http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/10/26/o3.htm
Gepeng Berkeliaran, ''Wajah Baru'' Bali? Ayu Ambarani, S.E. BALI menyuguhkan pemandangan yang berbeda. Sekarang di pulau ini muncul gepeng-gepeng yang bertebaran, entah itu di lampu merah, di kawasan wisata, bahkan pasar tradisional terbesar di kota Denpasar yaitu Pasar Kumbasari. Memberantas gepeng, seperti halnya pemberantasan miras dan judi, perlu kesabaran dan perjuangan, hilang satu muncul seribu. Seperti parasit, semakin gepeng itu dihilangkan, semakin bermunculan di tempat lain. Secara jujur diakui inilah wajah yang muncul di sudut pulau cantik ini, apakah disadari atau tidak, tetapi wajah gepeng telah memberi citra baru Pulau Bali ini. Rindu sekali menikmati soto dan es daluman di lantai tiga Pasar Badung tanpa ada gepeng mencolek meminta uang. Namun saat ini, hal itu merupakan ''menu tambahan'' di sana. Melihat kenyataan bahwa menggepeng saat ini bukan saja terkait mengemis tetapi juga mengacu kepada kemerosotan mental dan tak jarang membuat orang terpancing amarahnya. Dari sisi humanisme pasti orang tersentuh melihat ibu-ibu dengan bayinya di jalanan atau melihat anak di bawah umur menengadahkan tangan. Tetapi apakah memang tidak ada pekerjaan layak lainnya yang bisa dilakukan? Apakah anak-anak itu tidak bisa mengenyam pendidikan yang seharusnya? Yang selalu membuat kesal, tak jarang badan-badan yang masih segar dan kuat menengadahkan tangan. Yang membuat panas kepala lagi, apabila dengan niat tulus kita sodorkan lima ratus rupiah ke salah satu gepeng, tak kurang dalam waktu lima menit akan muncul empat gepeng lainnya mengulurkan tangan. Inikah skenario terbaru? Apakah keberadaan mereka di jalan dan tempat umum sudah ada yang mengatur? Tidakkah ada pekerjaan lain yang bisa dilakukan selain menggepeng? Lihatlah di beberapa persimpangan lampu merah, salah satu sudut persimpangan tersebut bisa kita temukan pos petugas dan di sudut lainnya pula kita lihat gepeng-gepeng ini berpencar ketika lampu merah datang. Apakah mereka tidak mengganggu keamanan yang berkendara? Gepeng anak-anak itu mungkin sudah ''tercuci'' mentalnya ''harus dapat uang'', mengulurkan tangan ke jendela mobil dan apabila tidak mendapatkan uang mereka tak segan-segan mengganggu peralatan kendaraan, seperti menarik antena radio mobil dengan kasar. Uang yang diberikan pun tidak selalu diterima dengan rasa terima kasih. Mereka akan membuang uang seratus rupiah dan bukan tak mungkin sambil memaki atau mengejek si pemberi. Ketika mobil yang mengangkut para turis berhenti di lampu-lampu merah, terlihat turis-turis itu pun menoleh memperhatikan para gepeng yang berdatangan di kaca mereka. Ada yang memberi dan ada juga yang terlihat langsung berkomentar dengan kawan di sampingnya. Mungkinkah mereka langsung membahas tentang ''indahnya'' paket wisata gepeng ini? Setuju atau tidak setuju, inilah wajah baru di sudut Pulau Bali saat ini. Pulau Bali yang begitu mahsyur. Pulau Bali yang saat ini sedang bergerak untuk bangkit menunjukkan kedamaian dan keamanan wilayahnya sebagai tujuan wisata. Pulau Bali yang menjadi Best Holiday Destination. Apakah ini yang akan kita suguhkan untuk wisatawan yang datang? Di tahun 90-an, ramainya gepeng belum seperti saat ini. Kala itu Bali bisa berbangga bahwa Bali tidak seperti Jakarta, tidak ada pengemis di jalanan seperti di ibu kota. Kini, kenyataannya pemandangan gepeng ini muncul di mana-mana, terlihat jelas di sudut-sudut Kota Denpasar dan sekitarnya. Bagaimana sikap petugas menghadapinya? Mengapa justru gepeng semakin bertambah dari tahun ke tahun? Mungkinkah kemiskinan semakin subur sehingga ''peluang kerja'' gepeng ini mampu memikat banyak orang? Profesi baru yang sedang in? Bila petugas sudah menanggulanginya lalu mengapa justru semakin meluas? Mungkinkah terlintas membuat program yang menjadikan mereka manusia berguna dan tidak hanya mengejar dan menangkap mereka? Yang patut diprihatinkan ada generasi muda yang akan meneruskan pembangunan bangsa. Arahkah mereka ke pekerjaan yang lebih layak. Marilah kita renungkan dan sadari hal ini. Penulis, office manager ACCESS (Australian Community Development & Civil Society Strengthening Scheme) & Contributor Bali untuk majalah bulanan Jendela Rubrik Profesional (JRP) [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
