"Power Balance" bagi Amerika tidak mengenal mana musuh atau mana teman
yang ada hanya bagaimana membuat keseimbangan dengan menguatkan yang
"lemah" atau melemahkan yang "kuat".

Kenyataan yang tidak bisa dibantah, serangan Israel kepada Hesbullah
telah menghancurkan pemerintahan Libanon dan sebaliknya Hesbullah
makin dominant mendapat dukungan rakyat dibandingkan pemerintah Libanon!!

Secara logis, kita akan berpikir, untuk apa pemerintahan yang lemah
tidak mampu menegakkan kedaulatannya dan tidak didukung rakyatnya
sendiri ?  Serangan Israel menyebabkan Hesbullah lebih populer
daripada pemerintah Libanon.  Sementara itu Hammas hancur lebur
dilindas Israel.

Politik Hammas juga memperlemah pemerintahan Palestina, dan dengan
serangan Israel semuanya hancur lebur, namun pemerintahan Abbas tetap
diakui secara Internasional sehingga tak mungkin bisa disingkirkan
oleh Israel, namun untuk menyerahkan kembali ke Abbas sekalipun tentu
membahayakan Israel karena Abbas sangat lemah dukungan rakyatnya.

Kalo kita hubungkan dengan policy supremacy Amerika, hanya ada satu
kondisi, yaitu keseimbangan kekuatan yaitu "Power Balance".  Untuk
timur tengah power Islam sunni sangat dominan, wajar bagi Amerika
untuk memberi bagian kepada kelompok Islam Syiah, dan hal ini telah
dilakukan di Irak.  Namun di Irak-pun Syiah kewalahan menghadapi
gempuran2 Sunni meskipun jumlah umat Syiah lebih mayoritas daripada
Sunni.  Sedangkan untuk Amerika terang2an membantu Syiah akan
memperlemah Syiah itu sendiri karena Syiah akan dianggap boneka
Amerika sehingga dunia Islam bisa tetap ditangan Sunni.  Oleh karena
itu Amerika harus membiarkan Syiah bersikap anti-Amerika untuk bisa
mendapat dukungan umat Islam seluruh dunia.

Dari kenyataan2 tsb sangatlah merugikan Amerika kalo Israel
memusnahkah Hesbullah.  Satu2nya jalan yang baik adalah mendesak
Hesbullah untuk memasuki Gaza bergabung dengan Hammas untuk memerangi
Israel.  Dengan gabungan Hesbullah-Hammas, Israel bisa menyingkirkan
Hammas dengan serangan2 yang memilih, barulah setelah itu Israel
mengundurkan diri melalui gencatan senjata dan perjanjian2 baru dengan
Hesbullah.  Dan sekarang Palestina berada dibawah kekuasaan Hesbullah
yang tentunya bukan urusan Israel lagi.  Negara Palestina tetap
berdiri tapi dengan composisi penguasa didalamnya yang berubah.

Demikianlah, kalo hal ini terjadi, Arab Saudia tentunya resah, dunia
Islam secara bertahap diambil alih kaum Syiah yang pada puncaknya akan
terjadi konflik memperebutkan KABAH.  Pada saat inilah Amerika kembali
mendukung Arab Saudia untuk menjadikan kekuatan kedua belah pihak
tetap berimbang.

Ny. Muslim binti Muskitawati.





Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke