Lydia kawanku yang hilang..... (4)    
  “Oooo...jadi Ibunya juga pejuang? Terus sekarang Ibunya dimana?” Tanya Lydia 
yang kelihatannya tak sabar lagi menunggu jawaban dari Mbok Rah. Namun Mbok Rah 
menangisnya semakin pula menjadi-jadi, hingga aku menjadi khawatir menyaksikan 
suasana yang kuanggap menjadi dramatis. Padahal aku masih ingin menanyakan 
padanya tentang Ayahku, yang kuanggap nasibnya tak pernah kami ketahui. 
“Mbok maáfkan temanku ini yang ingin sekali mengetahui tentang orang tuaku. 
Sebenarnya akulah yang bersalah karena aku ndak pernah mengetahui tentang 
Ibu-Bapakku sendiri?” 
“Aku ngerti...ndok, mbiyen kowe iki bocah cilik, ora ngerti opo-opo. Saiki 
mestiné kowe ngerti...yo Bapakmu karo Ibumu iku wong apik sing karep é ngebantu 
wong-wong cilik.” Lagi-lagi kudengar pernyataan tentang orang tuaku yang 
hobinya membantu orang kecil. Sudah dua kali dalam sehari ini kudengar 
pernyataan yang sama. Tapi apa semua ini lantaran Bapak maupun Ibuku ketika itu 
selalu saja menyibukan dirinya bekerja di luar rumah. Dengan kesibukan kerjanya 
yang menyita waktu banyak sehingga kami pun jarang sekali bertemu bahkan jarang 
berkumpul secara lengkap, yang keberadaannya bersama orang tua. Sempat kuingat 
kembali ketika Ibuku beberapa kali meninggalkan kami entah untuk berapa lama, 
dan sepulangnya dari bepergian Ibuku selalu membawa oleh-oleh mainan atau 
baju-baju dan sepatu bukan buatan Indonesia. Suatu kali Ibuku pernah memberiku 
oleh-oleh boneka yang bisa bicara tapi bahasanya tak pernah kumengerti. Lantas 
boneka itu kubanting-banting dan menjadi rusak karena aku
 sebenarnya ingin minta adik yang bisa diajak mengobrol dan bisa bicara yang 
bahasanya kumengerti. Aku juga ingin sekali punya teman untuk bisa diajak 
bermain karena para mbakyu dan masku sibuknya selalu bermain bersama 
teman-teman seusianya. Seringkali aku ingin ikutan bergabung untuk bermain 
bersama mereka, tapi aku selalu diusir-usirnya karena aku engga bisa 
menyesuaikan bermain seperti memanjat pohon-pohon besar, bermain di sekitar 
sungai kecil atau main galasin, main bekel dan main dakon. Pada akhirnya aku 
diperbolehkan ikutan bermain bersama mereka hanya untuk main tak-umpet tapi 
selalu jadi anak bawang, yang maksudnya boleh lari kesana-sini atau ikutan 
ngumpet dibalik pohon atau ditempat lainnya cuma dalam permainannya aku engga 
di tanggapi serius. 
   
  Waktu sudah menunjukan hampir jam satu siang sementara itu Lydia masih duduk 
merunduk di kursi mejamakan. Kudengar nada suara temanku ini yang ternyata 
sudah ikutan menangis. Aku menjadi bingung melihat suasana yang semakin 
mendrama lantas kuhampiri temanku itu. Lalu kuhusap airmatanya yang membasahi 
pipinya dengan saputanganku. Aku tak menyangka sama sekali kalau temanku itu 
bisa menangis. Padahal sejak awal perkenalanku dengannya, aku tak pernah 
menceritakan perihal hidup keluargaku. Dan, aku pun tahu persis temanku ini 
orangnya tidak cengeng dan orangnya bertemperamen keras dan selalu ceria. Juga 
tentang hal kehidupan dalam keluarganya, yang bukan berasal dari keluarga yang 
serba kekurangan. Menurutku hubungan antar orang tuanya dengan anak-anaknya  
cukup baik serta memiliki hubungan komunikasi yang lancar. Sikapnya pun selalu 
terbuka dan sangat liberal dalam menanggapi dan menangani persoalan hubungannya 
dengan anak-anaknya.  Maksudku memang banyak teman lainnya yang
 kukenal kehidupan materinya tidak miskin tapi mengalami kemiskinan batiniah. 
Misalnya teman sekelasku bernama Debi adalah anak tunggal dan menurut ceritanya 
Ayahnya seorang militer yang ditugaskan untuk sementara waktu ke Makasar. 
Sehingga Ibunya memutuskan untuk tetap mendampinginya terus di Makasar. 
Menurutnya Ibunya sangat khawatir dan takut Ayahnya memelihara perempuan lain 
buat mengurus kebutuhan kehidupan Ayahnya. Dengan begitu Debi 
ditinggalkannyalah dirumah yang cukup besar itu bersama pembantunya.  Rumahnya 
yang di daerah Tebet Barat belakang bioskop Wira itu juga di sediakan motor 
Vespa dan mobil lengkap dengan supirnya. Memang orang tuanya di setiap weekend 
tak pernah absen mengunjungi anaknya, yang spesial pergi dari Makasar dengan 
pesawat terbang ke Jakarta.  Suasana drama di rumah Mbok Rah kurasakan sudah 
mulai mereda, Lydia juga telah memperlihatkan senyumnya biarpun wajah murungya 
belumlah sirna. Tak lama kemudian kami mohon permisi, yang maksudnya untuk
 meneruskan perjalanan mencari rumah lamaku dan mengunjungi kebeberapa bekas 
tetanggaku. Sebelum kami meninggalkan rumah Mbok Rah, aku masih sempat 
menyarankan Mbok Rah supaya beristirahat untuk memulihkan rasa kesedihannya. 
Juga, sempat kutanyakan alamat rumah lamaku ke suaminya Mbok Rah, yang tetap 
masih menekuni pekerjaannya mengukir kursi-bangkunya. Menurutnya gang S itu 
sudah tidak jauh lagi dari tempat tinggalnya yang sudah melewati percetakan 
Negara. 
   
  Dalam perjalanan mencari alamat rumah lamaku, Lydia tidak lagi kelihatan 
ceria bahkan masing-masing dari kami membisu seribu bahasa. Aku pun tak tahu 
lagi bagaimana aku mesti menetralkan situasi keheningan selama di perjalanan 
kami, biarpun aku masih belum merasakan ketegangan suasana hubungan pertemanan 
antar kami. Setelah kami mampir ke salah satu tetangga kami, sesekali Lydia 
menolehku dengan melemparkan senyum yang kurasakan senyumannya terasa pahit 
bercampur getir kehidupan. Aku tak tahu apa yang terkandung dalam benaknya 
karena dari raut wajahnya terkesan ada kesedihan. Akan tetapi kucoba terus 
dengan cara memancing pembicaraan tentang ini-itu sambil sesekali menggandeng 
tangannya. Kali ini akulah yang bersikap sahaja, dan berusaha terus menerus 
menghibur kesedihan temanku ini. Setelah kami mampir dari beberapa tetangga 
lamaku, aku masih tetap menunjukan sikapku yang ceria serta menceritakan 
tentang momen-momen kebahagiaanku bersama keluarga kami. Juga, kalau
 kebetulan kami melewati lokasi tempat-tempat kesan bahagiaku bermain di masa 
kecilku, yang pernah kualami bersama kakak-kakakku.  
   
  Bersambung....
   
  MiRa,
Amsterdam, 18 Oktober 2006


Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 






                
---------------------------------
 All-new Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things done 
faster. 

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke