KOMPAS
 Kamis, 26 Oktober 2006 

 
Politik Etis Kapitalisme 


Imam Cahyono 

Seperti kawasan Indonesia timur lainnya, wilayah itu menyuguhkan pesona alam. 
Dulu, gugusan pulau itu dikenal sebagai penghasil rempah-rempah terbesar di 
dunia. Tetapi, indahnya kepulauan berubah menjadi kepedihan saat memasuki 
pedalaman. Masyarakatnya melarat. Infrastruktur pas-pasan. Sarana-prasarana 
pendidikan dan kesehatan terbatas. Air bersih tak mudah didapat. 

Padahal, di sana banyak area pertambangan. Di Halmahera Utara, PT NHM mengelola 
tambang emas, korporasi multinasional (MNC's) asal Australia. Ironisnya, 
masyarakat hidup mengenaskan. Pendidikan memprihatinkan. Pendapatan nelayan 
berkurang. Hasil kopra, pala, dan cengkeh menurun. Banyak masyarakat menjadi 
penambang ilegal, risikonya nyawa melayang di ujung senapan aparat keamanan. 

Bagi masyarakat, kekayaan alam justru membawa kutukan (resource curse). Di 
balik kelimpahan, tersimpan kesengsaraan. 

Penopang hidup rakyat dirampas kontrak karya (contract of work) antara 
korporasi dan pemerintah pusat. Impitan struktural dan ketidakadilan membuat 
masyarakat berontak merebut hak dan tanahnya kembali. 

Politik balas budi 

Bagi pemerintah pusat dan daerah, menemukan kekayaan alam ibarat mendapat 
durian runtuh, diharapkan mendongkrak pendapatan negara melalui penerimaan 
royalti dan pajak. Menghadapi tuntutan rakyat, pemerintah maupun korporasi tak 
pernah kehilangan akal, termasuk lahirnya tren baru, desain model politik etis 
berupa corporate social responsibility (CSR). 

Secara historis, politik etis lahir sebagai kritik atas politik tanam paksa. 
Pemerintah kolonial bertanggung jawab atas kesejahteraan pribumi. Gagasan 
Pieter Brooshooft dan C van Deventer membuka mata Belanda untuk memerhatikan 
nasib pribumi. Utang budi (een eerschuld) dan panggilan moral dituangkan dalam 
politik etis, terangkum dalam Trias Politika meliputi irigasi, emigrasi, dan 
edukasi. 

Memang tak banyak kaum terpelajar yang dihasilkan. Tetapi, muncul kesadaran 
politik dan nasionalisme. Politik etis membuka kesadaran semangat kebangsaan 
sehingga lahir pergerakan seperti Budi Utomo. Lahir tokoh Hatta dan Suwardi 
Suryaningrat dari kelas menengah. 

Sebagai model baru balas budi, CSR diyakini sebagai ekspresi kewajiban 
perusahaan yang peka terhadap stakeholder di sekitar lokasi bisnis. CSR 
merupakan inisiatif dan aktivitas sosial sebagai wujud komitmen dan tanggung 
jawab sosial perusahaan (Kotler and Lee, 2005). CSR selalu dikaitkan prinsip 
Sustainable Development. 

Publik skeptis terhadap CSR. Tanggung jawab sosial korporasi dianggap 
akal-akalan. Seperti politik etis, CSR lahir karena tuntutan zaman. Jika tidak 
dipenuhi, dapat menimbulkan hal-hal tak diinginkan. 

Uniknya, gaung CSR menggema pascareformasi 1998. Mengapa? Ini terjadi karena 
pada masa Soeharto, situasi dan kondisi terkendali. Stabilitas politik terjaga. 
Jadi, program CSR menjadi tameng guna melindungi kepentingan perusahaan. Dengan 
itu, ia bisa menunjukkan telah memenuhi aturan, melakukan tanggung jawab. 
Alhasil, CSR digunakan agar investasi perusahaan tetap dalam kondisi aman. 

Tidak mudah percaya etika korporasi atau melihat kapitalisme berwajah humanis 
(capitalism with a heart). Mustahil ada investor mau merugi. Prinsip dagang, 
maksimalisasi profit adalah tujuan utama korporasi. Karena penguasa modalnya 
perusahaan asing, keuntungannya pun kembali ke pemilik modal. 

Kepentingan jangka pendek 

Hingga kini, nasib korban lumpur panas Sidoarjo tidak jelas. Sebagai etika 
korporasi, Lapindo memberi ganti rugi berupa uang. Ini merupakan solusi jangka 
pendek. Tanggung jawab korporasi seharusnya ditekankan pada hak dasar hidup 
(livehood sustainable), yakni sandang, pangan, papan, kesehatan, dan 
pendidikan. 

Berakhirnya kegiatan pertambangan atau kontrak karya tak lepas dari masalah. 
Purnatambang, tanah dikembalikan kepada negara. Tetapi, apakah kondisi 
kesuburan tanah masih seperti semula dan dapat digunakan masyarakat dengan 
baik? Seusai penambangan nikel di Pulau Gebe, Halmahera Tengah, yang dikelola 
PT Antam, tanah dikembalikan dalam kondisi rusak berat. Padahal, masyarakat 
membutuhkan keberlangsungan hidup secara sosial dan ekonomi di saat Pulau Gebe 
tanpa tambang nikel. 

Umumnya, keberadaan MNC's di sektor pertambangan merusak sumber mata pencarian 
rakyat. Masyarakat lokal yang sebagian besar petani kehilangan tanahnya. Mereka 
tak bisa lagi bercocok tanam, lahan menjadi lokasi tambang, perkantoran, 
lapangan golf, atau bandara. Pascatambang, saat korporasi hengkang, masyarakat 
bingung bagaimana harus melanjutkan hidup. 

Kontrak karya pertambangan hanya menguntungkan korporasi internasional. Tidak 
sebanding antara yang didapat dari kontrak dan rusaknya lingkungan, areal 
perkebunan dan pertanian, basis kehidupan rakyat. Tidak ternilai rusaknya 
tatanan adat setempat. Belum lagi potensi konflik, baik horizontal maupun 
vertikal, yang ditimbulkan. 

Amat bijak jika kita membangun optimisme, berupaya bisa mengolah kekayaan alam 
sendiri, guna kepentingan bangsa. Kata Bung Karno, "Biarkan kekayaan alam itu 
di dalam tanah, tunggu sampai anak bangsa mampu mengolah sendiri." Jangan 
sampai kita menjadi budak kepentingan modal asing, menjadi bangsa kuli dan kuli 
di antara bangsa-bangsa. 

Imam Cahyono 
Peneliti, Sedang Riset Eksistensi MNC's di Indonesia 


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke