REFLEKSI: Makin bodoh kaum miskin makin menguntung penguasa negara dan 
petinggi-petinggi partai politik, karena dengan politk pembodohan makin mudah 
mereka ditipu, diperas dan digembalakan seperti kambing di padang tandus.


http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/11/4/o2.htm

Terjadinya komersialisasi dan ''macdonalisasi'' pendidikan membuat kaum miskin 
pinggiran terlempar ke jurang kepedihan. Walaupun mereka lolos SPMB, namun 
karena tidak mampu membayar biaya pendaftaran yang selangit, akhirnya harus 
angkat kaki dari lingkungan kampus. Inilah malapetaka yang akan menjebol dan 
memporak-porandakan kemajuan bangsa.
------------------------

Mencegah Kaum Miskin Terlempar dari Pendidikan
Oleh A. Musthofa 

PERSOALAN yang terus mengganjal dan menjadi barometer keperkasaan bangsa adalah 
pendidikan. Mencerdaskan anak bangsa adalah salah satu tujuan awal didirikannya 
bangsa Indonesia. Kenyataannya, pergantian rezim pemerintahan bukannya menjadi 
pemecah persoalan yang melilit pencerdasan bangsa, namun justru menjadi bagian 
dari permasalahan, karena kebijakan pemerintah seringkali tidak tepat sasaran 
atau kebijakan itu digunakan proyek terselubung oleh tertentu, semisal 
bongkar-pasang kurikulum.

-----------------------

Dari kurikulum yang pertama (1968) hingga yang kelima (2004/ kurikulum berbasis 
kompetensi), praksis pendidikan bukannya sebagai bagian dari nation and 
character bulinding sebagaimana dirintis Perguruan Tamansiswa (1922), tetapi 
malah digunakan sebagai impuls kepentingan politik praktis. Tidak salah kalau 
berbagai fase kurikulum itu hanya bisu sebagai hidden curriculum, kurikulum 
yang belum dipraktikkan sebagai pedoman kegiatan belajar di sekolah. 

Dari sini terlihat jelas, praksis pendidikan kita tidak visioner, mandek, dan 
sering ditelikung oleh vested interest (kepentingan sesaat), sehingga tidak 
heran walaupun Pasal 31 Ayat (4) UUD 1945 telah ditetapkan anggaran pendidikan 
sebesar 20 persen dari APBN dan APBD, tetap saja sampai sekarang belum 
terealisasi: tersendat di persimpangan jalan yang berliku. Bukan tidak mungkin 
itu hanya akan menjadi lipstik politik dalam melanggengkan kekuasaan. Padahal, 
20 persen belumlah signifikan, terlebih negara-negara ASEAN saat ini sedang 
marak-maraknya meningkatkan taraf kualitas pendidikan. Kalau 20 persen masih 
sebatas wacana, bagaimana nasib pendidikan di masa depan? Pasti lebih 
mengenaskan. Karena persoalan pendidikan di orde reformasi sekarang sangat 
kompleks. Apalagi ditingkat universitas. 

Kaum Miskin Terlempar

Terjadinya komersialisasi dan ''macdonalisasi'' pendidikan membuat kaum miskin 
pinggiran terlempar ke jurang kepedihan. Walaupun mereka lolos SPMB, namun 
karena tidak mampu membayar biaya pendaftaran yang selangit, akhirnya harus 
angkat kaki dari lingkungan kampus. Inilah malapetaka yang akan menjebol dan 
memporak-porandakan kemajuan bangsa. Makanya, tengok peringkat Indeks 
Pembangunan Manusia Indonesia (2000) yang berada di posisi 109 dari 174 negara 
anggota PBB yang disurvai UNDP. Bahkan, dalam laporan UNDP tahun 2004, 
peringkat Indonesia turun ke peringkat ke-111.

Fakta di atas mengindikasikan bangsa ini membutuhkan kerangka dan orientasi 
pendidikan yang jelas, sehingga amanat founding fathers dalam mencerdaskan anak 
bangsa akan terealisasikan secara cepat. Untuk itu, dalam merumuskan orientasi 
masa depan, pemerintah harus melibatkan seluruh elemen bangsa, seperti Kaisar 
Hirohito dalam membangun pendidikan Jepang pascadibombardis AS dan sekutunya, 
Agustus 1945. 

Ke depan, di tengah tantangan globalisasi yang begitu berat, pendidikan di 
Indonesia tidak hanya menyiapkan generasi yang ''sadar baca'' an sich, namun 
juga generasi dengan skill dan kreativitas yang tinggi. Karena pusaran kekuatan 
globalisasi, bagi Richard Falk (On Humane Governance: Toward a New Global 
Politics, 1995) dikuasai oleh tiga kekuatan besar di dunia ini, yaitu state, 
market, dan civil society. Apabila market dan state bersatu menghadapi civil 
society, yang terjadi adalah inhumance governance. Apabila civil society dan 
market bersatu menghadapi state, yang akan terjadi adalah pemerintah yang 
bertanggung jawab terhadap rakyat atau humance governance. 

Bila civil society dan state bersatu menghadapi market, yang akan terjadi 
adalah penjinakan market yaitu kebijakan-kebijakan yang mengurangi 
kesewenang-wenangan market. 

Tanpa mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas, Indonesia akan 
kelimpungan menghadapi persoalan globalisasi tersebut. Untuk itu, metodologi 
pendidikan yang dilakukan Freire sebagai media penyadaran sangat tepat. Dalam 
arti, pendidikan harus mampu menggabungkan ''alfabetisasi'' dengan kesengajaan 
menanamkan kesadaran tentang fakta-fakta, dan juga pemahaman atas semua 
kekuatan (ekonomi, politik, struktur sosial) yang dianggap sebagai penyebab 
timbulnya fakta-fakta ini. 

Lebih jauh, dalam "Pedagogy of the Oppressed"-nya (1970) Freire juga memusatkan 
perhatian pada a transformed consciousness, tetapi itu ia didedikasikan untuk 
pemberdayaan kaum tertindas melalui berbagai macam metode, termasuk 
self-directed dan pendidikan yang tepat. Ia juga merujuk pada kesadaran palsu 
dari para penindas, dan menekankan kebutuhan untuk mengarahkan penindas agar 
mau melihat bagaimana ''reifikasi'' telah mengakibatkan dehumanisasi baik 
terhadap penindas maupun yang ditindas. 

Concern utama Freire sebenarnya terletak pada upaya transformasi sosial para 
oligarki politis masyarakat Amerika Latin dengan memberi pendidikan baik kepada 
penindas maupun yang ditindas melalui swa-refleksi kritis (conscientisation) 
mengenai situasi sosial-politik yang mereka hadapi untuk kemudian mengubahnya 
menjadi situasi yang lebih baik, lebih adil, dan lebih manusiawi.

Gagasan Freire tersebut sangat tepat bagi pendidikan kita. Karena, selain 
menumbuhkan sikap kritis, peserta didik juga dilatih membangun kecerdasan 
sosial yang nantinya mampu mengantisipasi berbagai problematika sosial yang 
terus menghadang di tengah terpaan kapitalisme global. Inilah sebenarnya 
orientasi pendidikan kita: pendidikan yang mampu mencerdaskan dan membebaskan 
anak bangsa menuju kemandirian dan keadaban. 



Penulis, pendidik, staf peneliti The Independent Institute Semarang

----------------

* Bangsa ini membutuhkan kerangka dan orientasi pendidikan yang jelas, sehingga 
amanat founding fathers dalam mencerdaskan anak bangsa akan terealisasikan 
secara cepat. 

* Pemerintah harus melibatkan seluruh elemen bangsa. 

* Ke depan, di tengah tantangan globalisasi yang begitu berat, pendidikan di 
Indonesia tidak hanya menyiapkan generasi yang ''sadar baca'' an sich, namun 
juga generasi dengan skill dan kreativitas yang tinggi. 

* Metodologi pendidikan harus mampu menggabungkan ''alfabetisasi'' dengan 
kesengajaan menanamkan kesadaran tentang fakta-fakta, dan juga pemahaman atas 
semua kekuatan (ekonomi, politik, struktur sosial) yang dianggap sebagai 
penyebab timbulnya fakta-fakta ini. 


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke