SAAT TERINDAH DALAM HIDUP NABILA

by: Fajar K

Dua ledakan besar telah terjadi di kawasan yang terkenal akan 
keindahan alamnya itu.  Maut dan kehancuran benar-benar berpesta 
pora di malam kelam itu.  Gedung-gedung porak-poranda, kaca-kaca 
jendela pecah berhamburan, tubuh-tubuh manusia bergelimpangan di 
mana-mana. Mereka yang selamat berlarian tak tentu arah dalam 
kekalutan.  Suara-suara teriakan dan ratap-tangis memenuhi udara 
malam yang tercemar dengan asap pekat yang menyesakkan napas.

Di antara tubuh-tubuh yang terkapar di tanah, terdapat sesosok 
perempuan muda yang tergeletak diam.  Cairan berwarna merah terus-
menerus mengucur deras dari raganya yang terkoyak hebat.  Beberapa 
orang memberanikan diri mendekatinya, memeriksa keadaan jasmaninya.  
Mereka mendapati bahwa ia masih bernapas tetapi sungguh terasa berat 
dan terputus-putus.

"Ia sekarat!"  Seseorang berkomentar.

Wanita muda itu memang masih hidup, namun ingatan dan kesadarannya 
ada pada waktu dan tempat yang lain.

***

Nabila tak akan melupakan hari di mana ia telah menentukan sendiri 
pilihan hidupnya.  Saat bersejarah di mana ia telah mempunyai 
keberanian untuk menyatakan pandangan hidupnya, nilai-nilai yang 
diyakininya benar.

Hari itu, Fauzi seperti biasa mengomelinya, selalu mengeluhkan 
betapa wanita yang telah dinikahinya sejak lima tahun yang lalu 
tidak pernah melakukan segala kewajibannya dengan baik; tidak pandai 
memasak, tidak becus membersihkan dan merapikan rumah, tidak bisa 
diajak mengobrol dengan ayah ibunya, dan yang paling tidak bisa 
diterimanya: Nabila selalu bersikap dingin pada suaminya.  Hal 
terakhir inilah membuat pria itu lantas menyimpulkan bahwa wanita 
itu adalah sumber utama ketidakbahagiaannya.  Ia menikahi Nabila 
karena percaya bahwa perempuan itu akan dapat memberinya kegembiraan 
hidup dan keturunan.  Namun setelah sekian lama, kini terbukti bahwa 
keyakinannya itu salah.

Namun kali ini, tidak seperti biasanya, Nabila tidak diam dan 
menunduk saja mendengarkan segala sumpah-serapah yang keluar dari 
mulutnya.  Perempuan yang selama ini hanya menanggapi segala 
perlakuannya dalam diam, sekarang berani membalasnya dengan 
mengeluarkan kata-kata yang tidak kalah pedasnya.  Hal ini membuat 
Fauzi terkejut dan bertanya-tanya apa gerangan yang membuat istrinya 
begitu berani terhadapnya sekarang.

"Bukankah kita bisa berbicara baik-baik kalau memang ada masalah?"  
Fauzi melunakkan suaranya, berharap Nadia mau berbicara baik-baik 
dengannya.

"Aku sudah cukup banyak berkorban!"  Nabila berkata 
dingin.  "Kuharap kau juga mau melakukan hal yang sama buatku!  Aku 
mengabaikan perasaanku demi kebahagiaan orang tuaku.  Sekarang cita-
cita mereka sudah terlaksana, demikian pula harapanmu.  Mengapa 
kemarin malam kau berencana mengambil istri lagi?"

Untuk sesaat mereka berdua terdiam, menenggelamkan diri dalam 
pemikiran masing-masing, sebelum akhirnya Nabila melanjutkan, "Jika 
aku menikah dengan Wayan, aku yakin dia tidak akan melecehkanku 
seperti yang kau lakukan terhadapku sekarang!"

"I Wayan Asmara!"  Tubuh Fauzi bergetar ketika menyebutkan nama 
itu.  Ya, itu memang bukanlah sebuah rahasia.  Waktu mereka baru 
menikah, betapa seringnya Nabila menyebut-nyebut nama itu dan 
menceritakan saat-saat ia dan pria itu berdua berkelana memadu kasih 
mengelilingi segala penjuru pulau Dewata.  Maka ketika api cemburu 
membakar hatinya, menghardiklah ia kepada istrinya agar tidak 
menyebut-nyebut nama itu lagi.  Sejak saat itulah hubungan mereka 
merenggang dan menegang.

Nabila mengangguk.  Wayan memang tidak pernah melakukan hal-hal yang 
menjadi kewajiban agama mereka.  Tapi ia selalu ramah dan baik pada 
setiap orang. Ia tak pernah berprasangka jelek terhadap orang lain.  
Namun Wayan tidak mau memenuhi permintaan orangtuanya untuk masuk 
Islam agar bisa menikah dengan Nabila  dan karenanya mereka terpaksa 
harus berpisah. Nabila sempat merasa marah pemuda Bali itu,  ia maki 
lelaki itu sepuasnya, ia mencoba mengusir bayangan Wayan dari 
benaknya.  Tapi semakin intens dilakukannya, batin Nabila semakin 
terasa tersiksa, perasaan gadis itu sendirilah yang semakin tidak 
enak.  

"Aku telah mengkhianati diriku sendiri dengan selalu berusaha 
menyangkal bahwa aku telah jatuh hati kepadanya untuk … sepanjang 
hidupku!"  Nabila memandang Fauzi dengan tajam.

Masya Allah!  Mengapa istrinya mempunyai pemikiran seperti itu?  
Apakah selama ini dia sebagai seorang suami tidak bisa membimbing 
istrinya secara Islami?  Bagaimana bisa istrinya lebih menyukai 
makhluk penyembah berhala daripada dirinya?

"Nabila, dengarlah!"  Fauzi berusaha keras menahan perasaan yang 
bergejolak di dadanya.  "Ingatlah Allah SWT sudah melarang muslimah 
untuk menikah dengan laki-laki kafir!  Jika dia benar-benar 
mencintainya, mengapa dia tidak mau masuk Islam?  Bagaimanapun juga 
dia sudah diberi kesempatan untuk mengenal Islam, tapi dia malah 
menolak!"  

Nabila menggelengkan kepala.  "Itu hak Wayan untuk menerima atau 
menolaknya!  Kita tidak bisa memaksakan agama kita terhadap orang 
lain jika kita tidak suka orang lain mendesakkan kepercayaannya pada 
kita!  Mengapa ajaran Islam itu begitu keji memisahkan orang-orang 
yang saling mencintai?  Kadang pula aku bertanya-tanya sendiri 
apakah benar tindakan muslimin yang senantiasa harus mencurigai dan 
membenci manusia yang tidak sepaham dengan mereka.

Fauzi dapat merasakan ada sesuatu yang lebih berbahaya dari sekadar 
perbedaan pendapat belaka.  Istrinya sekarang telah telah lancang 
menentang agama!  Perongrongan tersebut tidak bisa dibiarkan terus-
menerus terjadi!  Dan Fauzi percaya bahwa inilah saatnya untuk 
menunjukkan kekuasaannya pada sang istri, untuk mengembalikannya ke 
jalan yang benar.

Telapak tangan Fauzi dengan cepat dan bertenaga penuh menyambar 
wajah perempuan yang selama ini menemaninya tidur.  Nabila yang 
tidak menyangka akan mendapatkan tamparan sekeras itu segera saja 
terpelanting jatuh ke lantai marmer yang keras dan dingin.  
Pandangannya berkunang-kunang dan pipinya terasa panas, namun hal 
itu tidak membuat hatinya menjadi gentar.  Dengan terhuyung-huyung, 
dia bangkit berdiri, mengumpulkan segenap keberanian dan semangatnya.

"Lebih baik aku hidup sendiri daripada hidup dengan iblis seperti 
engkau!"  Nabila berteriak nyaring, suaranya menggelegar memenuhi 
seisi rumah.

***

"Nabila … Nabila …"

Samar-samar dia melihat beberapa sosok tubuh merubunginya.  Sebagian 
besar adalah wajah-wajah asing, suara-suara asing berlogat Bali … 
tapi dia mengenali betul suara yang itu.  Itu Wayan! Ya, pria yang 
sebenarnya sangat ia dambakan selama ini.  Sekarang ada di dekatnya, 
berjongkok di sampingnya!'

"Wayan, kaukah itu …?"  Nabila tergagap.  

Setelah bercerai dengan suaminya ia segera menghubungi Wayan dan 
mereka berjanji akan bertemu di depan Sari Club Sanur pada malam 
itu, malam jahanam tersebut.

"Jangan takut, Nabila, kita … akan segera ke rumah sakit …"  Suara 
Wayan terdengar lembut di telinganya.  "Kau pasti akan … selamat!"

Nabila sendiri dapat merasakan darah terus mengalir deras dari tubuh 
dan wajahnya.  Ia merasa dirinya semakin lama semakin lemah.  Ia 
tahu bahwa sebentar lagi dirinya harus menghadapi takdir yang tak 
dapat dielakkan oleh setiap manusia.

Namun demikian, Nabila merasa kebahagiaan menyelimuti kalbunya. Ia 
dapat merasakan kehangatan cinta yang tulus terpancar dari Wayan.  
Sesuatu yang sangat didambakannya selama bertahun-tahun ini.

"Tolong … peluk aku … Wayan … "  Suara Nabila terdengar parau.  
Wajahnya begitu pucat dan tubuhnya menggigil kencang.

Wayan memeluknya erat-erat, membiarkan tubuh kekarnya dibanjiri oleh 
darah dan air mata dari wanita yang selama ini sangat dicintainya 
itu.

Perempuan itu kini dapat merasakan bahwa saat itu adalah saat yang 
paling indah dalam hidupnya dan tentu saja ia tidak akan menyia-akan 
detik-detik terakhirnya bersama Wayan.

Nabila tersenyum bahagia dan menutup matanya.


Semarang, 6 Oktober 2006







Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke