KKN adalah syarat mutlak....terusan topik ini selanjutnya adalah.......bagi 
perkembangan kehidupan bernegara(Indonesia) saat ini!
  Kelihatannya acuan ini terdengar "gladrah"(se-mena2) dan satu acuan yang 
melawan arus bagi banyak orang yang punya aspirasi membangun negara yang adil 
dan makmur. Tapi apakah anggapan ini benar2 salah kaprah 100% ?
   
  Apabila kita dengar KKN maka ada satu aspek yang sangat menonjol dalam 
menggeluti perkara KKN ini. 
  Satu aspek dalam KKN yalah adanya  kubu2 yang ikut melanggengkan, kehidupan 
ber-KKN. 
   
  Kita tinjau penyakit Korupsi, siapa yang bermain dalam kasus korupsi ini. 
Tentunya ada 2 aspek yakni yang menerima suap(salah satu aspek korupsi) dan 
belahan lain yalah : si penyuap. Untuk me-"ngadili" siapa sebanarnya yang 
bersalah dalam kejadian suap menyuap ini adalah suatu sikap yang absurd, 
terutama apabila tinjauan kita kita arahkan ke sikon negara saat ini. Terutama 
apabila kita tinjau kejadian korupsi ini di negara Indonesia dan  mau tahu 
siapa yang salah: si penerima suap atau yang menyuap adalah sesuatu yang 
futile, tak berguna, karena kita akan debat dalam lingkaran setan, mencari 
siapa yang salah dalam perkara korupsi.
   
  Tapi kita tinjau keadaan sikon saat ini. Adalah suatu fakta bahwa rakyat [ada 
umumnya dari yang kaya sampai yang kere kena getahnya penyakit korupsi ini.
  Dan apabila kita meneruskan perkara kasus korupsi ini dan melihat apa yang 
terjadi dan dianggap suatu fait accompli yalah kecenderungan masyarakat luas : 
bahwa si Tionghoalah yang jadi faktor primer sebagai unsur penting bisa  
terjadinya suatu perkara korupsi. Bukankah kita sudah mendengar bahwa baik dari 
perkara konglomerat Tionghoa yang sering menyuap penjabat sampai ke persoalan 
si kecil Tionghoa yang menyuap dalam perkara SBKRI? 
   
  Seperti semua pembaca tahu, UU ke-wn yang saat ini sudah di-undang-kan salah 
satu sebab selain menuntaskan soal siapa yang ber-wn Indonesia tapi aspek lain 
yalah bertujuan melenyapkan kesangsiaan soal ke WN yang ujung2nya bisa 
digunakan untuk memeras yang  tidak tahu benar perkara SBKRI ini.
   
  Kembali ke soal yalah siapa sebenarnya yang punya andil besar dalam perkara 
suap menyuap ini? Persepsi mayarakat luas(umum) yang menjatuhkan vonnis-nya 
bahwa golongan Tionghoa-lah yang pegang andil besar adalah suatu sikap yang 
absurd bin  goblog. 
   
  Sumber dari segala keamburadulan negara dan terutama perkara KKN ini adalah 
selain: pertama: mis-managemnt negara sejak semula kemerdekaan dan dari situ 
mencuat sebagai konsekwensi karena aspek pertama  tidak terpenuhi, sebab 
no:dua:  keluar sifat watak masyarakat yang mau ambil jalan pendek yakni 
menyuap pihak lain yalah birokrasi yang bobrok nan ber-watak jahat dan bengis 
(catatan: TKW(wong cilik) saja  di peras habis2an sebagai contohnya,)serta 
gragas(tambah kaya tambah rakus karena aji mumpung)
   
  Misalkan saja negara ini di ke-lola secara rapih dan hukum di tegakkan maka 
vicious circle perkara KKN ini tidak akan muncul.  Tidak ada pertanyaan: siapa 
sebenarnya yang punya andil  paling besar si penyuap atau si penerima suap.
   
  Jadi anggapan umum kalau golongan Tionghoa adalah2 gara2 soal KKN itu adalah 
suatu cara untuk membentuk ...pendapat umum yang se-waktu2,apabila keadaan 
memerlukan untuk bisa di jadikan  kambing hitam , yang ujung2nya hanya 
mengalihkan perhatian  kegagalan birokrasi negara yang deldel duwel dan cari 
jalan keluar pendek meng-ganyang golongan Tionghoa. Me-label-i mereka sebagai 
tukang suap adalah suatu anggapan yang absurd bin goblog.
   
  Sebagai catatan: di hampir semua belahan dunia ada minoritas Tionghoa, 
apabila kita tinjau golongan ini yang tinggal di negara Barat maka kasus bahwa 
Tionghoa ini tukang suap tidak pernah muncul. Kenapa bisa begini: ya sangat 
gamblang karena ada pemerintahan yang transparan dan ada penegak-an hukum.
   
  Jadi mencari rumusan bagaimana membrantas KKN tidak bisa diambil jalan 
pintas, tidak bisa men-deteksi siapa yang salah dalam perkara KKN. Sumbernya 
yang paling primer dalam segala kerincuhan suatu negara yalah...apabila negara 
tidak punya kapasitas mengurus negara secara benar dan adil maka akibatnya 
yalah semua persoalan yang sedianya mau diberesi jadi tambah deldel duwel. 
karena me-"ngobati" simptom KKN tanpa mecari sumber "penyakit"nya ya 
....futile, percuma dan cuman .......waste of time(muter2 kayak gangsingan 
dengan ngeluarin peraturan ini itu, uu ini itu, tapi ujung2nya tidak pernah 
diberlakukan) and money(yang memang maunya begitu untuk bisa di korup)
   
  Simbiosis antara penyuap dan yang disuap tidak mudah di preteli dan di 
tentukan siapa yang salah dalam perkara per-korup-an ini. Apabila di-ingat 
pernah Kwik Kian Gie memberikan satu solusi yakni memberikan gaji yang memadai 
untuk kehidupan se-hari2 bagi para birokrat. Dengan alternatip memberi gajih 
yang kecukupan seorang birokrat akan pikir dua kali untuk mau menerima suapan. 
Ini bagus dalam idea saja tapi kenyataannya tidak bisa dilakukan. Sebagai 
contoh keuangan negara tidak memungkinkan menaikkan gaji para pegawai negeri, 
para birokrat. Banyak guru2 yang ber-bulan2 tidak menerima gaji bulanannya.
   
  Jadi KKN itu bisa di-ibarat-kan sebagai minyak pelumas, minyak pelicin agar 
mesin pemerintahan bisa berjalan. Suatu sikon yang sangat tidak terhormat, tapi 
jalan lain rupanya sudah buntu. Tanpa minyak pelumas KKN sudah bisa dipastikan 
roda ekonomi akan mandeg.
   
  Inilah suatu lingkaran setan, dua aspek saling ber-simbiosis, aspek tercela 
tapi perlu di pertahankan agar ekonomi tidak ambruk serta merta. 
  Teringat aku akan koncoku yang bilang bahwa korupsi itu memang diperlukan dan 
bahkan suatu syarat mutlak agar negera ini tetap berdiri. Jadi jangan bilang 
kalau salah satu pihak itu bersalah dalam perkara KKN ini. Si birokrat  dan 
pegawai negeri yang gaji-nya hanya cukup buat hidup seminggu tidak bisa 
disalahkan apabila mereka mencari uang tambahan. Sebaliknya si penyuap yang 
merasa kehidupan ini dikuasai oleh hukum rimba tidak akan segan2 buat ambil 
short cut dalam segala usahanya untuk bisa meneruskan kehidupannya juga.  
Inilah jadinya , pandangan short term memang perlu adanya KKN, ini menjaga agar 
negara tidak ambruk serta merta, tapi long term satu pertanyaan perlu 
dipikirkan :...apakah kasus KKN itu bisa dipertahankan bagi keselamatan negara 
NKRI dalam skala keseluruhannya?
   
  Kondisi dan sikon negara memungkinkan hidupnya KKN, negara yang salah 
mengelola dari sejak mulanya menimbulkan per-korupsi-an ini dan apabila 
ketimpangan ini dibiarkan maka KKN akan menjadi suatu budaya nasional. 
Anggapanku di lahan yang deldel duwel segala kejahatan  ketidak adilan akan 
tumbuh dengan subur, sehingga lama lama kita kehilangan jejak siapa sebenarnya 
yang salah dalam perkara
  KKN ini.
   
  Harry Adinegara

 Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke