http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=257779&kat_id=16

Senin, 24 Juli 2006



Dosa dan Bencana 

Oleh : Bustanuddin Agus
Guru Besar Universitas Andalas Padang

Tampaknya bangsa ini tak putus dirundung musibah. Imbauan pemimpin bangsa hanya 
menyerukan sabar kepada yang ditimpa musibah dan kebersamaan menghadapinya 
dengan menyalurkan bantuan. Tapi, sebagai manusia yang sangat rasional, 
pemimpin bangsa ini tampaknya enggan menghubungkan tingkah polah manusia dan 
kemurkaan Tuhan dengan bencana yang menimpa silih berganti.

Logika rasional atau logika ilmiah baru sebatas mau mengaitkan bencana alam 
dengan banjir. Banjir karena ulah tangan manusia karena tidak mau berhenti 
membabat hutan. Longsor juga dapat dipahami sebagai akibat dari penggundulan 
hutan sehingga tanah tidak cukup untuk menyimpan resapan air. Namun gempa bumi 
dan gunung meletus agak sulit diterima sebagai akibat perbuatan manusia. Sejauh 
yang dapat dijelaskan adalah terjadinya pergeseran lempengan bumi pada gempa 
dan menyemburnya lava gunung berapi. 

Kita memang tinggal di atas bola api yang diselimuti oleh kulit bumi. Bola api 
bumi ini, sewaktu-waktu siap meledak dengan dahsyatnya. Baik melalui gunung 
berapi, dan tidak terbuka pula kemungkinan melalui ledakan dahsyat. Kiamat 
kecil, menengah, atau kiamat sungguhan!

Tapi bagi budaya masyarakat yang dianggap 'primitif' dan umat beragama yang 
memahami ajaran agama mereka, segala peristiwa, suka ataupun duka, anugerah 
ataupun musibah, tidak terlepas dari ketentuan dan kehendak Tuhan. Tuhan 
berbuat demikian berkaitan dengan kehidupan manusia. 

Komentar yang umum kita dengar selama ini dari tokoh agama adalah semuanya itu 
adalah ujian terhadap keimanan kita. Apakah masih bisa bersabar atau beralih 
menjadi mengumpat Tuhan? Ujian, karena kita menilai diri masih tetap sebagai 
orang yang beragama yang diridhai-Nya. Bahkan kelas keimanan kita sudah patut 
dinaikkan, sehingga perlu ada ujian "naik kelas". Yang tidak lulus ujian tentu 
akan mengumpat dan protes terhadap-Nya.

Hukuman 
Kalau ditelusuri riwayat bencana alam dalam kitab-kitab suci, pada umumnya 
bencana adalah hukuman Tuhan terhadap kekafiran manusia. Baik topan di zaman 
Nabi Nuh, badai dan topan yang menimpa umat Nabi Hud dan Shalih, angin puting 
beliung di zaman Nabi Luth, dan lain sebagainya. Agama Hindu juga percaya ada 
Dewa Syiwa, dewa perusak dan bencana. Kepercayaan masyarakat primitif juga 
mengaitkan bencana dengan kekuatan gaib. Tapi campur tangan kekuatan gaib itu 
adalah karena kekafiran manusia (Agus, Agama dalam Kehidupan Manusia, 2006).

Selalu memandang bencana hanya sebagai ujian Tuhan, berarti tidak mau mengakui 
kekurangan diri secara pribadi dan secara bersama. Dosa terhadap alam telah 
demikian membahayakan. Efek rumah kaca, suhu bumi makin panas, lapisan ozon 
makin tipis, sangat mengancam kehidupan manusia yang tinggal di planet ini. 
Pembalakan hutan, pencemaran udara dan air, membahayakan pernapasan, minuman, 
dan makanan manusia. Pengurasan mineral dan minyak secara semena-mena dari 
perut bumi tentu juga merusak keseimbangan bumi dan atmosfernya. Semuanya ini 
dosa terhadap alam, makhluk Allah dan juga terhadap Khalik-nya.

Dosa kita terhadap sesama umat manusia, apalagi sesama anak bangsa, telah 
menjadi-jadi. Tawuran, perang antarkelompok, hasung, fitnah, intimidasi, hujat, 
dan kekerasan fisik serta kekerasan verbal, dan penghancuran fasilitas umum, 
telah merusak tatanan hidup bermasyarakat. Korupsi dan mafia peradilan adalah 
dosa yang utama dilakukan oleh pejabat dan penegak hukum itu sendiri. Dosa 
lebih besar lagi karena merupakan perilaku 'pagar makan tanaman'. Semua dosa 
terhadap sesama manusia itu juga dosa terhadap Allah yang menciptakan mereka.

Allah melarang keras manusia berbuat binasa di muka bumi (QS 2:11-12 dll). 
Semua tindakan itu bukan membinasakan siapa-siapa melainkan diri kita sendiri 
dan manusia lain di sekitar kita. Nabi Muhammad mengibaratkan orang yang 
seenaknya ini seperti penumpang kapal yang ingin segera mendapatkan air dengan 
melubangi saja lantai kapal. Kalau tidak ada yang mencegahnya berbuat demikian, 
semua penumpang kapal tentu akan karam. 

Tidak balanced
Kekafiran-kekafiran terhadap nabi dan ajaran mereka sekilas memang tidak dapat 
dipahami dengan akal yang telah terkooptasi oleh sanis dan rasionalisme. Tapi 
kalau dipikir secara mendalam, akan dipahami juga bahwa ajaran agama itu memang 
benar adanya.

Ajaran agama yang dibawa oleh para nabi dan rasul biasa dipandang sebelah mata 
oleh pemikiran sekuler karena ajaran agama dianggap hanya sebagai ritual 
belaka, ibadat yang tidak punya dampak konkret, apalagi terhadap peningkatan 
taraf ekonomi. Agama dipahami hanya sebatas doa, zikir, sembahyang, puasa, haji 
dan yang seumpamanya. Semuanya hanya dinilai efektif paling-paling dalam taraf 
sugestif psikologis. Misalnya menjadikan yang suka melakukannya lebih 
optimistis dan lebih sabar.

Namun ajaran agama bukanlah ritual atau ibadah mahdhah itu saja. Ajaran agama 
juga menekankan sekali sopan santun dalam kehidupan bermasyarakat dan dalam 
perlakuan terhadap alam. Tidak boleh ada kezaliman manusia atas manusia lain 
dan pengurasan semena-mena terhadap sumber daya alam. Pengurasan semena-mena 
terhadap alam akan mengakibatkan ketidakseimbangan alam, khususnya bumi ini. 

Bumi dengan atmosfirnya jadi tidak seimbang. Perut bumi dengan mineralnya tidak 
seimbang lagi. Hutan, laut dan daratan juga tidak seimbang. Pada hal bumi 
berputar dengan cepatnya. Untuk satu rotasi saja, bumi berputar sekeliling 
sumbunya dengan kecepatan 1.670 km/jam. Untuk mengelilingi bulan dibutuhkan 
kecepatan 3.358 km/jam. Dan untuk mengelilingi matahari dibutuhkan waktu 
103.232 km/jam. Bayangkan apa yang akan terjadi kalau bumi tidak balanced 
dengan kecepatan demikian tinggi.

Ajaran agama menuntun manusia untuk hidup seimbang antara jasmani, akal, dan 
ruhani. Seimbang antara manusia dan saudaranya sesama manusia. Seimbang antara 
manusia dengan alam sekitar. Seimbang antara hubungannya dengan sesama manusia 
dan dengan Tuhannya. Ajaran seimbang dengan diri sendiri, sesama manusia, alam 
sekitar, dan dengan Tuhan juga mengandung arti harmonis, indah, dan saling 
menghargai. Suka memberikan yang terbaik untuk semua. Bukan perbuatan dan 
tindakan asal jadi atau hanya pelepas hutang. Yang terbaik inilah yang 
dinamakan akhlak atau ihsan.

Manusia memang diberi kemerdekaan. Apakah akan taat dan patuh kepada ajaran 
agama atau kafir (menantang secara terang-terangan), munafik (mengintai momen 
untuk mencederai umat beragama), dan asal-asalan (kusala, pemalas). Semuanya 
itu akan menerima upah dan pembalasan, cepat atau lambat. Maka secara umum 
terdapat hubungan antara perilaku manusia di bumi ini dengan musibah dan 
bencana (al-Rum ayat 41). Karena itu, musibah yang silih berganti, hendaklah 
dijadikan momen introspeksi dan mengubah diri, secara individu dan secara 
berbangsa.

Tapi iman terhadap kekuasaan Allah juga punya sisi membuka peluang untuk 
bangkit kembali. Ajaran tobat dari kesalahan dan dosa yang telah lalu, membuka 
peluang besar untuk memperbaiki diri. Tobat artinya menyesali segala perbuatan 
yang bertentangan dengan ajaran agama selama ini, minta ampun atas dosanya dan 
berjanji tidak akan mengulangi lagi.

Doa dan zikir juga ajaran untuk diberi keampunan dan kekuatan untuk menghadapi 
masa depan. Ajaran kepada kekuasaan dan takdir Tuhan juga mengajak kita untuk 
tidak larut dalam duka berkepanjangan. Bukankah semuanya itu adalah takdir 
Allah? Untuk itu singsingkanlah lengan baju dan berjuanglah menghadapi masa 
yang akan datang.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/7EuRwD/fOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke