Ulang Tahun Sang Gurita Pencuri Harta Negara !!!

SERIBU TAHUN YANG AKAN DATANG, NAMA SALIM AKAN LEBIH POPULER DAN
LEGENDARIS DIBANDINGKAN CENGHO.

Liem Soei Liong seperti juga CengHo adalah penyebar agama Islam di
Indonesia yang membuat Islam lebih dominant di Indonesia.

Kalo CengHo memungut upeti, sebaliknya Kiyai Salim ini justru memberi
upeti kepada sang Kaisar Jawa embah Suharto.

Kalo peninggalan2 CengHo di Singapore hanya Kelenteng Sam Po Kong,
maka peninggalan Kiayi Salim ini berbagai Supermarket dan business
keuangan yang bertebaran mulai dari Indonesia, Singapore, Malaysia,
Thailand, VietNam, Hongkong, hingga keseluruh province China.

Nanti kuburannya ada disetiap negara meskipun isinya kosong, mungkin
kuburan yang ada isinya akan ditempatkan di Fujian tempat kelahirnanya.

Kebencian dan Rasa Persaudaraan sebenarnya hanyalah terletak dari
tulisan yang ditinggalkannya, atau bisa direkayasa dimasa mendatang
oleh penguasa yang memiliki vested interestnya sendiri.  Namun kita
yang hidup dizamannya, tentu memiliki lebih banyak objektivitasnya
katimbang seribu tahun yang akan datang.  Demikian halnya dengan
CengHo yang merupakan top secret BIN raja Yunglo bisa direkayasa
menjadi penyebar agama Islam di Indonesia, dan bisa meletupkan
pemberontakan Islam di China, dan juga bisa mempererat hubungan China
dengan negara2 Islam di Timur Tengah.  Inilah tokoh2 yang perlu terus
dihidupkan dalam memory masyarakat yang bisa mengubah sejarah bangsanya.



[AFU] Fwd: Pesta untuk Sang Kaisar
Laporan Hendy
Thu, 17 Nov 2005 00:23:04-0800
Sophie TJ <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Pesta untuk Sang Kaisar

Liem Sioe Liong menggelar pesta ulang tahunnya yang ke-90 di
Singapura.  Wartawan Tempo Metta Darmasaputra menyusup dalam resepsi
berbiaya Rp 20 miliar itu.    

* * *
     
TENGGELAM di antara kerumunan perempuan harum dan lelaki bertuksedo,
saya terpaksa melakukan pekerjaan menyebalkan itu. Beberapa orang
datang dan bertanya di mana toilet. Please, over there, Sir, kata saya
berulang-ulang. Posisi saya di ruangan yang megah itu memang tak
menguntungkan: di pojok dan berdiri kaku empat jam penuh tanpa sedikit
pun ada kesempatan duduk. Saya merasa bagai Santa Klaus di toko mainan
anak-anak pada sebuah malam Natal tersenyum, berusaha gembira meski
sesungguhnya dipaksakan.
     
Malam itu, Sabtu dua pekan lalu, saya memang tidak berada di toko
mainan anak-anak. Saya tercagak di The Island BallroOom Hotel
Shangri-La Singapura. Bagian depan ballroom disulap menjadi taman
istana yang dipenuhi lukisan dekoratif bergambar deretan pohon bambu.
Panggung berarsitektur istana Kaisar Cina dinasti Ming dan Ching di
Kota Terlarang (Forbidden City) dihadirkan di satu sisi dalam ruangan.
     
Malam itu terasa istimewa: Liem Sioe Liong, mantan taipan nomor wahid
Indonesia kelahiran Fujian, Cina, berulang tahun yang ke-90. Buat
orang Cina, sembilan merupakan simbol peruntungan, karena merupakan
angka terbesar dalam deret desimal. Penghitungan hari ulang tahun Liem
didasarkan pada penanggalan kalender Cina. Dalam tarikh Masehi, umur
Oom Liem sebetulnya baru 89 tahun. Ia lahir pada 16 Juli 1916.
     
Di pintu masuk hotel, puluhan wanita cantik berpakaian cheong sam
merah menyala berjejer rapi menyambut lebih dari seribu tamu yang
datang. Sebagian besar konglomerat papan atas Indonesia hadir. Di sana
tampak antara lain Prajogo Pangestu (Grup Barito), Sofjan Wanandi
(Gemala), Mochtar Riady (Lippo), Ciputra, Murdaya Poo beserta istrinya
Siti Hartati Murdaya (Berca), Budi Hartono (Djarum), dan Sukanto
Tanoto (Raja Garuda Mas). Juga datang tiga putri mantan Presiden
Soeharto: Siti Hardijanti Rukmana, Siti Hediati Harijadi, dan Siti
Hutami Endang Adiningsih. Sejumlah mantan pejabat Orde Baru pun tak
ketinggalan. Moerdiono, Harmoko, Fuad Bawazier, dan Akbar Tandjung
termasuk di antaranya. Pesta yang berlangsung dua malam itu? Sabtu dan
Minggu? diperkirakan dihadiri 2.500 undangan dari Indonesia,
Singapura, dan Cina.
     
Semua tamu diterbangkan dari daerah asal dengan Singapore Airlines. Di
Singapura mereka menginap di Shangri-La dan di Hotel Meritus Meridien.
Semua biaya terbang dan menginap ditanggung Oom Liem. Servis serupa
juga pernah diberikan Liem ketika ia merayakan pesta ulang tahun
perkawinan ke-60, April tahun lalu. Pesta kawin emas Liem dan istri di
hotel yang sama pada 1994 ditaksir menghabiskan dana US$ 650 ribu (Rp
6,5 miliar). Pesta ulang tahun Oom Liem ke-90 diperkirakan koran
berbahasa Cina, Lianhe Wanbao, menelan biaya US$ 2 juta (Rp 20 miliar).

* * *
     
BERJUBELNYA tamu penting membuat panitia pesta jauh-jauh hari sudah
mendata ketat nama para tamu. Kartu undangan yang disebar dilengkapi
barcode dan wajib dibawa saat datang untuk dicocokkan dengan data di
komputer panitia. Setelah dipastikan bukan penyusup, para tamu
mendapat cendera mata berupa huruf kanji kuno berlapis emas murni lima
gram. Oleh panitia mereka diantar menuju meja makan sesuai dengan
nomor yang telah ditentukan. Tak kurang dari 120 meja bundar
masing-masing berkapasitas 10 orang disiapkan untuk menjamu para tamu.
     
Saya tak membawa undangan dan karenanya tak begitu yakin bisa masuk ke
pesta itu. Tapi selalu saja ada jalan di saat-saat genting. Dalam
antrean, menjelang pos pemeriksaan, saya terpikir untuk mencari toilet
yang terletak di bagian dalam ballroom. Beruntung, petugas malam itu
sangat ramah: mereka mempersilakan saya ke kamar kecil meski dengan
demikian melewati pos sekuriti.
     
Jadilah saya tamu tak diundang yang menyaksikan pesta megah itu dari
ruang sempit di sekitar pintu keluar ruang utama. Sesekali saya
mendekat panggung utama untuk menyaksikan beberapa detail untuk
kemudian menyingkir kembali ke pojok itu. Di sana bergerombol pelayan
hotel dan tujuh juru foto dari Moreno Studio yang khusus diterbangkan
dari Jakarta.
     
* * *
     
LIMA belas menit menjelang pukul delapan malam, perhelatan dimulai.
Suara tambur menderu. Pintu utama ballroom dibuka. Liem Sioe Liong
masuk dipapah oleh beberapa kerabatnya. Lagu "Nan Erl Dang Zi Qiang",
sound track film Kung Fu Master, segera menggema. Dimainkan oleh aktor
Jet Li, Kung Fu Master bercerita tentang pahlawan legendaris rakyat
Cina, Wong Fei Hung. Lebih dari seribu tamu yang hadir malam itu
sontak berdiri memberikan hormat kepada Liem Sang Kaisar bershio naga.
Tepuk tangan membahana. Dipandu oleh sang MC dari Indonesia juga Erwin
Parengkuan.
     
Ditemani istrinya, Lie Shu Zen, Liem beringsut naik ke panggung dengan
bantuan sebilah papan hidrolik. Keempat anaknya Albert, Andree,
Anthoni, dan Mira berdiri di sampingnya. Dengan jas hitam berdasi
kupu-kupu warna merah marun, ia tampak sehat meski matanya kerap
menatap kosong. Alunan musik dari Keat Hong Chinese Orchestra
membahana. Bait-bait lagu Nan Erl bercerita tentang kesejatian seorang
laki-laki.

Hanya sedikit kata yang disampaikan Liem dalam bahasa Mandarin saat
memberikan sambutan. Sebentar kemudian, ia mengajak para tamu
bersulang. Gaaan beei..., terdengar aba-aba panjang. Gan bei adalah
bahasa Cina untuk bersulang. Para tamu pun menyambut hangat ajakan
itu. Acara kemudian dilanjutkan dengan santap malam.
     
Artis serba bisa asal Singapura, Kit Chan, khusus didatangkan dari
Amerika Serikat negeri tempatnya kini tinggal untuk menghibur para
tamu. Para undangan bernostalgia dengan beberapa lagu lama yang pernah
dipopulerkan Teresa Teng, penyanyi top yang tak asing bagi warga
keturunan Cina di seluruh dunia.
     
Selain makanan dan musik, para tamu juga disuguhi film dokumenter
tentang kehidupan Liem melalui enam layar lebar yang terpampang di dua
sisi ruangan.
     
Dalam film itu dikisahkan bagaimana Liem muda, saat itu 21 tahun,
memulai kariernya sebagai pembuat krupuk dan tahu di Kudus, Jawa
Tengah, setibanya ia dari tanah leluhurnya, Tiongkok.
     
Di kota itulah, Liem bertemu dengan gadis asal Lasem, Jawa Tengah, Lie
Shu Zen, yang kini jadi istrinya. Menurut Mira Salim, putri Liem,
ibunya sempat tak diizinkan orang tuanya untuk dinikahi Liem. Mereka
khawatir, anaknya dibawa ke Tiongkok, katanya. Tapi Liem berhasil
meyakinkan calon mertuanya. Pesta perkawinan selama 12 hari pun
dilangsungkan.
     
Liem kemudian hijrah ke Jakarta dan bisnisnya dari tahun ke tahun
menggurita. Tak hanya di Indonesia, sayap bisnisnya melebar hingga
Arab Saudi dan Nigeria. Ia pernah masuk dalam jajaran 100 orang
terkaya versi majalah Fortune. Liem pernah menerima penghargaan dari
pemerintah Spanyol. Ia juga pernah dinobatkan oleh Wharton School,
University of Pennsylvania, AS, sebagai legenda dari Asia Tenggara.
     
Tapi terpaan badai krisis ekonomi 1997 membuat bisnisnya ringsek. Ia
berutang kepada negara hingga Rp 52 triliun. Akibatnya, sejumlah aset
emasnya, termasuk Bank Central Asia, harus lepas dari genggaman. Meski
begitu, kerajaan bisnis Liem sepertinya tak pernah benar-benar pudar.
Ia tetap menjadi pusat magnet di jagat bisnis Indonesia. Indofood dan
Bogasari, dua dari sekian perusahaan Liem yang tersisa, tetap merajai
bisnis makanan di Indonesia. Bisik-bisik menyebutkan, Liem sebenarnya
masih punya banyak bisnis di Indonesia meski namanya secara formal tak
tercatat sebagai pemilik.
     
Buat masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia, menurut Sofjan
Wanandi, jasa Oom Liem tak bisa dibilang kecil. Dia pernah membiayai
500 ribu warga Tionghoa mendapatkan kewarganegaraan Indonesia semasa
Soeharto dulu, ujarnya.

Wibawa Liem sebagai pebisnis memang belum tertandingi.
Itu sebabnya para taipan dan tamu undangan lainnya rela antre satu jam
untuk bisa bersalaman dengan Oom Liem sebelum meninggalkan pesta yang
berakhir pukul 11 malam itu. Liem menjabat erat satu per satu tamunya
dengan ramah. Sesekali Liem tertegun jika lupa siapa orang yang ia
hadapi. Anthoni Salim, anaknya, lalu membisikkan nama tamu yang tak
diingat ayahnya.
     
Liem tampak menikmati pesta itu. Meski kini bermukim di Singapura
rumahnya di Jakarta dibakar massa pada 1998 ia tak pernah kehilangan
pengaruh. Tamu membludak. Orang-orang penting tak melupakannya. Tiga
putri Soeharto, menjelang pesta usai, mendatangi Liem dengan khidmat.
Mereka menatap, menjabat tangan lelaki tua itu, lalu tersenyum mesra.
Liem membalas jabatan itu. Ia tersenyum, memandang ketiganya satu per
satu seperti mengingat sebuah masa keemasan yang baru beberapa tahun
silam ia tinggalkan.

To get more information about this community, please visit to
http://www.AlumniFisipUnpar.org
To get more information about this community, please visit to
http://www.AlumniFisipUnpar.org






Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke