(Tulisan ini juga disajikan dalam website http://perso.club-internet.fr/kontak.)
Pertemuan Gerakan Non-blok di Havana Dalam waktu dekat yang mendatang, pers dunia (termasuk pers Indonesia) barangkali akan banyak menyoroti dampak pertemuan tingkat tinggi Gerakan Non-blok yang dilangsungkan di Havana (Kuba) antara tanggal 11-16 September 2006. Perhatian banyak kalangan di seluruh dunia tertarik kepada peristiwa penting ini, bukan saja karena pertemuan tingkat tinggi ini dihadiri oleh 56 kepala negara dan delegasi dari 118 negara, melainkan juga karena pertemuan ini (yang diketuai oleh Kuba sebagai tuan-rumah) dilangsungkan dalam suasana anti-imperialisme (terutama AS) dan anti-globalisasi atau anti-neoliberalisme yang makin meninggi dimana-mana. Patutlah kiranya diperhatikan oleh banyak kalangan di Indonesia bahwa pertemuan tingkat tinggi Gerakan Non-blok yang ke-14 (Non Aligned Movement - NAM) yang diadakan di Havana kali ini menunjukkan - sekali lagi ! bahwa pada pokoknya, atau pada intinya, garis politik internasional Presiden Sukarno yang anti-imperialis yang didengung-dengungkan sampai tahun 1965 ternyatalah sekarang benar, dan bahkan telah dan sedang menjadi sikap dari makin banyak rakyat dan negara di dunia. Bung Karno, yang sampai akhir hayat hidupnya mendambakan solidaritas antara rakyat-rakyat Asia-Afrika dan Amerika Latin dalam perjuangan bersama melawan neo-kolonialisme dan imperialisme ( istilah yang dulu terkenal sekali : nekolim) pastilah sekarang dalam makamnya berseri-seri mukanya karena gembira sekali melihat perkembangan situasi dunia yang sudah mengalami banyak perubahan, seperti yang tercermin dalam pertemuan Gerakan Non-blok di Havana kali ini. Suara anti-imperialisme AS yang menonjol Dalam pidato pembukaan pertemuan besar itu pada tanggal 11 September, Menteri Luar Negeri Kuba, Felipe Perez Roque, menyerukan kepada para peserta untuk bergerak bersama dan meninggalkan perbedaan atau pertentangan yang ada guna merapatkan barisan (close rangs) dalam membela negara-negara yang anggota NAM (Gerakan Non-blok). Bahaya, ancaman, dan kesulitan yang kita hadapi bersama adalah sama dan berasal dari sumber yang sama (The risks, threats and difficulties that we face are similar and have commmon origins). Kita harus tunjukkan kepada dunia kekuatan kita dan kemampuan kita untuk menanggulangi bersama-sama tantangan-tantangan besar yang dihadapkan kepada kita semua oleh kekuatan yang paling kuat di dunia, katanya. Ia dengan keras mengkritik perang baru-baru ini antara Israel dan Libanon, dan memberikan julukan genocide sehari-hari terhadap apa yang dialami rakyat Palestina. Pertemuan tingkat tinggi Gerakan Non-blok kita juga bersamaa waktunya dengan makin kuatnya tekanan terhadap Iran yang mempertahankan haknya melanjutkan program pemakaian tenaga nuklir untuk tujuan damai, dan ketika berbagai negara non-blok diancam perang pre-emptive (perang pencegahan) dan agressi, katanya. Isi pidato pembukaan Menteri Luar Negeri Kuba, Felipe Perez Roque, itu menunjukkan bahwa dalam pertemuan tingkat tinggi Garakan Non-blok di Havana kali ini lebih dari pada yang sudah-sudah di masa yang lalu suara-suara atau sikap anti-imperialisme AS sangatlah menonjol. Perkembangan semacam ini adalah sangat penting untuk mendorong maju lebih lanjut gerakan di dunia (termasuk di Indonesia) menentang anti-imperialisme dan anti-neoliberalisme. Pentingnya pertemuan di Havana Berbagai sejarawan dan pakar politik di dunia melihat Gerakan Non-blok (Non Aligned Movement) sebagai kelanjutan dari Konferensi Bandung dalam tahun 1955, yang sangat besar pengaruhnya bagi pembebasan rakyat dan bangsa di dunia dari cengkeraman kolonialisme dan imperialisme. Sekarang, sekitar 3000 orang delegasi (dari 118 negara-negara anggota Non Aligned Movement dan sekitar 20-an negara peninjau) berkumpul dalam pertemuan tingkat tinggi ini. Sebagian terbesar dari negara-negara yang hadir di Havana ini adalah negara-negara berkembang dari dunia ketiga dan sebagian adalah negara-negara miskin. Arti penting Gerakan Non-blok atau NAM itu juga kelihatan bahwa jumlah negara-negara yang tergabung dalam NAM (Non Aligned Movement) sudah mendekati jumlah seluruh negara anggota PBB (dua pertiganya), dan mencakup lebih dari separuh penduduk dunia (sekitar 55%). Sudah tentu, politik negara-negara yang jumlahnya begitu banyak itu juga mempunyai sikap yang warnanya - atau kadarnya - berbeda-beda menghadapi imperialisme AS, termasuk sikap pemerintah Indonesia yang diwakili oleh presiden SBY. Pertemuan tingkat tinggi NAM yang ke-14 dan diadakan di Havana ini mencerminkan makin merosotnya citra AS sebagai negara adi-kuasa tunggal, yang sejak lama sudah memainkan peran sebagai polisi dunia dan sering bertindak sewenang-wenang terhadap berbagai negara, mentang-mentang kaya, besar, dan kuat sekali. Kuba yang selama lebih dari 40 tahun sudah diboikot dan diblokade oleh AS secara politik dan ekonomi dengan cara-cara yang brutal, dan telah disubversi berulang kali, ternyata sekarang masih tegap berdiri dan bahkan makin mendapat simpati dari banyak penjuru. Pertemuan besar di Havana ini mengisaratkan bahwa makin lebih sulit lagilah kiranya bagi imperialisme AS untuk menghancurkan Kuba. Faktor Hugo Chavez yang menonjol Munculnya presiden Hugo Chavez dari Venezuela dalam pertemuan di Havana ini merupakan salah satu faktor yang membikin pertemuan kali ini sangat menarik perhatian dari banyak kalangan di dunia. Banyak kalangan dari berbagai negeri menyoroti peran yang bisa dilakukan oleh Hugo Chavez untuk menjadikan pertemuan NAM di Havana sebagai pusat anti-AS dan sebagai panggung untuk mendorong benua Amerika Latin berkembang lebih ke kiri lagi. Sejak terpilihnya (melalui pemilu demokratis) sebagai presiden Venezuela (dalam tahun 1998), Hugo Chavez sudah terang-terangan memperlihatkan dukungan atau simpati besarnya terhadap Fidel Castro dengan revolusi sosialisnya di Kuba. Sejak bertahun-tahun kerjasama dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan antara Venezuela dan Kuba telah digalang secara besar-besaran, dan makin lama makin meningkat terus. Sudah berkali-kali Hugo Chavez menyatakan bahwa ia menaruh respek yang tinggi terhadap Fidel Castro dan mengagumi revolusi Kuba. Bahkan, ketika Fidel Castro jatuh sakit dan mengalami operasi baru-baru ini, ia sudah mengunjunginya sampai 3 kali. Suatu hal yang bisa dianggap sebagai luar biasa! Banyak pengamat politik yang memperhatikan usaha Hugo Chavez dalam pertemuan ini untuk mengumpulkan dukungan bagi Venezuela untuk duduk sebagai anggota non-permanen Dewan Keamanan PBB yang akan dipilih tidak lama lagi. Hugo Chavez berusaha menjadi wakil dari negara-negara kecil dan miskin di dunia, dalam menghadapi kekuatan-kekuatan besar di PBB, terutama AS. Kalau usaha Hugo Chavez untuk menjadikan Venezuela sebagai anggota non-permanen Dewan Keamanan PBB berhasil, maka banyak negara yang selama ini dirugikan oleh imperialisme AS akan mempunyai wakilnya yang bisa diandalkan, karena selama ini sudah teruji gigih. Oleh karena itu, dapatlah dimengerti sepenuhnya, kalau fihak imperialisme AS berusaha sekuat-kuatnya, dan dengan segala daya dan cara, untuk mencegah terpilihnya Venezuela menjadi anggota non-permanen Dewan Keamanan PBB. Kekuatiran Washington terhadap pertemuan di Havana Dapatlah kiranya dimengerti bahwa Washington mengamati pertemuan di Havana kali ini dengan amat cermat atau sangat teliti, bahkan mungkin bercampur dengan kekuatiran akan apa yang terjadi selanjutnya. Sebab, kalau selama ini Non Aligned Movement sudah menunjukkan sikap anti-imperialisme dalam berbagai statement atau resolusi-resolusinya, tetapi itu semuanya masih bisa dianggap samar-samar atau umum-umum saja. Tetapi, pertemuan di Havana kali ini menunjukkan hal-hal yang pada masa-masa yang lalu belum ada. Kehadiran presiden Iran, Mahmud Achmadinejad, yang jelas-jelas anti-AS dan anti-Israel, dan juga presiden Siria Basha Assad yang mempunyai sikap yang sama, merupakan pertanda yang tidak menguntungkan sama sekali bagi kepentingan atau citra AS. Juga hadirnya presiden Bolivia, Evo Morales, sekutu dekat Hugo Chavez, membikin pertemuan di Havana ini menjadi peristiwa yang penting bagi perkembangan gerakan di dunia untuk melawan hegemoni imperialisme AS dan neo-liberalisme. Patut dicatat bahwa Korea Utara juga dikabarkan mengirimkan delegasi tingkat tinggi untuk menghadiri pertemuan ini. Kuba, yang menjadi ketua Gerakan Non-blok (Non Aligned Movement) dari sekarang sampai 3 tahun yang mendatang, menyelenggarakan pertemuan di Havana dalam suasana politik internasional yang makin tidak menguntungkan imperialisme AS, antara lain karena perkembangan di Timur Tengah dan Amerika Latin. Diselenggarakannya pertemuan tingkat tinggi Non Aligned Movement kali ini diperkirakan sedikit banyaknya - akan mempunyai dampak terhadap gerakan sedunia (termasuk gerakan di Indonesia) yang makin lama makin menguat dalam melawan neo-liberalisme. Tidak salahlah kiranya kalau kita juga berharap bahwa kehadiran presiden SBY dalam pertemuan di Havana memungkinkan baginya sendiri (dan juga bagi anggota rombongannya) untuk menghayati semangat dan suasana anti-AS, yang merupakan tanda-tanda arah zaman sekarang. Kita semua akan bisa melihat, nantiya, apakah presiden SBY (dan orang-orangnya) memahami sepenuhnya arah perubahan situasi dunia yang tercermin dalam pertemuan di Havana ini. Bung Karno tokoh Gerakan Non-blok Sudah seoatutnya, atau seharusnya, bahwa presiden SBY yang hadir dalam pertemuan di Havana kali ini merasa bangga bahwa Gerakan Non-blok sekarang menjadi begitu besar dan merupakan kekuatan politik di dunia yang diperhitungkan oleh kekuatan-kekuatan imperialisme, terutama AS. Karena, Gerakan Non-blok yang pada dasarnya anti-imperialisme inilah yang sudah diperjuangkan oleh Bung Karno, dengan diadakannya Konferensi Bandung dalam tahun 1955. Seperti kita ingat dari catatan sejarah, Konferensi Bandung merupakan tonggak sejarah yang penting bagi lahirnya Gerakan Non-blok. Istilah Non-Alignment mulai dikenal ketika Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru mengucapkan piadatonya di Colombo (Srilanka) dalam tahun 1954, dan kemudian menjadi jiwa Konferensi Bandung dalam tahun 1955. Gerakan Non-blok telah dilahirkan oleh lima pemimpin besar dunia : Tito dari Yugoslavia, Sukarno dari Indonesia, Nasser dari Mesir, Nkrumah dari Ghana dan Nehru dari India. Konferensi tingkat tinggi Gerakan Non-blok diadakan untuk pertama kalinya di Beograde dalam tahun 1961, dengan dihadiri oleh presiden Sukarno juga. Kemudian, rata-rata setiap 3 tahun, diselenggarakan berturut-turut di Mesir (1964), Zambia (1970) , Aljazair (1973), Sri Lanka (1976), Kuba (1979), India (1983), Zimbabwe (1986), Beograd (1989), Indonesia (1992), Colombia (1995), Afrika Selatan (1998), Malaysia (2003) , dan sekarang Kuba lagi. Konferensi Gerakan Non-blok di Zambia (yang ibukotanya bernama Lusaka) dalam tahun 1970 mencatat peristiwa-peristiwa yang tidak mengenakkan bagi rombongan Presiden Suharto, berhubung dengan adanya demonstrasi-demonstrasi anti-Suharto oleh golongan-golongan penduduk Afrika yang bersimpati kepada Bung Karno, karena mereka mendengar bahwa beliau digulingkan dan dikenakan tahanan rumah oleh Angkatan Darat. Jadi, kalau ada orang yang banyak bicara tentang Gerakan Non-blok tetapi sengaja mau menghilangkan nama atau mengecilkan peran Bung Karno sebagai salah satu di antara tokoh-tokoh penting yang membidani kelahirannya sejak Konferensi Bandung dan kemudian diteruskan di Beograd dalam tahun 1961, berarti bahwa orang tersebut tidak mengerti apa sebenarnya isi, atau tujuan, atau hakekat Gerakan Non-blok, seperti yang dicita-citakan para pendirinya. Orang-orang sejenis pendukung Orde Baru-nya Suharto itulah yang umumnya mempunyai sikap yang demikian itu, sampai sekarang. Tidak lama lagi kita semua akan bisa mengetahui apa-apa saja yang dihasilkan oleh pertemuan di Havana kali ini. Namun, apa pun hasilnya dan bagaimana pun keputusan yang diambil oleh pertemuan dari negara-negara anggota Gerakan Non-blok ini, satu hal yang jelas adalah bahwa situasi internasional makin tidak berfihak kepada imperialisme AS beserta sekutu-sekutunya. Dan bahwa gerakan anti-imperialisme AS dan anti-neoliberalisme makin meninggi dimana-mana. Arah perkembangan situasi dunia semacam inilah yang perlu diamati oleh banyak kalangan di Indonesia. Sebab, perang dingin dalam bentuknya yang lama sudah berlalu, dan sekarang digantikan dengan resistensi global terhadap superpower AS. Sayangnya, sisa-sisa kekuatan rejim militer Orde Baru masih terus berusaha diperpanjangnya persekongkolan dengan imperialisme AS. Mereka adalah golongan-golongan yang membuta-tuli terhadap arah perubahan zaman sekarang ini. Sayang sekali! Paris, 17 September 2006 -- No virus found in this outgoing message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.1.405 / Virus Database: 268.12.4/449 - Release Date: 15/09/2006 [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
