Kasus Libanon yang mengabaikan kewajiban yang mereka tanda tangani sendiri sebagai janji untuk melucuti Hesbullah bisa mengakibatkan negara ini musnah dari peta bumi kita.
Hesbullah yang merupakan organisasi terorist sangat jelas bukan cuma merugikan Israel saja tetapi juga Libanon dan banyak lagi kepentingan2 negara2 didunia ini yang pernah diculik warganegaranya untuk tebusan sejumlah besar uang dimasa lalu. Akibatnya, dimasa lalu Libanon diserang dan diduduki baik oleh Israel yang dimusuhi oleh Hesbullah maupun oleh Syria yang membantu Hesbullah. Dari kejadian2 sebelumnya ini seharusnya pemerintah Libanon menyadari bahwa negaranya sama sekali tidak berdaya dan sama sekali tidak memiliki kedaulatan untuk menentukan pengamanan negaranya sendiri maupun menentukan politiknya sendiri. Kenyataan2 inilah yang menyebabkan masa depan Libanon akan suram sehingga kecendrungan besar negara ini akan hilang melalui perundingan rahasia antara Israel dan Syria sebagai kekuatan dominan yang mampu menentukan nasib negra ini. Perjanjian rahasia itu cukup membagi negara Libanon ini dimana sebagian dari negara ini akan diambil alih oleh Syria, dan sebagian lagi diambil alih oleh Israel, dan bisa jadi sebagian lainnya akan diambil alih oleh negara baru Palestina. Pada awalnya Libanon ingin membantu berdirinya negara Palestina, namun akibatnya, negara yang dibantu akhirnya berhasil berdiri, tapi negaranya sendiri malah musnah hilang diambil oleh negara yang dibantunya untuk berdiri. Seharusnya orang2 Arab ini belajar dari sejarah masa lalu tetangga2nya sendiri. Orang2 Arab asalnya memang dari negara Arab jadi enggak mungkin bisa diizinkan oleh siapapun untuk merebut dan mengusir tanah negara milik bangsa lainnya seperti Israel apalagi dengan menuduh pemilik negara itu sebagai penjajahnya sementara penjajah yang sebenarnya orang Arab sendiri. Demikianlah, kalo mau bercermin pada kejadian perang 7 hari yang meletus oleh ulah gabungan Negara2 Arab yang ingin memusnahkan Israel dari peta bumi dengan serangan mendadak ke Israel tanpa pernyataan perang sebelumnya, Mesir kalah perang dan kehilangan Jalur Gaza, Syria kalah perang sehingga kehilanggan Lembah Bekaa. kedua wilayah penting ini telah menjadi wilayah Israel. Namun demi terciptanya perdamaian abadi, Israel bisa dibujuk Amerika untuk memberikan Jalur Gaza kepada orang2 Arab Palestina untuk mendirikan negara baru Palestina, dan Lembah Bekaa dikembalikan kepada Syria dibawah perjanjian yang memaksa kelima negara pemegang hak veto untuk memihak kepada Israel apabila dimasa depannya Syria membuat ulah2 yang merugikan Israel. Demikianlah, akibat ulah ingin serakah merampok negara Israel dengan memusnahkan nya dari peta bumi, maka Syria dan Mesir kehilangan wilayahnya. Tidak berbeda kasusnya dengan Libanon sekarang ini, tanpa menyadari kekuatan sendiri negara kecil ini berani mencoba memusnahkan negara tetangganya yang lebih kuat, tentu tidak mengherankan kalo hasilnya akan terbalik, bahwa negara inilah yang akhirnya akan musnah hilang dari peta bumi karena baik rakyatnya maupun pemerintahnya tidak memiliki rasa tanggung jawab akan kepentingan negerinya sendiri malah mengorbankan kepentingannya untuk kepentingan organisasi terorist yang sudah diblack list oleh PBB. Bagi PBB sendiri, tugas utamanya adalah mendamaikan pertikaian negara2 yang menjadi anggautanya. Namun kalo ada negara2 tertentu ingin memaksakan agendanya sendiri, misalnya ingin memusnahkan negara anggauta lainnya, tentu saja PBB tidak mungkin mengizinkan apalagi berpihak kepadanya. Demikianlah hal yang sama berlaku dengan negara Palestina maupun Libanon saat ini. Itulah sebabnya Israel tidak bisa dihalangi lagi apabila bergerak demi mempertahankan eksistensinya dipeta bumi ini. PBB hanya bisa menjadi saksi akan tekad negara yang ingin memusnahkan Israel dan perjuangan Israel untuk mempertahankan eksistensinya dari tekad pemusnahan dari negara yang cuma mengandalkan bantuan PBB selama ini. Wajar saja kalo PBB tidak mungkin membantu negara manapun juga yang bertekad memusnahkan sesama negara anggautanya dalam pertikaian manapun juga karena sebelum menjadi anggauta PBB, keabsahan berdirinya negara itu harus diteliti sebelum diakuinya. Tekad serta kewajiban sebuah bangsa memusnahkan bangsa atau negara lain bisa berakibat kemusnahan negaranya sendiri kalo tekad itu gagal karena tidak cukup kekuatan sementara bantuan dan dukungan tidak mungkin didapatkannya karena menyalahi atau pelanggar jiwa keanggautaannya di PBB itu sendiri. Demikianlah, analisa diatas ini sangat luas dampaknya karena melibatkan kepentingan2 negara2 yang lebih kuat yang bisa diatur oleh negara yang paling kuat. Dalam hal ini, Israel memegang kartu truf-nya karena sudah berhasil mengikat kelima pemegang hak veto dalam posisi yang bersalah karena mendukung berdirinya negara Palestina, dan bersalah dalam mendukung Libanon untuk melucuti terorist Hesbullah 20 tahun yang lalu. Oleh karena itu keputusannya hanya bisa diatur dengan perjanjian baru yang melibatkan Syria, Iran, Mesir, maupun Arab Saudia yang kesemuanya ditentukan aturannya oleh Israel. Arab Saudia dan Iran memiliki konflik religious yang serius sehingga kepentingan masing2 akan wilayah, umat dan pengaruh diwilayah Timur Tengah sangat menentukan nasib mereka dipercaturan peta bumi ini. Sedangkan Syria dicocok hidungnya untuk perjanjian pengembalian Lembah Bekaa, sedangkan Mesir juga tercocok hidungnya akibat kehilangan Jalur Gaza. Sekarang terserah Israel bagaimana cara membagi-baginya, maka negara yang paling pandai mengobral janji untuk menjamin kedamaian negara Israel, tentu lebih banyak yang akan mendapatkan bagian kado yang dimiliki Israel sekarang ini. Sebaiknya umat Islam di Indonesia dan juga orang2 Arab didunia, janganlah terlalu terpengaruh kekejaman perang dilapangan yang se-olah2 tidak kenal ampun. Karena pada hakekatnya permainan politik dibelakang layar seperti yang terjadi di PBB tetap dilakukan dengan penuh persahabatan meskipun mereka masing2 menggerakan pengikut2nya dengan penuh kebiadaban dilapangan. Perkembangan perang ini, bisa saya pastikan akan berakhir dengan perjanjian2 politik yang menguntungkan semua pihak yang terlibat dalam pertikaian sekarang ini. Untuk bisa menguntungkan semua pihak, maka cara yang paling memungkinkan hanya satu, yaitu Libanon hilang dari peta bumi sementara urusan Palestina bisa dibicarakan lagi masa depannya apakah hilang dan seluruh rakyatnya dikembalikan ke-negara masing2 di Arab karena pada dasarnya mereka semua orang Arab yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan bangsa Palestina karena mereka memang bukan orang Palestina melainkan orang2 Arab yang dulu pernah tinggal di Palestina. Juga bukanlah hal yang tidak mungkin, negara Libanon yang kaya raya ini bisa diubah namanya menjadi Negara Palestina, karena nama negara Libanon tidak berarti banyak bagi perdamaian katimbang diganti namanya sebagai Negara Palestina yang lebih memiliki sejarah simbolik heroisme Arab. Demikianlah sekedar membuka penyelesaian2 politik yang mungkin dimasa depan berdasarkan situasi politik yang sekarang ini. Hal ini tentunya SANGAT PERLU UNTUK DIPELAJARI OLEH PARA POLITISI INDONESIA YANG BER-CITA2 MENGUBAH HUKUM NEGARA MENJADI NEGARA SYARIAT YANG PASTI AKAN MENGHADAPI BERBAGAI KEMELUT DALAM MENDAPATKAN PENGAKUTAN DARI PBB. Ny. Muslim binti Muskitawati. Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
