"Bagitu", kata Darwin Bahar yang tidak terlalu cerdas dan mau saja
menjadikan al-Mushaf yang TIDAK berbukti berisi wahyu Allah itu
sebagai kitab suci.
Mari kita dudukkan masaalah ini dengan jelas dulu sekali lagi:
al-Mushaf yang dijadikan kitab suci orang Islam tipikal itu TIDAK
berbukti berisi wahyu Allah.
Dan untuk sampai ke kesimpulan itu kita tidak perlu baca Paul
Casanova, tidak perlu baca Lüling, tidak perlu baca Wansbrough atau
Luxenberg.
Lha orang Arab nggak bawa bukti bahwa al-Mushaf itu memang berisi
wahyu Allah.
(Sekali lagi: harap baca tulisan pendek saya ALIF BA TA)
Mempercayai omongan orang yanng tidak disertai bukti bukanlah
perbuatan orang cerdas.
Lalu apa sesunguhnya al-Mushaf itu?
Untuk menjawab pertanyaan ini memang hanya para orientalislah yang
berusaha mengadakan kajian.
Salah seorang yang secara sungguh-sungguh menelitinya adalah Paul
Casanova yang sejak tahu 1913, lalu diikuti oleh Lüling permulaan
tahun tujuh puluhan yang tidak lama kemudian diikuti oleh Wansbrough
yang menulis dibagian ke dua dasawarsa yang sama dan diikuti oleh
murid-muridnya seperti Patricia Crone dan Michael Cook. Luxemberg
membuka horizon baru dipermulaan abad ini.
Metode yang mereka pakai tidak sama, tapi kesimpulannya searah:
al-Mushaf itu asal-usulnya semacam Bible juga. (Ur-Koran menurut
istilah Lüling)
Lalu apakah tulisan mereka diterima secara unanim?
Ya nggak.
Karena didunia ilmiah, apa lagi dibidang ilmu sosial (sejarah,
sosiologi dll.) boleh dibilang tidak ada karya ilmiah yang begitu jauh
jangkauannnya segera ditulis lantas langsung diterima orang secara unanim.
Teori Darwin - yang pada hal berdasarkan observasi - saja hingga
sekarang tiap hari dikritik, artinya tiap hari disempurnakan.
Demikian juga dengan tulisan Casanova, Lüling, Wansbrough, Crone, Cook
dan Luxenberg ini.
Di kritik, dikatakan punya kelemahan dst.
Di kritik, artinya disempurnakan.
Tapi tulisan mereka TIDAK tinggalkan.
Demikianlah, tulisan Luxenberg yang dikritik orang itu tetap dipakai
dan diterima orang, dan musim rontok tahun yang lalu Gerhard Böwering
memberikan dukungannya dengan memberi penjelasan kenapa Bible apokrif
yang kita temui di ayat-ayat al-Mushaf itu (Allah tak beranak) dan
bukan Bible kanonik (Trinitas), yaitu karena Byzantium ("Benua Ruhum"
menurut orang Islam Minangkabau) yang sibuk berhadapan dengan negeri
lain TIDAK memperhatikan penduduk Padang Pasir, artinya memberi
kesempatan kepada penganut Bible apokrip untuk meluaskan pengaruhnya
kesana.
Begitu!
--- In [EMAIL PROTECTED], Darwin Bahar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Gabriella:
Ini aku ambil dari hasil researchnya Christoph Luxenberg (nom de plume)
dari seorang Linguist dan expert dlm Bahasa Syriac asal Timur Tengah.
Christoph Luxenberg (ps.) Die syro-aramaeische Lesart des Koran;
[AKHIR KUTIPAN]
Seperti pernah saya tulis dalam dua posting yang cukup panjang di milis
ini, "teori" Luxenberg bernama asli Ephraem Malki, warga negara Jerman
asal Libanon penganut fanatik Kristen Ortodoks yang dituangkannya dalam
bukunya Die Syro-Aramaeische, mempunyai banyak kelemahan, dan yang
mengungkapkan kelemahan tersebut justru para sarjana non-muslim yang
melakukan pengkajian serius terhadap Al Quran. Dalam posting saya
tersebut saya antara lain menulis.
Simposium Orientalistik se-Eropa di Bamberg, Jerman Selatan, 2001
yang menjadikan Buku Die Syro-Aramaeische sebagai sorotan pada sesi
"Kajian Al Qur'an" (Koranforschung) misalnya, bersepakat bahwa
temuan-temuan Luxenberg tidak berarti bagi konteks sekarang.
Tesis-tesisnya merupakan kelanjutan model lama kajian Al Qur'an di
Jerman yang diawali Abraham Geiger, N"ldeke, dan Rudolf. Hermut
Bobzin, Professor studi Al Qur'an dari Erlangen, yang sedang
menggarap terjemahan Al Qur'an edisi terbaru berpendapat, tesis
Luxenberg bisa menjadi benalu bagi perkembangan kajian Al-Qur'an
yang obyektif.
Lebih lanjut, awal tahun 2004 yang lalu, Wissenschaftskolleg Berlin
menghadirkan puluhan pakar dari berbagai dunia, khusus untuk
mengupas buku tersebut. Professor Hans Daiber-yang memberikan
seminar terbuka tentang karya itu selama satu semester penuh di
Departemen Orientalistik Universitas Frankfurtmengungkap sejumlah
kelemahan buku itu secara metodologi dan filologi.
Seperti tersirat di atas, dewasa ini tidak semua kajian Al Qur'an di
Jerman bernada negatif. Belakangan, bermunculan kajian yang lebih
objektif. Seperti karya Angelika Neuwirth (Institut Orientalistik
Berlin) dan Stefan Wild (Bonn). Paling menonjol adalah karya Navid
Kermani, Gott ist sch"n, das sthetische Erleben des Koran (Tuhan
Maha Indah: Penghayatan Estetik terhadap Al Qur'an -- 546 halaman,
2000) yang telah menggeser paradigma kajian Al Qur'an di Jerman.
Buku itu menitikberatkan pengaruh Al Qur'an terhadap kehidupan
pengikutnya. Kermani bahkan kerap mengkritik sarjana Barat yang
masih mencari-cari kelemahan al-Qur'an.
Tulisan pertama dari dua tulisan itu, yang memuat kutipan di atas
kemudian dipilih Elceem sebagai salah satu dari lima tulisan pertama di
Superkoran.
Dari kalangan Islam sendiri sanggahan terhadap Luxenberg antara lain
datang dari alumnus Cambridge University Prof. Dr. Muhammad Mustafa
al-A'zami. Penulis sejumlah buku, antara lain The History of The
Qur'anic Text (2003) pernah berkunjung ke Indonesia tahun lalu untuk
meluncurkan versi Indonesia buku itu dalam Pameran Buku Islam di Istora.
Seperti yang dilaporkan Gatra Nomor 22 tanggal 11 April 2005 yang lalu,
Gus Dur, yang mengaku pengagum A'zami, bertindak sebagai panelis bersama
pakar Quran dan hadis lainnya. Ketika ditanya oleh wartawan Gatra yang
mewawancarainya tentang Luxenberg dengan enteng ia menjawab: "Ah, dia
pemikir bodoh. Beberapa penulis mengomentari bahwa pengetahuannya
tentang bahasa Syiriya-Aramaik sangat dangkal. Kata dia, Al-Quran
berasal dari bahasa Aramaik, kemudian setelah 100 tahun beralih ke
bahasa Arab. Sehingga disebut Quran kondisional. Itu sama sekali bukan
kajian ilmiah."
Begitu.
Wassalam, Darwin
--- End forwarded message ---
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/