sapa bilang agama merusak berpikir logis !!!???

orang beragama bukan berarti tidak punya logika? enak ajah...!
orang beragama punya iman dan logika, but faith is number one and
logika number two.

mangkanya gue lebih kaya dari loe...
karna gue punya iman dan logika, sementara loe itu hanya punya logika
doang.

si jasad.

--- In [email protected], "Hafsah Salim" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Agama Merusak Kemampuan Berpikir Logis !!!
> 
> 
> Berpikir logis bukanlah hal yang susah, namun religious prejudice
> membuat seseorang tidak mungkin bisa berpikir logis.  Religious
> prejudice bukanlah cara berpikir melainkan cara membohongi diri
> sendiri dengan menganggap yang dipercayanya pasti benar sedangkan
> orang lain yang berbeda dengan dirinya harus disalahkan.
> 
> Agama merupakan bagian dari Budaya karena Budaya itu terbentuk oleh
> tradisi2 atau kebiasaan2 dimana salah satu unsurnya adalah Agama. 
> Definisi bahwa agama merupakan bagian kebudayaan sudah merupakan
> definisi yang universal, namun di Indonesia yang dikuasai pemikiran
> ulama justru disangkal mereka menganggap bahwa Agama bukan bagian
> budaya melainkan berdiri sendiri.  Memang kalo merujuk ke masa
> kehidupan Muhammad, tidak dikenal istilah "budaya" yang ada hanyalah
> istilah "Agama".  Dan yang dimaksudkan "Agama" dizaman Muhammad
> hanyalah Agama Islam, agama lainnya tidak dinamakan agama.
> 
> Dibawah ini adalah tulisan seorang peneliti dari Surabaya yang antara
> lain menegaskan bahwa kemampuan berpikir logika dalam mengambil
> keputusan dari semua tingkat kepemimpinan dari bawah hingga keatas
> sangatlah lemahnya.  Sang penulis menyimpulkan cara menggunakan logika
> yang salah besar sekali diakibatkan oleh pengaruh Budaya.  Namun sang
> penulis tidak secara jelas menyatakan bagian mana dari budaya yang
> merusak kemampuan berpikir logis dari bangsa ini.  Hal ini bisa
> dipastikan karena sang peneliti ini juga tidak berani frontal
> menentang cara2 agama yang merusak kemampuan berpikir logis yang
> benar.  Bukan hal yang baru di Indonesia apabila ada tulisan yang
> mengkritik agama akan berakibat fatal terutama kritik2 terhadap agama
> Islam dimana sering berakhir dengan perusakan, pembakaran, dan
> pemerasan uang.  Juga tidak sedikit yang dihukum penjara antara 3-5
> tahun.  Itulah sebabnya cara2 berpikir logis yang benar tidak pernah
> bisa berkembang di Indonesia mulai dari bawah hingga keatas ke
> penguasa yang tertinggi.  Apa yang saya katakan ini bukanlah hal yang
> sesederhana sesuatu yang anda percaya seperti kepada Tuhan ataupun
> Allah.  Lebih parah lagi, seringkali seorang pemimpin mengambil
> keputusan dari hasil konsultasinya dengan seorang ulama atau imam
> mesjid.  Tentu salah kaprah karena seorang pemimpin harus bertanggung
> jawab atas keputusannya, sedangkan tugas ulama sama sekali terlepas
> dari tanggung jawab apa yang dia katakan kepada umatnya.  Profesi
> ulama dan Imam hanyalah berkhotbah dan isi khotbahnya hanya berpusat
> kepada pemenuhan vested interest-nya dengan memanfaatkan pemahaman2
> agamanya.  Artinya, seorang ulama/imam kerjanya hanyalah berdakwah dan
> berkhotbah yang artinya menarik umat pendengarnya se-banyak2nya untuk
> bisa menghasilkan juga sumbangan yang se-banyak2nya, makin dislukai
> khotbahnya, makin banyak umat pendengarnya, maka makin banyak juga
> penghasilannya.  Demikianlah masalah isi khotbah bukan menjadi
> tanggung jawabnya karena pada dasarnya setiap orang hanya bertanggung
> jawab terhadap tindakannya bukan terhadap apa yang dikatakannya
> meskipun kebebasan berbicara dalam hal ini disalah gunakan.
> 
> Salah satu yang paling menonjol cara berpikir ulama yang merusak
> logika adalah: 
> 
> "Bagaimana Logispun keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin, kalo
> tak diperkenankan Allah, maka keputusan itupun sia2 dan gagal"
> 
> Paham ini disadari atau tidak akan melahirkan kemalasan otak untuk
> berlatih berpikir menggunakan logika rumit sehingga keputusan asal2an
> diharapkan berhasil asal rajin shalat sehingga diperkenankan Allah
> untuk berhasil.
> 
> Padahal seharusnya dipahami bahwa keputusan yang gagal diimplementasi
> bukan karena tidak mendapatkan perkenan Allah, melainkan karena
> kesalahan dalam berpikir logis.  Padahal bisa kita buktikan bahwa
> tanpa beragama, tanpa percaya Allah, dan tanpa percaya dewa2, asal
> saja keputusan itu dilaksanakan berdasarkan logika yang benar, tentu
> pelaksanaannya akan berhasil tidak akan gagal.  Sebaliknya,
> bagaimanapun tingginya keimanan anda, bagaimana rajinpun anda
> bershalat, bertapa khusuknyapun anda melaksanakan ibadah anda, kalo
> keputusan yang diambil itu sama sekali tidak logis, maka tak ada yang
> akan pernah berhasil.
> 
> Satu contoh lain yang merusak kemampuan berpikir anak2 adalah bahwa: 
> 
> "semua alat atau produksi apapun yang diciptakan manusia untuk
> membantu pemecahan masalah tidak mungkin bisa lebih sempurna dari
> manusianya sendiri, karena alat ciptaan manusia tidak bisa lebih
> sempurna dari manusia"
> 
> Pemahaman ini memang menjerumuskan pemikiran semua orang, karena kalo
> saya contohkan saja sebuah penggaris yang kita ciptakan untuk membuat
> garis lurus, terbukti garis lurus yang dibuat dengan bantuan penggaris
> akan lebih sempurna dan lebih lurus daripada kita membuat garis tanpa
> penggaris.  Dalam hal ini saja dengan mudahnya kita membuktikan
> bagaimana penggaris yang kita ciptakan bisa berhasil lebih sempurna
> dari kemampuan kita sendiri.  Dalam hal2 lain yang lebih rumit,
> pemahaman religious ini akan menghancurkan semua kemampuan maupun
> semua kemungkinan pengembangan ratio logis dari otak seorang anak
> hingga otak seorang pejabat tertinggi.
> 
> Kepercayaan kepada Tuhan/Allah, menyebabkan si umat serba pasrah dalam
> arti kata tidak memikirkan tanggung jawab pribadi karena semuanya
> sudah diserahkan kepada yang diatas.  Akibatnya, tidak pernah mereka
> mengaku salah karena hal itu sudah menjadi nasib yang sudah
> ditentukan.  Akibatnya tidaklah mengherankan kalo negara terjerumus
> kedalam jurang yang tak ada jalan keluarnya karena agama merupakan hal
> sacral yang tidak boleh disalahkan.  Karena kesalahan Allah bukanlah
> kesalahan melainkan sesuatu rencananya yang diluar akal kita manusia.
> 
> Cepat atau lambat, Indonesia hanya akan bisa berhasil apabila
> melepaskan segala tahyul2 kepercayaan agama yang mengikat cara
> berpikir semua pejabat2nya.  Dalam hal ini, Indonesia harus murni
> menjadi negara sekuler dimana semua umat beragama bersaing
> berpartisipasi membangun negara, bukan sebaliknya menjadi negara
> anti-sekuler dimana hanya satu agama saja yang mendominasi tanpa perlu
> bersaing.  Kegiatan semua agama harus bebas dari campur tangan negara,
> dan negara tidak boleh menggunakan dana pajak yang dikumpulkan dari
> rakyat untuk kegiatan agama manapun juga.  Kegiatan agama harus murni
> berasal dari masing2 umatnya bukan dari pajak negaranya.  Semua
> pemimpin pengambil keputusan harus memiliki standard level pendidikan
> tertentu yang bukan berlatar belakang keagamaan.  Bila sudah memenuhi
> persyaratan tingkat minimal pendidikan formal, tidak salah apabila ada
> pendidikan tambahan misalnya agama, namun pertimbangan untuk sebuah
> jabatan adalah persyaratan tingkat minimal pendidikan formal bukan
> pengetahuan maupun pendidikan agamanya.
> 
> Baiklah kita baca pandangan seorang peneliti dari Surabaya yang tidak
> berani secara blak2an menunjuk Agama sebagai penyebab utamanya:
> 
> > In [EMAIL PROTECTED], audifax - <audivacx@> wrote:
> > BUDAYA BERPIKIR DAN KEBINGUNGAN DALAM PENDIDIKAN
> > Audifax
> > Peneliti di IISA - Surabaya, tinggal di Surabaya
> > LEMAHNYA PENGUASAAN (LOGIKA) PERMASALAHAN
> > Terlepas dari tujuan baik apapun yang mendasari sebuah keputusan, 
> > tetapi tanpa didasari logika penguasaan permasalahan yang benar, 
> > sebuah keputusan tak lebih dari solusi yang muncul dari dasar laut.
> 
> 
> Dalam kenyataanya keputusan atau solusi itu bukan sebenarnya muncul
> dari dasar laut, perumpamaan sang peneliti yang menggunakan istilah
> "dasar laut" bisa diterjemahkan artinya dari keimanan.  Demikianlah
> keputusan harus lahir dari hasil logika yang rasional bukan dari
> keimanan ataupun kepercayaan sipengambil keputusan yang tidak bisa
> dipertanggung jawabkannya.
> 
> 
>  
> > Ironisnya, justru hal semacam itulah yang menjadi budaya berpikir 
> > para pengambil keputusan di negeri ini. Semua permasalahan tidak 
> > dikuasai dengan penguasaan logika yang benar, melainkan secara 
> > reaktif dan parsial. Ini membuat keputusan-keputusan itu tak pernah 
> > bisa menyelesaikan permasalahan, bahkan tak jarang justru 
> > menimbulkan masalah baru.
> 
> 
> 
> Sang peneliti disini juga menggunakan istilah "budaya berpikir" yang
> sebenarnya diartikan cara berpikir agama/ulama.  Dan istilah "reaktif
> dan parsial" dimaksudkan sebagai intuitive ataupun keimanan.  Dengan
> kata lain si peneliti bisa secara blak2an menyatakan sbb:
> 
> "Ironisnya, justru hal semacam itulah yang menjadi pola berpikir ulama
> atau agama yang digunakan oleh para pengambil keputusan dinegeri ini.
>  Semua permasalahan tidak dikuasai dengan penguasaan logika yang
> benar, melainkan secara intuitive keimanan religious.  Ini membuat
> keputusan2 itu tak pernah bisa menyelesaikan permasalahan, bahkan tak
> jarang justeru menimbulkan masalah baru."
> 
> 
> 
> 
> > ..... keputusan mengenai pemberlakuan kurikulum 2006 inipun 
> > merupakan bagian dari budaya berpikir reaktif, parsial dan tak 
> > berdasar logika, yang bermunculan di berbagai ranah kehidupan negeri 
> > ini. 
> 
> 
> 
> 
> Kembali dalam paragraph diatas, sang peneliti menggunakan istilah
> "budaya" untuk agama kepercayaan, dan "reaktive, parsial" untuk
> keimanan, intuitive.  Sehingga kalo saya terjemahkan selengkapnya
> secara to the point akan sbb:
> 
> "....... kurikulum 2006 inipun merupakan bagian dari berpikir cara
> ulama/agama yang hanya berdasarkan keimanan yang intuitive dan tak 
> bisa dipertanggung jawabkan berdasar logika, dan yang bermunculan di
> berbagai ranah kehidupan negeri ini."
> 
> Dalam paragraph selanjutnya dibawah ini sang peneliti juga menyindir
> moral agama yang merusak logika sehingga mengambil keputusan yang sama
> sekali merusak kehidupan masyarakatnya dimana goal yang diinginkan
> tidak bisa dicapai malah sebaliknya permasalahan jadi bertambah:
> 
> 
> 
> > Simak saja cara penyelesaian lumpur Lapindo yang simpang siur dan 
> > penuh perdebatan tanpa solusi nyata. Perhatikan pula cara 
> > penggusuran pedagang Kaki Lima yang justru berpotensi menambah 
> > jumlah pengemis dan pelaku kriminal. Cermati pula bagaimana 
> > pelarangan lokalisasi dibuka selama bulan puasa justru membuat PSK 
> > turun bertebaran di jalan2, karena mereka tak menyadari "logika" 
> > bahwa bulan puasa justru merupakan saat menjelang Lebaran dimana 
> > mereka mesti pulang dan membawa hasil bagi keluarga di kampung. 
> 
>  
> 
> Sang peneliti memperlihatkan bagaimana penggusuran pedagang kaki lima
> malah menambah masalah padahal munculnya kaki lima akibat kegagalan
> sipengambil keputusan dalam membuka lapangan kerja.  Namun lapangan
> kerja tidak mampu dibuka malah kaki lima yang digusur, logis kalo
> pengemis dan kriminal meningkat.  Dilain pihak hal yang sama dengan
> pelacur, dimana atas dasar melindungi keimanan agama dilakukan
> pelarangan pelacuran dilokalisasi, sehingga menambah buruk situasi
> dimana mereka bertebaran di-jalan2 karena mereka juga dipaksa untuk
> membawa hasil jerih payahnya untuk membahagiakan keluarganya yang
> ditinggal di kampung.
> 
> 
> 
> 
> 
> > LEMAHNYA LOGIKA DAN HASIL
> > Kita bisa melihat: seberapa banyak CBSA mampu menghasilkan 
> > siswa-siswa yang aktif?, atau bagaimana logikanya KBK bisa dikatakan 
> > mampu menghasilkan insan yang menguasai basis kompetensi tertentu?. 
> > Semua tidak jelas.
> >    
> 
> 
> 
> Dalam paragraph diatas, sang peneliti menyatakan bahwa tujuan CBSA
> untuk menghasilkan insan yang menguasai basis kompetensi tertentu
> tidak jelas.
> 
> Seharusnya sang peneliti berani tegas untuk mengganti kata2 tidak
> jelas dengan gagal:
> 
> "....... atau bagaimana logikanya KBK bisa dikatakan mampu
> menghasilkan insan yang menguasai basis kompetensi tertentu?. Semua
> gagal."
> 
> 
> 
> > Oleh karenanya, sebuah sistem pendidikan tak bisa dimunculkan dari 
> > logika2 yang turun dari langit alias tak berdasar premis2 yang kuat. 
> > direfleksikan bagi siapa saja yang berkecimpung di dunia pendidikan. 
> 
> 
> Dalam paragraph diatas ini, sang peneliti kembali menggunakan istilah
> "turun dari langit" untuk menyindir tentang Tuhan/Allah yang tak
> berdasar premis2.  Sehingga kalo kita mau jujur to the point untuk
> mempertegas permasalahan yang ingin ditonjolkan sang peneliti maka
> kalimatnya akan sbb:
> 
> 
> "O......, sebuah sistem pendidikan tak bisa dimunculkan dari logika2
> yang turun dari Allah yang berdasar keimanan/kepercayaan." 
> 
> 
> 
> 
> > Jika mereka yang berada pada hirarki pengambil keputusan saja tak 
> > bisa memberi teladan bagaimana mengambil keputusan berdasar logika 
> > yang benar, bagaimana dengan hirarki di bawahnya?.[] 
> 
> 
> 
> Dalam paragraph diatas, sang peneliti menyatakan bahwa kalo pejabat
> teratas saja berpikir tanpa logika hanya berlandaskan keimanannya,
> maka keputusan2 yang dilakukan oleh pelaksana2 dibawahnya akan lebih
> religious magis yang penuh dengan doa dan mantera2 dalam mengejar
> keberhasilannya.  Tentu tidak pernah akan berhasil jadinya dan
> kesemuanya ini dikembalikan kepada Allah yang dianggapnya sebagai
> penentu yang diluar kekuasaan kita manusia untuk mengubahnya.
> 
> Ny. Muslim binti Muskitawati.
>





Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke