RELEKSI: Sudah dipakai ahli ilmu surgawi tetapi gagal, kemudian paranormal, 
tetapi keadaan tetap tidak normal,  sekarang ada tawaran ahli ilmu duniawi. 
Bila mereka  al kafirum ini berhasil menyetop mencretnya iblis perut bumi akan 
mungkin sangat membantu kepercayaan kepada ilmu pengetahuan kontemporer.


KOMPAS
 Kamis, 26 Oktober 2006 

 
Lumpur Sidoarjo
Ilmuwan Rusia Tawarkan Tutup 

Jakarta, Kompas - Pavel V Korol (49), ilmuwan dan praktisi pertambangan asal 
Rusia, telah mengajukan proposal ke sejumlah kementerian di Indonesia untuk 
menghentikan semburan air dan lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur. 

Pavel, Minggu malam lalu di Jakarta menegaskan, 90 persen risiko akan 
ditanggungnya. Pemerintah Indonesia tidak perlu membayarnya jika teknologi yang 
ditawarkan itu gagal mematikan semburan lumpur yang telah menenggelamkan empat 
desa, dan mengakibatkan sekitar 12.000 jiwa harus mengungsi itu. 

"Terus-terang sekarang ini pesoalannya seperti persoalan politik bukan? Kalau 
tidak diambil sampai kapan masyarakat di sana akan terus menderita? Karena itu 
saya mengajukan proposal ini. No cure no pay! (kalau tidak selesai masalahnya 
tidak perlu bayar)," kata Pavel menegaskan kepada Kompas bahwa ia sangat serius 
dengan tawaran teknologinya. 

Ia didampingi Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Susanto Pudjomartono, dan Irzal 
Chaniago, Presiden Asosisasi Teknologi Adiguna Rusia-Indonesia (Astari). Secara 
khusus, Pavel juga sudah meninjau sejumlah lokasi semburan lumpur di Sidoarjo 
pekan lalu. 

Tiga teori 

Ia menjelaskan tiga hal mendasar dari teknologi yang ditawarkannya. Pertama ia 
tidak sependapat bahwa kejadian semburan lumpur di Sidoarjo sebagai bagiandari 
aktivitas gunung lumpur atau mud volcano yang umumnya diterima publik. 

Karena itu, semburan lumpur itu masih mungkin dikendalikan, dan dimatikan 
alirannya. Masalah seperti itu, adalah kajadian atau kasus yang tidak luar 
biasa. 

"Tetapi kalau terus dibiarkan, sudah jelas risikonya, yaitu makin banyak orang 
menderita, dan mungkin ia akan menjadi mud vulcano," kata Pavel. 

Kedua, teknologi yang ditawarkannya adalah gabungan penggunanaan tekanan yang 
sangat besar (sekiar 1.000 atmosphere/ATM), dan teknologi "selubung payung". 
Jika selama ini teknologi tekanan besar digunakan justru untuk "memompa" 
kandungan bumi seperti minyak dan gas, tekanan udara yang digunakannya justru 
untuk menghentikan semburan air dan lumpur tadi ke atas. 

Sedangkan yang dimaksud selubung payung (dia menyebut nya teknologi umbrella), 
adalah lapisan-lapisan selubung dari bahan polimer pada radius tertentu 
mengelilingi atau di sekitar lubang-lubang semburan lumpur. Zat polimer, 
diketahui merupakan "adonan" yang akan berubah menjadi keras menyerupai karet 
pada saat kering. Tentu saja, "lapisan" atau "konstruksi" payung itu letaknya 
di kedalaman tertentu, sekitar 3.000 kaki. 

Kalau aliran lumpur tidak tertutup juga, maka akan dibuat payung kedua, ketiga, 
dan seterusnya pada kedalaman dan lokasi berbeda. Tujuannya untuk menutup 
rekahan-rekahan batuan/lapisan tanah yang sudah menjadi aliran lumpur atau yang 
belum jadi "jalan" aliran lumpur. 

Langkah pembuatan payung (lihat grafis), dimulai dengan membuat jendela 
(bukaan) masing-masing 3.000 kaki, mengebor lajur tepi (sidetrack), hingga 
3.500 kaki, memasang cashing, masing-masing 3.500 kaki, mengebor bagian lateral 
(menyamping) sepanjang 500 meter ke depan, meretakkan/memecahkan batuan secara 
hidrolik dan mengisinya dengan "semen" dari polimer tadi. 

Pada saat seluruh "radius" ledakan/rembesan lumpur sudah terkendali oleh payung 
polimer, pada saat itulah lubang semburan yang utama mulai ditangani dengan 
menutupnya dengan hydro-packing bertekanan besar, serta polimer. 

"Teknologi yang ditawarkan ini menggunakan cara berpikir tebalik. Dia justru 
menggunakan hydro packing dan tekanan tinggi menahan semburan dari dalam," kata 
Irzal menambahkan. 

Pembiayaan 
Pavel menjelaskan, proposal itu telah diajukannya ke depan staf ahli Menteri 
Negara Lingkungan Hidup (LH) Rachmat Witoelar, dan staf ahli Menteri Energi dan 
Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro pekan lalu. 

"Proposal ini pada dasarnya 90 persen risiko pada saya. Nilai 90 persen itu 
dibayar jika pekerjaan selesai, dan lumpur mati," katanya. 

Sedangkan 10 persen yang harus disediakan pemerintah atau Lapindo, sepenuhnya 
hanya untuk mendatangkan peralatan, dan SDM yang menangani teknologi. Belum 
termasuk fee untuk Pavel dan timnya. 

Nilai 10 persen sebagai uang muka itu, ,jumlahnya sekitar 50.000 dollar AS. 
"Tidak besar, dibanding jumlah yang telah dikeluarkan Lapindo tiap hari," 
katanya. 

Kedatangan Pavel ke Indonesia, diakui oleh Susanto Pudjomartono atas 
inisitifnya. Ilmuwan yang malang melintang di berbagai perusahaan pertambangan 
Kanada, AS, Siberia, Kazakstan, maupun Kamzatka itu, sebelumnya bertemu dengan 
mantan Dubes Indonesia untuk Rusia Rachmat Witoelar. Lalu Witoelar dan Susanto 
sepakat, untuk memperkenalkan Pavel membantu mengatasi semburan lumpur. 

"Apa yang bisa kami lakukan, kami lakukan. Ini demi bangsa kita yang terus 
menderita akibat bencana lumpur ini. Apalagi Bapak Presiden akan berkunjung ke 
Rusia 30 November-1 Desember nanti," kata Susanto. 

Irzal mendukung langkah Susanto, karena tawaran Pavel merupakan bagian dari 
alih teknologi antarkedua bangsa. (HRD)

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke