http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=238267

Rabu, 26 Juli 2006,



Ambruknya Daya Saing


Oleh Yuliani Yunindri 



Noda hitam kembali menerpa wajah ekonomi Indonesia. Survei World 
Competitiveness Yearbook 2006 mencatat, posisi daya saing ekonomi Indonesia 
terpuruk di peringkat ke-60 dari 61 negara. Indikator penilaiannya mencakup 
aspek kinerja ekonomi, efisiensi pemerintah, efisiensi bisnis, dan kondisi 
infrastruktur. 

Padahal, survei International Institute for Management Development yang 
bermarkas di Swiss tersebut pernah menempatkan Indonesia pada peringkat daya 
saing ke-47 pada 2002, kemudian anjlok ke peringkat ke-57 pada 2003, dan terus 
merosot hingga diumumkan peringkat tahun ini. 

Sebaliknya, daya saing negara tetangga di Asia Tenggara tetap tangguh. 
Singapura tercatat sebagai negara ketiga yang berdaya saing paling tinggi. 
Malaysia memperbaiki peringkat dari ke-28 tahun lalu menjadi ke-23, sedangkan 
Filipina berada di peringkat ke-49. 

Salah satu faktor pemerosot daya saing, selain lemahnya kualitas infrastruktur 
dasar dan infrastruktur pengembangan iptek, Indonesia terlalu bergantung kepada 
sumber non-traded dan ritel, bukan sektor yang bisa ekspor-impor. Posisi ekspor 
yang bagus hanya karena faktor kebetulan, yaitu harga produk pertanian dan 
pertambangan yang sedang bagus.

Akselerasi Kredit

Belum memadainya infrastruktur dan iklim investasi membuat perusahaan atau 
korporasi tak bergairah meningkatkan kapasitas produksinya. Akibatnya, 
permintaan kredit kian melorot. Infrastruktur kian menambah beban rentetan 
dampak kenaikan harga bahan bakar minyak yang melambungkan harga-harga 
kebutuhan masyarakat. Lemahnya daya beli membuat produsen mengerem ekspansinya.

Tidak mengherankan bila potret penyaluran kredit perbankan tampak suram. Rapor 
perbankan Januari-Mei didominasi warna merah. Meski para banker telah siap 
dengan kondisi buruk, toh rapor merah penyaluran kredit ternyata lebih buruk 
daripada ekspektasi. Angka yang merahnya paling tebal tentu kinerja kredit. 
Periode Januari-Mei 2006, kredit hanya tumbuh 2,4 persen atau Rp 17,4 triliun, 
terendah dalam lima tahun terakhir. Sangat jauh dari target tahun 2006 sebesar 
18 persen atau sekitar Rp 150 triliun. 

Yang membuat optimistis di tengah rapor merah, perbankan tetap menyimpan 
potensi untuk bangkit pada semester II-2006. Indikasinya, selama Januari sampai 
Mei 2006, kinerja perbankan terus membaik dari rasio kredit macet (NPL) dan 
perolehan laba.

Hanya, optimisme yang terganjal ketimpangan antara kebijakan moneter dan fiskal 
menjadi kendala utama. Sektor riil yang geregetan untuk melakukan ekspansi pada 
semester II karena melihat inflasi dan suku bunga yang mulai menurun kembali 
menjadi ragu akibat belum terselesaikannya berbagai permasalahan struktural 
penyumbang biaya tinggi, seperti masalah perizinan usaha, infrastruktur, pajak, 
perburuhan, dan kepastian hukum.

Hal tersebut memerlukan kesatuan komitmen serta langkah pemerintah, pengusaha, 
BI, dan perbankan. Memang ada paket kebijakan yang dipandang sebagai pertanda 
kesadaran menggairahkan ekonomi. Tapi, masyarakat menelan kekecewaan karena 
penyusunan regulasi berlarut-larut. Undang-undang mengenai penanaman modal 
begitu berliku-liku. Revisi UU Pajak belum menentu. Pembahasan RUU Kepabeanan 
dan Cukai mundur dan revisi UU Ketenagakerjaan macet.

Berlarut-larutnya penuntasan berbagai regulasi membuat paket kebijakan seperti 
macan ompong, hanya sangar di atas kertas. Maknanya, insentif ke investor hanya 
angin lalu. Padahal, negara tetangga terus meningkatkan pelayanan dan insentif 
fiskal maupun nonfiskal demi menggaet investor. 

Yang lebih mengkhawatirkan adalah gambaran survei Danareksa Reaserch Institute. 
Diungkapkan, konsumen mulai kehilangan kesabaran terhadap pemerintah. Kesabaran 
dan kepercayaan konsumen sudah menipis, terutama terhadap janji-janji 
pemerintah untuk mengimplementasikan program yang dapat menggairahkan 
perekonomian. 

Dalam kurun setahun terakhir ini, pemerintah telah meluncurkan tiga paket 
kebijakan untuk menggerakkan perekonomian agar tumbuh lebih tinggi. Pertama, 
paket kebijakan infrastruktur, disusul kebijakan perbaikan iklim investasi, dan 
pada 6 Juli lalu mengumumkan paket kebijakan keuangan. Sayang, belum diikuti 
implementasi paket kebijakan tersebut. 

Penurunan kepercayaan itu tecermin pada anjloknya komponen Indeks Kepercayaan 
Konsumen (IKK). Indeks ini menjadi komponen indikator pendahulu (leading 
indicator) yang digunakan sebagai satu panduan untuk memprediksi arah ekonomi 
Indonesia.

Mubazir

Ketidakjelasan arah ekonomi seperti itu membuat biaya pengendalian moneter 
tahun 2006 yang mencapai Rp 20 triliun mubazir. Sebab, biaya tersebut tidak 
bisa dimanfaatkan secara optimal untuk menggerakkan perekonomian. 

Biaya stabilitas moneter merupakan dana BI untuk menjaga kestabilan inflasi 
dari sisi harga dan nilai tukar. Biaya itu berupa bunga dari Sertifikat Bank 
Indonesia (SBI) untuk menjaga inflasi dan biaya intervensi untuk menjaga nilai 
tukar. Biaya stabilitas moneter di Indonesia cenderung tinggi karena banyaknya 
masalah yang berpotensi menimbulkan ketidakstabilan.

Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir, begitu banyak bencana yang menimpa. 
Bencana itu mengganggu produksi dan distribusi barang. Dampaknya, terjadi 
ketidakstabilan harga yang memicu inflasi. Agar moneter stabil, BI menaikkan 
suku bunga. 

Padahal, menaikkan suku bunga bisa memperlambat laju pertumbuhan ekonomi. 
Selain berpacu dengan bencana dan potensi risiko internal, kinerja ekonomi juga 
tetap memperhitungkan risiko eksternal, seperti tingginya harga minyak mentah 
akibat konflik Israel.

Namun, segawat apa pun faktor eksternal, tanpa menggenjot sektor riil dalam 
negeri, daya saing ekonomi sulit beringsut naik dan kompetitif. (***)


Yuliani Yunindri PhD, doktor Moneter-Keuangan pada Leeds University Inggris


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/7EuRwD/fOaOAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke