RIAU POS

      Wiranto: Kudeta Tak Pernah Ada        


      Sabtu, 30 September 2006  
      Laporan JPNN Jakarta
      JAKARTA (RP)- Mantan Panglima ABRI Jenderal (pur) Wiranto angkat bicara 
soal polemik antara BJ. Habibie dan Prabowo Subianto. Wiranto yang 
disebut-sebut menjadi ''dalang'' lengsernya Prabowo sebagai Pangkostrad pada 
era Presiden Habibie itu membantah adanya rencana kudeta sesaat setelah 
peralihan kekuasaan pada 1998. 

      ''Di republik ini tidak ada kudeta. Tidak akan pernah ada!'' tegasnya 
yang ditemui setelah Salat Jumat di rumahnya, Jalan Palem Kartika, Jakarta, 
kemarin.

      Dia menyatakan hal itu menanggapi kontroversi buku Detik-Detik yang 
Menentukan yang merupakan kumpulan catatan Habibie. Menurut Wiranto, kudeta 
tidak mungkin terjadi karena sistem yang berlaku di Indonesia berbeda dari 
Thailand. Dugaan akan adanya kudeta oleh Prabowo tersebut disinggung Habibie 
dalam bukunya itu.

      ''Saya tidak mau suuzan. Ini kan bulan puasa. Saya tidak mau mengatakan 
sesuatu yang bisa menjadi fitnah bagi orang lain,'' ujarnya dengan gaya khas 
yang tenang. 

      Tentang keseluruhan isi buku Habibie tersebut, Wiranto menyatakan, benar 
atau tidaknya isi buku tersebut sangat bergantung pada persepsi pembaca. ''Saya 
menghormati Pak Habibie. Dia berhak menulis kebenaran menurut versinya,'' 
katanya. 

      Dia tak mau berkomentar panjang lebar tentang buku itu. Hanya, dirinya 
mengaku sangat menghormati Habibie sebagai salah seorang tokoh reformasi. 
''Kita hormati isi bukunya. Kita lihat, kita baca. Kalau setuju, silakan. Kalau 
tidak, ya tidak apa-apa,'' ungkapnya.

      Menurut dia, tidak ada kebenaran yang absolut. ''Semua bergantung pada 
pandangan masing-masing. Benar bagi kita belum tentu benar bagi orang lain. 
Benar bagi orang lain belum tentu benar di mata hukum. Yang penting, kebenaran 
itu sudah mengacu pada suatu konstitusi dan peraturan yang berlaku,'' jelasnya.

      Lagi-lagi dia berargumen, setiap orang mempunyai pandangan berbeda 
melihat suatu masalah. ''Kalau perbedaan itu diterjemahkan dan dicari yang 
paling benar, tidak akan pernah ketemu,'' tegasnya.

      Mantan jenderal yang belakangan sulit dicari terkait dengan penerbitan 
buku Habibie tersebut menganalogikan perbedaan pendapat itu dengan buku yang 
pernah dia tulis pada 2003. Dalam buku yang berjudul Bersaksi di Tengah Badai, 
Wiranto menggambarkan hal yang dilihat, didengar, dan dirasakannya selama 
menjalani proses reformasi. Maksudnya, yang dia alami belum tentu sama dengan 
yang dialami orang lain.

      Dia menyarankan menyelesaikan masalah lain seperti lumpur Lapindo, 
perekonomian yang belum membaik, serta pengangguran. ''Banyak masalah bangsa 
yang lebih rumit untuk dicari solusinya," ungkapnya.

       Buku berjudul Bersaksi di Tengah Badai, Catatan Wiranto tidak 
menyinggung soal pergerakan pasukan, apalagi kudeta. Tapi, dalam buku setebal 
350 halaman yang diterbitkan Institute for Democracy of Indonesia pada April 
2003 itu, Wiranto memang mengakui adanya pertemuan dengan Presiden Habibie 
tanggal 21 Mei 98 sebanyak dua kali, siang dan malam.

      Pertemuan itu bertempat di Kompleks Pejabat Negara Patra Kuningan. 
Wiranto menuturkan bahwa pada pagi presiden saat itu mengatakan untuk memecah 
kembali jabatan Menhankam dengan Pangab karena ini menyalahi UU (halaman 93). 
Selanjutnya, Habibie menawarkan jabatan Menhan, sedangkan Pangab untuk perwira 
lain. Namun, saat itu Wiranto meminta hal itu ditunda.

      Lalu, pada malamnya, lanjut Wiranto, Habibie memang kembali memanggil 
dirinya. Rupanya, setelah menimbang secara seksama, Habibie memutuskan jabatan 
itu tetap disatukan dan meminta Wiranto tetap dalam posisi tersebut. Wiranto 
juga mengatakan, selain dirinya, di rumah tersebut para calon menteri 
koordinator juga tengah menyusun komposisi kabinet baru. 

      Tapi, buku itu memang menceritakan persoalan rivalitas Wiranto dengan 
Prabowo yang dimuat di halaman 24-30. Dia membenarkan bahwa isu rivalitas 
antara dirinya dan Prabowo adalah salah satu isu yang santer beredar di 
kalangan masyarakat saat itu. 

      Dia sendiri heran mengapa sampai ada isu semacam itu. Isu itu berbunyi, 
dia cemburu dan berusaha mengganjal, bahkan ingin menghabisi karir Prabowo. 
"Itu sama sekali tidak pernah terpikir di benak saya, apalagi sampai saya 
lakukan," tulisnya. Itu mengada-ada. 

      Wiranto merasa lebih senior. Dia angkatan 1968, sedangkan Prabowo 
angkatan 1974, lagipula dia sudah berada di posisi puncak saat itu. Karena itu, 
tak perlu ada rivalitas.

      Tapi, Wiranto menduga munculnya isu rivalitas itu karena dirinya memang 
tidak pernah berkunjung ke rumah Prabowo (Jalan Cendana 3 atau 5) secara khusus 
sebagaimana dilakukan perwira lain, meskipun mereka lebih senior. 

      Penyebab kedua, waktu Wiranto menjabat KSAD, dirinya mengadakan proses 
persidangan Wanjakti untuk mengganti Danjen Kopassus setelah ditinggal Prabowo. 
Diputuskan Mayjen Suwisma. Namun, keputusan itu sempat gagal saat Prabowo 
menghadap Soeharto dan memberikan masukan lain, yakni Mayjen Muchdi PR. 

      "Tentu saja saya sangat kecewa dengan langkah ini dan langsung 
menjelaskan kepada Pak Harto,'' tambah Wiranto. Pak Harto sebenarnya sudah 
setuju, kata Wiranto, tapi terlambat karena Jenderal Feisal Tanjung yang saat 
itu menjabat Pangab menandatangani pengangkatan Mayjen Muchdi PR.

      Kemungkinan lain, menurut Wiranto, saat menjadi Pangab, dirinya juga 
tidak menyetujui beberapa tindakan dan pemikiran Prabowo yang dianggap tidak 
urgen dan rasional. Misalnya, membangun skuadron helikopter pada Kopassus 
ataupun pembelian 72 tank bekas dari Jordania.

      Tapi, tak selamanya Wiranto tidak setuju dengan Prabowo. Pada waktu 
menantu Presiden Soeharto itu mendapat promosi bintang tiga menjadi 
Pangkostrad, Wiranto mengatakan, "Saya setuju pengusulan Prabowo.''

      Soal pemecatan Prabowo, menurut Wiranto, itu telah melewati persidangan 
Dewan Kehormatan Perwira sehubungan keterlibatannya dengan kasus penculikan 
aktivis. "Jadi, ini bukan karena persaingan dengan saya." (nue/naz/jpnn 


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke