan kesempurnaan dan bisa melakukan apa saja
keinginannya atas dasar kebebasan untuk memilih. Ego bisa melakukan apa
saja yang dikehendakinya terhadap manifestasi kesempurnaan Tuhan, ketika
manifestasi kesempurnaan Tuhan sekaligus bisa melakukan apa saja yang
dikehendaki Ego. Namun hal yang perlu digaris bawahi adalah, kedua
jawaban diatas hanya mungkin untuk `sempurna' ketika eksistensi
Kausa Sempurna/kesempurnaan Tuhan tetap dipertahankan/tidak ditiadakan.



Jawaban pertama benar oleh karena mempertahankan eksistensi kesempurnaan
Sang Sempurna, sementara jawaban kedua hanya bisa benar jika eksistensi
kesempurnaan Sang Sempurna tetap dipertahankan atas keberadaan premis
`tidak bisa' yang diberlakukan terhadap esensi Tuhan. Dengan
mempertahankan Kausa Sempurna, akan tampak bahwa dualitas (bisa-tidak
bisa) merupakan bentuk `ilusi' dualitas pemahaman ego itu
sendiri. Faktor yang sekaligus menjelaskan pentingnya `batas'
untuk tidak melampaui esensi kesempurnaan Kausa Sempurna/Tuhan untuk
menghindari nihilitas sebagaimana sejak awal telah gariskan atas hakekat
manusia: sebagai ciptaan yang (paling) sempurna, namun tidak (jangan)
melampaui kesempurnaan-NYA.



Manusia memerlukan Tuhan untuk sempurna…



DUALITAS EGO



"Ego mengenali Yang Satu dalam bilangan lebih"



Dualitas fase evolusi pemahaman atas hukum keberadaan ego. Siang-malam,
terang-gelap, positif-negatif, baik-buruk dan seterusnya. Sebuah
fenomena satu yang senantiasa dipahami sebagai dua hal berbeda dan/atau
saling berlawanan. Siang adalah lawan (kebalikan) dari malam, terang
adalah lawan (kebalikan) dari gelap, positif adalah lawan (kebalikan)
dari negatif, baik adalah lawan (kebalikan) dari buruk dan seterusnya,
dimana ego (manusia) memiliki kebebasan untuk memilih diantara keduanya.



Benarkah terang dan gelap adalah faktor eksternal yang ditangkap oleh
panca indra-otak manusia dan dipahami (oleh ego) sebagai realitas yang
sesungguhnya? Bagaimana ego bisa mengenal baik dan buruk ketika hal
tersebut tidak dapat langsung ditangkap oleh panca indera/otak manusia?
Bukankah secara tidak langsung hal tersebut menyiratkan pemahaman (ego)
manusia yang senantiasa berbentuk dan/atau membentuk (ilusi) dualitas?



Apakah kemampuan panca indera-pemikiran manusia yang membentuk realitas
dualitas? Atau sebaliknya ego yang menggerakan panca indera-otak untuk
membentuk ilusi dualitas atas/bagi  fenomena/keberadaan/esensi Yang
Satu? Apakah keberadaan Sang Sempurna/Yang Satu adalah untuk mengarahkan
ego menjadi sempurna?



TRINITAS EGO



"Ego mengenali dualitas dalam bilangan lebih"



Esensi ego adalah mencari kesempurnaan. Trinitas (Tiga dalam satu atau
sebaliknya) merupakan fase pemahaman selanjutnya atas upaya ego memahami
esensi kesempurnaan Yang Satu. Trinitas ego tercermin pada berbagai
fenomena yang (sesungguhnya) berhubungan langsung dengan manifestasi
kesempurnaan Sang Sempurna Yang Satu.



Dualitas ego mulai memahami bahwa keberadaan 2 elemen yang berbeda dan
berlawanan adalah saling mengimbangi dan/atau meniadakan. Tidak ada
siang tanpa malam, tidak ada baik tanpa buruk, tidak ada positif tanpa
negatif dan seterusnya ditambah faktor yang berlaku diantara keduanya.



Trinitas adalah bentuk sublimasi elemen ke-3 yaitu fenomena yang
senantiasa berlaku pada/dalam fenomena-fenomena dualitas. Elemen yang
mengawali, berada ditengah-tengah dan/atau mengakhiri dualitas - tidak
berawalan dan/atau tidak berakhiran. Pemahaman yang lebih jauh atas
keberadaan Kausa Prima atau gaya-gaya pada alam semesta.



Ego mulai memahami gambaran yang lebih kompleks dan abstrak atas
kesempurnaan Yang Satu. Anak-Bapak-Roh Kudus, Brahma-Siwa-Wisnu,
Tesis-Antitesis-Sintesis adalah contoh-contoh bentuk-bentuk pemahaman
trinitas ego.



Anak-Bapak-Roh Kudus



Anak adalah faktor penyeimbang/peng-ada/pen-tiada dari/atas elemen bapak
(dualitas), sementara roh kudus merupakan sublimasi atas faktor yang
lebih sempurna/menyempurnakan keberadaan keduanya. Secara eksplisit
elemen roh kudus berada pada posisi tertinggi diantara ketiga elemen.



Brahma-Siwa-Wisnu



Pada konsep Trimurti Hindu; Wisnu adalah Pencipta, Brahma Pemelihara,
dan Siwa adalah Penghancur/Perusak. Umat Hindu meletakan Siwa pada
posisi teratas diantara ketiga elemen tersebut.



Tesis-Antitesis-Sintesis



Dalam dunia modern, para ilmuwan menempatkan elemen-elemen (trinitas)
tesis, antitesis dan sintesis pada posisi yang setara. Tesis adalah
faktor penyeimbang, yang mengadakan dan/atau meniadakan antithesis,
sementara sintesis yang meniadakan keduanya atau tidak ada tanpa
kehadiran keduanya.



PSIKOLOGI TRINITAS



"Waktu, situasi, tempat dan fenomena adalah warna bagi ego"



Dalam beberapa kasus, dualitas ego masih mengambil peran dominan dalam
pemahaman trinitas. Kondisi psikologis atas waktu, situasi, tempat serta
fenomena yang berbeda adalah faktor yang menentukan keberadaannya.



Dalam trinitas Anak-Bapak-Roh kudus, faktor psikis yang melandasi upaya
pencarian kesempurnaan, ketenangan, ketentraman, kebahagiaan hidup
(konsep-konsep abstrak) menjadi landasan bagi ego untuk
menempatkan/menciptakan elemen (abstrak) roh kudus pada posisi tertinggi
diantara elemen-elemen lainnya. Keterikatan ego pada format lama
`ilusi' pemahaman dualitas (tinggi-rendah) mengambil peran
dominan dalam penempatan elemen-elemen pada bentuk trinitas tersebut.



Ajaran Katolik telah sejak awal dilandasi dogma (dualitas) tinggi-rendah
antara esensi pencipta dan ciptaannya. Anak dan bapak adalah elemen atau
simbol yang bisa dipersonifikasi oleh sosok manusia (yang rendah),
sementara posisi yang tinggi haruslah diwakili simbol abstrak yang tidak
bisa dipersonifikasi oleh siapapun kecuali-Yang Satu (Yang Tinggi).



Dalam Trimurti (Hindu), ketiga elemen tidak dipandang sebagai sebagai
simbol yang bisa dipersonifikasi oleh sosok manusia. Siwa menempati
posisi tertinggi ketika elemen yang diwakilinya merupakan
lawan/penyeimbang (antitesis) dari Wisnu. Hal tersebut berbeda dengan
apa yang berlaku pada trinitas Anak-Bapak-Roh Kudus, dimana tampak bahwa
Brahma-lah yang sepatutnya menempati posisi tertinggi diatas kedua
elemen yang saling berlawanan/meng-adakan/meniadakan (Siwa-Wisnu).



Hindu sebagai salah satu aliran kepercayaan tertua, diturunkan ketika
manusia masih sangat jauh untuk bisa mengatasi kondisi alam. Faktor
psikis yang didominasi oleh kecemasan, ketakutan, ancaman, kerusakan,
atau kehancuran dari alam pada manusia adalah bagian yang melandasi ego
(yang terikat pada dualitas tinggi-rendah) menempatkan Siwa pada posisi
tertinggi.



Hal berbeda juga terjadi pada penempatan elemen-elemen (trinitas)
tesis-antitesis-sintesis yang sejajar serta saling meniadakan dimana
dualitas (tinggi-rendah) ego tidak mengambil peran apapun didalamnya.



Disini contoh-contoh diatas tampak jelas bahwa ego memiliki kebebasan
untuk memilih bentuk pemahamannya atas fenomena trinitas. Namun
keterikatan ego akan bentuk `ilusi' pemahaman dualitas
senantiasa muncul ketika mencoba memakna esensi kesempurnaan-NYA. Faktor
psikis (dualitas tinggi-rendah) hadir ketika ego berhadapan dengan
trinitas yang menempatkannya sebagai ciptaan (yang lebih rendah).
Fenomena yang tidak terjadi pada (trinitas) tesis-antitesis-sintesis
dimana ego berperan sebagai penciptanya (yang lebih tinggi).



Dualitas tinggi-rendah merupakan refleksi ego atas fenomena (dualitas)
pencipta-ciptaan. Apakah pencipta-ciptaan merupakan realitas yang
dipahami oleh (ego) individu? Atau ego itu sendiri yang sesungguhnya
memunculkan dualitas pencipta-ciptaan? The Creator and Co-Creator…



Anak (tesis)-Bapak (antitesis)-Roh Kudus (sintesis), Wisnu (tesis)-Siwa
(antitesis), Brahma (sintesis). Tanpa kehadiaran dualitas
(tinggi-rendah) ego, (trinitas) tesis-antitesis-sintesis bisa
disublimasikan atau diekstrakan pada-dari bentuk-bentuk trinitas
lainnya. Waktu membawa pemahaman yang lebih sempurna pada bentuk
pemahaman atas Yang Satu.



Fenomena yang menarik adalah bahwa bentuk trinitas telah ada sebelum
konsep pemahaman (trinitas) tesis-antitesis-sintesis dijabarkan oleh
ilmu pengetahuan modern. Trinitas berlaku universal pada keseluruhan
hukum yang berlaku dialam semesta. Apakah secara implisit hal tersebut
menjelaskan bahwa (manifestasi) Sang Sempurna telah sempurna sejak
awalnya? Dan bahwa evolusi pemahaman (ego) manusia adalah menuju
sempurna?



Apakah ketidak hadiran (dualitas) ego pada fenomena trinitas membawa
pemahaman atas kebenaran sejati? Secara pribadi saya meyakini bahwa
jawaban atas hal tersebut merupakan kunci untuk menguak misteri
nihilisme – bahwa nihilisme (hanya) terjadi akibat pengingkaran
kesempurnaan pencipta-ciptaan itu sendiri…SINERGI SEMPURNA.



Bersambung…



Salam,



Bumi Satria Pandawa









[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/XISQkA/lOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke