KOMPAS
Kamis, 24 Agustus 2006 

 
Daya Beli Warga Pulau Ende Terancam Makin Turun 




Ende, Kompas - Warga di Kecamatan Pulau Ende, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara 
Timur, terancam turun daya belinya karena mayoritas masyarakat bekerja sebagai 
nelayan dan akhir- akhir ini mengalami kesulitan mencari ikan akibat kondisi 
cuaca. 

"Mayoritas warga yang 90 persen bekerja sebagai nelayan. Karena faktor cuaca 
yang kurang mendukung, mereka sulit mendapatkan ikan. Di sisi lain, mahalnya 
harga solar juga menjadi kendala melaut," kata Camat Pulau Ende Hamid Sulaiman, 
Rabu (23/8) di Ende. 

Pulau Ende dihuni 2.135 keluarga dengan 8.611 jiwa. Letak Pulau Ende terpisah 
dari kawasan utama Kabupaten Ende yang meliputi 16 kecamatan lainnya. Dari kota 
ke Pulau Ende dengan perahu motor memakan waktu sekitar satu jam. Pulau Ende 
secara keseluruhan terdiri dari tujuh desa, yakni Rorurangga, Ndoriwoy, 
Randoraterua, Paderape, Aejeti, Puutara, dan Redodory. 

Menurut Hamid, umumnya nelayan Pulau Ende yang mencari ikan di perairan butuh 
10 liter solar semalam. Solar dibeli dengan harga Rp 6.000 per liter. 

Jika dalam dua malam tidak mendapat ikan, mereka tak bisa melaut karena sudah 
menghabiskan banyak uang untuk membeli bahan bakar. Solar pun sulit didapat. 
Selain antre di stasiun pengisian bahan bakar untuk umum, nelayan juga harus 
mendapat rekomendasi dari Kepala Bagian Ekonomi Pemerintah Kabupaten Ende. 

Jumlah maksimal yang direkomendasikan, 25 liter solar. Warga amat berharap 
pengecer solar berjualan di bibir pantai selatan. Sejak solar langka beberapa 
waktu lalu, pengecer tak berjualan lagi. 

"Dalam dua hari nelayan keluar Rp 120.000. Kalau tak ada hasil akan sangat 
sulit untuk melaut kembali pada hari-hari berikutnya," ujarnya. 

Warga Desa Rorurangga, Samsudin, yang punya Perahu Motor Nelayan Anak Manja II 
dengan kapasitas perahu motornya sebesar tiga ton, biasa mencari ikan di 
kawasan perairan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat. 

"Untuk sekali perjalanan, saya membutuhkan persiapan solar satu drum sekitar 
200 liter. Ini sudah berutang dengan pengusaha bisa sampai Rp 3 juta. Tapi yang 
susah kalau hasil tangkapan rendah, maka kami tekor. Belum lagi sering diusir 
petugas di Labuan Bajo," keluh Samsudin. 

Kepala Desa Rorurangga Junaidin PS mengatakan, dari keluhan yang disampaikan 
warganya, hambatan mereka di Labuan Bajo adalah sering diusir, kalaupun diberi 
kesempatan mencari ikan, batas waktunya tiga hari. Alasan larangan antara lain 
nelayan memasuki zona konservasi. 

"Saya akan mengusulkan kepada DPRD untuk memerhatikan nasib nelayan. Diharapkan 
DPRD Kabupaten Ende berkoordinasi dengan DPRD Kabupaten Manggarai Barat untuk 
memfasilitasi agar birokrasi di bidang kelautan dan perikanan tidak 
berbelit-belit, juga tak memberatkan nelayan," kata Junaidin. (SEM


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke