Catatan seorang teman:

Kemarin, hari Senin sekitar jam sebelas pagi, saya
terpana pada Breaking News di TV. Telah terjadi
penembakan brutal di sekolah dasar komunitas Amish
di Pennsylvania yang pernah saya ceritakan beberapa
bulan lalu di mailist ini. Saya lihat gedung sekolah dan
lokasinya di Lancaster - Pennsylvania.
Jantung rasanya hampir terlonjak dari rongga dada ini.
Itu adalah sekolahan anak-anak Katie Miller
(anak perempuan almarhum Pak William Harisson
sahabat saya). Tanpa pikir panjang lagi, langsung saya
lari ke tempat persewaan mobil, untuk selanjutnya
tancap gas ke Lancaster.

Sungguh tak terbayangkan, betapa traumanya anak-
anak sekolah yang masih begitu belia dan dari
komunitas Amish yang begitu bersahaja dan
penuh kedamaian, harus menghadapi kebrutalan yang
datang dari sebuah dunia modern. Mereka tidak pernah melihat senjata
api yang begitu mematikan, menyalak (maaf agak sadis) memecahkan
kepala beberapa gadis belia berumur antara 6-13 tahun yang terikat
berderet di depan papan tulis dalam kelas.

Perasaan saya langsung meledak tanpa ampun, ketika akhirnya ketemu
Amos adik laki-laki Katie dan istrinya yang tinggal tak jauh dari
sekolahan tersebut. Perasaan galau yang membludag dan terpendam selama
tiga setengah jam perjalanan ke Lancaster, tumpah begitu saja. Katie
sendiri tidak mau didekati siapapun juga, selain oleh suaminya dan
beberapa detective. Ternyata kedua putrinya, Mary Liz dan Lena ikut
menjadi korban penembakan brutal tersebut dan jiwanya tak tertolong
lagi. Situasi pedesaan Lancaster terasa begitu hening dan beku. Mereka
hanya berbicara secara berbisik-bisik. Untuk sementara semua akses
yang masuk ke lokasi pemukiman masyarakat Amish di tutup bagi para
wisatawan dan masyarakat non Amish.

Saya sendiri menginap di penginapan tadi malam, karena tidak ingin
mengganggu ketenangan keluarga Amos dan Katie yang sedang terkena
musibah. Walaupun sebenarnya Amos meminta saya menginap di rumahnya.
Semalaman saya tidak mampu tidur nyenyak. Emosi saya masih belum juga
mampu menterjemahkan apa yang telah terjadi di sebuah desa yang
sungguh tentram, tanpa pernah terjadi kebrutalan seperti yang baru
saja terjadi.

Satu hal yang sungguh membuat saya terhenyak pagi tadi, ketika kembali
menemui keluarga Amos dan akhirnya juga bisa bertemu dengan Katie dan
suaminya. Dalam perbincangan kami, mereka ternyata begitu tulus, telah
memaafkan kejadian yang merenggut nyawa kedua putri mereka tercinta.

"In forgiveness, there is a healing. Ini semua adalah kemauan Tuhan.
Kami memang sedih. Tapi hidup ini harus terus berjalan." kata Katie
tenang sambil memperhatikan para ibu-ibu yang bekerja di dapur untuk
mempersiapkan makanan dan persiapan upacara misa dan pemakaman kedua
gadis cantik Mary Liz dan Lena.

Ah...sungguh tabah dan tulusnya keluarga Amish ini. Tidak ada
sedikitpun rasa dendam. Semua telah terjadi dan tidak perlu menjadi
luka yang menyalakan api kebencian dan dendam.
"In forgiveness, there is a healing." Sebuah kalimat yang begitu
menyejukkan yang keluar dari lubuk paling dalam seorang Ibu muda yang
telah kehilangan kedua bidadari kesayangannya.
Selamat jalan Mary dan Lena dan adik-adik kecil lainnya yang terpaksa
telah menjadi korban kebrutalan kemarin.

Salam dalam duka,
Tigun - NYC.





Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke