Siapapun yang menganggap Politik Luar Negeri Amerika sebagai double
standard yang membingungkan, pasti salah karena hanya mereka yang
tidak mengerti ilmu politik saja yang menganggapnya demikian yang
hanya menjebak dirinya sendiri pada pilihan2 blunder dalam karir
politiknya.

Sebelum kita mendiskusikan topik permasalahannya, maka kita semua
harus lebih dulu memahami inti dari kebijaksanaan politik Amerika itu
seperti apa ????

Sejak Amerika pertama kali didirikan, selalu menjalankan politik yang
kita namakan sebagai "Power Balance" yang artinya tidak satupun negara
didunia ini harus dibiarkan mendominasi kekuatan disatu regional. 
Karena penguasaan atau dominasi kekuatan satu regional akan
mempengaruhi keseimbangan keseluruhan regional yang bisa diartikan
mendominasi kekuatan diseluruh dunia.  Meskipun dalam hal ini
kelihatannya tidak berlaku untuk Amerika sendiri karena pada
kenyataannya ambisi hegemoni kekuatan Amerika sendiri justru
mendominasi kekuatan diseluruh dunia.  Dalam hal ini sangat relative,
tergantung pandangan anda sendiri untuk mengakui bahwa Amerika memang
berhasil mendominasi kekuatan diseluruh dunia atau tidak.

Pada prinsipnya "Power Balance" itu dilakukan dengan mendukung
kekuatan yang lemah, dan melemahkan kekuatan yang lebih kuat.  Dengan
prinsip politik seperti inilah, dimata Amerika tidak ada teman dan
tidak ada musuh, karena teman sekalipun bisa menjadi musuh, dan dilain
kesempatan dimungkinkan musuh itu harus ditemani.

Demikianlah, dengan memahami inti politik Amerika, kita bisa memulai
memasuki diskusi tentang "Hubungan Hesbullah Dengan Kepentingan
Politik Amerika".  Kalo kita memulai dengan musuh Amerika yang utama
sekarang ini adalah terorisme dimana pelaku terorisme itu adalah
"Islam Sunni", sementara kita tahu pusat Islam Sunni itu adalah
kerajaan Arab Saudia.  Islam Sunni merupakan Islam yang mayoritas
dimuka bumi ini.  Meskipun hubungan Amerika dan Arab Saudia sangat
akrab, bahkan Arab Saudia mengikatkan diri dalam aliansi pertahanan
dengan Amerika, bukanlah berarti policy Amerika dalam hal "Power
Balance" menjadi harus disingkirkan untuk kekecualian disini, jelas
hal itu tidak demikian permasalahannya.  Karena kalo anda memahami
praktek dari "power balance" itu tidak mengharuskan Amerika secara
aktive membantu ataupun memerangi satu pihak, bisa pula dilakukan
dengan bersikap netral ataupun tidak mau ikut campur.

Salah satu yang paling menonjol disini adalah kenyataan bahwa lawan
yang paling fundamentalist Islam Sunni adalah Islam Shiite atau Syiah.
 Namun jumlah umat Syiah ini hanya berkisar sepersepuluh dari umat
Islam Sunni, terlalu jauh sehingga distribusi power disini tidaklah
seimbang.  Demikianlah, kalo kita menyimak kekuatan di Timur Tengah
yang didominasi oleh Islam Sunni, bukan hal yang mengejutkan ataupun
hal yang aneh kalo secara diam2 Amerika berusaha merubah dominasi ini
demi keseimbangan "power balance" ini dengan memperkuat Islam Shiite.
 Dalam hal ini bisa anda mengerti kenapa ada konspirasi "Iran Contra"
dimana presiden Reagen dianggap mengkhianati negaranya dengan membantu
musuh Amerika yang dalam hal ini adalah Iran.  Bahkan kembalinya
Khomeini dengan tersingkirnya Syah Iran juga dibidani oleh CIA Amerika
dimana para pengikut Syah Iran menuduh Amerika ingin menguasai minyak
Iran dengan memberi angin kepada Khomeini.  Namun anggapan itu
tidaklah benar, karena apa yang dilakukan Amerika merupakan langkah
yang jauh lebih penting dari sekedar minyak.

Dominasi Islam Sunni diseluruh dunia membuat Amerika merasa penting
untuk bersekutu dengan kerajaan Arab Saudia yang merupakan trademark
bagi agama Islam diseluruh dunia.  Demikianlah, disatu pihak Amerika
bersekutu dalam aliansi pertahanan dengan Arab Saudia, tetapi dilain
pihak juga Amerika menggerogoti dari luar dengan memberi kesempatan
kepada Islam Shiah meningkatkan powernya didunia dan khususnya di
Timur Tengah.  Dilain pihak, kerajaan Arab Saudia menyadari peranan
Amerika itu, sehingga merasa penting untuk menarik dan mempengaruhi
Amerika dalam setiap tindakannya, dengan mengikat Amerika inilah, Arab
Saudia berhasil mencegah Amerika secara aktive mendukung gerakan
Syiah.  Dilain pihak, Arab Saudia sendiri memanfaatkan kekuatan
Amerika untuk menyingkirkan sempalan2 Sunni yang makin menguatirkan
karena berusaha menghancurkan kerajaan Arab Saudia itu sendiri seperti
Islam Sunni di Irak.  Demikianlah, Arab Saudia menjadi makin repot
akibat gerakan2 terorist Sunni sendiri yang memanfaatkan kenyataan
dekatnya Arab Saudia dengan Amerika yang dipropagandakan sebagai
sekutu Iblis sehingga menghalalkan untuk menghancurkan kerajaan Arab
Saudia.  Tanpa melakukan tindakan apapun, Amerika sudah secara
otomatis melihat perjalanan keseimbangan kekuatan ini berjalan menuju
apa yang diingininya.

Hesbullah adalah gerakan Shiite yang fundamentalis yang didanai oleh
Iran, namun Syria yang juga Islam Sunni pun berusaha mempengaruhi
gerakan ini dengan menyusupkan orang2nya sendiri kedalam organisasi
ini.  Yang menarik untuk anda semua memperhatikannya, sikap Amerika
yang berulangkali menyatakan bahwa "Hesbullah tidak pernah menyerang
ataupun merugikan Amerika".  Disatu pihak Amerika se-olah2 mendukung
Israel, tetapi dilain pihak secara tersamar juga berusaha melindungi
Hesbullah.  Oleh karena itu, perang Hesbullah dan Israel cukup
didiamkan karena dengan melalui perang inilah Amerika bisa menganalisa
apakah Hesbullah merupakan organisasi yang cukup kuat atau cukup
berarti dimasa depannya untuk menyeimbangkan atau menetralisir Islam
Sunni diregional Timur Tengah.  Kalo Hesbullah harus musnah oleh
Israel tentu "power balance" yang merupakan prinsip penting dari
kebijaksanaan politik Amerika juga menjadi musnah.  Tetapi dalam hal
ini Amerika masih mempunyai Shiite yang lain, yaitu yang mendominasi
Iraq yang sekarang lagi digarapnya agar dominasi Shiite bisa
didudukkan di Iraq yang tentu saja membuat Arab Saudia tidak tenang.

Kesimpulan saya:

Dari pernyataan2 Amerika yang selalu mengulangi bahwa "Hesbullah tidak
pernah memusuhi Amerika", sudah cukup bagi saya sebagai pertanda
adanya sandiwara politik dibelakang layar antara Amerika dan Hesbullah
itu sendiri.  Bisa jadi, serangan penghancuran yang dilakukan Israel
ini justru untuk memuluskan Hesbullah untuk menguasai seutuhnya
seluruh negara Libanon sehingga tidak menimbulkan kecurigaan pihak
Arab Saudia.  Siapa yang terbayang kalao perang Israel dan Hesbullah
yang penuh kebencian itu merupakan gerak tipuan untuk memberi
kesempatan kepada Hesbullah menguasai Libanon.  Pada saat ini
Hesbullah sulit untuk berkuasa di Libanon karena terlalu banyaknya
faksi2 yang bukan Shiite yang cukup dominan menguasai Libanon.  Dengan
terjadinya perang Hesbullah dan Israel, yang hancur bukanlah Hesbullah
melainkan Pemerintahan Libanon yang merupakan gabungan banyak faksi
ini yang akhirnya tersingkir dan baru Hesbullah dan Israel melakukan
gencatan senjata.

Yang jelas adalah, terjadi peningkatan wilayah Shiite akibat politik
anti-terorist Amerika, kita tak perlu terpengaruh oleh sandiwara
permusuhan maupun sandiwara kebencian, cukup memperhatikan perubahan2
apa yang sedang terjadi atau sedang menuju kemana perubahan2 yang
sedang berjalan sekarang ini.

Ny. Muslim binti Muskitawati.








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/2pRQfA/bOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke