http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2006102104063415
      Sabtu, 21 Oktober 2006 
     

      BURAS 
     
     
     


Kemarau Selalu Panjang! 



       
      H.Bambang Eka Wijaya:

      TAHUN lalu tak mudik, sesampai desa usai mencium tangan nenek, Budi dan 
adiknya lari melepas rindu ke waduk tempat ia berenang setiap mudik sebelumnya. 
Tapi sampai dam pembagi saluran irigasi itu Budi tercengang, waduknya kering 
kerontang.

      "Kok?" entak Budi menatap semua sawah cokelat selayak padang tandus!

      "Berarti warga tak panen dua kali setahun seperti biasanya!" sambut adik. 
"Kenapa pemerintah tak membuat hujan buatan untuk mengisi waduk?"

      "Membuat hujan buatan mahal!" timpal Budi. "Rencana membuat hujan buatan 
mengatasi asap yang sudah menyesakkan negara tetangga, selalu urung! Tak peduli 
asap kian ganas, banyak bandara ditutup berhari-hari!"

      "Meski hujan buatan mahal, tetap lebih besar kerugian petani di wilayah 
pertanian luas ketika kehilangan satu musim panen!" tegas adik. "Wajarnya, demi 
menjaga kesejahteraan rakyat, pada tahun diperkirakan bakal terjadi kemarau 
panjang, pemerintah menyiapkan anggaran secukupnya untuk mengadakan hujan 
buatan, seperti anggaran untuk subsidi BBM dan listrik buat orang kota! Mind 
set pemerintah dan DPR yang mengandalkan hujan sepenuhnya dari alam sudah harus 
diubah, menjadikan hujan sebagai kebutuhan vital warga negara terutama 
petani--mayoritas warga bangsa--hingga saat dibutuhkan bisa disuplai lewat 
memanfaatkan kemajuan teknologi!"

      "Paradigma baru ke arah itu memang harus dimantapkan karena kemarau kini 
cenderung selalu panjang bisa memutus siklus produksi rakyat, hingga menambah 
jumlah kaum miskin dan memperberat penderitaan!" sambut Budi. "Jika dihitung 
secara benar dengan kerja efektif dan efisien, mungkin anggaran satu sampai dua 
triliun rupiah cukup untuk membuat hujan buatan yang merata dan berkala! 
Benefit-nya bagi kehidupan rakyat pasti jauh lebih besar!"

      "Mengingat siklus panen yang terputus sama dengan kehilangan pendapatan 
setengah dari penghasilan tahunan petani, pemikiran ke arah itu harus 
diprioritaskan!" tegas adik. "Sikap pasrah sepenuhnya kepada alam sudah bukan 
zamannya! Apalagi disadari, kondisi alam negeri telah dirusak pendahulu kita, 
yang mencuri kekayaan alam dari anak-cucu semata untuk memenuhi keserakahan 
generasinya yang terjebak pola hidup boros!"

      "Artinya, selain dana reboisasi dan rehabilitasi lahan yang selalu 
dianggarkan--meski penggunaannya belum efektif dan banyak kebocoran--dana untuk 
hujan buatan juga disiapkan dengan mata anggaran khusus!" timpal Budi. "Lewat 
pos anggaran itu pula bisa disiapkan perlengkapannya, agar saat dibutuhkan 
semua tersedia! Tidak seperti sekarang, hanya untuk membuat bom air mengatasi 
asap meminjam pesawat Rusia, yang tak kunjung tiba!"

      "Memang! Jangan bertahan dengan filsafat kodok, saat terkejut baru 
melompat!" tukas adik. "Karena kemarau selalu panjang, tak harus asal melompat 
saat terkejut, bisa-bisa malah masuk mulut ular!" ***
     


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke