Ha..ha..ha..serendah itu kah kemampuan anda dalam menganalisa surat khabar...Apakah anda yakin dia itu Islam atau bukan, apakah anda lihat dia shalat tiap hari, puasa, dll lain lain, karena batasan seseorang Islam atau tidak ya dari Shalat 5 waktu. Mungkin anda benci Islam tapi analisa anda konyol sekali.
ANDA BISA MENYEBUTKAN AYAT ALQURAN TENTANG BOLEHNYA MENGANIAYA ISTRI??anda pasti tidak akan bisa menyebutkan., di Koran juga gak disebutkan dia Islam atau tidak. Saya kira anda hanyalah seorang science gadungan yang banyak membaca berita kriminal, penganiayaan, pemerkosaan di surat khabar. Coba anda buang sedikit pikiran picik anda, katanya anda kuliah di Amerika kan?? Buat orang lain salut pada anda bukannya mencibir dan mencemooh anda. Buatlah tulisan tulisan yang orang lain senang pada anda. dan bermanfaat buat orang lain, bukannya berita rendah seperti ini. Itulah baru manusia beradab namanya. ----- Original Message ---- From: Hafsah Salim <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Saturday, October 28, 2006 1:23:04 PM Subject: [proletar] Hidup Keluarga Islam Yang Biadab Dalam Zaman Yang Beradab !!! Hidup Keluarga Islam Yang Biadab Dalam Zaman Yang Beradab !!! Dibawah ini adalah berita dari SURAT KABAR MERDEKA tanggal 28 Oktober 2006. Islam memang mengizinkan seorang suami untuk menganiaya isterinya yang dianggapnya bersalah, baik bersalah karena mencuri, maupun bersalah karena berzinah. Islam juga membenarkan untuk menteror atau menyerang umat lain yang dianggapnya menyerang lebih dulu, seperti umat bukan Islam di Denmark memprotes teror2 Islam dengan Karikatur Muhammad, namun umat Islam didunia menganggap Karikatur Muhammad sebagai menyerang Islam, maka dibenarkan Islam menyerang balik dengan membakari dan menjarahi toko2 yang menjual produk Denmark, bahkan membakari semua kedutaan2 Denmark di negara2 yang mayoritas Islam. Demikianlah ajaran Islam yang mengubah perilaku manusia yang menjadi umatnya merupakan sisa2 dari ajaran kebiadaban dimasa lalu yang sudah seharusnya tidak lagi dilakukan dalam peradaban sekarang yang sudah beradab. Demikianlah dibawah ini adalah laporan bagaimana seorang Suami Muslim yang berhak menyeterika muka isterinya sendiri karena dituduh mencuri uang. Padahal suaminya pengangguran, dan isterinya pemilik toko yang menjamin kehidupan keluarganya. Kita semua umat manusia sebagai manusia yang beradab mengutuk penganiayaan terhadap isteri baik dia bersalah apalagi tidak bersalah. Hukum yang beradab melarang penganiayaan terhadap siapapun yang dianggapnya bersalah. Kita tak mengenal UU hukum yang menyeterika muka orang. Baiklah setiap pembaca dipersilahkan membaca laporan surat kabar Merdeka dibawah ini untuk bisa dikomentari: Sadis, Suami Seterika Wajah Istri Jakarta, CyberNews. Tindak kekerasan dalam rumah tangga terus terjadi. Sanusi (45) tega menjerat leher dan menyeterika wajah istrinya, sebut saja Dewi (45), karena dicurigai mencuri uang Rp 50.000. Akibat perbuatan suami sadis ini, hidung, pipi, dan pelipis mata kiri Dewi memar dan berdarah. Kesadisan Sanusi tak hanya sampai di sini. Setelah menyeterika wajah istrinya, Sanusi masih tega memukuli bagian belakang kepala istrinya dengan seterika. Beruntung, Dewi bisa lolos dan melarikan diri ke tempat salah seorang rekannya, Desi, sehingga penganiayaan suami bejat ini terhenti. Kekerasan yang menimpa Dewi itu terjadi di rumahnya, di kawasan Cipondoh, Tangerang, Banten, Jumat (27/10) pagi. Ketika Dewi baru pulang dari pasar membawa belanjaan keperluan sehari-hari sekitar pukul 08.00, begitu masuk ke dalam rumah, bukannya disambut ramah suaminya yang pengangguran, tapi ia malah diomeli habis-habisan. "Kamu mencuri uang saya, ya, Rp 50.000. Tadi uang itu saya taruh di meja, sekarang tidak ada. Pasti kamu yang mengambil," ujar Dewi menirukan teriakan suaminya. Dewi yang merasa tidak mengambil uang itu tentu saja tidak mengakui tudingan suaminya. "Tidak. Saya mengambil uang kamu untuk apa?" jawab Dewi. Mendengar jawaban Dewi, Sanusi naik pitam. Dia lantas mengambil seterika baju dan menjerat leher Dewi dengan kabelnya. Dewi berusaha melawan, namun Dewi bukanlah tandingan Sanusi yang memiliki tubuh tinggi besar. Perlawanan Dewi membuat Sanusi semakin kejam. Ia lalu memukulkan seterikaan itu ke wajah Dewi dan mengenai hidung, pipi, dan mata kirinya. Menerima pukulan dari suaminya, Dewi kemudian tersungkur dan kemudian berusaha melepaskan jeratan di lehernya. Namun, Sanusi bukannya menghentikan penganiayaan terhadap istrinya, tetapi malah makin kalap. Dewi yang saat itu menangis dan sudah tidak berdaya justru dipukul tangan kosong di kepalanya. Kejadian ini disaksikan tiga dari enam anak hasil perkawinan mereka. "Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya berteriak agar suami saya menghentikan perbuatannya yang keji itu," ujar Dewi. Dewi akhirnya bisa melarikan diri dan suaminya tidak mengejarnya. "Awalnya saya akan langsung pergi ke toko sofa saya di daerah Cengkareng. Tapi, karena darah terus mengucur, saya putuskan pergi ke rumah teman saya, Desi, di Cengkareng," paparnya. Sampai di sana, Dewi menceritakan semua kejadian yang baru saja dialaminya kepada Desi. Desi lalu menyarankan Dewi untuk melaporkan hal ini kepada polisi. "Tindakan suami seperti itu sudah tidak benar. Ini bukan untuk pertama kalinya dan sudah kelewatan," ujar Desi yang ditemui di rumahnya di perumahan Semanan Indah. Mereka kemudian menghubungi petugas Polsektro Cengkareng. Petugas lalu datang ke rumah Desi. Sesampainya di sana, Dewi menceritakan apa yang baru saja dialaminya. Karena kejadiannya berlangsung di daerah Cipondoh, petugas Polsektro Cengkareng kemudian melimpahkan kasus ini ke Polsekta Cipondoh. Petugas Polsekta Cipondoh yang menerima laporan kasus ini langsung menjemput Sanusi yang saat itu masih berada di rumah. Dewi menceritakan, tindak kekerasan yang dilakukan suaminya bukan yang pertama kali. "Dia sudah sering menyakiti saya. Namun, karena rasa cinta saya sama dia dan anak-anak, saya masih bisa memberi maaf," tuturnya. Dewi juga menuturkan, suatu ketika ia tak sadarkan diri selama enam jam, setelah dipukuli suaminya. "Waktu itu dia marah karena tersinggung dengan ucapan saya. Waktu itu saya baru pulang kerja melihat rumah berantakan, saya tegur dia. Lalu dia marah," ungkapnya. Selama hampir 25 tahun menikah, lanjut Dewi, dirinya lah yang bekerja untuk menghidupi keluarganya. Ia membuka sebuah toko mebel di sebuah mal di Cengkareng. "Suami saya itu pengangguran, " katanya. Rasa cinta Dewi kepada suaminya memang tidak diragukan lagi. Selain pengangguran, suaminya juga mempunyai hobi berjudi. "Saya tidak tahu, ini semua karena cinta saya yang besar terhadap dia dan anak-anak saya," paparnya. Beberapa kali anak-anak meminta Dewi untuk menggugat cerai suaminya. Namun, Dewi menolaknya. "Waktu itu saya pernah meninggalkannya selama sebulan. Tapi, tahu-tahu anak saya yang ketiga meninggal dalam sebuah kecelakaan. Mungkin memang Tuhan tidak mengizinkan saya meninggalkan dia," ucap Dewi sambil mengucurkan air mata.( wartakota/Cn08 ) <!-- #ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial,helvetica,clean,sans-serif;} #ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;} #ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial,helvetica,clean,sans-serif;} #ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;} #ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;} #ygrp-text{ font-family:Georgia; } #ygrp-text p{ margin:0 0 1em 0; } #ygrp-tpmsgs{ font-family:Arial; clear:both; } #ygrp-vitnav{ padding-top:10px; font-family:Verdana; font-size:77%; margin:0; } #ygrp-vitnav a{ padding:0 1px; } #ygrp-actbar{ clear:both; margin:25px 0; white-space:nowrap; color:#666; text-align:right; } #ygrp-actbar .left{ float:left; white-space:nowrap; } .bld{font-weight:bold;} #ygrp-grft{ font-family:Verdana; font-size:77%; padding:15px 0; } #ygrp-ft{ font-family:verdana; font-size:77%; border-top:1px solid #666; padding:5px 0; } #ygrp-mlmsg #logo{ padding-bottom:10px; } #ygrp-vital{ background-color:#e0ecee; margin-bottom:20px; padding:2px 0 8px 8px; } #ygrp-vital #vithd{ font-size:77%; font-family:Verdana; font-weight:bold; color:#333; text-transform:uppercase; } #ygrp-vital ul{ padding:0; margin:2px 0; } #ygrp-vital ul li{ list-style-type:none; clear:both; border:1px solid #e0ecee; } #ygrp-vital ul li .ct{ font-weight:bold; color:#ff7900; float:right; width:2em; text-align:right; padding-right:.5em; } #ygrp-vital ul li .cat{ font-weight:bold; } #ygrp-vital a { text-decoration:none; } #ygrp-vital a:hover{ text-decoration:underline; } #ygrp-sponsor #hd{ color:#999; font-size:77%; } #ygrp-sponsor #ov{ padding:6px 13px; background-color:#e0ecee; margin-bottom:20px; } #ygrp-sponsor #ov ul{ padding:0 0 0 8px; margin:0; } #ygrp-sponsor #ov li{ list-style-type:square; padding:6px 0; font-size:77%; } #ygrp-sponsor #ov li a{ text-decoration:none; font-size:130%; } #ygrp-sponsor #nc { background-color:#eee; margin-bottom:20px; padding:0 8px; } #ygrp-sponsor .ad{ padding:8px 0; } #ygrp-sponsor .ad #hd1{ font-family:Arial; font-weight:bold; color:#628c2a; font-size:100%; line-height:122%; } #ygrp-sponsor .ad a{ text-decoration:none; } #ygrp-sponsor .ad a:hover{ text-decoration:underline; } #ygrp-sponsor .ad p{ margin:0; } o {font-size:0;} .MsoNormal { margin:0 0 0 0; } #ygrp-text tt{ font-size:120%; } blockquote{margin:0 0 0 4px;} .replbq {margin:4;} --> [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
