http://www.suarapembaruan.com/News/2006/09/06/Editor/edit01.htm

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Ironi Gizi Buruk di Era Keemasan
Oleh Siti Nuryati 



Kongres IUNS (International Union of Nutrition Science) ke-33, Vienna 2001, 
menyatakan bahwa abad ke-20 adalah the golden age (era keemasan) untuk 
perkembangan ilmu gizi, karena sebagian besar penemuan di bidang gizi terjadi 
pada abad ini. Ironisnya masalah kekurangan gizi di negara berkembang, memasuki 
milenium baru ini, justru menembus level di atas ambang normal. 

Fenomena ini jika diaplikasikan di Indonesia, bisa menjadi semacam sindiran 
atau skeptisme terhadap
perkembangan ilmu dan program gizi di Indonesia. Mengapa? Meskipun ilmu dan 
program gizi sudah lebih dari setengah abad dikembangkan di Indonesia (sejak 
Lembaga Makanan Rakyat tahun 1950-an), tetapi masalah gizi salah, khususnya 
gizi kurang, masih tidak juga teratasi dengan tuntas. Yang menja- di 
pertanyaan, lalu di mana peran ilmu gizi dan para pakarnya? 

Kemajuan ilmu gizi memunculkan perubahan paradigma dalam konsep dan strategi 
penanggulangan masalah gizi salah (baik gizi kurang maupun gizi lebih). 
Perubahan
paradigma ini mengikuti perkembangan ilmu gizi yang menurut Martorell (2000), 
pendulumnya bergeser dari aspek kualitas pangan (protein) tahun 1950-an ke aspek
kuantitas (energi) tahun 1970-an, kemudian bergeser lagi ke arah kualitas di 
tahun 1990-an. Kali ini tekanannya tidak lagi pada protein, tetapi pada vitamin 
dan mineral (zat gizi mikro). 

Pergeseran pendulum Martorell ini didasarkan atas perubahan kebijakan dan 
program gizi yang sering
terjadi sejak tahun 1950-an. Pergeseran ini diakibatkan perkembangan 
teori-teori kebutuhan zat protein yang berbeda-beda. 

Mula-mula kebutuhan protein anak usia satu tahun ditetapkan 3,3 gram per 
kilogram berat badan. Tahun 1970-an diturunkan menjadi 2,0 sampai akhirnya 
(sampai sekarang) 1,2 gram per kilogram berat badan per hari. 


Banyak Protein 

Perkembangan ilmu gizi yang dapat dikatakan sangat sederhana tahun 1930-an 
menumbuhkan adanya mitos di kalangan ahli gizi sampai tahun 1970-an (bahkan di 
Indonesia sampai sekarang) bahwa untuk hidup sehat dengan optimal, badan 
memerlukan banyak protein. Kelebihan protein dibakar menjadi energi. 

Dalam praktiknya anjuran itu diterjemahkan dengan menganjurkan masyarakat makan 
daging, telur, dan susu. Tahun 1950-an sampai sekarang, persepsi yang terbangun 
di kalangan awam adalah bahwa makanan sehat itu lebih diartikan pada cukupnya 
daging, telur, dan minum susu. 

Program gizi yang dikenal dengan ANP (Applied Nutrition Program) yang 
disponsori FAO, di Indonesia diadopsi menjadi UPGK (Usaha Peningkatan Gizi 
Keluarga) pada tahun 1950-an yang menekankan pentingnya mengkonsumsi daging 
ternak unggas, minum semua susu binatang berkaki empat dan sebagainya. Bahkan 
di kalangan ahli teknologi pangan diciptakan adanya daging buatan dengan 
protein concentrate di tahun 1960-an. Arah UPGK berubah penekanannya pada 
energi setelah Prof Sayogyo di awal tahun 1973 di dalam studi evaluasi ANP 
menemukan bahwa rumah tangga yang kekurangan energi lebih banyak daripada yang 
kekurangan protein. 

Ha sil analisa Prof Sayogyo sejalan dengan data dari negara lain, khususnya 
India oleh Sukhatme. Perdebatan tentang protein ini memuncak setelah McLaren 
menulis artikel tentang "Protein Fiasco" di jurnal medik Lancet tahun 1974. 

Sejak itu di kalangan pakar gizi mulai diketahui bahwa protein bukan 
segala-galanya. Dan pendapat ini mendorong bergesernya pendulum ke keseimbangan 
protein dan kalori, bahkan kemudian juga dengan vitamin dan mineral. 

Tahun 1990-an pendulum bergerak lagi ke kiri dengan perhatian pada masalah gizi 
mikro (vitamin dan mineral) dengan sayuran dan buah-buahan menjadi bintang. 

Tidak saja kaya akan vitamin dan mineral, tetapi sayur dan buah-buahan juga 
kaya akan zat anti oksidan, yang baru ditemukan pada tahun-tahun itu. Sejak 
saat itu para pakar gizi mulai sadar akan pentingnya, keseimbangan semua zat 
gizi dan non-gizi dalam suatu pola makan dengan gizi seimbang (balance diet). 

Suatu hal yang banyak tidak disadari bahwa sampai saat ini di Indonesia dalam 
membuat kebijakan dan program gizi masih terpaku pada pendulum tahun 1950-an 
yang berpusat pada protein. Segala sesuatu yang berlabel gizi dikaitkan dengan 
protein. 

Akibatnya sampai sekarang Indonesia tidak memiliki daftar komposisi makanan 
untuk vitamin dan mineral yang lengkap. Demikian pula kita masih miskin data 
masalah gizi mikro seperti defisiensi seng, asam folat, selenium dan lain 
sebagainya. 

Pranata Sosial Perkembangan sosial ekonomi dan politik, turut mewarnai berbagai 
kebijakan gizi. Terlebih pascakrisis, kondisi tersebut telah merubah bahkan 
meniadakan keberadaan pranata sosial di pedesaan seperti PKK, posyandu, 
dasawisma beserta perangkat desa yang mendukung pranata sosial tersebut seperti 
bidan di desa, PLKB, PPL, kader gizi, dan lain sebagainya. 

Padahal selama dasawarsa 1980-an mereka pegang peranan dalam menopang fungsi 
posyandu dalam
melindungi anak miskin dari risiko gizi buruk. Maraknya gizi buruk anak balita 
di beberapa daerah
sejak tahun 1998 tak bisa dilepaskan dari faktor hilangnya pranata sosial 
dengan tenaga pendukungnya
tersebut. 


Kebutuhan Dasar 

Dampaknya antara lain posyandu tidak lagi berfungsi sebagaimana seharusnya. 
Perkembangan demokrasi dan otonomi daerah kian mempersempit akses rakyat untuk 
memenuhi kebutuhan dasar seperti air bersih, pelayanan kesehatan dasar juga 
pendidikan. Karena itu tidak mengherankan apabila masalah gizi kurang dan gizi 
buruk masih terus menghantui. 

Perubahan situasi sosial, ekonomi dan politik pasca krisis di dalam berbagai 
wacana di media massa berdampak pula pada penurunan potensi kemampuan 
intelektual bangsa termasuk di bidang gizi. 

Hal ini terlihat dari cara-cara kita menghadapi masalah gizi buruk beberapa 
waktu lalu yang semrawut tanpa konsep perencanaan yang jelas. 

Meskipun pendulum ilmu dan program gizi sudah bergeser 3-4 kali, konsep masalah 
kurang gizi masih terpaku pada pendulum tahun 1950-an yaitu kurang protein dan 
susu. Contoh lain dunia telah lebih dari sepuluh tahun mengikuti pendulum 
keseimbangan gizi dengan menerapkan pedoman gizi seimbang, tetapi masyarakat 
Indonesia termasuk kelompok intelektualnya masih menikmati pedoman empat sehat 
lima sempurna. 

Harus diakui, kita serba ketinggalan, terutama dalam penelitian berbobot di 
jurnal gizi internasional. Bahkan di tingkat Asia pun kita sudah kedodoran jika 
dibanding dengan pusat-pusat ilmu gizi di Negara-negara seperti India, Vietnam, 
Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filipina. 

Kondisi sosial ekonomi rakyat yang belum membaik juga merupakan faktor yang 
berpengaruh terhadap kronisnya masalah gizi di Indonesia. Keadaan ini 
diperparah oleh sikap dan perilaku sebagian elite pemimpin negeri yang tidak 
memihak kepada rakyat banyak. 


Penulis adalah Alumnus Departemen Teknologi Pangan dan Gizi IPB 


Last modified: 5/9/06 

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke