REPUBLIKA

Jumat, 03 Nopember 2006

Sumpah Pemuda, 'Roti', dan Kekitaan Kita 

Oleh : Zaim Uchrowi 


Tidak akan pernah ada Indonesia tanpa para pemuda itu. Tidak akan pernah ada 
Indonesia tanpa tekad mereka bersatu di bawah payung bangsa dan negara yang 
kemudian dinamai 'Indonesia' ini. Tekad inilah yang dikenal sebagai 'Sumpah 
Pemuda'. Sebuah tekad untuk membangun satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa, 
yakni Indonesia. Apa kebangsaan kita jika tanpa mereka?

Banyak orang tahu bahwa peristiwa itu berlangsung pada 28 Oktober 1928, atau 
hampir delapan puluh tahun silam. Banyak orang juga tahu apa yang disumpahkan 
pada saat itu. Tetapi, sungguhkah semua paham betapa penting sumpah itu bagi 
kehadiran Indonesia sekarang? Sungguhkah semua paham jalan terjal apa yang 
telah ditempuh untuk menghasilkan sumpah itu? Perjalanan waktu sering membuat 
peristiwa penting menjadi sekadar catatan sejarah tanpa terasakan lagi maknanya.

Soekarno saat itu berusia 27 tahun. Usia itu adalah dua tahun di atas usia 
matang perkembangan otak manusia, terutama dalam fungsi pengambilan keputusan. 
Tetapi, benih kebangsaan telah tertanam padanya sejak usia yang lebih muda. 
Setidaknya sejak ia tinggal di rumah mentornya, HOS Tjokroaminoto. Benih 
kebangsaan bahkan telah menyebar begitu luas, pada hampir semua intelektual 
masa itu. Koran Medan Prijaji, organisasi Boedi Oetomo, dan Syarikat Islam 
adalah sebagian dari institusi kebangsaan yang lahir pada masa itu. Begitu pula 
organisasi-organisasi pemuda yang terus bermunculan. Balai Poestaka yang 
didirikan tahun 1917 bahkan menjadi bumerang bagi Belanda dengan dimanfaatkan 
para sastrawan untuk terus menumbuhkan semangat kebangsaan.

Sumpah Pemuda adalah puncak pertama dari semangat kebangsaan tersebut. Sumpah 
ini mengikrarkan tekad menjadikan seluruh kebinekaan menyatu dalam langkah 
serempak. Yakni, serempak mengakui bertanah air, berbangsa, dan berbahasa yang 
sama yakni Indonesia. Kita tahu, tekad yang diikrarkan sebagai sumpah itu bukan 
sekadar ungkapan kata-kata biasa. Kata-kata yang akan terlupakan begitu saja 
oleh perjalanan waktu. Tekad itu justru merupakan motor yang menggerakkan 
seluruh bangsa menuju tujuan yang sama: Merdeka! 

Tujuh belas tahun setelah Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan itu melahirkan 
puncak kedua. Puncak kedua ini adalah puncak yang paling diharapkan semua, 
yakni merdeka. Pada 17-08-1945 kemerdekaan itu diproklamasikan. Dengan 
proklamasi itu, seluruh bangsa menyatakan diri bebas dari belenggu penjajahan 
bangsa apa pun. Bangsa ini bertekad menentukan langkah kaki sendiri, tanpa 
terdikte oleh bangsa manapun. Menjadi merdeka diharapkan akan membuat seluruh 
masyarakat hidup aman-sentosa, damai-sejahtera. Namun kini, setelah lebih dari 
60 tahun merdeka, dapatkah dikatakan bahwa harapan tersebut telah terpenuhi?

Merdeka berarti leluasa. Sedangkan leluasa berarti memiliki banyak pilihan 
dalam hidup, serta punya kebebasan serta kemampuan untuk dapat mengambil 
pilihan terbaik bagi diri sendiri. Manusia yang sejahtera dan sentosa adalah 
yang seperti itu pula. Dengan pengertian tersebut, mudah bagi kita untuk 
mengatakan bahwa kemerdekaan kita selama ini lebih merupakan kemerdekaan fisik 
dan politik. Kemerdekaan kita belum mencapai kemerdekaan jiwa dan ekonomi.

Bagi jutaan warga miskin dan pencari kerja, keleluasaan sebagai orang merdeka 
adalah barang yang sangat dan sangat langka. Kehidupan mereka terjajah oleh 
keadaannya sendiri yang juga dipengaruhi oleh ketimpangan struktural yang ada. 
Jiwa sebagian besar mereka telanjur terbentuk sebagai jiwa orang yang kalah dan 
terjajah.

Alih-alih memercayai kekuatan sendiri (betapapun lemahnya) untuk bangkit, 
mereka lebih suka mengharapkan munculnya pemimpin yang dapat berperan sebagai 
'ratu adil' untuk menolong hidup mereka. Mental terjajah tak hanya dimiliki 
orang bawah, melainkan juga kalangan menengah dan atas.

Di masa kolonial Belanda, banyak kalangan ningrat dan elite lainnya sangat 
menikmati penjajahan. Seorang raja besar di Jawa begitu bahagia dengan kiriman 
roti tentara Belanda. Ia bahkan mendesak Belanda untuk segera mengirimkan roti 
lagi. Sekarang, sebagian besar kita di lapis menengah atas pun tergila-gila 
pada 'roti' asing. Hal itu semakin terlihat dari apa yang kita konsumsi serta 
apa yang kita kenakan dan gunakan sehari-hari. Berapa banyak konsumsi dan 
barang di sekitar kita yang benar-benar produk kita sendiri. Kita mengagungkan 
gaya hidup, cara berpikir, dan atribut asing. Kita merendahkan dan bahkan acap 
menertawakan 'roti' kita sendiri.

Lalu, jadilah kita sebagai 'konsumen rakus' dan bukan 'produsen produktif' dari 
peradaban global. Dan kita sama sekali tidak merasa bersalah atas kedaan 
seperti ini.

Sejarah menunjukkan bahwa bangsa besar adalah selalu bangsa yang memiliki 
'kekitaan' kental. Bukan bangsa yang terkagum-kagum dan merendahkan diri pada 
asing. 'Kekitaan' kental itulah kunci kedahsyatan Amerika Serikat. 'Kekitaan' 
pula yang menjadi kunci kebangkitan Cina dan India saat ini. Kita telah sangat 
sering menertawakan sikap kebangsaan sendiri. Kita tak lagi banyak memiliki 
'kekitaan'. Inilah yang menjelaskan mengapa kita masih saja terpuruk. 

Mau bangkit? Mari bangkitkan kekitaan bangsa kita. Mari percaya pada 'roti' 
sendiri. 'Roti' itu tidak enak? Mari tingkatkan kualitasnya agar 'roti' itu 
semakin enak. Para pemuda di tahun 1928 mampu melahirkan puncak pertama 
kebangsaan kita. Sekarang saatnya kita membuktikan mampu melahirkan puncak 
ketiga: Menjadikan Indonesia merdeka jiwa raga hingga membuat seluruh 
masyarakat sejahtera.


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke