http://www.indomedia.com/bpost/092006/25/opini/opini1.htm

Indonesia Harini:
Konsumeristik Dan Menjual Harta Warisan



Agar bangsa ini mampu bersaing dalam kompetisi global, sangat dibutuhkan SDM 
andal yang berpangkal dari pendidikan.

Oleh: Ahmad Barjie B
Pemerhati masalah kemasyarakatan



Dalam skala mikro, sebuah keluarga dianggap berhasil bila mampu membeli ini dan 
itu seperti meja kursi, televisi, kipas angin, kulkas, alat dapur, kendaraan 
bahkan HP. Anggapan ini kadang menjangkit ke skala makro. Masyarakat, daerah 
dan negara dianggap maju kalau mampu membeli berbagai produk luar negeri. 
Anggapan ini secara terbatas bisa saja benar, tetapi secara hakiki merugikan. 
Suatu negara sesungguhnya lebih berhasil dan maju, jika lebih banyak menjual 
daripada membeli. Lihat saja negara maju seperti Jepang dan RRC, Bukankah 
mereka lebih banyak menjual? Di sekitar kita bertebaran produk made in Japan 
atau China. Sementara made in Indonesia mana.

Kalau mereka membeli, justru untuk direproduksi dan dijual kembali. Mereka beli 
karet untuk diolah menjadi produk pabrikan dan dijual kembali ke negara lain. 
Bahkan produk jadi dari Indonesia begitu gampang ditiru dan mereka patenkan, 
sebab pemerintah begitu lamban memproteksi dan memberi hak paten. Tikar purun, 
lampit rotan, kain sasirangan, berbagai obat tradisional dll, kabarnya sudah 
mampu ditiru dengan kualitas produk yang lebih baik. Akibatnya kita semakin 
tergantung pada produk impor, sedangkan produk kita sendiri kalah bersaing.

Badan Pusat Statistik belum lama ini melaporkan nilai impor Juni 2006 
meningkat, tetapi justru pada barang konsumsi. Sementara impor bahan baku yang 
dapat diolah di dalam negeri dan mendorong pertumbuhan ekonomi justru menurun. 
Ekspor nonmigas juga meningkat tapi lebih didominasi batu bara, karet dan 
minyak sawit mentah (CPO). Ketiga komoditas ini menyumbang 46,69 persen 
terhadap total peningkatan ekspor semester I 2006. Paling dominan adalah ekspor 
batu bara, 46 persen. Melihat angka ekspor ini tentu memprihatinkan, sebab batu 
bara adalah SDA yang tidak terbarukan. Setelah cadangan minyak menipis, emas, 
timah dan tembaga menyusut, dan hutan gundul, tinggal batu bara. Ia adalah 
kekayaan alam yang lebih merupakan harta warisan milik anak cucu kita. Amien 
Rais mengatakan 75 persen kekayaan negara sudah dikuras bangsa asing, bangsa 
kita hanya menikmati sisanya. Kalau yang tersisa ini terus dijual, lantas anak 
cucu diwarisi apa? 

Gaya hidup

Mengapa bangsa kita suka menjual harta warisan? Jawabnya, karena itu cara 
paling mudah memperoleh uang cepat dan banyak, tanpa kerja keras menggalinya 
sendiri. Mestinya SDA itu dieksploitasi, jika sudah mampu menggalinya sendiri. 
Biar disimpan dulu di perut bumi. Lihat saja AS, perut bumi mereka dibiarkan 
perawan. Mereka lebih senang membeli dari negeri lain, karena itu 
menguntungkan. Atau RRC, mereka mengelola sendiri SDA-nya sambil membeli dari 
luar sehingga ketahanan ekonominya sangat kuat dan berjangka panjang. Tidak 
dijual obral dan ugal-ugalan.

Ketidakmampuan kita mengolah SDA sendiri, menurut Amien Rais karena di tataran 
elit terjadi kebodohan kolektif sehingga lebih mempercayakan kepada orang asing 
daripada bangsa sendiri. Ketergantungan Indonesia kepada sejumlah negara donor 
memperparah kondisi ini, akibatnya kita tidak mampu mengatakan tidak begitu 
mereka punya mau. Sampai-sampai Blok Cepu yang ditemukan ilmuwan Indonesia 
sendiri, teknologi pengolahannya sederhana, mampu dikerjakan bangsa sendiri dan 
pemerintah sudah punya modal, tetap saja manajemennya diserahkan kepada asing. 
Ada semacam tradisi untuk tidak mau berpikir dan bekerja keras, padahal 
keuntungannya untuk bangsa sangat besar.

Di tataran akar rumput, penguasaan iptek masih sangat rendah. Anggota 
masyarakat kita yang direkrut sebagai pekerja di sektor PMA, umumnya hanya di 
tingkat middle and lower management, bukan top management level. Ini tentu 
karena lemahnya SDM bangsa di segi penguasaan iptek, sehingga tidak mampu 
mengerjakan pekerjaan yang menuntut penguasaan high technology.

Akarnya karena masyarakat kita memang kurang melek iptek. Bila diamati 
kehidupan masyarakat kini, agaknya lebih berorientasi pada gaya hidup, bukan 
kualitas hidup. Lihat saja anak muda, begitu gandrung gonta ganti motor, HP dan 
membeli berbagai produk yang tidak jelas kegunaannya, serta sangat gandrung 
hiburan. Seolah-olah mereka pasukan stres yang sangat butuh hiburan. Padahal 
orangtua yang tiap hari stres saja, hiburan tidak begitu penting. Orangtua yang 
kebetulan mampu kadang juga ikut memanjakannya. Sama sekali tidak terpikir oleh 
mereka belajar, mengolah dan memproduksi sesuatu agar bisa dijual dan dibeli 
orang lain.

Langkah Darurat

Kalau kondisi demikian berlanjut, bangsa ini akan semakin kalah dalam kompetisi 
global. Walau di era orde baru Indonesia sempat dijuluki calon macan Asia 
bersama China, Taiwan dan Korea, namun sekarang tidak lagi. Recovery krisis 
ekonomi moneter begitu lamban dan tidak serius, beda dengan Malaysia, Thailand 
dan Korea yang sudah lebih dahulu pulih. Menurut Dr Sakrani dari Fisip Unlam, 
sudah ada yang menganggap Indonesia sebagai bangsa lemah dan negara gagal yang 
akan mati secara perlahan. Kita sudah jauh tertinggal. Kualitas SDM kita 2005 
hanya peringkat 112 dari 117 negara dan daya saingnya hanya peringkat 69 dari 
117 negara dunia. 

Langkah mendesak mengatasi hal ini adalah pertama membasmi KKN dan kedua 
meningkatkan SDM. Dalam konteks peningkatan ekspor dan produktivitas dalam 
negeri, KKN perlu sekali dibasmi. Mengapa RRC mampu membanjiri pasar luar 
negeri negeri dengan aneka produk yang relatif murah tetapi berkualitas? Jelas 
karena biaya produksi rendah. Biaya produksi rendah, pasti karena KKN juga 
minim. RRC memang terkenal tegas menghukum koruptor, tidak saja hukuman berat, 
bahkan tidak segan hukuman mati tanpa pandang bulu.

Salah satu dampak buruk korupsi di negeri ini, biaya produksi tinggi. Sebuah 
penelitian terhadap usaha konveksi, logam dan kerajinan di suatu daerah, 
akumulasi pungutan resmi dan liar mencapai 30 persen dari total biaya produksi. 
Ada perusahaan mengeluarkan biaya pungutan 12 persen, padahal keuntungan usaha 
hanya 2,18 persen. Besarnya biaya produksi oleh komponen pungutan, berakibat 
hanya 7-9 persen dari biaya total produksi yang bisa dialokasikan untuk upah 
pekerja. Padahal, idealnya pekerja (buruh) mendapatkan 35-40 persen. Ditambah 
kenaikan BBM, TDL, pajak, dll yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi, semakin 
lengkaplah penderitaan dunia usaha. Tidak heran jika usaha produksi dalam 
negeri di samping banyak gulung tikar juga kalah dengan produk impor. 
Kesejahteraan pekerja yang rendah, berdampak pula terhadap rendahnya kualitas 
SDM.

Agar bangsa ini mampu bersaing dalam kompetisi global, sangat dibutuhkan SDM 
andal yang berpangkal dari pendidikan. Sudah waktunya dunia pendidikan terus 
ditata agar lebih sesuai tuntutan zaman. Tidak sekadar menambah biaya 
pendidikan seperti banyak diusulkan, tetapi juga meningkatkan pengabdian 
pendidik dan pengajar. Di era 1960-70, walau sarana fasilitas pendidikan serba 
terbatas dan gaji Oemar Bakry relatif murah, tetapi pendidikan kita sempat maju 
hingga Malaysia saja berguru ke kita. Itu karena semangat pengabdian guru saat 
itu sangat tinggi. Kita sering terkenang gigihnya guru dulu dan trenyuh jika 
membandingkannya dengan guru sekarang yang semakin matre. Rupanya karena aparat 
di instusi lain sedang kemaruk KKN, maka guru pun tidak mau ketinggalan, walau 
tidak semua. 

Membaiknya kesejahteraan guru dan meningkatnya anggaran pendidikan sekarang, 
diharapkan juga dibarengi semangat pengabdian tinggi. Kita mengimpikan lahirnya 
generasi muda terdidik yang menguasai iptek dari semua kelas masyarakat. Tidak 
hanya orang mampu dan kaya yang pintar, dari keluarga miskin pun bermunculan 
anak pintar. Prinsip education for all jangan hanya di atas kertas. Tetapi 
harus dalam realitas. Semoga.

e-mail: [EMAIL PROTECTED]




[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke