http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=255299

Rabu, 08 Nov 2006,

Dicari Pahlawan Rekonsiliasi! 
Oleh Arif Koes Hernawan 


Pada era Orde Baru, masyarakat, terutama pelajar, mengenal banyak pahlawan yang 
diyakini turut membidani lahirnya negara ini. Ya, pada masa itu, melalui jalur 
pendidikan dan "ritual-ritual"-nya -seperti seremoni pada hari-hari bersejarah 
dan pemutaran film-film propagandis-, pemerintahan Orde Baru menciptakan 
mitos-mitos tentang pahlawan. Misalnya, terdapat perlawanan dengan bambu 
runcing melawan tank-tank Belanda dan muncul sejumlah pihak yang amat berjasa 
terhadap sejarah bangsa Indonesia.

Selama Orde Baru, sejarah bangsa ini kerap diselewengkan. Selain mitos dan 
ritual untuk mengingat para pejuang tersebut, Orde Baru mengangkat pahlawan 
menurut versinya, yaitu pahlawan revolusi. Wacana kepahlawanan itu 
di(re)produksi terus-menerus dan disebarluaskan selama lebih dari tiga 
dasawarsa. Hal itu turut menjadi fondasi berdiri dan bertahannya Orde Baru.

Dengan alasan stabilitas nasional, pihak-pihak yang berseberangan dengan rezim 
Orde Baru tak diberi kesempatan untuk tampil sebagai pahlawan. Bahkan, dalam 
konteks kecendekiaan dan kesusastraan pun, diperlukan "restu" dari pusat untuk 
menyebut seseorang sebagai pahlawan di bidangnya. Tokoh-tokoh macam Arief 
Budiman dan Pramoedya Ananta Toer diakui sebagai "pahlawan" secara 
sembunyi-sembunyi dan baru diakui setelah Orde Baru tak lagi berkuasa. 

Kendati begitu, tak dapat dimungkiri bahwa pada masa Orde Baru masyarakat dapat 
mengetahui dan kemudian menghargai jasa para pendahulunya -yang secara umum 
dapat disebut sebagai pahlawan, termasuk yang diwacanakan Orde Baru sendiri. 
Dengan idiom "bangsa yang besar adalah bangsa yang mengingat jasa-jasa 
pahlawannya", rakyat berhasil diajak untuk mewarisi peninggalan pahlawannya dan 
"mengisi kemerdekaan dengan pembangunan". 

Lepas dari segala catatan buruknya, Orde Baru juga sanggup membuat rakyat mampu 
mengidentifikasi pahlawannnya secara jelas. Itu tentunya kontributif terhadap 
salah satu babak sejarah Indonesia saat itu yang tengah mengejar tahap 
modernitas dan pembangunan.

Kondisi di masa Orde Baru itu kini memang sudah berubah. Saat ini kekuasaan 
cenderung menyebar dan tidak lagi berada di tangan entitas tunggal semacam 
pemerintah, masyarakat relatif lebih bebas menengarai seseorang sebagai 
pahlawan. Sebab, di masa itu sudah jelas siapa pihak yang menjadi "lawan". Ada 
pemahaman universal sebagai indikator untuk menyebut pihak tertentu sebagai 
pahlawan atau bukan. 

Memang, setelah Orde Baru tumbang, pemerintah menyematkan predikat pahlawan 
reformasi kepada sejumlah mahasiswa yang gugur dalam peristiwa Semanggi -yang 
bisa dilihat sebagai upaya mencari legitimasi berdirinya pemerintahan baru yang 
reformis. 

Meski demikian, pemerintah bukan lagi pihak tunggal yang dapat menentukan hitam 
putihnya satu sosok dalam sejarah. Wacana-wacana tentang "kepahlawanan" 
seseorang atau pihak tertentu dapat datang dari komunitas, kelompok masyarakat, 
atau bahkan dari dunia internasional. Itulah mengapa gelar pahlawan HAM untuk 
Munir memang sudah seyogianya didukung dan terus diwacanakan. 

Namun, tampaknya, kebebasan ini menuntut ongkos sosial yang mahal. Setiap pihak 
dapat mengajukan pahlawan menurut versinya -bahkan mengaku dirinya sebagai 
pahlawan- dengan segala klaim kebenarannya. Dan, yang muncul adalah 
"pahlawan-pahlawan kesiangan" yang menolak perbedaan pendapat dan fakta-fakta 
yang menyudutkan dirinya. 

Kontestasi wacana pun tidak dilakukan secara elegan dan dengan mengandalkan 
cara-cara yang cenderung koersif. Itu berlaku dari tatar elite pemerintah 
hingga organisasi massa, di ranah politik hingga agama.

Kini yang terjadi justru kontradiksi. Di tengah iklim keterbukaan dan 
demokratisasi serta pemerintah yang bukan lagi satu-satunya pihak yang memiliki 
kuasa memberikan status pahlawan, masyarakat justru tak dapat leluasa 
mengidentifikasi pahlawannya. 

Rasanya masyarakat enggan menyebut mereka yang berada selama kurun waktu Orde 
Baru punya jasa terhadap bangsa ini. Apalagi menyematkan status pahlawan kepada 
orang-orang yang berkuasa pada masa itu. Sekarang ini sangat jarang yang berani 
menyebut Soeharto sebagai pahlawan. Dan, kalaupun ada, tentu akan mendapat 
kecaman atau tuduhan macam-macam.

Belakangan, kasus yang mencuat dan menjadi kontraversial adalah siapakah 
"pahlawan" atas kejatuhan Soeharto. Polemik yang bermula dari buku Habibie, 
Detik-Detik yang Menentukan, itu menuai perdebatan seputar pihak-pihak yang 
punya kotribusi terhadap berakhirnya rezim tersebut. "Status pahlawan" ini amat 
penting, mengingat siapa pun yang mendapatkannnya akan mendapat modal sosial 
yang tak sedikit dari masyarakat dan sangat berpengaruh secara politis.

Memang, penelusuran sejarah wajib diupayakan. Tapi, yang lebih penting dari itu 
adalah kedewasaan kita dan terutama tokoh-tokoh politik nasional dalam 
menyikapi masa lalu dan sejarah, beserta (dosa) orang-orang yang mengisi 
babak-babak sejarah itu, secara fair. Cerita kelam pada masa silam patut 
dijadikan cermin untuk melangkah ke depan. 

Namun, setelah hikmah dipetik dan pelajaran didapatkan, yang harus segera 
dilakukan adalah "tutup buku" terhadap masa lalu. Bukannya bertikai dan 
menuding bahwa dirinyalah yang paling benar, dirinyalah yang layak dianggap 
sebagai pahlawan. 

Sebagaimana kata Foucault, sejarah atau masa lalu mesti disikapi dengan sikap 
mendua nan arif: mengingat sekaligus melupakan. Ya, terhadap masa-masa kelam 
sejarah bangsa, para elite bangsa ini harus bersikap bijaksana. Tidak 
melemparkan kesalahan kepada pihak lain dan mau melakukan introspeksi: apakah 
dirinya sudah lebih baik daripada mereka yang berseberangan dengan dirinya 
maupun orang-orang yang dianggap bersalah dalam sejarah bangsa Indonesia. Dan 
mau mengupayakan islah atau rekonsiliasi demi kedamaian dan kesejahteraan 
negeri. Pahlawan-pahlawan seperti itulah yang sekarang kita butuhkan.


Arif Koes Hernawan, mahasiswa Ilmu Komunikasi Fisipol UGM (email: [EMAIL 
PROTECTED]


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke