http://www.tempointeraktif.com/hg/mbmtempo/free/opini.html

Edisi. 31/XXXV/25 September - 01 Oktober 2006 

      Bintang Baru Superkaya Indonesia 


DULU, pada zaman Orde Baru, setiap kali majalah Forbes menerbitkan daftar 
manusia terkaya dunia, dan ada warga negara Indonesia di dalamnya, dia menjadi 
buah mulut perbincangan orang ramai. Data yang dilansir majalah yang terbit di 
New York, Amerika Serikat, sejak 1917 itu, diyakini benar adanya. Dan itulah 
sebuah ironi: di negeri yang kebanyakan rakyatnya miskin, hidup para superkaya 
kelas dunia.


Tak ada kritik yang berarti ketika itu. Media massa hidup dalam kontrol penuh 
Orde Baru. Akibatnya, yang tumbuh subur adalah bisik-bisik, olok-olok, dan 
prasangka: bahwa harta mereka mungkin berasal dari korupsi, atau kolusi dengan 
penguasa, atau hasil menikmati fasilitas istimewa Istana. 


Barangkali munculnya sejumlah konglomerat superkaya itu memang strategi 
Soeharto dan Orde Baru. Sejumlah pengusaha terpilih diguyur fasilitas sangat 
istimewa agar menjadi raksasa bisnis yang kuat. Selanjutnya, para raksasa itu 
diharapkan menghela gerbong ekonomi negeri, menghasilkan produk domestik yang 
cukup besar demi meraih target-target pertumbuhan ekonomi. Bagaimana dengan 
pemerataan? Setelah sang raksasa menjadi besar, mereka dipaksa menjadi 
bapak-angkat usaha kecil, menengah, dan koperasi. 


Kita tahu strategi Orde Baru ini gagal. Yang tercipta bukan penghela gerbong 
ekonomi yang kuat dan andal, melainkan konglomerat manja yang hidup menetek di 
ketiak pemerintah. Mereka parasit keropos yang tak punya daya saing di luar 
negerinya. Kolusi yang mereka bina dengan penguasa melahirkan ekonomi biaya 
tinggi, juga munculnya pemain "karbitan": anak-anak pejabat di panggung bisnis 
besar. Ketimpangan sosial menjadi penyakit yang belum bisa diobati.


Ketika krisis ekonomi 1997 datang, konglomerat ini bertumbangan. Jangankan 
menolong rakyat keluar dari krisis, mereka justru jadi beban negara dengan 
mega-utang macetnya. Anggaran belanja negara, yang seharusnya bisa lebih banyak 
dipakai membiayai proyek rakyat miskin, harus dipotong sekitar Rp 40 triliun 
setiap tahun untuk menyehatkan bisnis perbankan yang oleng akibat kredit macet 
para konglomerat itu. Pemotongan anggaran belanja negara ini belum akan 
berakhir dalam jangka pendek, walau Orde Baru sudah delapan tahun ambruk.


Sayangnya, pengorbanan negara dan rakyat yang begitu besar tidak banyak 
mengubah peta bisnis Indonesia. Deretan 40 manusia terkaya Indonesia yang 
dilansir Forbes Asia, dua pekan lalu, menunjukkan itu. Pengusaha superkaya yang 
langganan masuk daftar Forbes masih juga pemain-pemain lama, walaupun beberapa 
mengalami penyusutan aset yang cukup besar.


Sebagian dari mereka memang bebas utang, seperti para "raja rokok kretek" 
pemilik Gudang Garam atau Djarum. Tapi masih ada yang punya utang besar pada 
negara. Misalnya Sukanto Tanoto, peringkat pertama Forbes Asia tahun ini, yang 
masih punya utang lebih dari Rp 5 triliun di bank negara. Kurang elok rasanya 
mendengar Sukanto Tanoto mendahulukan pengembangan bisnisnya di mancanegara 
ketimbang menyelesaikan utang di negeri ini. Tentu soal utang ini sudah masuk 
kalkulasi Forbes ketika menghitung harta Sukanto. Bila utang belum dimasukkan, 
daftar 40 terkaya Indonesia itu perlu ralat yang cukup signifikan.


Soal utang itu bukan satu-satunya pertanyaaan atas daftar Forbes. Tidak 
tampilnya seorang pun keluarga Soeharto juga perlu dijelaskan. Sulit untuk 
percaya bahwa pengusaha lama seperti Soedarpo Sastrosatomo atau pengusaha media 
cetak Jakob Oetama, yang baru kehilangan hampir separuh saham TV7, ternyata 
lebih kaya ketimbang anak-anak Soeharto yang menguasai beberapa stasiun 
televisi, jalan tol, dan sejumlah usaha lain. 


Toh ada saja kabar baik. Ada bintang-bintang baru datang menyeruak. Eddy 
William Katuari, generasi penerus grup bisnis Wings, yang tidak biasa minta 
fasilitas khusus pemerintah, ditempatkan di peringkat ke-7 dengan kekayaan US$ 
1 miliar. Grup yang mulai dengan sabun colek itu sudah mengirim produknya ke 93 
negara. 


Trihatma Haliman meneruskan bisnis properti Grup Agung Podomoro, yang dirintis 
ayahnya, Anton Haliman, pada 1969. Pengusaha ini punya prinsip unik: berkembang 
dengan modal sendiri, tanpa utang bank.


Ada lagi Arifin Panigoro, pengusaha minyak yang berhasil lolos dari krisis dan 
melunasi utang-utangnya. Medco, dengan sejumlah ladang minyak baru, memberi 
Arifin kekayaan sampai US$ 815 juta.


Mereka berkembang tanpa menyusahkan pemerintah dan rakyat. Justru mereka 
membuka lapangan kerja yang cukup luas. Penting juga disadari, 
pengusaha-pengusaha ini, kecuali Arifin yang pernah aktif di PDI Perjuangan, 
merupakan contoh pengusaha yang memisahkan diri dari aktivitas politik-sesuatu 
yang berpotensi menyeret mereka kepada kolusi dengan penguasa.


Kita perlu lebih banyak pengusaha seperti ini. Pengusaha mandiri yang akan 
menjadi buah bibir masyarakat, bukan buah mulut yang dihujat tanpa henti. n



[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke