http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=7715

Rabu, 15 Nov 2006,


Kisah Tiga Gadis Korban Perdagangan Wanita jalur Jawa-Sumatra 

Dijual Rp 1 Juta Per Orang, Lolos Berkat Sopir Bus
Perdagangan wanita asal Jawa ke Sumatera semakin marak. Pekan lalu polisi 
kembali membongkar kasus penjualan tiga gadis belia asal Pandeglang. Mereka 
diiming-imingi kerja di Palembang, tapi kemudian dijual ke sebuah lokalisasi.

MARTHA HENDRATMO, Palembang

Tiga gadis yang dipanggil dengan nama samaran Tiara, Lisa, dan Opi sampai 
kemarin masih shock. Mereka takut berbicara dengan banyak orang, selain petugas 
unit Judisila (Judi dan Susila) Polda Sumsel. Di ruang pemeriksaan khusus 
(RPK), ketiganya juga masih trauma bertemu orang lain. 

"Mereka masih trauma bertemu dengan orang yang belum dikenal," kata seorang 
penyidik di RPK Polda Sulsel yang antara lain menangani korban anak-anak dan 
wanita itu.

Saat Sumatera Ekspres (Grup Jawa Pos) hendak memotret, ketiga gadis itu 
langsung menyembunyikan wajah. Demikian pula saat diwawancarai, wanita asal 
Desa Citerup, Pandeglang, Provinsi Banten, itu seperti menyembunyikan perasaan 
bersalah. Mereka lebih sering menunduk.

Di antara ketiganya, Tiara, 20, adalah yang tertua sekaligus pemilik tubuh 
paling tinggi. Sedangkan Opi, 15, yang berkulit lebih gelap umurnya paling 
muda, disusul Lisa yang berusia 19 tahun.

"Aku putus sekolah lantaran orang tua nggak punya biaya. Makanya, aku pengen 
nyari kerja," ujar Tiara sembari tetap tertunduk.

Hal yang sama diungkapkan Lisa yang hanya mengenyam bangku SD dan Opi yang 
sampai kelas III SMP. "Awalnya, kami ingin cari kerja untuk membantu keluarga," 
cetus Opi tanpa mengangkat wajah.

Tipe tiga gadis itu menjadi incaran pelaku perdagangan wanita (women 
trafficking). Mereka masih belia, tidak pernah ke kota besar, dan terdesak 
masalah ekonomi. Karena itu, begitu Eti, mantan orang di desa mereka yang punya 
suami di Jakarta, mengajak mencari kerja di Palembang, ketiga korban langsung 
setuju.

"Kami dijanjikan bekerja di warung. Kata Bu Eti, gajinya sekitar Rp 800 ribu 
per bulan. Ya, aku percaya karena memang kenal dengan dia," kata Tiara yang tak 
menyangka akan dijual oleh orang yang satu desa dengannya.

Tanpa setahu orang tua, mereka diantar Eti dan anggota komplotan -Rahmat dan 
Mimin- berangkat menuju sebuah rumah di kawasan Jakarta Barat. Dari sana mereka 
mencarter mobil Suzuki Carry warna biru menuju Palembang. "Kami berangkat dari 
Jakarta Selasa dan sampai di Palembang Rabu (8 November) sekitar pukul 09.00 
WIB," katanya.

Sampai di Palembang, Tiara, Lisa, dan Opi diserahkan ke Pak Endang, laki-laki 
yang mengelola sebuah kafe di Kompleks Teratai Putih, kawasan lokalisasi. 
Sedangkan Opi yang usianya paling muda dititipkan di rumah orang lain.

Tiara kaget ketika tahu kafe itu ternyata sekaligus menjadi tempat praktik 
bisnis esek-esek. Malam itu pula dia disuruh dandan untuk melayani om-om yang 
sudah menunggu. "Aku tidak mau dan masuk kamar, terus aku kunci. Tapi, aku 
dipaksa," ujarnya.

Karena terus dipaksa, Tiara mengaku satu kali melayani tamu. Sedangkan Lisa dan 
Opi belum dipekerjakan oleh mucikari mereka. "Malam itu aku dibayar Rp 250 
ribu. Yang Rp 50 ribu aku ambil dan sisanya, Rp 200 ribu, aku kasihkan Pak 
Endang," katanya lirih.

Karena tak tahan, dia dan kedua temannya mencari jalan untuk kabur dari 
lokalisasi tersebut. Untuk bisa keluar memang tidak gampang karena kawasan itu 
dijaga preman. Syukurlah, pada Jumat sore, dengan bantuan seorang sopir bus 
kota, mereka bisa keluar dari kafe. Mereka diantar untuk membuat pengaduan ke 
Siaga Ops Polda Sumsel.

"Waktu kabur, rumah memang sedang kosong. Kami melapor ke sini (Polda Sumsel). 
Terima kasih kepada Bang Sopir yang telah membantu kami," kata Tiara lagi. 

Tiara, Lisa, maupun Opi mengaku sudah rindu untuk bisa segera pulang kampung. 
Saat ini ketiganya mendapat fasilitas penginapan yang disediakan LSM Women 
Crisis Center (WCC) Sumsel.

Kepada Sumatera Ekspres, Janah Surniati alias Mimin, 28, warga Jl Kol H Burlian 
Km 9 Pool Bus Lorena, Palembang, menolak disebut terlibat dalam kasus 
perdagangan manusia (human trafficking). Ibu beranak satu itu mengaku hanya 
membantu Eti, temannya, mencarikan ketiga korban kerja di kafe di Kompleks 
Teratai Putih.

Mimin mengakui, semula ketiga gadis itu ditawarkan dengan harga Rp 1,2 juta per 
orang. Namun, akhirnya disepakati transaksi Rp 3 juta untuk ketiga gadis 
tersebut. "Uang itu dibayarkan Endang sekitar pukul 12.00 dan aku kasih 
semuanya kepada Eti. Jadi, saya tidak terima sepeser pun," jelas Mimin.

Namun, pada 10 November 2006, dia mengakui telah menerima "komisi" Rp 150 ribu 
dari Endang. "Sumpah, aku tidak dapat upah dari Eti. Aku cuma dapat Rp 150 dari 
Endang," kata Mimin yang dalam bisnis ini sebagai kurir.

Menurut Mimin, keberangkatannya ke Banten lalu bukan untuk mencari gadis, tapi 
untuk berobat. Wanita yang mengaku pernah delapan bulan jadi PSK itu ingin 
mencarikan obat untuk anak satu-satunya. 

Sebaliknya, tersangka Endang, 26, warga Jl Kolonel H Barlian, RT 29, Kompleks 
Teratai Putih, mengakui bahwa ketiga gadis yang dibawa Mimin akan dijadikan 
PSK. "Dia baru sekali melayani tamu dengan tarif Rp 250 ribu," kata ayah dua 
anak yang sejak enam bulan lalu merintis bisnis ini

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke