Saya yakin banyak sekali Souad-Souad lain yang tidak selamat dari kebiadaban
ini, dan tidak sempat menuliskan pengalamannya untuk orang banyak.

Mereka mati terpanggang, mati dipenggal, atau mati dirajam, dilempari dengan
batu sampai tewas.

Rekan Abusisia berkirim surat pada saya mengatakan bahwa ini adalah
kesalahan si pelaku sendiri, dan Islam tidak bisa disalahkan atas hal ini.

Bagaimana mungkin Islam tetap suci dan bersih, sedangnkan yang menjadi dasar
dari dilakukannya perbuatan maha biadab ini adalah keislaman itu sendiri?

Sepertinya rekan-rekan muslim tidak menyadari bahwa agama mereka sendiri-lah
menjadi sumber dari segala sumber malapetaka itu.

Itulah sebabnya, orang-orang berakal seperti Ibn Warraq akhirnya
meninggalkan semua ajaran biadab itu, dan menulis buku berjudul "Why I am
not a Moslem".

Tak hanya Ibn Warraq yang seperti itu.
Rekan-rekan berakal dan mampu mempergunakannya dengan baik, juga berbuat
serupa dengan Ibn Warraq.

Bahkan dari diskusi yang telah berlangsung, saya jadi tahu bahwa ada rekan
ateis yang dulunya juga alumni pesantren dan juga pemilik pesantren.

That's why I became an atheist.

Regards,
Xyzman Adam




----- Original Message -----
From: Xyzman Irsad Adam
To: [email protected]
Sent: Monday, August 07, 2006 3:12 PM
Subject: [] Kebiadaban Bangsa Arab dan Islam Terhadap Perempuan


Minggu, 30 Juli 2006


Kekerasan Atas Nama Kehormatan
Judul: Burned Alive (edisi terjemahan)
Penulis: Souad
Penerjemah: Khairil Azhar
Penerbit: Pustaka Alvabet, Jakarta
Cetakan: Pertama, April 2006
Tebal: 290 halaman

Damhuri Muhammad

Perempuan hamil tua itu duduk dalam posisi membungkuk sambil membilas
tumpukan cucian. Sayup-sayup terdengar pintu berderit. Saat menoleh ke
belakang, lelaki bertubuh besar sudah berdiri di hadapannya. Orang itu,
Hussein, suami kakak perempuannya, Noura. "Jadi, perutmu sudah besar, ya?"
tanya Hussein, beringas.

Pucat pasi rona mukanya, ngeri membayangkan apa yang bakal diperbuat lelaki
itu. "Aku akan mengurusmu!" ulang Hussein. Perempuan itu kembali menunduk,
membilas tumpukan pakaian kotor. Sejurus kemudian, ia merasakan cairan
dingin mengalir di kepalanya, menetes ke pipi, leher, kuduk, bahu hingga
pergelangan tangan. Secepat kilat Hussein melemparkan korek api ke tubuh
perempuan yang baru saja tersiram bensin itu. Api menyala, melalap tubuh
itu. Terbirit-birit ia lari dalam keadaan terpanggang, mengerang kesakitan,
berteriak minta tolong.

Selesai sudah tugas Hussein "mengurus" Souad, adik iparnya itu. Souad sedang
sekarat, sebentar lagi bakal mati. Souad harus dilenyapkan. Ia aib yang
telah merusak kehormatan keluarga. Hamil sebelum menikah.

Maka, ia harus dirajam. Bukan dengan cara diarak keliling kampung lalu
dilempari batu sampai mati. Itu sama saja dengan mempertontonkan aib di
hadapan orang banyak. Hukuman bagi perempuan itu adalah rajam terselubung.
Direncanakan ayah, ibu, saudara laki-laki dan ipar-iparnya. Pembunuhan yang
rapi, cepat, dan tak berbekas. Tubuhnya disiram bensin, lalu disulut korek
api. Hussein terpilih sebagai eksekutornya.

Inilah kesaksian tentang perempuan malang yang tinggal di sebuah desa kecil
kawasan Tepi Barat, Palestina. Kisah nyata perihal kejahatan atas nama
kehormatan.

Dituturkan dengan cara amat rapi dan tertata oleh seorang korban yang
selamat, Souad, lewat novelnya Burned Alive. Nestapa Firdausi sejak
bersitumbuh jadi gadis remaja hingga dijebloskan ke penjara perempuan
(Mesir) seperti dikisahkan Nawwal El-Saadawi (Perempuan di Bawah Titik Nol)
atau duka lara Mirfat akibat tangan besi laki-laki seperti dituturkan Ihsan
Abdel Quddous (An Evening in Cairo) memang pedih, tetapi petaka yang menimpa
Souad jauh lebih pedih.

Nasib dan peruntungannya nyaris sama dengan perempuan muda asal Jawa Timur,
pasien bedah plastik setelah kulit mukanya meleleh dan hancur tak berbentuk
akibat siraman air keras.
Souad memang selamat, tetapi 24 kali operasi kulit yang dilakukan di sebuah
rumah sakit di Swiss tak mampu mengembalikan tubuhnya utuh seperti semula.
Kulit wajahnya penuh luka bakar, kuping sebelah kirinya tinggal separuh.
Leher, kuduk, punggung, dan kedua pergelangan tangannya membekaskan sisa
kejahatan yang sukar terlupakan.

Setiap hari, Souad harus mengenakan baju leher panjang, menutupi bekas-bekas
luka panggang itu. Terlahir sebagai perempuan adalah kutukan. Begitu
keyakinan yang kokoh dipegang gadis-gadis belia di tanah kelahiran Souad.

Seorang gadis mesti berjalan cepat, kepala menunduk seperti menghitung
jumlah langkah yang diayunkan. Tak boleh tengadah, dilarang menoleh ke kiri,
ke kanan. Jangan coba-coba menantang sorot mata laki-laki karena akan
dituduh charmuta (perempuan jalang). Bila keluar rumah, dilarang jalan
sendiri, mesti ditemani ibu atau saudara perempuan.

Bila tak ada mereka, keluarlah dengan sekawanan domba peliharaan sambil
memikul seikat rumput atau sekeranjang buah ara. Itu lebih aman sebab semua
perempuan harus bekerja, bahkan hanya perempuanlah yang bekerja. Mencukur
bulu domba, memerah susu kambing, membuat keju, memetik buah tomat, dan
panen gandum.

Anak laki-laki adalah raja. Saudara-saudara perempuan harus melayani semua
kebutuhannya. Mencuci pakaian, menyediakan air panas sebelum mandi,
menyuguhkan teh, dan menyiapkan kuda sebelum ditunggangi. Assad,
satu-satunya saudara laki-laki Souad, bebas keluar rumah. Bersekolah di
kota.
Perempuan dilarang bersekolah. Mereka hanya menggembala domba, sesekali
harus tidur di kandang bila ada kambing melahirkan. Mesti ditunggu, sambil
tidur di tumpukan jerami. Tidur di kandang kambing, tetapi tak lebih
berharga dari kambing-kambing itu. Binatang hasilkan susu, sementara
anak-anak perempuan hanya beban, aib keluarga yang harus segera
disingkirkan.

Pernah Souad tak sengaja memetik tomat mengkal, semestinya ia hanya memetik
tomat-tomat matang saja. Berkali-kali ikat pinggang ayah mendarat di
punggungnya. Souad merintih kesakitan, tetapi lelaki itu makin kencang
mencambuki tubuh gadis kecil itu hingga punggungnya penuh luka memar, sukar
ia tidur telentang.

Satu-satunya kebebasan yang dapat diimpikan Souad adalah perkawinan. Pergi
dari rumah, tinggal di rumah suami dan tak pernah kembali. Meski di rumah
baru itu tiada jaminan tak akan ditampar dan dihajar suami. Terbebas dari
mulut harimau, masuk ke mulut singa.

Jika seorang perempuan pulang ke rumah orangtua (mengadu karena sering
dipukuli suami), itu aib! Maka, keluarga akan mengembalikannya ke rumah
suami. Tak apa-apa dihajar lagi, asal jangan pulang membawa aib. Meski
begitu, Souad tetap ingin menikah.

Celakanya, saat laki-laki datang melamar, ia terhalang sebab, Kainat,
saudara perempuan yang lebih tua, belum bersuami. Melangkahinya juga aib.
Itu sebabnya Souad nekat menjalin hubungan dengan Faiez, lelaki idamannya.
Sembunyi-sembunyi mereka bertemu di balik rimbun ilalang saat Souad
menggembala domba. Bercumbu, bermesraan hingga datanglah petaka itu: Souad
hamil. Kesalahannya tak terampuni. Ayah, ibu, Assad, dan Hussein menyusun
siasat untuk segera melenyapkan Souad.
Berkat Jaqueline, Souad yang sekarat di sebuah rumah sakit (Jerussalem)
berhasil diselamatkan. Ia dan Marwan (bayi yang lahir prematur) diboyong ke
Swiss, menjalani 24 kali operasi hingga dapat bertahan hidup.

Semula, kesaksian ini hanyalah cara Souad menjelaskan status Marwan kepada
Laetitia dan Nadia, dua putri dari perkawinannya dengan Antonio. Hasilnya
tak sesederhana yang dibayangkan Souad. Burned Alive telah diterjemahkan ke
dalam 28 bahasa di 29 negara.

Diam-diam Souad berharap buku ini tersebar sampai ke desa kecil di Tepi
Barat, Palestina. Ia ingin dunia tahu, pembunuhan-pembunuhan atas nama
kehormatan itu masih terus berlangsung hingga kini.

Damhuri Muhammad
Cerpenis


__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam  
http://id.mail.yahoo.com 


Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke