TIADA KEGELAPAN YANG TAK AKAN BERAKHIR

By: Fajar K

Suara geledek bergemuruh di langit mendung.  Aku mempercepat langkah 
kakiku.  Aku ingin secepatnya kembali ke rumah setelah mendapatkan 
barang yang kuidam-idamkan selama ini: sebuah dompet kulit, hadiah 
untuk adikku, yang akan kuhadiahkan kepadanya pada hari ulang 
tahunnya besok.  Dompet itu kubeli dengan menyisihkan uang saku 
bulananku yang jumlahnya pas-pasan, tapi aku tidak merasa berat 
karena aku benar-benar mencintai Aditya, satu-satunya saudara 
kandungku.

Aku dan Ditya tinggal bersama bibiku.  Walau berusia cukup lanjut, 
bibi belum juga menikah.  Mungkin karena wajahnya tidak cantik atau 
mungkin badannya yang terlalu subur; aku tidak tahu pasti.  
Memelihara kami berdua pastilah merupakan beban yang berat baginya 
karena penghasilannya sebagai pedagang kelontong di pasar tidaklah 
besar.  Walau begitu dia masih mau menerima kami, jadi aku harus tahu 
diri. Aku tidak boleh menuntut apa-apa darinya walau kehidupanku dan 
Ditya tidaklah seenak semasa kedua orang tua kami masih ada.

Mungkin karena banyak mendapatkan kekecewaan dalam hidupnya, Bibi 
cenderung menjadi lebih religius dan konservatif.  Ke mana-mana dia 
selalu mengenakan jilbab, dan bukan itu saja, dia pun mendesakku 
untuk mengenakannya juga walaupun aku tidak terlalu suka.

"Gadis seusiamu tentu akan menarik banyak perhatian dari lelaki-
lelaki yang berpikiran mesum, Ima."  Bibiku beralasan.  "Tentunya kau 
harus menjaga dirimu baik-baik bukan?"  Aku hanya mengangguk, aku 
sadar benar akan posisiku dalam rumahnya.  Tapi walau begitu aku 
masih mempertahankan kebiasaanku mengenakan celana jins bila 
bepergian.  Aku bisa berdalih bahwa mengenakan rok panjang akan 
menghambat laju gerakku.

Tetes-tetes air hujan mulai menerpa wajahku, aku mulai merasa cemas.  
Jarak yang harus kutempuh untuk kembali ke rumah masih cukup jauh.  
Aku menyesal mengapa tadi tidak membawa payung.  Jika hujan nanti 
cukup deras, haruskah aku berteduh cukup lama di suatu tempat?

Tapi tampaknya kesialan tak pernah datang sendirian.  Sesuatu benda 
berbulu tiba-tiba mendengus-dengus membuntuti gerak kakiku.  Aku 
menoleh.  Astagfirullah, seekor anak anjing berwarna kecoklatan 
mengejar-ngejarku, seolah-olah hendak menerkamku dengan kaki-kaki 
kecilnya!  Bukankah itu binatang kotor?  Bibi selalu berpesan 
kepadaku untuk menghindarkan diri sejauh-jauhnya bila bertemu makhluk 
semacam itu.  Sekarang bagaimana bisa menghindar sedangkan dia terus-
menerus ingin meraihku dengan kaki-kaki mungilnya?

Karena terlalu tegang, aku tidak memperhatikan ada sebuah sepeda yang 
melaju cukup kencang ke arahku.  Pengendaranya betul-betul brengsek 
karena tidak membunyikan bel peringatan terus melaju saja di 
depanku.  Aku sangat terkejut dan secara reflek meloncat ke belakang 
dan dompet baru dalam genggamanku terjatuh ke tanah becek.

Anak anjing itu, yang merasa mendapat mainan baru, langsung saja 
menyambar dompet itu, membawanya kabur dengan moncong kecilnya.  Aku 
menjerit tertahan.  Dompet itu!  Dompet yang dengan susah payah 
kubeli!  Apa yang harus kukatakan pada Ditya nanti?  Tidak!  Aku 
harus mendapatkannya walau harus kukejar sampai ke ujung dunia!

Aku kejar anak anjing itu dengan geram, tapi kelihatannya dia malah 
menikmati benar permainan barunya ini.  Dia mempercepat langkahnya, 
memasuki lorong-lorong suram yang banyak bertebaran di kotaku.  Buat 
gadis seusiaku, tempat-tempat itu tidaklah layak untuk dijelajahi, 
karena biasanya para gelandangan, pelacur, preman, dan sampah 
masyarakat lainnya berlindung di sana.  Tapi aku saat itu tidak 
peduli; yang terlintas di benakku cuma bagaimana caranya mendapatkan 
kembali dompet untuk Ditya.

Namun yang tadi kukhawatirkan sekarang terjadi justru di saat aku 
tidak memikirkannya: hujan yang bagai dicurahkan dari langit sekarang 
deras menghantam bumi!  Aku panik, baju dan tubuhku basah kuyup.  
Pemandangan di depanku menjadi kabur.  Duh, ke mana gerangan makhluk 
kotor sialan itu?

Samar-samar aku melihat sebuah tempat naungan, teras sebuah bangunan 
yang kelihatannya tak berpenghuni, yang dapat kujadikan tempat 
berteduh.  Aku bergegas ke sana walaupun langkahku terasa berat 
karena sepatuku kemasukan banyak air.  Begitu sampai di sana, sebuah 
kejutan menantiku: si anjing kecil sudah menunggu di sana.  Dia 
menatapku dengan bangga, mengibas-ngibaskan ekornya, seolah-olah 
telah berhasil memenangkan lomba lari denganku.

Dan dompet baru itu?  Sekarang tergeletak di depannya dengan kondisi 
yang sangat mengenaskan, selain kotor juga sudah koyak!  Inikah yang 
akan kuberikan pada adikku?

Aku merasa sangat marah!  Kusambar dompet itu dan kukibaskan ke 
arahnya.  Aku bentak makhluk kotor itu keras-keras.  Dia mundur, 
merasakan hawa amarahku, menghindari tatapnku yang tajam.  Kini dia 
tahu bahwa perbuatannya itu tidak dapat kuterima!  Aku ingin segera 
memukulnya atau menendangnya keluar, namun saat aku melangkah lebar-
lebar ke arahnya, mataku beradu pandang dengan tatapannya, tatapan 
yang mengibakan hati.

Mendadak terlintas suatu pemikiran di benakku: mengapa anak anjing 
itu berkeliaran di jalanan?  Tidakkah ia mempunyai induk … memiliki 
ibu?

Ibu …?  Bunda …?

Jika ia tidak mempunyai ibu lagi, nasibnya sama sepertiku!  Aku tahu 
rasanya tidak mempunyai ibu, aku tahu rasanya kehilangan Bunda!

Pandangan mataku meredup.  Aku berlutut di depannya.  Aku kini tidak 
melihatnya sebagai makhluk kotor.  Dalam pandangan matanya, aku 
melihat diriku!  Ya, diriku sendiri!

Dan ia rupanya melihat perubahan dalam diriku.  Ketakutannya kini 
berubah cepat menjadi kegembiraan lagi.  Dia mendekatiku, mengendus-
endus tanganku.  Aku dapat merasakan desahan napasnya yang lembut 
keluar dari hidungnya yang mungil.  Dia mulai menjilatiku.  Geli 
rasanya!  Tapi aku menikmatinya!  Aku kini menyukainya!  Dan aku 
memberikan senyumku yang paling tulus kepadanya, yang selama beberapa 
tahun ini bahkan tak pernah kuberikan bahkan kepada sesama manusia 
sekalipun.

Hujan turun begitu lama.  Udara sungguh dingin menusuk tulang membuat 
kami berdua menggigil.  Kami saling mendekatkan tubuh kami berharap 
dapat menciptakan kehangatan di antara kami.  Anak anjing itu 
tertidur di pangkuanku, aku mendekapnya erat-erat seperti Bunda 
pernah memelukku dengan kasihnya.  Mataku perlahan terasa berat… aku 
terbuai… perlahan terbawa ke alam mimpi…

Dan kejadian di malam itu muncul kembali dalam mimpiku, padahal aku 
sudah berusaha sekuat tenaga melupakannya, menguburkannya dalam-dalam 
di bawah sadarku!

Aku terbangun oleh suara ribut-ribut dari loteng.  Ayah dan Bunda 
rupanya sedang bertengkar.  Mereka selama ini sering melakukannya, 
seharusnya aku sudah terbiasa.  Tapi entah mengapa pada malam itu aku 
ingin melihat mereka bertengkar.  Aku membuka kamar tidurku perlahan, 
mengintip kejadian di loteng.  Aku bisa melihat mereka saling 
berhadapan, saling mengincar bagai binatang-binatang buas yang 
bertarung di alam bebas.  Suara-suara mereka terdengar jelas, 
terngiang-ngiang di telingaku.

"Kau berani berselingkuh rupanya, perempuan jalang!"  Ayah 
menudingkan telunjuknya ke arah wajah ibuku.  "Kau seharusnya tahu 
bahwa kalau aku mau aku bisa saja menceraikan dan meninggalkanmu 
besok!"

"Kenapa aku tidak boleh melakukannya?" balas Bunda dengan 
sengit.  "Aku tahu kalau kau juga telah berzina terlebih dahulu 
selama bertahun-tahun dengan perempuan murahan itu!  Tadi siang ia ke 
sini sambil membawa anak haramnya hasil hubungan gelapmu!  Aku hajar 
dia, aku permalukan dia, aku telanjangi dia, dan akhirnya … kulempar 
dia ke jalanan!"

Ayah kelihatan sangat terpukul dan murka.  "Zainab itu lebih baik 
darimu … jauuuh lebih baik dari perempuan tengik dan bawel 
sepertimu!  Dia pandai menghiburku sedangkan kau selalu mengeluhkan 
soal uang belanja dan tetek-bengek urusan rumah tangga! Sekarang kau 
usir dan campakkan dia?  Aku akan melakukan hal yang sama terhadapmu!"

Aku selalu bersimpati pada Bunda dalam setiap pertengkarannya dengan 
ayahku.  Di mataku, Bunda adalah seorang wanita yang sangat sabar dan 
keibuan.  Ia selalu membelaiku, menghiburku bila aku merasa sedih.  
Sebaliknya dengan Ayah, yang selalu bersikap kasar terhadapku dan 
juga Ditya.  Lelaki jahat itu sering membentak-bentak kami, terkadang 
ia juga memukul Ditya jika tidak berkenan melihat tingkah-laku adikku.

Kulihat Ayah bergerak cepat ke arah Bunda, tangan-tangannya yang 
kekar terjulur ke arah kepala istrinya.  Cepat sekali dicengkeramnya 
leher Bunda erat-erat, dibentur-benturkannya kepala Bunda ke 
dinding.  Bunda terlihat lemas tak berdaya.  Aku ingin menjerit kuat-
kuat, tapi suaraku tak kunjung keluar.  Aku ingin segera menerjang 
Ayah untuk membebaskan Bunda, namun kakiku terasa terpaku di tanah.

Kejadian berikutnya rasanya tak mungkin terhapus dari benakku, seumur 
hidupku … Ayah … dia … melempar …. Bunda … dari loteng!  Ayah ... 
ayah ... jangan lakukan itu ... jangan ... jangaan .... JANGAAAANNN!!!

Jangan …..!

Angin dingin menampar-nampar wajahku, namun tak sanggup mencegah 
keringat dingin yang keluar dari wajahku.  Napasku tersengal-sengal.  
Aku bersandar di tembok berusaha menenangkan perasaanku.  Sudah 
beberapa tahun peristiwa itu berlalu dan sampai sekarang masih 
membayangiku juga.  Aku sungguh berharap anak lain tidak akan 
mengalami apa yang pernah aku alami ini.  Jika sudah besar nanti aku 
ingin menjadi pengacara yang akan berjuang membela kaum wanita yang 
diperlakukan dengan keji oleh para lelaki bedebah … seperti Ayah!

Aku menjulurkan tanganku hendak membelai si mungil berbulu itu tapi 
…. hei … dia sudah tidak ada?  Apakah dia pergi meninggalkanku begitu 
saja?  Tidak, tidak mungkin!  Perasaanku mengatakan ada sesuatu yang 
terjadi padanya.  Di luaran masih tersisa gerimis, dan hari sudah 
gelap, namun kuberanikan diri melangkahkan kakiku keluar, kubiarkan 
instuisiku menuntunku ke arah teman kecilku itu.

Tak berapa lama aku melihat seorang pria kekar bertampang lusuh 
berjalan memanggul sebuah karung.  Dari dalamnya terdengar sayup-
sayup suara rintihan yang mengiris hatiku: suara si mungil berbulu.  
Aku kejar preman itu, aku halangi langkahnya.

"Bang …" kataku mengiba.  "Tolong lepaskan anak anjing itu… 
biarkanlah dia hidup … tolonglah …"

Matanya yang tajam memandangiku yang basah kuyup.  Dia tersenyum 
sinis mengejekku.

"Anjing itu kan jelas bukan punyamu!  Lalu kenapa sih kau harus turut 
campur urusanku?  Pergilah sana!"

Saat dia hendak melewatiku, kurentangkan tanganku lebar-lebar 
menghadang jalannya.  Aku benar-benar tidak rela melihat makhluk lucu 
itu menjadi santapan malam sampah masyarakat seperti dia.

"Heh!"  Dia membentakku.  "Masih ngotot ya?  Baik, jika betul-betul 
menginginkannya, emang kau punya duit berapa sih buat membelinya 
dariku?"

Aku tergagap.  "Aku … aku … tidak punya uang… Bang."  Suaraku 
terdengar lirih.

"Kalau begitu, jangan coba-coba halangi aku jika belum bosan hidup!  
Mengerti?"  Nada suaranya bersungguh-sungguh.

Aku hanya diam saja ketika dia dengan kasar menepisku.  Aku 
membiarkannya lewat!  Aku membiarkan sahabat kecilku akan binasa 
dalam keadaan mengenaskan!  Aku pun telah membiarkan ayahku membunuh 
Bunda!  Mengapa aku selalu menjadi penonton?  Haruskah aku selalu 
pasrah menyaksikan peristiwa-peristiwa tragis terjadi di depanku 
tanpa melakukan sesuatupun untuk mengubahnya?

Haruskah…?  Tidak … tidak akan terulang lagi!  TIDAK AKAN!!!

Bagai kesetanan aku menghambur ke arah preman itu, menerjangnya 
dengan sekuat tenaga.  Sejenak dia terperanjat oleh tindakanku, 
karung yang dibawanya terlepas.  Sahabatku segera saja menerobos 
keluar dari dalamnya dan segera lari terbirit-birit menghilang di 
kegelapan.

Bajingan itu benar-benar murka terhadapku karena hilanglah 
kesempatannya makan enak malam itu.  Telapak tangannya yang besar 
segera saja menghantam kepalaku dengan keras.  Aku terhuyung ke 
belakang.  Keadaan di sekitarku terasa berputar-putar.  Namun dia 
tidak puas, didorongnya aku hingga tersandar di tembok.  Sebelum 
sempat aku menyadari apa yang terjadi, tangan-tangannya yang kekar 
terjulur ke arah kepalaku, mengoyak jilbabku, membiarkan rambutku 
yang lurus panjang tergerai keluar.  Cepat sekali dicengkeramnya 
leherku erat-erat, dibentur-benturkannya kepalaku ke tembok.  
Pandanganku mengabur … aku mulai kehilangan kesadaranku …

Namun tiba-tiba aku melihat wajah preman itu berubah menjadi … wajah 
Ayah … wajah orang yang telah menghilangkan nyawa orang yang paling 
kucinta dalam hidupku … sekarang … tepat berada di depanku!

Mendadak diriku merasa kuat … kuat … kuat sekali … Rasa marah dan 
benci pada ayahku menggelegak dalam dadaku, membuatku melupakan rasa 
sakit yang kuderita. Aku meronta kuat-kuat, dengan segenap tenaga aku 
menendang ke bawah, ke arah selangkangannya!

Sejenak keheningan menyelimuti kami berdua.  Tangan-tangannya menjauh 
dari leherku.  Matanya yang besar melotot ke arahku.  Mulutnya 
terbuka lebar-lebar namun tak ada bunyi yang keluar dari dalamnya.  
Lalu dia berjongkok lemas di tanah sambil memegangi kemaluannya.  
Napasnya tersengal-sengal dan keringat bercucuran dari tubuhnya yang 
apek itu.  Dia menengadahkan wajahnya memandang ke arahku dengan 
tatapan kebencian bercampur rasa sakit tak terperikan.

Aku melihat wajah itu … wajah Ayah … wajah perampas jiwa Bunda!

Darahku mendidih, pandanganku menggelap.  Aku tak bisa berpikir 
jernih lagi.  Kusambar begitu saja sepotong balok kayu yang 
tergeletak di tanah.  Kuhantamkan ke arah kepalanya.  Sekuat tenagaku!

"Kembalikan Bunda …. kembalikan Bunda, bangsat tengik!!!"  Aku 
menjerit keras-keras, memecahkan keheningan di lorong itu.

Aku hantamkan balok itu ke arah kepalanya lagi!  Aku rasakan 
kenikmatan menghajar Ayah mengalir di dalam darahku.

Aku hajar kepalanya lagi!  Dengan segenap kekuatan dan jiwaku!

Akhirnya dia jatuh terlungkup juga.  Darah menyembur keluar dari 
kepalanya, terciprat ke arahku.  Tubuhnya roboh tersungkur menghadap 
tanah, darah deras mengalir, mengalir dari kepalanya membasahi bumi!

Dan aku melihat tubuh itu … tubuh yang berlumuran darah itu bukanlah 
tubuh Ayah … melainkan … jasad Bunda…. Aku bisa mengingatnya!  Aku 
bisa melihatnya dengan jelas sekarang!  Tubuh Bunda jatuh terbanting 
menghadap lantai setelah dilempar Ayah dari loteng, darah deras 
mengalir, mengalir dari kepalanya membasahi lantai!

Ya Allah …. tidak …. tidak mungkin …!

Sejak peristiwa pembunuhan Bunda itu … aku sangat sangat membenci 
Ayah, aku benci perbuatan Ayah yang kejam itu terhadap ibuku … namun 
kini aku sudah menjadi pewarisnya!  Tanganku sudah berlumuran darah! 
Aku … aku adalah jiplakan jiwanya sekarang!

Aku bisa mendengar suara tawa ayahku, tawa kepuasan setelah melempar 
tubuh ibuku ke bawah loteng.  Kini, kini, seakan suara tawa tersebut 
bergema kembali di lorong gelap itu, bergema menertawakan diriku!

Aku berbalik meninggalkan tubuh preman itu.  Aku tidak peduli lagi 
apakah dia masih hidup atau sudah mati.  Yang kuinginkan sekarang ini 
adalah lari …. lari secepat mungkin meninggalkan lorong itu.  Kini, 
kini aku merasa benci pada diriku sendiri, aku merasa jijik pada 
diriku sendiri.  Aku merasa begitu kotor, begitu hina, begitu 
menyedihkan!

Tak kuperhatikan adanya batu-batu yang terserak di jalan yang gelap.  
Aku terantuk. Aku jatuh terjerembab ke tanah becek.  Wajah, rambut, 
dan tubuhku kini berlumuran lumpur.  Tapi aku tidak peduli, tidak 
ingin peduli lagi.  Aku benamkan wajahku ke tanah, aku biarkan air 
mataku membanjir keluar membasahi bumi dan kubiarkan ratap tangisku 
menghambur keluar dari dasar jiwaku.  Mengapa aku harus malu dengan 
keadaanku sekarang ini?  Toh, tak ada seorangpun yang melihatku, 
tidak juga Bibi dan Ditya yang selama ini selalu melihatku selalu 
ceria di hadapan mereka.

Ditya … Ditya … ya itulah dia, dian yang berkobar di dalam 
sanubariku.  Karena dia aku memutuskan untuk terus bertahan hidup, 
karena dia aku rela menanggung semua deritaku sendirian.  Aku harus 
kuat!  Aku tidak boleh menyerah!  Aku tidak boleh menjadi gila!  Aku 
mencintai Ditya dengan segenap hatiku!  Tidak boleh dia sebatang kara 
di dunia ini!  Aku harus tegar demi dia!  Aku harus pulang ke rumah 
bagaimanapun keadaanku sekarang ini!

Kupaksakan diriku bangkit.  Aku menengadah, kupandangi bintang-
bintang di langit yang mulai terang.  Apakah Bunda ada di atas sana 
memandangiku dengan senyumnya yang meneduhkan jiwaku?  Bunda, tahukah 
engkau bahwa sesungguhnya hingga saat ini aku masih merindukanmu?

Seorang diri aku berjalan terseok-seok meninggalkan lorong kumuh yang 
gelap mencekam itu.  Suara azan subuh berkumandang di angkasa. Hari 
baru akan segera terbit, kehidupan baru akan segera dimulai.  Aku 
menyeret kakiku dengan enggan, sambil berpikir-pikir apa yang akan 
kuberikan pada Ditya sebagai pengganti dompet kulit yang kini sudah 
menjadi barang rongsokan itu.

Tengah melamun, ada sesuatu mengendus-endus kakiku.  Aku terhenyak.  
Itu sahabat kecilku!  Syukurlah kau selamat!  Dia berseru girang 
melonjak-lonjak hendak merangkulku.  Aku tersenyum, berjongkok 
mengelus-elus kepalanya.  Dia juga gembira melihatku, menjilat-jilat 
tanganku sambil menggoyang-goyangkan ekornya.  Aku menikmatinya, 
untuk sejenak beban pikiranku terlupakan.

Lalu aku menyadari bahwa dia tidak sendirian.  Seorang anak perempuan 
berdiri di hadapan kami, memandangi kami dengan takjub.

"Wah, Aku tidak mengira kalau Bimbi juga punya teman juga di luar."  
Gadis kecil itu tersenyum ramah.  Matanya yang sipit tampak lucu di 
balik kacamatanya yang tebal. "Sepanjang malam dia tidak pulang, dan 
pagi-pagi baru muncul di rumahku, tapi dia menarik-narik aku keluar 
seakan hendak menujukkan sesuatu kepadaku, jadi kuikuti juga dan … 
kutemukan Kakak!"

"Aku Fatimah!  Tapi panggil saja Ima!"  Kuulurkan tanganku. 
Kupaksakan diri untuk tersenyum walau sisa-sisa kegetiran dan 
kengerian semalam masih bersemayam di hatiku.

"Namaku Meirin!"  Dia membalas jabatanku dengan tangannya yang halus 
dan putih.  "Selama ini hanya Bimbi yang menjadi temanku, Kak!  
Orangtuaku selalu sibuk, tak punya waktu untuk diajak bermain atau 
ngobrol saja.  Kakak-kakakku sibuk dengan sekolah mereka atau pacar 
mereka.  Aku juga tidak punya kawan bermain … aku tidak pandai 
bergaul …Aku kesepian, terkadang aku merasa diriku orang paling 
malang di dunia … setiap malam aku berdoa agar Tuhan memberikanku 
seorang sahabat …"

Gadis itu lalu terdiam sejenak, memandangi tubuh dan pakaianku yang 
kotor.

"Ah… aku … hanya terjatuh saja! Nggak apa-apa kok!"  Aku 
membohonginya karena tidak ingin membuatnya sedih dengan kisah 
tragedi hidupku.  Aku sidah biasa melakukannya pada Ditya; selama ini 
dia mengira ayah-ibunya sedang bepergian jauh ke luar negeri dan 
suatu saat nanti akan kembali.  Akan kuceritakan tragedi tersebut 
kepada adikku kalau dia sudah cukup umur kelak, beberapa tahun lagi.  
Tapi saat ini aku belum bisa memutuskan apakah kelak aku akan 
mengajak Ditya menengok Ayah di penjara, biarlah waktu saja yang akan 
menyembuhkan luka di hatiku.
 
"Kakak, ayo ikut ke rumahku, nanti aku akan berikan pakaiannya Ci 
Linda.  Ukurannya kira-kira pas buatmu, deh!"  Dia menggandeng 
tanganku.

"Apa nanti kakakmu bersedia?"  Aku merasa ragu.

"Kalau aku yang minta pasti boleh, deh!  Bukankah Kakak adalah 
sahabatku sekarang?"

Aku tidak sanggup berkata apa-apa lagi, mataku berkaca-kaca.  Aku 
berusaha sedapat mungkin menyembunyikan isakku dengan senyuman, 
sehingga aku hanya bisa menganggukkan kepalaku untuk menyatakan rasa 
terima kasihku. Aku bisa merasakan ketulusan hatinya menelusup ke 
dalam relung-relung hatiku.  Ah, ternyata di dunia yang keras, 
dingin, dan seringkali kejam ini, rasa persahabatan dan cinta masih 
bisa ditemukan!  Dan inilah yang akan kubagi dengan Ditya!

Kami berjalan bergandengan tangan menyambut mentari yang akan 
bersinar kembali.  Bimbi berlari-lari dengan gembira menyertai kami, 
mengiringi lembaran kehidupan baru yang cerah, yang kini telah 
terbentang di hadapanku.



23 Oktober 2006




Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke