Ada lima masalah yang diketengahkan dan dibahas oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dalam bukunya Filsafat Ajaran Islam yang akan bincangkan dalam tulisan ini. Adapun kelima masalah tersebut adalah sbb: 1. Keadaan thabi'i ,akhlaki dan rohani manusia. 2. Keadaan manusia sesudah mati. 3. Tujuan sebenarnya manusia hidup didunia dan cara mencapainya. 4. Karma , yakni dampak amal perbuatan manusia didunia dan akhirat. 5. Sarana-sarana dan jalan-jalan untuk mendapatkan ilmu dan makrifat. KEADAAN THABI'I, AKHLAKI DAN ROHANI MANUSIA Dalam bukunya Filsafat Ajaran Islam , Hazrat Mirza Ghulam Ahmad membagi keadaan manusia itu menjadi tiga keadaan atau tahap perkembangan menuju kekeadaannya yang lebih tinggi. Keadaan pertama adalah keadaan thabii (pembawaan alami) yang bersumber dari jiwa manusia yang disebut NAFSU AMARAH, keadaan kedua adalah keadaan akhlaki (budi pekerti) yang bersumber dari NAFSU LAWAMAH dan keadaan ketiga adalah keadaan rohani (budi pekerti luhur) yang bersumber dari NAFSU MUTHMAINNAH. Ketiga keadaan ini mempunyai sumber yang berlainan yang diibaratkannya dengan " tiga mata air " yang masing-masing dari dari padanya memancar kepada keadaan-keadaan itu secara terpisah..( hal 3). Keadaan alami yang merupakan pangkal dari keadaan thabi'i manusia itu menurut MGA bersumber dari nafsu amarah, merupakan penggerak utama yang mendominasi kecendrungan manusia untuk melakukan perbuatan buruk dan kejahatan yang bertentangan dengan keadaan akhlak dan rohaninya. Nafsu amarah itu senantiasa memotivasi keinginan manusia agar bertindak secara alami , mendahulukan naluri hewaninya secara tidak manusiawi dan tidak terpuji . Untuk referensi dari keadaan ini Hazrat Mirza Ghulam Ahmad mengetengahkan ayat Al-Qur'an .."karena sesungguhnya nafsu amarah itu menyuruh kepada kejahatan" (QS.12:53 ). Melangkahnya manusia kearah pelanggaran dan keburukan adalah dikarenakan keadaan alaminya yang mendominasi diri manusia itu sebelum dia mencapai keadaan akhlakinya. Sebelum manusia itu melangkah dan bertindak mengikuti bimbingan akal dan makrifat (pengetahuannya ), maka ia masih berada dalam " keadaan thabi'i " nya yang merupakan pembawaan alami dari manusia itu ...(hal 4). Apabila tindakan manusia itu telah dinaungi oleh akal dan makrifat dengan pertimbangan rasa , maka keadaan itu tidak lagi disebut keadaan alami , melainkan keadaan akhlaki yang sumbernya adalah nafsu lawamah sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qur'an sbb: "..dan Aku bersumpah dengan nafsu lawwamah (jiwa) yang amat menyesali dirinya sendiri".. (QS. 75:2). Pada keadaan ini manusia itu mulai terlepas dari pengaruh keadaan alaminya yang cenderung mengajak kepada kejahatan itu. Pada ayat Al-Qur'an tersebut dikatakan Allah bersumpah dengan "nafs lawwamah", hal ini mengindikasikan adanya penghormatan dan penghargaan Allah kepada manusia yang merupakan pertanda peningkatan dan kemajuan manusia dari keadaan alaminya kepada keadaan akhlakinya dan menurut Mirza Ghulam Ahmad manusia pada keadaan ini keadaan ini layak menerima penghormatan dan penghargaan disisi Allah Taala. Disebutnya nafsu lawwamah karena manusia pada keadaan akhlaki nya ini, dia mulai mencela dan tidak menyenangi kejahatan dan tindakan sewenang-wenang dari keinginan-keinginan alaminya. Manusia dengan pertimbangan akalnya tidak lagi ingin melakukan pelanggaran dan menghendaki agar tuntutan-tuntutan thabiinya itu diberikan penyaluran yang sesuai dengan pertimbangan akalnya. Dan pada keadaan akhlakinya itu manusia sudah mulai menyesali segala tindakannya yang buruk sehingga sumber keadaan ini disebutlah dengan "nafsu lawwamah" yaitu jiwa yang sangat menyesali. Secara ringkasnya keadaan akhlaki bagi jiwa manusia adalah tatkala didalam diri manusia itu telah terhimpun akhlak fadhilah (budi pekerti luhur) dan dia sudah jera berbuat kedurhakaan , namun sayang sekali manusia masih dalam keadaan lemah sehingga dia belum lagi dapat menguasai diri sepenuhnya. Pada keadaan ini manusia masih sering sekali tergelincir melakukan kejahatan yang kemudian menimbulkan penyesalan baginya...(hal 5). Adapun keadaan ketiga adalah keadaan rohani yang bersumber dari nafsu muthamainnah sebagaimana dikatakan oleh Al-Qur'an: "Wahai jiwa yang tenteram . Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam surga-Ku".........(QS. 89:27-30). Ini adalah keadaan dimana martabat manusia telah sampai dipuncak nya sehingga jiwa manusia itu memperoleh "najat" (keselamatan dan kebebasan) dari segala kelemahan , dan jiwa manusia itu dipenuhi oleh kekuatan-kekuatan rohaniah yang dengan demikian manusia itu seakan-akan melekat tercangkok kepada Allah Taala, sehingga ia tidak dapat hidup tanpa Dia. Mirza Ghulam Ahmad mencontohkan keadaan manusia pada taingkatan ini adalah bagaikan air mengalir dari atas kebawah yang karena banyaknya, begitu derasnya tiada sesuatupun yang bisa menghambatnya. Begitulah keadaan jiwa manusia pada keadaan ini tak henti-hentinya bergetar , mengalir terus dan menjurus kepada Tuhan. Kearah inilah Tuhan mengisyaratkan ,"Wahai jiwa yang tenteram, yang mendapat ketenteraman dari Tuhan ! Kembalilah kepada-Nya !" (hal 6). Menurut Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., Allah SWT menganugerahkan kepada manusia tata cara atau kaedah-kaedah perbaikan terhadap keadaan thabi'inya secara perlahan-lahan mengangkatnya keatas menuju keadaan akhlaki yang selanjutnya menuju derajat yang lebih tinggi lagi yakni keadaan rohani . Perubahan itu terjadi dengan adalah dengan merubah sumber yang menjadi motivasi pengerak keadaan tsb. Peningkatan dari nafsu amarah, menuju lawwamah yang selanjutnya meningkatkannya kepada muthmainnah adalah suatu ketentuan hukum-hukum Allah yang peranannya bagi perkembanngan keadaan manusia sesungguhnya tidak bisa dipungkiri lagi i. (hal 13). KEADAAN MANUSIA SESUDAH MATI Masalah kedua yang dibincangkan oleh Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. adalah keadaan manusia setelah kematian menjemputnya. Menurut beliau keadaan sesudah mati itu sesungguhnya bukanlah suatu keadaan baru melainkan keadaan-keadaan di alam dunia ini juga yang dinampakkan lebih jelas lagi. Apapun akidah yang dianut seseorang dan apapun amal-amal yang dikerjakan manusia yang baik maupun yang buruk di dunia ini tersembunyi tujuannya dalam diri manusia itu sendiri. Akan tetapi dialam akhirat kelak tidaklah demikian keadaanya , melainkan segala keadaan itu secara terbuka akan menampakkan wajahnya secara jelas dan terbuka. Beliau memberikan contoh yang dialami manusia dialam mimpi. Yakni yang mempengaruhi tubuh manusia dialam mimpi akan nampak jelas dalam bentuk jasmani. Apabila seseorang akan terserang demam panas maka seringkali dalam mimpinya menampak kobaran api. Sebaliknya apabila seseorang itu terserang influenza , ia melihat dalam dirinya berendam dalam air. Jadi tubuh kita sendiri telah melakukan persiapan-persiapan dalam menghadapi penyakit-penyakit , maka keadaan-keadaan itu akan nampak di alam mimpi dalam bentuk tamsil dan perumpamaan. Jadi dengan kita menelaah untaian-untaian mimpi , setiap manusia dapat memahami duniawinya , demikian juga sunatullah dialam ukhrawi. Sebagaimana mimpi menimbulkan suatu perobahaan tersendiri dalam diri kita dengan menampakkan unsur-unsur rohani dalam bentuk jasmani , demikian juga diakhirat kelak dimana amal kita dan buah-buahnya serta dampaknya akan tampil secara jasmani. Dan segala sesuatu yang terselubung bagi kita didunia ini, pada hari itu kelak semuanya akan nyata tampak dihadapan kita. Sebagaimana kita yang menyaksikan berbagai macam tamsil dan perumpamaan dalam mimpi itu , tidaklah menganggapnya sebagai perumpamaan dan tamsil , bahkan kita benar-benar meyakini sebagai benda-benda nyata, demikian pula nanti yang berlaku dialam ukhrawi itu. Bahkan Allah Taala melalui tamsil-tamsil dan perumpamaan itu akan memperlihatkan kudrat-Nya yang baru. Allah Taala berfirman dalam Al-Qur'an sbb: " Seseorang tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang meyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.".(QS. 32:17)...(hal 105 dan 106). Jadi Allah sendiri menyatakan bahwa nikmat-nikmat tersembunyi dialam ukhrawi kelak , dan tidak ada contohnya di antara nikmat-nikmat duniawi ini. Yang demikian adalah suatu kenyataan bahwa nikmat-nikmat duniawi tidaklah tersembunyi dari kita. Kita mengetahui akan susu, anggur, zaitun dan delima serta buah-buahan lainnya , dan kita pun tidak jarang pernah merasakannya sehari-hari. Jadi dengan demikian bahwa nikmat-nikmat bagi manusia yang beramal saleh itu adalah lain, dan namanya saja yang sama dengan benda-benda duniawi ini. Dan itupun hanya semata-mata tamsil dan perumpamaan belaka. Jadi barang siapa yang menganggap bahwa nikmat surga adalah kumpulan dan tumpukan benda-benda duniawi , berarti dia tidak memahami satu hurufpun Al-Qur'an Suci. Demikian penjelasan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. sehubungan keadaan -keadaan diakhirat kelak. Rasulullah SAW sendiri bersabda, bahwa surga dan nikmat-nikmatnya merupakan benda-benda yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pula terlintas dalam hati. Pada hal nikmat-nikmat dunia ini kita saksikan dengan mata, juga kita dengar dengan telinga serta didalam hatipun kita merasakannya. Jadi tatkala Allah Taala dan Rasul-Nya menyatakan benda-benda itu sebagai benda-benda asing yang hanya berupa tamsil dan perumpamaan, maka kita kan semakin jauh lari dari Al-Qur'an jika kita beranggapan bahwa surga itu penuh dengan bidadari dan wanita-wanita muda yang cantik jelita sebagai mana yang kita saksikan didunia ini. Air susu yang berwarna putih yang diperah dari sapi-sapi, kemudian dituangkan dalam sungai-sungai . Seakan-akan akan disana kelak bergerombol-gerombol ternak penghasil susu dan diatas pohon-pohon bergelayutan sarang-sarang lebah dan malaikat-malaikat mengambil madunya. Apakah pemikiran dan khayalan ini sesuai dengan ajaran Islam dan penjelasan dari ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadits Rasulullah SAW? Yaitu ajaran yang didalamnya terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa benda-benda itu menyinari ruh dan melipat gandakan makrifat Ilahi dan merupakan makan rohani ?(hal 107). Lebih lanjut Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. menjelaskan tiga macam alam yang dilalui oleh manusia sampai akhirnya sampai kekampung akhirat tsb. Ketiga alam tsb adalah sbb: 1. Alam pertama adalah alam DUNIA yang dinamakan juga "alam kasab"(alam usaha) dan "nisya ula" (alam usaha). 2. Alam kedua adalah dinamakan BARZAKH suatu phase diantara alam kebangkitan dan alam kejadian pertama atau DUNIA. 3. Alam ketiga adalah alam KEBANGKITAN yang pada itu setiap ruh yang baik dan buruk , yang saleh maupun yang fasik akan mendapatkan tubuh nyata. Dan pada hari itu akan ditetapkan untuk penampakan-penampakan Tuhan seutuhnya, dan ketika itu setiap insan akan mengeanali Wujud Tuhan dengan sejelas-jelasnya....(hal 112, 113, dan 114). TUJUAN SEBENARNYA MANUSIA HIDUP DIDUNIA DAN BAGAIMANA MENCAPAINYA Menurut Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. manusia itu dilahirkan kemuka bumi ini adalah atas kehendak Tuhan , demikian juga berangkat meninggalkan dunia ini dikemudian hari adalah bukan atas kemauannya sendiri. Jadi yang berhak menentukan tujuan hidup manusia ini adalah Tuhan bukan manusia itu sendiri. Tetapi manusia dengan berbagai macam pembawaan alaminya , karena pengetahuan yang dangkal , serta kemampuannya yang terbatas, menetapkan berbagai tujuan hidupnya. Dan mereka berjalan hanya sampai tujuan duniawi belaka , lalu berhenti. Jadi jelaslah bahwa tujuan hidup manusia adalah atas ketetapan Allah sendiri, Allah sendirilah yang menentukan tujuan hidup manusia itu. Hal ini diperkuat oleh Kitab Suci Al-Qur'an sbb: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.".........(QS. 51:56). Dengan demikian menurut ayat ini tujuan sebenarnya hidup manusia itu adalah untuk menyembah Allah Taala dan meraih makrifat Allah Ta'ala serta menjadi milik Allah Ta'ala. Jelaslah disini bahwa manusia tidak berhak sama sekali dengan ikhtiarnya menetapkan sendiri tujuan hidupnya. Sebab menurut Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. , manusia datang kedunia ini bukan atas kemauan sendiri dan bukan pula atas kemauannya sendiri akan kembali kepada-Nya. Manusia hanyalah makhluk (hasil ciptaan). Sedangkan Wujud yang telah menciptakannya serta menganugerahkan kemampuan yang cemerlang dan lebih tinggi dibandingkan dari hewan-hewan itulah yang telah menetapkan suatu tujuan hidup baginya. Tidak peduli apakah manusia itu mengerti atau tidak mengerti akan tujuan itu. Dan tidak diragukan lagi tujuan manusia hidup adalah untuk menyembah Tuhan dan meraih makrifat Allah Ta'ala serta menjadi fana didalam Allah Ta'ala......... (hal 126). Bagaimana tujuan hidup manusia diwujudkan dan sarana-sarana apa saja yang diperlukan untuk mencapainya? Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. menerangkan lebih lanjut bahwa ada delapan macam sarana yang diperlukan untuk menyempurnakan tujuan tsb. Beliau merinci lebih lanjut kedelapan sarana tsb: 1. Dengan mengenali Allah secara benar dan mengimani Tuhan Yang Hakiki, adalah sarana utama untuk mencapai tujuan pengabdian kepada Allah. Sebab langkah pertama saja sudah salah dan seseorang menjadikan burung-burung , hewan-hewan ataupun anak manusia sebagai Tuhan, maka bagaimana mungkin dapat diharapkan pada langkah-langkah berikutnya dia dapat menempuh jalan yang lurus? Tuhan Yang Hakiki akan memberikan pertolongan kepada orang-orang yang mencari-Nya . Atau bagaimana mungkin benda yang tidak hidup dapat memberikan pertolongan kehidupan kepada sesuatu yang mati.?......(QS. 13:14). 2. Dengan mendapatkan gambaran yang jelas tentang kejuitaan dan keindahan yang lengkap lagi sempurna di dalam Wujud Allah Ta'ala. Sebab kejuitaan dan keindahan adalah sesuatu yang secara alami menawan hati sehingga dengan menyaksikannya akan timbul kecintaan secara alami. Adapun kejuitaan Allah Ta'ala itu terletak pada keesaan-Nya , kebesaran-Nya , kemuliaan-Nya , dan sifat-sifat-Nya......(QS. 112:1,2,3 dan 4). 3. Sarana ketiga untuk mencapai tujuan sebenarnya adalah mengenal ihsan Tuhan (kebaikan yang lebih dari Tuhan). Karena pendorong rasa cinta itu hanya terdiri dari dua hal yaitu husnun (kejuitaan) dan ihsan (kebaikan) . Sedangkan sifat ihsan Allah Taa'ala terdapat didalam Surah Al-Fatihah 2, 3, dan 4. 4. Sarana keempat adalah do'a , sebagaimana diajarkan-Nya :" Berdo'alah kamu kepada-Ku , maka Aku akan kabulkan".....(QS. 40:60). Dan berulang kali Dia menarik minat untuk berdo'a supaya manusia bukan karena kekuatannya sendiri , melainkan dengan kekuatan Tuhan untuk meraih sesuatu. 5. Sarana kelima yang ditetapkan Allah Ta'ala untuk mencapai tujuan sebenarnya adalah mujahadah. Yakni , mencari Allah Ta'ala dengan cara membelanjakan harta dijalan-Nya dan dengan cara pengorbanan jiwa dijalan-Nya. Atau ini disebut juga dengan jihad fisablillah. ......(QS. 9:40), (QS. 2:3) dan (QS. 29:69). 6. Istiqamah juga merupakan sarana selanjutnya untuk mencapai tujuan sebenarnya dari manusia. Dijalan Istiqamah tidak ada kebosanan, tidak ada lelah dan tidak gentar menghadapi cobaan......(QS. 41:30,31). 7. Bergaul dengan orang-orang saleh dan memperhatikan tauladan-tauladan sempurna mereka juga merupakan sarana untuk mencapai tujuan sebenarnya dari penciptaan manusia itu. ....(QS. 9: 118, dan QS. 1:7). 8. Dengan adanya kasyaf suci, ilham suci, dan mimpi-mimpi suci dari Allah Ta'ala juga merupakan sarana bagi kita untuk mencapai tujuan penciptaan kita oleh Allah Ta'ala. ....(QS. 10:64).............. (hal 125 -134). KARMA YAKNI DAMPAK AMAL PERBUATAN DI DUNIA DAN AKHIRAT Menurut Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., penerapan syari'at yang benar dan sempurna dari Allah Ta'ala dalam kehidupan manusia didunia ini akan merubahnya dari keadaan seperti binatang menjadi "manusia" , kemudian dari manusia menjadikannya "manusia berakhlak" , lalu dari manusia berakhlak menjadikannya "manusia ber-Tuhan". Manusia ber-Tuhan akan dianugerahi oleh Tuhan berupa ilmu, makrifat, harta benda dan kebahagian-kebahagiaan yang selanjutnya akan mempengaruhi orang-orang sekitarnya dalam nikmat-nikmat tersebut sesuai dengan martabat mereka masing-masing. Manusia ber-Tuhan itu akan memancarkan seluruh cahayanya kepada sekalian umat manusia bagaikan matahari. Dan laksana bulan, ia menerima nur dari Wujud Yang Maha Agung lalu menyampaikannya kepada orang-orang lain. Laksana siang hari, dia yang terang benderang menunjukkan jalan-jalan kebajikan kepada semua orang. Laksana malam , dia menyelimuti setiap yang lemah dan memberikan ketenteraman kepada orang-orang penat dan letih. Begitu banyak perumpamaan-perumpamaan dikemukakan oleh beliau yang menunjukkan betapa manusia ber-Tuhan itu berdampak positif bagi orang-orang sekitar lingkungannya. Jadi inilah dampak syari'at yang sempurna, dimana akan mengantarkan orang mematuhi syari'at sempurna tersebut pada titik kesempurnaan keseimbangan antara hak Allah dan hak manusia. Ia akan hilang sirna dalam Allah dan menjadi pengkhidmad sejati bagi makhluk. Inilah yang merupakan dampak syari'at praktis pada diri orang itu didalam kehidupan ini. Dan pada kehidupan akhirat kelak perjumpaan rohani dengan Tuhan kelak akan nampak olehnya secara nyata. Dan pengkhidmatannya terhadap makhluk Allah senantiasa dilakukannya atas dasar kecintaan kepada Tuhan, yang didorong oleh kedambaan akan iman dan amal saleh , akan nampak dalam bentuk pohon-pohon dan sungai-sungai surga........(hal 135 dan 136). SARANA-SARANA DAN JALAN-JALAN UNTUK MENDAPATKAN ILMU DAN MAKRIFAT Membicarakan masalah ini Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dengan berpedoman kepada Kitab Suci Al-Qur'an telah membagi ilmu itu menjadi tiga macam yaitu 'ilmul yaqiin, 'ainul yaqin dan haqqul yaqiin . 'Ilmul yaqin adalah pengetahuan terhadap sesuatu dengan mempergunakan sarana perantara dan tidak secara langsung. Beliau memberikan contoh dengan menarik suatu kesimpulan bahwa asap adalah meyakinkan kita akan keberadaan api. Sunguhpun kita tidak melihat api namun hanya melihat asap , maka kita yakin akan adanya api dibalik asap yang menjadi bukti adanya api. Inilah yang disebut dengan 'ilmul yakin. Dan apabila api itu sendiri yang kita lihat , maka hal yang demikian menurut Al-Qur'an Suci disebut pengetahuan 'ainul yaqin dan apabila kita sendiri masuk kedalam api itu maka pengetahuan itu dinamakan haqqul yaqin. Jadi Allah Ta'ala berfirman bahwa 'ilmul yaqin tentang adanya neraka dapat diperoleh didunia ini juga. Dialam Barzakh akan diperoleh 'ainul yaqin . Dan pada Hari Kebangkitan nanti pengetahuan itu juga akan sampai pada tingkat semurna , yakni haqqul yaqin. ...........(hal 112). Adapun sarana untuk mencapai tingkat 'ilmul yaqin adalah akal dan keterangan-keterangan (manqulat) . Juga dengan perantaraan telingapun manusia dapat memperoleh 'ilmul yaqin. Demikian juga dalil-dalil logika yang bertumpu pada unsur-unsur yang benar , tapa diragukan lagi akan mengantar manusia sampai kepada 'ilmul yaqin. Apabila orang-orang cerdik cendekia dan para ahli pikir merenungkan kejadian bumi dan benda-benda langit dan dengan seksama memperhatikan sebab-sebab peredaran malam dan siang , maka mereka itu akan mendapatkan bukti tentang Wujud Allah Ta'ala......(QS. 3:190-195). Adapun hati nurani manusia juga merupakan sarana untuk memperoleh ilmu yang didalam Kitab Suci Al-Qur'an dinamakan fitrat manusia. " Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas ) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu..".....(QS. 30:30). Oleh karenanya ilmu yang kita peroleh melaui hati nurani kita termasuk dalam derjat 'ilmul yaqin..........( hal 149, 150). Satu derajat diatas "ilmul yaqin" adalah "'ainul yaqin". Dan yang dimaksud dengan derajat "'ainul yaqin" adalah ilmu yang apabila diantara keyakinan kita dan benda yang kita yakini itu tidak terdapat suatu perantara. Misalnya apabila kita mengetahui adanya bau harum atau busuk lewat indera penciuman atau kita mengetahui rasa manis dan asin lewat indera pencicipan atau semua yang kita rasakan lewat panca indera , maka semua pengetahuan itu termasuk dalam kategori 'ainul yaqiin. Akan tetapi berkenaan alam ukhrawi , Ilmu Ketuhanan kita baru sampai pada batas 'ainul yaqin bila kita sendiri menerima ilham tanpa perantara, mendengar suara Ilahi dengan telinga sendiri , dan melihat kasyaf-kasyaf (pemandangan ghaib) yang terang dan benar dengan mata sendiri. "Tidak diragukan lagi", kata Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, " bahwa untuk memperoleh makrifat yang sempurna , kita sangat memerlukan ilham tanpa satu perantara , dan didalam hati kita terdapat rasa lapar serta dahaga akan makrifat yang sempurna itu. Jika seandainya Allah Ta'ala sejak semula tidak menyediakan safrana-sarana makrifat bagi kita, maka mengapa telah Dia timbulkan rasa lapar dan dahaga ini dalam diri kita?" ............ (hal 151). Akhirnya sampailah kami keujung uraian ini. Semoga saja resensi ini memuaskan banyak orang dan kami mengharapkan segala kritik dan saran kepada kami. Sebagaimana pohon yang baik kita kenal lewat buahnya yang lezat dan manis. Buku Filsafat Ajaran Islam ini adalah ibarat buahnya sedangkan pohonnya adalah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. dengan sekte Ahmadiyah yang didirikannya lebih seratus tahun yang lampau. Dan buku ini adalah karangan beliau yang diterbitkan 100 tahun yang lampau dan harapan kami tulisan ini bermanfaat adanya dan kepada Allah segala Puji dan Syukur kita alamatkan.. Wassalamualaikum wr.wb. H. Nadri Saaduddin Kelompok Studi Islam Ahmadina Jalan Imam Bonjol 12 A Balaikandi Koto Nan Ompek Telp. +62-0752-92367 Mobile:081363259195 Payakumbuh 26225 Sumatera Barat __________________________________________________ Apakah Anda Yahoo!? Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam http://id.mail.yahoo.com Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
