http://www.indomedia.com/bpost/082006/24/opini/opini1.htm


Birokrasi Profesional, Sudahkah?

Oleh : Alip Winarto SHut MSi
PNS pada Badan Diklat Daerah Kalsel 

Sebelum reformasi bergulir, birokrasi seolah hanya menjadi mesin salah satu 
parpol yang segala tindakannya selalu membawa visi misi parpol tertentu yang 
memegang tampuk kekuasaan.

Saat ini reformasi memasuki tahun ke delapan, sejak orde baru tumbang pada 
1998. Era reformasi menjadi tumpuan harapan banyak kalangan agar kondisi 
republik yang penuh kemajemukan ini menjadi lebih cerah pada masa akan datang.

Reformasi sedikit banyak membawa angin perubahan dalam berbagai aspek kehidupan 
dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tak terkecuali pada jajaran 
birokrasi, yang juga harus mengikuti perubahan yang terjadi dengan mereformasi 
diri, agar terwujud birokrasi profesional yang selalu siap memberikan pelayanan 
prima kepada masyarakat. Keinginan untuk mewujudkan birokrasi yang profesional 
pun semakin mengemuka.

Birokrasi yang profesional masih menjadi isu aktual sampai saat ini. Hal ini 
tidak lain karena banyak kalangan yang masih mempunyai harapan agar birokrasi 
mampu menampilkan perfomance yang baik, mau tampil profesional dalam 
melaksanakan pelayanan publik, dapat mengedepankan kepentingan masyarakat dan 
tidak berada di bawah tekanan kelompok politik tertentu. Apalagi peluang saat 
ini sangat terbuka lebar akibat terjadinya pergeseran sistem politik kita, yang 
tidak menutup kehadiran parpol dalam jumlah cukup banyak. Juga akibat perubahan 
paradigma sistem pemerintahan dari sentralistis ke desentralisasi yang 
memberikan peluang kepada birokrasi khususnya di daerah untuk lebih kreatif, 
inovatif dan profesional.

Sebelum reformasi bergulir, birokrasi seolah hanya menjadi mesin salah satu 
parpol yang segala tindakannya selalu membawa visi misi parpol tertentu yang 
memegang tampuk kekuasaan. Birokrasi tidak lagi independen dalam memberikan 
pelayanan kepada masyarakat. Pada era reformasi ini, banyak peluang bagi 
birokrasi untuk bersikap netral dan hanya menjalankan tugas administratif. 
Birokrasi sebagai satu lembaga yang melaksanakan kebijaksanaan yang dibuat 
politisi, sudah saatnya dibangun dengan menganut prinsip rasional dan efisien. 
Dengan prinsip ini, birokrasi dapat berkembang dan tampil profesional. 

Terlepas dari berbagai permasalahan yang mewarnai birokrasi itu, harus diyakini 
bahwa untuk menjadikan birokrasi profesional itu tidak mudah. Tetapi, bagaimana 
ide ini harus dilakukan. Jika birokrasi tidak mereformasi dirinya untuk tampil 
sebagai sosok profesional, maka ia akan kehilangan kepercayaan dari masyarakat. 
Birokrasi bisa jadi akan sampai kondisi tidak berdaya dan tidak berguna. Oleh 
karena itu, birokrasi harus mampu mereformasi diri, menjadi sosok profesional 
dengan pelayanan prima dan berlaku sebagai abdi negara dan masyarakat, siap 
atau tidak siap.

Untuk mewujudkan birokrasi profesional yang mampu memberikan pelayanan prima 
kepada masyarakat, tidak memihak pada kepentingan parpol tertentu, memang tidak 
mudah. Ini karena, parpol yang menjadi penguasa di negeri ini juga memiliki 
kepentingan terhadap birokrasi.

Hal lain yang juga menjadi penghambat upaya mewujudkan birokrasi profesional 
adalah adanya penyakit dalam tubuh birokrasi yang disebut patologi birokrasi. 
Patologi birokrasi ini yang menyebabkan imej masyarakat negatif tentang 
birokrasi. Menurut Siagian (1995), patologi birokrasi dapat muncul karena 
beberapa hal. Yaitu: persepsi dan gaya manajerial pejabat, kurangnya 
pengetahuan dan keterampilan, tindakan birokrat yang melanggar norma hukum, 
manifestasi perilaku birokrasi yang bersifat disfungsional, akibat situasi 
internal dalam berbagai instansi dalam lingkungan pemerintahan. Patologi 
birokrasi ini harus dicermati untuk mewujudkan birokrasi profesional. Jika hal 
ini terus berlangsung, akan tercipta kondisi pemerintahan yang buruk (bad 
reputation of bureaucracy).

Untuk menuju birokrasi profesional, birokrasi harus menjadi profesi mandiri. 
Dengan demikian, peluang kemampuan birokrasi semakin terbuka lebar sehingga 
tercipta birokrasi profesional. Kemandirian profesi bisa menciptakan panggilan 
tugas. Dalam menjalankan tugas, birokrasi bukan semata mencari uang.

Profesi juga mengajarkan untuk berbakti kepada masyarakat, mengurangi 
proseduralisme atau formalisme, mendorong orang melakukan sesuatu pada 
organisasi. Dengan kemandirian profesi birokrasi juga akan memperkecil 
kesenjangan antara teori dan praktik. Pengembangan praktik harus didukung teori 
keilmuan dan dapat memperkecil informasi kesenjangan terhadap masyarakat, 
sehingga masyarakat tidak dapat ditipu.

Di samping perlunya birokrasi menjadi profesi mandiri, menjaga netralitas 
birokrasi juga perlu dipertimbangkan dalam rangka mewujudkan birokrasi 
profesional. Dengan kata lain, birokrasi harus mampu menghindarkan diri menjadi 
mesin parpol tertentu. Pejabat politik yaitu menteri dan staf ahli politiknya 
berkewajiban merumuskan kebijakan politik yang akan dilaksanakan selama 
memimpin departemen. Jabatan bersifat politis ini sebagai wakil rakyat yang 
ikut menentukan berbagai kebijakan departemen, sekaligus ikut mengontrol 
seberapa jauh kebijakan yang dibuat telah dilaksanakan birokrasi. Namun 
demikian, kedudukan jabatan politis ini tidak strukturalis masuk ke tatanan 
birokrasi. Jabatan politik ini tidak ada hubungan hirarki dengan jabatan 
birokrasi.

Alternatif lain yang dapat ditempuh dalam upaya mewujudkan birokrasi 
profesional adalah menempatkan dan mengembangkan peran media massa sebagai 
sarana pengawasan publik terhadap kinerja birokrasi. Media massa mempunyai 
kemampuan dan peluang sangat besar untuk melakukan investigasi dan pelaporan 
terhadap pelanggaran yang dilakukan birokrasi. Keluhan, kritik dan masukan 
masyarakat melalui media akan sangat memengaruhi birokrasi untuk menjadi sosok 
yang lebih baik, karena ada rasa malu kekurangannya diekpose secara luas oleh 
media massa.

Dalam rangka mendorong terciptanya birokrasi profesional, juga perlu ditekankan 
adanya mekanisme punish and reward serta insentif dan disintensif. Penghargaan 
diberikan kepada yang berprestasi dan sanksi kepada yang melanggar norma hukum. 
Selama ini, sistem penilaian terhadap birokrasi masih mengandalkan DP3 yang 
dibuat setahun sekali. Pola ini, perlu ditinjau ulang dalam kondisi saat ini. 
Begitu pula sistem penggajian yang kurang memperhatikan sosok birokrasi 
bekerja. Semua disamaratakan antara yang berprestasi dan tidak, antara yang 
rajin dan malas, antara yang beban pekerjaannya banyak dan kurang. Semestinya 
hal ini juga dijadikan parameter utama dalam sistem penggajian maupun karier. 
Hal itu akan mendorong birokrasi menjadi lebih profesional dalam melakukan 
tugasnya.

Alternatif tersebut tidak akan ada artinya, kalau tidak ada upaya mereformasi 
atau memperbaharui mental birokrasi itu sendiri. Perlu disadari, tugas yang 
diemban birokrasi adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan, 
masyarakat, bangsa dan negara. Sayang sekali jika sebagai bangsa yang sering 
mengklaim diri sebagai bangsa yang religius, mengakui adanya Ketuhanan Yang 
Maha Esa, tetapi tidak bisa menjaga amanah tersebut dengan baik.

Bagaimana pun susahnya mewujudkan birokrasi profesional, ide mulia ini harus 
tetap didukung. Apalagi 'bola' good governance telah digelindingkan di negeri 
ini termasuk di Kalsel yang berani membuat kesepakatan (MoU) tentang Good 
Governance Pilot Project pada 2005 lalu. Birokrasi bagian dari pemerintah yang 
merupakan salah satu dari tiga pilar dalam good governance. Slogan tentang good 
governance juga bertebaran menghiasi berbagai instansi dan kantor pemerintahan. 
Mampukah kita mewujudkan birokrasi profesional seperti yang diharapkan banyak 
kalangan? Wallahu alam bi shawab.

e-mail: [EMAIL PROTECTED]


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke