http://www.indomedia.com/poskup/2006/10/18/edisi18/opini.htm
Mobil Oleh Kanis Pen, Pr * PLATO - Si Lebar, filsuf besar dalam sejarah Filsafat Yunani yang sering dilukis sebagai orangtua dengan janggut panjang dan mata melotot itu pernah menulis sebuah cerita kesohor dalam bukunya Republik, Alegori gua. Ada sejumlah manusia yang berada dalam sebuah rumah yang menyerupai sebuah gua. Gua ini mempunyai sebuah lorong kecil menghadap ke arah cahaya. Di dalam gua ini sejumlah manusia terkurung dan diborgol sejak kelahirannya, sehingga mereka hanya duduk di tempatnya, tanpa mengenal sesuatu yang lain selain apa yang dipantulkan cahaya pada dinding gua itu. Mereka duduk membelakangi gang cahaya itu. Cahaya mereka peroleh dari nyala api yang sedang menyala di luar gua, agak jauh di belakang mereka. Antara api, sumber cahaya itu, dan 'orang-orang tawanan' ini ada jalan. Dekat jalan ada sebuah tembok. Orang-orang sering lalu-lalang melalui jalan itu sambil bercerita dan bayangan mereka terpantul pada dinding gua di mana 'orang-orang tawanan' itu selalu memandang. Bayang-bayang itu begitu terang. Nyata. Ini realitas indrawi yang berhasil ditangkap oleh 'orang-orang tawanan' ini. Mustahil untuk mengharapkan bahwa satu di antara mereka akan angkat bicara dan mengatakan bahwa apa yang ada di depan mereka sekarang hanya sebuah bayangan. Hanya sebuah bayangan dan bukan realitas sesungguhnya. Segala usaha untuk meyakinkan yang lain adalah omong kosong belaka. Namun, suatu hari mujizat itu benar-benar terjadi. Salah satu dari 'orang-orang tawanan' itu terlepas dari borgol 'realitas gua' yang selama ini mengungkung mereka. Ia mulai merangkak perlahan melewati lorong kecil gua itu. Sepelempar batu jaraknya. Tak terbilang sulit memang, hanya, terlalu lama mereka didera oleh indra mereka. Silau. Ia coba mengakrabi situasi dan mulai melihat kenyataan yang sesungguhnya. Orang-orang berjalan lalu-lalang melalui lorong kecil dan menjunjung barang-barang bawaan mereka sambil bercerita. Ia segera kembali pada kawan-kawannya dan menceritakan dengan bangga 'pencerahan' ini. Sulit dipercaya bahwa kawan-kawannya akan segera bertobat dari dogmatisme masa lalu dan segera mempercayai 'mimpi-mimpi'-nya di luar sana. Kalaupun ia nekat membuka gembok borgol yang telah lama mengikat mereka dalam keterpasungan kegelapan gua itu niscaya teman-temannya akan tetap diam bahkan tak mau menoleh ke belakang sekalipun itu sangat mungkin. Lorong cahaya di belakang mereka adalah sebuah mimpi. Kalau dia tetap memaksa, dramaini akan berakhir tragis. Niscaya ia akan dibunuh. Sisi lain alegori gua berkisah tentang bagaimana "Si terlepas" ciptaan Plato itu kini sedang berhadapan dengan suara mayoritas dan status quo yang dalam sejarahnya sering identik dengan kebenaran. Ia sedang berada pada posisi lemah yang serta-merta menjatuhkannya setiap kali dia berani membuat keputusan. Ending manis alegori Si lebar, Plato, sedang berbicara tentang hukum kelembaman. Satu hukum alam tentang gerak yang kemudian dicetuskan Isaac Newton. Setiap benda di muka bumi ini mematuhi hukum gerak ini. Hukum kelembaman (inersia) yang kemudian lebih dikenal dengan hukum Newton I merumuskan bagaimana pengaruh gaya terhadap gerak benda. Newton mengamati kenyataan di sekitarnya. Ia lalu membahasakan hukum terkenal itu dalam sebuah rumusan sederhana. "Setiap benda cenderung mempertahankan kedudukannya, yaitu tetap diam atau tetap bergerak dengan kecepatan yang konstan". Pada saat kita berada di dalam mobil dan mobil kemudian berjalan secara tiba-tiba, kita akan merasakan tubuh kita terdorong ke belakang. Hal ini karena tubuh kita mempertahankan keadaannya semula, yaitu diam. Demikianpun sebaliknya, ketika mobil sedang melaju di jalan raya dan secara tiba-tiba berhenti maka kita akan merasakan tubuh kita terdorong ke depan. Hal ini karena tubuh kita sedang mempertahankan keadaan semula, yaitu bergerak. Manusia, ketika didefinisikan sebagai materi yang bernyawa maka kebenaran penerapan hukum ini, setidaknya untuk dimengerti pada level alamiah, sebagaimana gravitasi menarik benda-benda ke pusat bumi dapat dipertanggungjawabkan. Seperti gravitasi bumi, hukum kelembaman dalam pengertian tertentu berpengaruh pada kecenderungan manusia menentukan arah dan sikapnya. Si Upik jatuh sebagaimana benda lain jatuh ke bawah tetapi ia akhirnya dapat memilih untuk tidak jatuh sebagaimana buah mangga yang jatuh dari atas pohon. Si Upik memilih untuk melompat. Ini yang mungkin dapat dengan jelas membedakan kita dengan benda-benda lain di alam ini. Hukum kelembaman, siapa sangka, juga melekat erat pada manusia dan kecenderungan-kecenderungan fisikalnya. Hukum kelembaman (inersia) dalam hal ini berbicara banyak tentang bagaimana sebuah kekuasaan cenderung dipertahankan. Kekuasaan manusia adalah kemapanan atau dalam bahasa Newton, sebuah kecenderungan "diam" pada posisi semula. Usaha untuk 'menggoyang' kekuasaan, karena itu, adalah kiat yang selalu bertabrakan dengan kenyataan berlakunya hukum kelembaman ini. Juga sebaliknya kekuasaan sebagai sebuah "kendaraan" yang sedang melaju akan menyentak setiap muatannya ketika dihentikan secara tiba-tiba. Ada format kecenderungan yang jelas bahwa posisi laju atau bergerak akan terus dipertahankan. Implikasinya, segala hal yang menghalangi posisi aman ini bisa jadi akan segera disingkirkan. Dan, drama tentang alegori gua serta orang-orangtawananitu cenderung berakhir tragis. Pesta-pesta demokrasi kita telah menunjukkan gelagat yang tepat seperti apa kata hukum ini tentang dinamika gerak. Pilkada, misalnya, dapat menjadi indikasi kuat tentang bagaimana hukum ini bekerja pada jalurnya secara natural. Kita sedang berada dalam sebuah era yang kita sebut reformasi. Satu pembabakan dalam sejarah perpolitikan kita di mana jabatan dan kekuasaan menjadi wacana eksperimental di mana hukum kelembaman nampaknya dapat bekerja begitu intens. Sejarah telah menunjukkan bagaimana kuasa dan jabatan dipertahankan dengan segala cara termasuk dengan cara-cara kotor yang paling tidak manusiawi. Kelanggengan rezim Orba secara diam-diam menunjukkan kecenderungan-kecenderungan ini. Tiga puluh dua tahun kekuasaan itu akhirnya hanya dapat ditumbangkan oleh sebuah gebrakan reformasi arus bawah. Massal. Di luar itu, sulit sekali dibayangkan bahwa kemapanan ini dapat digoyang. Kendati begitu, reformasi juga dari sisi ini akhirnya akan melahirkan kemapanan-kemapanan baru. Kemapanan, sejauh ini, bukan satu hal yang buruk kalau dicapai dan dipertahankan dengan fair. Namun, inersia yang manusiawi sesungguhnya bukan sebuah kecenderungan alam bawah sadar. Ia dapat diatur dan dikendalikan sesuai dengan keinginan. Sebuah pengecualian berlakunya hukum ini ketika berhadapan dengan manusia yang tidak hanya material seperti buah mangga tetapi rohaniah yang arah tindakannya besar dipengaruhi oleh kehendak. Baik atau buruk. Berhubungan dengan ini ada satu sifat inersia yang sama kuat pada pihak penguasa dan masyara-katnya. Inersia kekuasaan cenderung mempertahankan kemapanan. Sementara itu, inersia arus bawah cenderung subversif. Gelagat "bongkar pasang" (baca: substitusi) dalam upaya-upaya reformasi sering menjadi pilihan minus malum dalam kancah perpolitikan kita. Di sini reformasi kita lapuk. Pendekatan-pendekatan serupa akan berujung pada sebuah a-reformasi. Implikasinya, yang terlibat dan melibatkan diri dalam perjuangan ini menjadi areformis. Karena itu, mentalitas dan cara pandang kita (masyarakat) pun mesti dibenah. Mau tidak mau, suka tidak suka, kecenderungan inersia selalu muncul secara bersamaan dalam gelagat alamiah dan naluriah manusia. Kecenderungan untuk mapan. Ketika kedua kecenderungan ini sama-sama kuat kita bisa menebak bahwa kaum marginal untuk ke sekian kalinya akan menjadi korban hukum fisika ini lagi. * Penulis, Ketua Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
