Refleksi: Suara-suara di Indonesia mengatakan pada waktu Jose Ramos Horta dan Uskup Belo diberikan hadiah Nobel bahwa hadiah Nobel tidak berharga, masyaalloh koq sekarang para petinggi negara Indonesia bersaing untuk mendapatkan hadiah yang tidak berharga itu. Dunia Indonesia memang aneh bin ajaib, atau bagaimana miss Tsunami?
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/9/28/n3.htm Pro-Kontra Penerima Nobel-- Presiden dan Wapres Bersaing PERSOALAN siapa yang paling pantas menerima Nobel Perdamaian terkait penyelesaian kasus Aceh akan menjadi polemik bagi bangsa ini. Ada yang berpendapat bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang pantas menerima. Tetapi, ada juga yang mengatakan Wapres Jusuf Kalla lebih pantas mendapatkannya. ''Ini memang susah dipisahkan karena masing-masing mempunyai peran,'' kata anggota DPR asal Aceh Ahmad Farhan Hamid dalam diskusi bertema ''Hadiah Nobel untuk Perdamaian Aceh'' di Gedung MPR/DPR Jakarta, Rabu (27/9) kemarin. Farhan berharap tidak hanya Presiden dan Wapres, tetapi tokoh GAM Hassan Tiro juga harus dapat Nobel. Sebab, tanpa dia tidak akan ada perdamaian itu. Terkait figur keduanya, ia mengatakan Wapres dan Presiden luar biasa dan pants menerima Nobel Perdamaian. Pasalnya, selama 30 tahun konflik di Aceh, setiap hari rata-rata orang meninggal empat sampai lima orang. Atau setidaknya 1.800 dalam setahun atau 5.000 selama konflik. Dan, di bawah kepemimpinan keduanya, konflik tersebut berhasil dihentikan. Persoalannya karena Nobel itu hanya untuk satu orang, lalu siapa yang berhak menerimanya. ''Kalla memang mempunyai peran yang besar hingga tercapainya masalah ini. Tetapi saya yakin semua yang dijalankannya pasti atas persetujuan dan pengetahuan Presiden Yudhoyono,'' tegas anggota DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN) ini. Pengamat politik Fachry Ali sependapat dengan Farhan. Tetapi, harus disadari selain masalah Nobel Perdamaian, penyelesaian konflik di Aceh itu telah menggugurkan stigma kekuasaan dan kesewenang-wenangan dengan dialogis. ''Ini merupakan watak baru dalam menyelesaikan konflik tanpa melalui arogansi tetapi dialog yang intensif,'' tambahnya. Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Mubarok mengakui ada nilai plus bagi seseorang jika ia menerima penghargaan Nobel. Bahkan, Nobel bisa dijadikan alat kampanye politis paling strategis menjelang Pemilu 2009 karena bisa mendongkrak popularitas SBY yang saat ini mulai menurun. ''Kalau dibilang Nobel itu sebagai alat kampanye, ya... tentu sah-sah saja dan otomatis orang akan menilai ke situ,'' katanya. Seperti diketahui, penghargaan Nobel untuk perdamaian di Aceh mencuat saat Presiden Yudhoyono berbicara pada pertemuan yang diikuti puluhan anggota Nobel Institute di Norwegia beberapa waktu lalu. Saat ditanya tentang peluangnya mendapat Nobel, Kepala Negara mengatakan bahwa penghargaan seharusnya diberikan kepada semua pihak yang telah memberikan sumbangan dalam mengakhiri konflik yang sebelumnya berjalan selama 30 tahun di Aceh. Rencananya hadiah Nobel akan diberikan di Oslo, Norwegia pada 13 Oktober 2006 oleh Komite Nobel. Selain dari Indonesia, dikabarkan Nobel juga akan diberikan kepada Perdana Menteri Finlandia Marti Ahtisaari. (km [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
