refleksi: Wow!  Wapres berani  mengatakan salah pengertian tentang Syariah, 
padahal Uztads  Ba'asyir menyatakan bahwa :"Kalla perlu belajar syarat Islam" 
[Tribun Timur 21/9/2006]. Mungkin karena Kalla  jauh di Washington jadi berani 
bicara. 


HARIAN ANALISA
Edisi Senin, 25 September 2006

Wapres: Banyak Salah Pengertian tentang Perda Syariah 

Washington DC, (Analisa) 

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengaku banyak ditanya sejumlah kalangan, termasuk 
oleh wartawan asing, soal peraturan-peraturan daerah yang dianggap bernuansa 
Islam sehingga sering disebut sebagai perda syariah. 

"Banyak salah pengertian tentang Islam, khususnya perda-perda syariah yang 
bernuansa Islam. Ini perlu dijelaskan dan diluruskan," katanya dalam pertemuan 
dengan masyarakat Indonesia di KBRI Washington DC, Sabtu malam (Minggu (24/9) 
pagi . 

Pernyataan Wapres itu menjawab pertanyaan seorang warga mengenai perkembangan 
di Tanah Air khususnya tentang eksekusi kasus Tibo Cs dan otonomi daerah. 
Pertemuan dan dialog dipandu Dubes RI untuk Washington DC, Sudjadnan 
Parnohadingrat. 

Menurut Wapres, memang ada sejumlah perda di beberapa propinsi, kota dan 
kabupaten, yang melarang perdagangan alkohol. 

"Tahun 1920 di Amerika sudah ada larangan alkohol. Apa Amerika negara Islam?" 
tanya Wapres. 

Lalu ada perda yang melarang pelacuran, karena memang prostitusi itu merupakan 
tindak mpidana umum dan dilarang oleh negara dalam Kitab Undang-Undang Hukum 
Pidana. 

"Ada di Aceh orang dicambuk, lalu dituduh itu pelaksanaan syariah Islam. Tapi 
di Singapura juga ada orang Amerika dicambuk. Apa itu Singapura negara Islam? 
Hukuman cambuk itu suatu cara saja," katanya. 

Pada dasarnya, orang shalat, naik haji, kawin, semua pelaksanaannya didukung 
negara. Semua itu syariah dan mendapat dukungan negara. Ada juga yang 
mempersoalkan hukuman rajam, padahal belum tentu itu terjadi. 

"Hukum Islam itu dulu cash and carry, karena waktu itu tidak ada penjara. 
Sekarang ada penjara, jadi cara penghukuman bisa berubah," katanya. 

Begitu juga bila ada orang yang mempersoalkan sebuah kabupaten yang pada hari 
Jumat mewajibkan warganya untuk memakai baju gamis atau baju koko. Itu pun 
dianggap sebagai pelaksanaan syariat Islam. 

"Di Padang, baju semacam itu disebut gunting Cina atau baju Cina. Pernah tidak 
lihat Ramos Horta (PM Timor Leste, red) , hampir tiap hari dia pakai baju koko. 
Apa Ramos Horta Muslim ? Pendeta juga pakai baju koko, Cuma sedikit beda 
warnanya. Jadi itu tidak ada masalah. Suster suster di biara, kan pakai jilbab 
juga. Kok dipersoalkan," katanya. 

Begitu juga kasus eksekusi Tibo Cs. Jangan dipersoalkan sebagai kasus agama 
atau etnis, melainkan tindak kriminal biasa. 

"Soal Tibo itu cara kita untuk menegakkan hukum. Kalau sudah divonis dan tidak 
ada jalan hukum lain, ya sudah dilaksanakan. Eksekusi ini betul-betul soal 
hukum, bukan soal agama dan suku," ujar Wapres Jusuf Kalla. ( 


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke