KAUSA SINERGI
"Sinergi adalah bentuk kesempurnaan"
Paradoks sempurna, akan senantiasa menjelaskan bahwa segala fenomena
terjadi atas kehendak-NYA atau merupakan bentuk/manifestasi
kesempurnaan-NYA. Dualitas sempurna, akan senantiasa menjelaskan esensi
kesempurnaan Pencipta dan ciptaannya Yang Satu. Hakekat kisah Adam dan
Hawa adalah berasal dari Tuhan, dan/atau menjelaskan esensi kesempurnaan
Tuhan. Berawal dari Sang Sempurna dan/untuk kembali kepada Sang Sempurna
Sinergi Sempurna - Yang Satu. Sinergi merupakan realitas
(bentuk/manifestasi) Kesempurnaan yang sesungguhnya.
Esensi kesempurnaan kisah Adam dan Hawa tidak terletak pada satu, atau
lebih manifestasi-manifestasi logos-logos maupun
kronologi-kronologi/kejadian-kejadian per penggalan-penggalan cerita,
melainkan sinergi - Yang Satu atas/dalam keseluruhan cerita.
Pemahaman secara menyeluruh kisah Adam dan Hawa (sebagai satu sinergi)
akan sekaligus bisa mengakhiri bentuk-bentuk paradoks manifestasi Tuhan,
yang senantiasa bisa ditemukan dan/atau dikomparasikan atas/melalui
pertautan dan/atau perbandingan satu atau lebih manifestasi
kesempurnaan-NYA, per
penggalan-penggalan/kronologi-kronologi/kejadian-kejadian cerita.
Secara tidak disadari, dogma-dogma/keyakinan-keyakinan yang dibentuk
melalui pemahaman secara tidak menyeluruh atas kisah Adam dan Hawa,
(sesungguhnya) sekaligus berkonotasi pada `Tuhan yang bodoh'.
"Jika benar bahwa hakekat/esensi kehidupan manusia adalah bentuk
`hukuman' akibat kesalahan yang dilakukan oleh Adam dan Hawa,
mengapa Tuhan sejak awal menciptakan Hawa (yang sekaligus dinubuatkan
untuk menyempurnakan esensi Adam)? Bagaimana mungkin Sang Maha
Mengetahui tidak tahu bahwa kelak Hawa akan membuat Adam melakukan
pelanggaran atas larangan-NYA (sehingga dihukum/diturunkan kedunia)?
1. Tuhan memang cukup bodoh untuk tidak tahu.
2. Segala sesuatu terjadi atas kehendak-NYA; bahwa Adam dan Hawa
(manusia) memang dikehendaki untuk `diturunkan' kedunia. Bahwa
stigma `hukuman' atas esensi kehidupan merupakan bentuk
`ilusi' pemahaman manusia atas manifestasi kesempurnaan-NYA.
Bagaimana mungkin Sang Maha Berkehendak tidak menghendaki Adam dan Hawa
untuk melanggar larangannya (memakan buah terlarang)? Bagaimana mungkin
Adam dan Hawa bisa melakukan sesuatu diluar kehendak Sang Maha
Berkehendak? Bukankah hal tersebut menjelaskan bahwa Adam dan Hawa
adalah sekaligus (Sang) Maha Berkehendak bagi/atas keberadaan mereka?
Bukankah dualitas sempurna (Tuhan manusia-manusia Tuhan yang sama-sama
(Maha) berkehendak) masih berlaku bahkan setelah terciptanya Hawa?
Bukankah "kebebasan untuk memilih" merupakan hakekat dasar Adam
dan Hawa? Hakekat dasar manusia? Bukankah `hukuman' merupakan
bentuk `ilusi' atas keterbatasan pemahaman ego memahami
esensi/manifestasi kesempurnaan-NYA - Yang Satu?
Melalui bentuk pemahaman sinergi, akan tampak bahwa keterbatasan
pemahaman manusia lah yang (sesungguhnya) menciptakan bias dalam
menerjemahkan manifestasi kesempurnaan Tuhan. Contoh inkonsistensi
bentuk pemahaman ego, manusia yang mutlak memisahkan esensi kesempurnaan
dan ketidaksempurnaan atas esensi Tuhan dan manusia (pengingkaran bentuk
dualitas sempurna) adalah sebagai berikut:
Kelompok-kelompok tertentu meyakini dogma yang menyebutkan, bahwa hidup
adalah bentuk kutukan/hukuman atas kesalahan/pelanggaran yang dilakukan
oleh Adam dan Hawa (manusia) terhadap Tuhan. Anehnya, kelompok-kelompok
bersangkutan umumnya sekaligus sangat meyakini bahwa segala sesuatu
terjadi atas kehendak Tuhan. Manusia? atau kehendak Tuhan
terhadap/kepada manusia yang salah?
Esensi kesempurnaan (Tuhan) selamanya tidak akan bisa dipahami melalui
`ilusi' pemahaman dualitas yang secara mutlak memisahkan esensi
kesempurnaan Sang Pencipta (yang sempurna) dan ciptaannya/manusia (yang
tidak sempurna). Esensi kesempurnaan kisah Adam dan Hawa, tidak akan
bisa dipahami melalui bentuk keterikatan pemahaman atas logos per logos
dan/atau kejadian per kejadian, kecuali melalui bentuk pemahaman sinergi
atas keseluruhan relasi-relasi logos-logos/elemen-elemen,
kronologi-kronologi/kejadian-kejadian serta alur cerita - Yang Satu
Kesempurnaan adalah hakekat Kausa Prima sementara kesempurnaan sinergi
menjadi hakekat bagi/atas manusia (setelah terpecahnya ego tunggal/dual
menjadi ego-ego yang lain/ego individu. Pemahaman sinergi, adalah
pemahaman Sempurna.
MASKULINITAS
"Ego pria mengawali sinergi"
Mengapa (ego) manusia memahami Adam sebagai seorang pria sejak awal
penciptaan?
Peradaban umat manusia diawali oleh bentuk dominasi/superioritas kaum
pria/laki-laki terhadap kaum wanita. Kekuatan fisik kaum pria yang jauh
lebih unggul dibanding kaum wanita, menjadi faktor utama bagi keberadaan
proyeksi (ilusi) dualitas tinggi-rendah posisi ego (esensi dasar
pemahaman pria), yang menempatkan posisi (ego) kaum wanita dibawah (ego)
mereka. Dominasi tersebut sekaligus menjelaskan mengapa sejak awal Adam
penciptaannya (Tuhan manusia-manusia Tuhan) dipahami/dilogoskan sebagai
pria/laki-laki.
Peradaban umat manusia diawali/dibangun oleh `ilusi' pemahaman
ego pria. Di masa lalu, kaum wanita/perempuan yang menempatkan egonya
pada posisi lebih rendah terhadap kaum pria dipandang sebagai bentuk
kebenaran/kebaikan (Malaikat yang bersujud terhadap Adam), sebaliknya
kaum wanita yang mencoba menempatkan egonya pada posisi yang lebih
tinggi dipandang sebagai bentuk kesalahan/kejahatan (Iblis yang
meninggikan dirinya). Fenomena tersebut menjelaskan bahwa segala bentuk
pemahaman dualitas seperti: kebenaran-kesalahan maupun
kebaikan-kejahatan (sesungguhnya) merupakan bentuk-bentuk ilusi atas
keterbatasan pemahaman ego atas esensi kesempurnaannya - Yang Satu.
Hasrat pria/laki-laki untuk menempatkan ego mereka pada posisi yang
lebih tinggi atas/terhadap aspek-aspek selain dirinya/dunia/ego-ego yang
lain, merupakan realitas yang sesungguhnya atas/bagi `ilusi'
(nilai-nilai) kebenaran-kesalahan dan/atau kebaikan-kejahatan yang
melandasi tindakan-tindakan umat manusia pada awal peradabannya.
Dominasi gender cara termudah bagi kaum pria untuk dapat
memproyeksikan/memanifestasikan bentuk (pemahaman) ego mereka.
Peperangan, penaklukan, perbudakan, penindasan dan/atau bentuk-bentuk
persaingan lain merupakan fase lanjutan yang ditempuh dalam upaya
memproyeksikan bentuk `ilusi' pemahaman tersebut.
Tindakan-tindakan, yang dipandang/dianggap/diyakini sebagai bentuk
kebaikan, kebenaran, dan sekaligus bentuk kesempurnaan bagi/atas
eksistensi mereka.
Untuk memposisikan ego, manusia menggunakan kedua bentuk penalaran yang
dimilikinya (akal-budi/IQ-EQ). Melalui IQ, ego meletakan dasar
argumentasi kebenaran/kebaikannya atas unsur-unsur
fisik/inderawi/material/akal seperti kecantikan, kecerdasan (otak),
prestasi, kekuatan, kekayaan, ketangkasan dan lain-lain. Sementara
melalui EQ yang ego meletakan dasar argumentasi kebenaran/kebaikan atas
unsur-unsur metafisik/perasan seperti: agama, kepercayaan, kesaktian dan
lain-lain.
Pada abad peperangan/penindasan/penaklukan, bernaung dibawah logos
"manusia/Adam" ego berupaya menempatkan posisi mereka
sebagaimana proyeksi logos Tuhan yang menghendaki Malaikat-Iblis/manusia
lain untuk tunduk terhadap dirinya (logos manusia), dan (berusaha)
mengenyahkan Iblis/manusia lain yang menolak untuk bersujud/tunduk
kepada/terhadap(ego)nya/-NYA. Ego memandang mereka yang
bersujud/tunduk/menuruti perintah/kemauannya sebagai kebaikan/kebenaran,
dan sebaliknya mereka yang membangkang/menolak untuk tunduk sebagai
bentuk kejahatan/kesalahan Realitas peradaban umat manusia diawali
dan diakhiri oleh keberadaan Yang Satu EGO Kausa
Prima.
Secara umum, ego akan berlaku/berposisi sebagaimana logos
"Tuhan" ketika eksistensinya bisa/memungkinkan untuk berada pada
posisi Yang Lebih Tinggi dari/atas ego-ego yang lain, dan sebaliknya
berlaku sebagaimana logos "manusia" (yang membutuhkan
perlindungan Tuhan) ketika berada pada posisi yang rendah Realitas
dualitas sempurna Kebebasan untuk memilih Tuhan-Manusia dan
Manusia-Tuhan Ego Kausa - Yang Satu.
Apapun, bagaimanapun bentuk/manifestasi yang
dipandang/dianggap/dipahami sebagai kebenaran dan/atau kebaikan oleh
umat manusia, sesungguhnya/selamanya adalah bentuk `ilusi',
sepanjang esensi tersebut secara sadar atau tidak sadar, (sesungguhnya)
diproyeksikan oleh hasrat tinggi-rendah posisi(ego)nya.
REALITAS EGO
"Realitas ilusi, adalah sinergi ego"
Pertanyaan-pertanyaan berikut ini adalah mengenai konsep-konsep,
aspek-aspek, tujuan-tujuan ideal yang melandasi peradaban umat manusia
hingga hari ini; realitas (sesungguhnya)?, atau `ilusi'
(dualitas) yang didasari oleh penempatkan tinggi-rendah posisi ego?
Konsep kesuksesan, realitas atau ilusi? Konsep kebahagiaan, realitas
atau ilusi? Konsep kecerdasan, realitas atau ilusi? Konsep kecantikan,
realitas atau ilusi?
Bagaimana mungkin manusia bisa mengetahui makna `sukses' tanpa
keberadaan elemen-elemen/ego-ego yang tidak atau berada dibawah ego yang
sukses? Bukankah "kesuksesan" merupakan bentuk `ilusi'
atas keberadaan ego yang berada pada posisi lebih tinggi atas (ego) yang
lain? Kebahagiaan, bagaimana seseorang bisa mengenal/tahu makna
`kebahagiaan' tanpa keberadaan mereka yang tidak bahagia?
Bukankah `bahagia' merupakan `ilusi' atas keberadaan
elemen-elemen ego yang berada diatas yang lain? Dan seterusnya
Konsep kebaikan, realitas atau ilusi? Konsep surga, realitas atau ilusi?
Bagaimana mungkin manusia bisa mengenal `kebaikan' tanpa
keberadaan elemen/ego-ego yang `jahat'? Bagaimana mungkin
manusia bisa mengenal/mengharapkan surga tanpa keberadaan
elemen-elemen/ego-ego lain yang kelak/wajib masuk neraka? Itukah bentuk
`kesenangan', `kebahagiaan' sejati? Melihat ego-ego yang
lain `terjatuh' kedalam Api Neraka sementara `ego' kita
berada pada posisi yang tinggi? Bukankah sangat naïf untuk
mengingkari kenyataan tersebut? Begitukah bentuk/wujud manifestasi
kesempurnaan Tuhan yang sesungguhnya? Bagaimana mungkin Sang Maha
Pengasih sekaligus adalah Sang Maha Pendendam atas/bagi manusia
`ciptaan'-NYA? Paradoks sempurna?
Bukankah penempatan-penempatan posisi ego merupakan realitas
sesungguhnya bagi/atas `ilusi' konsep-konsep `ideal'
bagi/dalam kehidupan manusia? Bukankah fenomena penempatan posisi-posisi
ego atas ego yang lain sesungguhnya/selamanya akan membentuk siklus
tanpa batas yang menciptakan ketidakpastian, kecemasan atas waktu,
situasi, tempat yang berlaku pada/bagi peradaban umat manusia?
Bukankah sebagian besar konsep-konsep, `mitos-mitos': sukses,
bahagia, cerdas, sehat dan lain-lain yang secara mudah bisa anda
dapatkan pada buku-buku "chicken soup" (sesungguhnya) hanya akan
membentuk stereotip ego yang selamanya akan berusaha `saling
menginjak' satu dengan yang lain? Bukankah stereotip sedemikian rupa
tidak akan pernah membawa umat manusia pada peradaban yang lebih baik
kecuali bersiklus dan terus bersiklus dalam ketidakpastian penempatan
posisi masing-masing ego?
Apa esensi kebahagiaan, kesuksesan sejati? Bukankah sesuatu yang
sepatutnya abadi dan tidak dilandasi `ilusi' rasa takut akan
ketidakpastian? Mengapa manusia (modern) takut kepada waktu? Pada hari
esok? Pada kematian? Bukankah semuanya bentuk `ilusi' akibat
hasrat ego untuk mencapai tinggi-rendah posisinya? Bukankah atas sinergi
yang diciptakan oleh ego sendiri? Bukankah pemahaman atas esensi
kesempurnaan ego (sesungguhnya) hanya ditentukan/merupakan bentuk
proyeksi/cerminan/refleksi atas keberadaan ego-ego yang lain? Bukankah
rasa takut merupakan `ilusi' akibat keterbatasan ego memahami
esensinya? Dualitas sempurna? Sinergi ego merupakan realitas
sesungguhnya atas/bagi `ilusi' kecemasan dan/atau ketidakpastian
manusia modern.
Tidak satupun hal terjadi atas unsur ketidak sengajaan. Esensi Tuhan
adalah sempurna sejak awal-NYA dan esensi manusia adalah kembali
kepada-NYA. Kebahagiaan sejati sekaligus puncak (kesempurnaan) evolusi
ego hanya akan bisa di/tercapai melalui (keniscayaan) SINERGI
SEMPURNA
Bersambung
Salam,
Bumi Satria Pandawa
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/